NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISI DI BALIK PINTU KAMAR

Pernikahan yang diawali dengan air mata ternyata tidak mematikan api di dalam jiwa Mentari. Setelah seminggu hidup dalam keheningan dan pengabaian yang sopan dari Gus Zikri, sifat "pantang menyerah" sang gadis bar-bar mulai bangkit kembali. Mentari menyadari satu hal: Gus Zikri sudah menjadi suaminya secara sah. Secara hukum agama dan negara, ia adalah milik Zikri, dan Zikri adalah miliknya.

"Gue nggak boleh menyerah cuma karena dia tidur di sofa," gumam Mentari sambil menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia bilang gue menghancurkan kehormatannya? Oke, sekarang gue bakal membangun kembali kehormatan itu dengan cara gue sendiri."

Mentari membuka koper rahasianya. Di tumpukan paling bawah, terselip sebuah gaun tidur sutra (*lingerie*) berwarna hitam dengan renda tipis yang sangat berani salah satu koleksinya dari Jakarta yang belum sempat disita.

Siang harinya, Bondan, Fahma, dan Hafizah berkunjung ke rumah kecil itu membawa rantang makanan. Mentari langsung menarik mereka ke dalam kamar dan mengunci pintu.

"Guys, gue butuh bantuan. Misi 'Meluluhkan Kulkas' dimulai lagi," bisik Mentari penuh semangat.

Bondan langsung bertepuk tangan. "Nah, ini baru Mentari yang gue kenal! Emang mau ngapain lo? Mau lo kasih pelet?"

"Bukan pelet, Bon! Gue mau pake jurus... godaan istri sah," jawab Mentari sambil menunjukkan gaun tidurnya.

Mata Bondan hampir keluar dari kelopak matanya. "Waduh! Itu kalau Gus Zikri liat, bisa-bisa dia langsung pingsan sambil dzikir, Tari! Berani banget lo!"

Hafizah langsung menutup matanya dengan tangan. "Astaghfirullah, Mentari... Meski kalian sudah mahram, tapi apa harus se-ekstrem itu? Bagaimana kalau kamu coba dengan masakannya dulu? Kata orang, jalan menuju hati pria adalah melalui perutnya."

Fahma yang sedang asyik mengunyah kerupuk tiba-tiba menyahut. "Eh... kalau Gus Zikri kedinginan, mending dikasih selimut tebal aja, jangan baju tipis gitu. Nanti dia masuk angin kayak aku kemarin."

Mentari menghela napas. "Fahma, dia itu dingin hatinya, bukan suhu badannya! Dan buat Hafizah, gue udah coba masak tadi pagi, tapi gosong semua. Jadi, satu-satunya senjata gue cuma ini."

Bondan mengangguk setuju. "Gue dukung! Lo harus tampil maksimal. Semprot parfum yang banyak, bikin dia nggak bisa napas kecuali nyium bau lo!"

Pukul sepuluh malam. Suasana pesantren sudah sunyi senyap. Hanya terdengar suara tadarus sayup-sayup dari kejauhan. Di dalam kamar, jantung Mentari berdegup kencang. Ia sudah mengenakan gaun tidur hitamnya, rambut pirangnya ia gerai indah, dan ia menyemprotkan parfum aroma vanila yang manis dan menggoda.

Ia sengaja mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu tidur yang temaram. Ia duduk di pinggir ranjang, menunggu pintu terbuka.

*Ceklek.*

Pintu terbuka. Gus Zikri masuk dengan wajah lelah setelah memimpin rapat pengurus pondok. Seperti biasa, ia menunduk, hendak menuju sofa untuk mengambil bantalnya. Namun, aroma vanila yang sangat kuat langsung menusuk indranya.

Zikri mendongak sedikit, dan matanya langsung menangkap sosok Mentari.

Gus Zikri mematung di ambang pintu. Untuk pertama kalinya, matanya melebar. Ia melihat Mentari dengan pakaian yang sangat minim, memperlihatkan kulit putihnya yang bersinar di bawah lampu kuning temaram.

