Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PUJAAN
“Kau, ambil ni.”
Perintah Madun pada dokter Sapto. Mereka sedang makan bersama. Madun memberikan 1 bungkus makanan kepada dokter. Dokter Sapto menerimanya. Kemudian dokter Sapto membukanya. Sekepal nasi ada tempe 1 dan tahu 1 dengan sayur tewel. Dokter Sapto mengernyitkan dahinya.
“Napa, dok. Tak enak yaaa!”
Seloroh Darto sambil menyuap makanan ke mulutnya.
“Nngak. Bu…bu…bukan.”
Kata dokter Sapto terbata-bata.
“Ei, dia khan sukanya ama ayam fried chicken khan. Ni makanan orang tak punya.”
Sambung Darto lagi seenaknya. Dokter Sapto terdiam. Dia tidak bisa pulang, karena ditahan Madun. Madun tidak mau ada orang yang tahu lokasi persembunyian mereka. Sekaligus juga untuk merawat Nonik yang sakit keras.
“Udah….udah….Makan.”
Kata Rani mendelik kepada Darto. Darto tersenyum kecil lalu melanjutkan makanannya dengan lahap.
Reni memandang Madun yang sedang makan. Sejak kembali dari membeli makanan, dia hanya berbicara sepatah dua patah kata saja. Dia teringat masa lalunya dengan Madun.
11 TAHUN YANG LALU
Reni baru saja pulang dari kerja malam. Kerja yang melelahkan, menghibur para pelanggan yang setia. Umurnya baru 18 tahun. Masih sangat muda. Dia putus sekolah. Tidak ada biaya buat melanjutkan. Ibunya sering sakit-sakitan, tidak kuat lagi membiayainya sekolah. Ayahnya lari dengan perempuan lain, meninggalkan ibu, dia dan tiga adiknya yang masih kecil-kecil. Karena dia anak sulung, maka dia merasa berkewajiban untuk membiayai ibu dan tiga adiknya yang masih kecil-kecil.
Dia kalau pagi sampai siang jualan kue-kue di warung kecil sewaan 200 ribu sebulan, milik tetangganya yang kasihan padanya. Kalau malam, kerja ke tempat istirahat, sering dapat tip dari pelanggan yang loyal dengan kerjanya. Karena kerjanya membuat pelanggan itu merasa nyaman dan senang. Uangnya dengan mudah keluar untuknya. Makanya itu, dia senang kerja di tempat itu, ada tip yang lumayan buat tambah-tambah kebutuhan. Juga buat bantu-bantu adik-adiknya sekolah dan makan sehari-hari.
Entah malam ini terasa aneh baginya. Sepertinya lebih dingin dari biasanya. Dia merapatkan jaket lusuhnya ke badan supaya lebih hangat. Sebentar lagi dia melalui sebuah lorong panjang kearah rumahnya. Memang ada jalan lain, tetapi jalannya lebih panjang. Dia ingin malam ini cepat sampai ke rumah. Ingin cepat-cepat mengecek keadaan ibunya. Dia tahu adik-adiknya masih kecil-kecil jadi tidak bisa diharapkan banyak untuk dapat menjaga ibunya.
“Heiii…..mau kemana!”
Tiba-tiba ada suara menyapa dirinya yang sedang termenung. Dia menoleh kearah suara disamping kiri. Ada segerombolan orang tampangnya sangar-sangar, kelihatan sedang lupa diri. Reni ketakutan. Apalagi dia sendirian. Biasanya ada temannya, Widuri yang menemaninya ikut berjalan karena kosan Widuri searah dengan rumahnya. Tetapi Widuri sedang kerja lembur, mungkin besuk pagi baru pulang. Jadi dia jalan sendirian. Rasa dingin merayapinya berlahan. Reni bergidik.
“Anu, bang mau pulang.”
Kata Reni gemetaran. Dia dengar-dengar kalau lorong panjang yang gelap, hanya diterangi lampu jalanan redup itu sering ada penghadangan. Banyak target yang kena.
“Gimana kalau temenin abang neng. Neng cantik!”
Seloroh seorang bertubuh lurus seperti lidi sambil tertawa sumbang. Teman-temannya tertawa berbarengan.
