Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT PERJANJIAN
Tania terinspirasi pada Tante Lusi yang awalnya hanya berjualan CD dan BH sebagai barang penting kebutuhan wanita. Dulu Tante Lusi bermodal 500ribu, beli beberapa merk CD dan BH yang berbahan dasar katun, sengaja ia jual di area pasar malam, hingga sampai punya toko dan menjual berbagai barang fashion lainnya. Memang tak mudah, memang lama prosesnya, namun dengan strugglenya Tante Lusi sampai bisa menyekolahkan Salman hingga kedokteran.
Tentu saja keadaan single parent Tante Lusi hampir mirip dengan kondisi Tania sekarang, tak perlu menyesali keadaan, sekarang fokus pada penyelesaian masalah, kalau menyalahkan keadaan tidak akan selesai. Sudah terlanjur hamil, ya sudah dijalani. Berani melakukan kesalahan, maka harus berani menanggung resikonya.
Tania pun mulai mengatur pola makannya, biasanya ia sarapan ala kadarnya, sekarang ia bangun pagi menyiapkan sarapan dan camila sehat, bahkan saat sebelum bekerja ia mengajak bicara janinnya sembari memegang perutnya yang rata Jangan mual di kantor ya Nak, mama masih belum bisa mengatakan pada siapa pun akan keberadaan kamu.
Benar saja, Tania bekerja seperti biasa, meski diberondong pertanyaan Siska tentang keadaannya. Asam lambung menjadi alasan Tania dirawat, dan itu masuk akal. Apalagi Tania membawa camilan sehat berupa buah, yang menunjukkan perubahan pola makan agar asam lambung tidak kambuh.
"Kalau kamu butuh apa-apa bilang Tania, jangan misterius begitu. Apalagi kamu hidup sendiri, duh aku gak bisa bayangkan daftar sendiri, di kamar inap sendiri, ngurus administrasi juga sendiri, kasihan banget kamu, Tan!" Siska sesenggukan saat tahu perih di perut Tania malam itu.
Andai kamu tahu aku masuk rumah sakit karena berniat menggugurkan bayi, akankah kamu seperhatian ini sama aku, Sis? Batin Tania sendu.
Pokoknya sampai bulan ke-empat dia akan menjadi karyawan, setelah itu akan resign dan mengurus bayinya sendiri. Di sela-sela kerja, Tania juga menyempatkan survey jualan yang peminatnya tinggi, dan estimasi modal yang sesuai dengan kemampuannya. Kata Tante Lusi, sekarang zamannya lebih muda, pasarkan saja lewat online tak perlu menyewa lapak, sudah bisa jualan. Nah, Tania akan melakukan saran itu.
Skincare ibu dan anak menjadi pilihan Tania untuk jualan onlinenya, ia sudah mencari distributor skincare ibu dan anak di marketplace, kemudian mulai membuat akun di tktk untuk jualan, tak lupa Tania juga mencari contoh akun yang jualannya setipe dengannya.
"Nama akun sudah, nomor ponsel? Pakai nomor yang ditablet saja," gumamnya serius. Kemudian melanjutkan untuk menghubungi distributor, bertanya akan minimal order dan harga yang diberikan, agar ia bisa menentukan margin keuntungan berapa.
"Serius amat?" tanya Siska menoleh pada buku agenda Tania.
"Lagi ada proyek, side job!" jawab Tania.
"Kenapa?"
"Gak selamanya kan kita karyawan, Sis!"
"Jangan bilang kamu mau resign," Siska langsung melotot. Tania menyenggol, sembari menggeleng.
"Aku masih butuh uang buat hidup," ujar Tania agar Siska tak kepo lagi.
Tania pun mulai menata kamar depan untuk menjadi mini store, rak-rak minimalis sudah ia beli via online, jadi saat pulang kantor, dia eksekusi untuk toko. Biarlah dia punya aktivitas meski tak memberatkan agar pikiran buruk tidak memenuhi otaknya.
Tania sedang menata hidup, Lingga sedang meratapi nasibnya juga. Sang istri liburan ke luar negeri bersama pacarnya berkedok pemotretan. Calista memang tak pernah menyembunyikan hubungannya di depan Lingga. Entah dia punya tujuan apa, sampai-sampai tak tahu malu dan memberi batasan agar Lingga tak jatuh cinta padanya.
"Gimana kantor?" tanya papa saat mereka makan malam, melihat si bungsu main di rumah tanpa istrinya, papa sebenarnya tahu apa yang terjadi. Cuma beliau tetap memaksa Lingga untuk menjalani pernikahan ini.