"Astaghfirullahaladzim..." Zikri langsung membalikkan badan dengan cepat, menghadap pintu yang tertutup. Bahunya gemetar. "Mentari... apa yang kamu lakukan? Pakai pakaianmu yang benar!"

"Gus..." Mentari berdiri, melangkah mendekat dengan pelan. Suaranya dibuat selembut mungkin. "Aku ini istri kamu. Emang salah kalau aku dandan cantik buat suami aku sendiri?"

"Ada adabnya, Mentari! Ada tempatnya!" suara Zikri meninggi, namun ada nada gugup yang tak bisa ia sembunyikan.

Mentari sudah berdiri tepat di belakang punggung Zikri. Ia bisa merasakan kehangatan dari tubuh pria itu. "Tempatnya ya di sini, di kamar kita. Gus, liat aku bentar aja. Apa aku segitu mengerikannya sampai kamu nggak mau liat aku sama sekali?"

Gus Zikri memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup luar biasa kencang. Sebagai pria normal, tentu saja pemandangan tadi sangat menguji pertahanannya. Namun, luka di hatinya masih terlalu basah.

"Kamu pikir dengan cara seperti ini saya akan langsung lupa dengan apa yang kamu lakukan semalam itu?" ucap Zikri, suaranya kini merendah namun tajam. "Cinta bukan dibangun di atas nafsu, Mentari. Saya menginginkan istri yang menyejukkan pandangan karena ketaatannya, bukan karena kemolekan tubuhnya."

Mentari terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku cuma mau kita mulai dari awal, Gus. Aku nggak tahu cara lain buat narik perhatian kamu. Aku manja, aku egois, aku bar-bar... tapi aku beneran sayang sama kamu."

Zikri menghela napas panjang. Tanpa berbalik, ia meraih sebuah jubah besarnya yang tergantung di balik pintu dan melemparkannya ke arah belakang tanpa melihat. Jubah itu mendarat tepat di bahu Mentari.

"Pakai itu. Tutupi tubuhmu," perintah Zikri. "Saya akan tidur di masjid malam ini. Jangan cari saya."

Zikri membuka pintu dan keluar dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Mentari yang kini terduduk di lantai dengan jubah besar milik suaminya.

Mentari memeluk jubah itu erat-erat. Ia menghirup aroma kayu gaharu yang sangat kuat dari kain itu. Ia gagal lagi. Ternyata, menggoda Gus Zikri tidak semudah menggoda pria-pria di Jakarta.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Mentari mengira Zikri kembali, namun ternyata itu adalah Fahma yang mengintip dari jendela (karena asrama mereka dekat).

"Tari... kok Gus Zikri lari ke masjid sambil baca istighfar kenceng banget?" tanya Fahma polos. "Dia dikejar hantu ya?"

Mentari tertawa di tengah tangisnya. "Bukan hantu, Fahma. Dia dikejar dosanya sendiri."

Bondan dan Hafizah muncul di belakang Fahma. Bondan langsung masuk lewat jendela (sifat bar-barnya tidak hilang). "Gimana? Gagal ya? Tadi gue liat mukanya Gus Zikri merah banget kayak kepiting rebus!"

Hafizah duduk di samping Mentari, mengusap pundaknya. "Tari, kamu sudah berhasil satu hal. Kamu membuat dia 'terganggu'. Itu artinya dia tidak sedingin yang kamu kira. Dia hanya sedang berperang dengan prinsipnya sendiri."

Mentari menghapus air matanya, lalu tersenyum tipis. "Gue nggak bakal berhenti. Kalau baju seksi nggak mempan, gue bakal pake cara lain. Besok, gue bakal belajar masak sambal paling pedas sedunia. Kalau hatinya nggak bisa luluh, biar lidahnya yang terbakar!"

Di dalam masjid yang sunyi, Gus Zikri bersujud sangat lama. Ia memohon kekuatan agar hatinya tetap kokoh. Namun, bayangan Mentari dengan gaun hitam tadi terus menari-nari di ingatannya, membuat sang penjaga pandangan sadar bahwa istrinya adalah ujian terberat sekaligus terindah yang pernah dikirimkan Allah untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!