“Ah, kau. Mau dikemanain si Lastri itu.”
Sambung seorang berambut gondrong dengan tindikan di hidungnya. Suaranya sengau seperti nafasnya ditekan.
Reni semakin ketakutan. Keringat dingin mengalir pelan di lehernya yang jenjang.
“Neng. Tak usah dengarkan dia. Ikut abang aja ya. Ntar enak dah. Ada kasur empuk buat neng. He….he…..he…..”
Seprang pemuda berpakaian celana sobek-sobek berkata sambil tertawa. Kedengaran bagi Reni seperti tertawanya hantu malam. Menakutkan. Seram. Tidak terasa Reni bergidik. Dia benar-benar ketakutan. Dia menoleh kiri kanan. Tidak ada orang lewat. Hanya ada dirinya dan gerombolan pemuda ini.
Reni tidak menjawab dia mau berbalik arah dan segera lari secepat mungkin. Tetapi gerombolan pemuda itu kemudian menyebar mengurung dirinya.
“Eiiiit. Mau kemana neng. Yuk Kenalan dulu sama kita-kita.”
Seorang gemuk dempal menghalangi jalan Reni yang mau berbalik. Reni langkahnya terhambat oleh orang itu.
“Jangan, bang. Aku mau pulang. Ibuku sakit butuh perawatan.”
Kata Reni hampir menangis. Dia benar-benar tidak menyangka kalau malam ini bertemu dengan gerombolan pemuda yang tidak punya pekerjaan ini.
“Hiyaaaa….tak usah sedih neng. Aku akan hibur kau selalu. Aku selalu ada bersamamu o….o….o….”
Seorang pemuda kurus berkata sambil berdentang, bernyanyi. Tetapi suaranya fals parah. Kedengaran seperti kaset rusak, kresek….kresek….. teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.
“Udah….udah tak usah nyanyi kau. Brisik tau.”
Kata seorang pemuda kekar sambil menutup telinganya.
“Apa kau bilang. Coba bilang sekali lagi.”
Pemuda kurus itu melotot marah. Dia tidak terima dikatakan brisik oleh temannya.
“Bbbbbbrrrrrriiiiiissssssiiiiiikkkkkk.”
Teriak pemuda kekar itu keras-keras. Pemuda kurus itu marah. Dia mendorong tubuh pemuda kekar itu. Tetapi justru tubuhnya sendiri yang terjatuh. Apalagi dia sedang lupa diri. Pemuda kekar itu mentertawai pemuda kurus yang jatuh itu. Dengan cepat kakinya mengenai pemuda kekar itu. Pemuda kekar itu marah lalu menerjang ke pemuda kurus itu. Bergumulan terjadi. Reni memanfaatkan kesempatan itu, sedangkan gerombolan pemuda itu memperhatikan pergumulan itu. Reni berlari secepat mungkin. Dia harus menyelamatkan dirinya.
Tetapi langkahnya terhenti. Gerombolan pemuda itu sudah didepannya. Mereka tertawa terbahak-bahak.
“Hayo, mau kemana neng. Jangan tinggalin kita-kita ni. Butuh hiburan nih. Butuh rawat tubuh. Neng bisa kan. “
Seorang bermuka datar berkata dengan memohon. Tetapi permohonan itu kedengaran bagi Rani bagaikan deru topan yang menakutkan hatinya. Hatinya menciut ketakutan.
“Aku pernah liat kau di Red Room itu khan.”
Kata pemuda bermuka datar itu lagi. Dia coba mengingat-ingat tentang diri Reni.
“Kau itu pujaan di Red Room itu. Semua lelaki memujamu. Reni….Reni….oh Reni….”
Reni semakin ketakutan. Ternyata ada yang mengenali dirinya sebagai pujaan di Red Room, tempat dia bekerja malam. Dia merapatkan jaket lusuhnya. Badannya gemetaran karena hawa dingin yang menusuk kulitnya.
“Oiiiii, pujaan yaaaa….Pantes cantik.”
Seloroh pemuda celana sobek-sobek mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Iiiiittttuuuu…aku buat biayai keluargaku, bang.”