"Lancar kayak biasanya, karyawan papa oke!" jawab Lingga dengan malas.
"Istri kamu?" singgung mama.
"Pemotretan di luar negeri," jawab Lingga makin malas menanggapi sang istri. Mama menghela nafas pelan, sembari menatap sang suami.
"Ma, Pa. Dulu pertimbangan mama dan papa menjodohkan Lingga dengan Calista itu apa sih? Rasanya sangat berbeda jauh dengan istrinya Abang!" pada akhirnya Lingga mengeluarkan uneg-unegnya. Meski dirinya masih mencintai Tania, setidaknya kalau punya istri benar mungkin dia akan melepas Tania dan benar menjalani kehidupan rumah tangga, toh Tania juga mundur. Lah kondisi sekarang, Lingga putus dengan Tania, eh istrinya wc umum juga. Ya kali Lingga mau bekas orang.
"Kenapa memangnya?" tanya papa sempat berdehem sebelum mengembalikan pertanyaan.
"Papa emang beneran gak tahu tabiat Calista? Selama ini papa bisa menjangkau Lingga saat bersama Tania, tapi apa mungkin papa tak menyelidiki Calista?" tuntut Lingga kesal.
"Tentu saja papa tahu!"
"Papa juga tahu kebiasaan Calista ditiduri suami orang?" tantang Lingga lagi. Papa diam.
"Lingga bejat karena merusak anak orang hanya sekali, Pa. Tapi kami setia, sedangkan Calista? Lingga yang cowok aja jijik punya istri seperti dia," mama menatap sang papa sendu. Dari sini, Lingga menatap ada sesuatu yang janggal antara mama dan papanya.
"Silahkan jujur sama Lingga!" pinta pria itu.
"Kakekmu yang menabrak mama kandung Calista, memang kejadiannya tak disengaja. Saat itu kakekmu mabuk, dan sedang bertengkar dengan nenek. Calista masih bayi, dan kakek berjanji akan menanggung masa depan Calista sampai beranjak dewasa. Termasuk menikahkan Calista dengan kamu!"
"Hah?" perjanjian konyol macam apa ini, Lingga hanya bisa menggelengkan kepala. Ternyata dia menjadi tumbal kecerobohan sang kakek.
"Kakek tak mau namanya terseret masalah hukum, karena beliau akan mencalonkan sebagai gubernur saat itu," papa tak enak hati pada sang putra. Lingga tak salah tapi diminta membayar kesalahan sang kakek.
"Terus kenapa harus aku? Kenapa bukan anak dari adiknya papa, atau anak dari kakaknya papa, atau bahkan Abang Yovi?" wajar Lingga tak terima. Dosa apa yang ia lakukan sampai ia dipilih menikahi Calista dengan spek rendahan seperti ini?
"Kakekmu langsung tunjuk saat itu, dan kamu tahu sendiri kalau kakek kamu yang meminta tak bisa ditolak. Bahkan beliau membuat surat kuasa untuk tetap melakukan perjodohan ini bila beliau sudah meninggal, dan sebagai timbal baliknya, kamu diberi harta warisan lebih banyak dari saudara lain," jelas papa.
"Kalau tahu begini, mending Lingga tak mendapat warisan saja. Lingga lebih baik hidup bersama wanita yang aku cintai dan bukan tipe wc umum seperti Calista!"
"Tunggu sebentar, Ngga."
"Tunggu apalagi, Pa. Papa sebagai laki-laki setelah merasakan hubungan suami istri, lalu dipaksa berhenti bagaimana rasanya, Pa. Sedangkan aku mau diam-diam dengan kekasihku, papa selalu menghalangi!"
"Itu semua demi keselamatan kamu, Ngga. Efek dari perjanjian yang dilakukan kakek dan keluarga Calista menyangkut harta kepemilikan keluarga kita."
"Sekali aja keluarga gak egois emang gak bisa?" sindir Lingga.
"Kamu tega melihat keluarga kita bangkrut, Ngga?"
"Papa tega melihat aku sengsara?"
"Bertahanlah sebentar, sama Calista berulah sendiri!"
"Sampai kapan? Dia perempuan licik, Pa. Bahkan papa saja tak mau mengungkap jati dirinya kan?" sindir Lingga tak terima dikorbankan seperti ini.
"Jangan bertindak gegabah, karena perjanjian itu sangat merugikan keluarga kita!" pinta sang papa.
"Persetan dengan harta!" ucap Lingga kasar, dan keluar dari ruang makan.
GO go Tania semangat