Kata Reni mulai keluar air matanya. Air bening mengalir melalui mukanya yang halus.
“O, buat biayai keluarga yaaaa…. Udah nikah.”
Kata pemuda yang hidungnya ada tindikannya.
“Bbbbeeeeellllluuuuummmm, bang.”
Kata Reni sambil terisak-isak.
“Cup….cup….cup….jangan nangis ya neng. Abang ikutan sedih nih.”
Sambung pemuda celana sobek-sobek itu sambil menyeka matanya yang merah. Bukan karena menangis, karena matanya kena debu barusan karena mengejar Reni.
“Neng, ikut sama kita-kita ya. nanti ada tip deh seperti di Red Room.”
Seloroh pemuda yang lurus seperti lidi dengan menatap nanar ke Reni. Reni ditatap seperti itu malah semakin terisak-isak. Dia tambah ketakutan.
“Jangan, bang. Aku mau pulang. Kasihan ibuku dan adik-adikku menunggu di rumah.”
“Haiyaaa, pokoknya ikut. Tak boleh menolak!”
Teriak pemuda kekar sambil memegangi tangan Reni dengan kuat.
“Jjjjaaannnnggggaaaannnnn, bbbbaaannnngggg.”
Kata Reni sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan pemuda kekar itu. Tetapi tenaga pemuda kekar itu lebih kuat darinya.
“He…he…..he……ho…..ho…..ho…..hi…..hi…..hi……”
Gerombolan pemuda itu tertawa berbarengan. Reni benar-benar tidak bisa melepaskan cengkeraman pemuda kekar itu sedangkan teman-temannya mengerumuni dirinya seperti semut-semut yang suka gula.
“Lepaskan, perempuan itu!”
Teriak seorang pemuda yang tiba-tiba muncul. Pemuda itu berpakaian sederhana dengan jin kobong yang lusuh. Gerombolan pemuda itu menghentikan aksinya terhadap Reni, lalu semuanya menghadap ke pemuda tadi. Muka mereka merah karena marah, ada yang berani menghalangi aksi mereka. Tidak pernah ada orang yang selama ini berani terhadap mereka. Gerombolan mereka terkenal sebagai gerombolan yang suka membuat kacau sehingga orang-orang segan berurusan dengan gerombolan mereka.
“Kau….berani….”
Tuding pemuda bermuka datar pada pemuda itu. Kelihatannya dia menjadi pemimpin gerombolan pemuda itu. Reni segera menyisih setelah tangannya dilepaskan pemuda kekar tadi. Gerombolan itu lebih tertarik pada pemuda yang berani terhadap mereka.
“Kami ini gerombolan Kalajengking Hitam. Gerombolan yang berkuasa di wilayah ini. Sapa kau berani-berani pada kami.”
Sambung pemuda bermuka datar kepada pemuda itu.
“Nih, kenalin aku Purwo pimpinan Kalajengking Hitam.”
Kata pemuda bermuka datar yang ternyata bernama Purwo sambil menepuk-nepuk dada membanggakan dirinya.
“Aku tak tau sapa kau. Sapa tu gerombolan Kalajengking Hitam. Aku mau kau dan teman-temanmu lepaskan perempuan itu.”
Kata pemuda itu sambil mendekati Reni berusaha melindunginya.
“Busyet. Tak da takut-takutnya orang ini. Ayuk kita bereskan aja. Nanti perempuan itu kita bawa, biar rawat tubuh.”
Purwo memberi perintah kepada teman-temannya. Mereka masing-masing sudah memegang alat kerja kecil yang mengkilat terkena cahaya bulan. Pemuda itu bersiap menghadapi mereka semua. Dia sudah punya bekal beladiri untuk main-main dengan mereka. Dia pernah belajar silat warisan kakeknya sehingga dia tidak takut meskipun dengan banyak orang yang mengepungnya. Segera main-main terjadi.
Reni ketakutan melihat main-main itu. Dia sebenarnya mau meninggalkan saja tempat itu, tetapi dia tidak tega dengan pemuda yang menolong dirinya.
“Siapapun dirimu. Tolong menangkan main-main ini.”
Bersambung