NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Saham Pertama

​Udara di dalam apartemen persembunyian itu terasa berat oleh ketegangan yang sunyi. Asha, yang kini hanya mengenal dirinya sebagai V, duduk di depan susunan tiga monitor besar yang memancarkan grafik pergerakan pasar saham secara real-time. Jemarinya yang ramping bergerak stabil di atas papan tik, tidak lagi menunjukkan getaran ketakutan seperti beberapa minggu lalu.

​Di sudut ruangan, nelayan tua itu memperhatikan dengan saksama sambil menyesap kopi hitamnya. Bau bubuk kopi yang pahit memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma elektronik panas dari server cadangan yang bekerja ekstra keras. Cahaya fajar mulai mengintip dari balik tirai, menyinari wajah V yang tampak setajam pisau bedah.

​"Kau yakin dengan langkah ini, V? Aset itu adalah satu-satunya pegangan finansial yang kau miliki di luar kendali Arlan," tanya nelayan itu dengan suara rendah.

​V tidak mengalihkan pandangannya dari layar yang mulai menunjukkan pembukaan sesi perdagangan pagi. "Pegangan itu tidak ada gunanya jika hanya disimpan. Aku butuh pemantik untuk membakar tumpukan jerami yang sedang Arlan duduki."

​Ia sedang merujuk pada sebuah aset properti dan gudang kecil di pinggiran kota yang ia miliki atas nama samaran jauh sebelum pernikahan mereka memburuk. Aset itu tidak pernah terendus oleh tim audit Arlan karena lokasinya yang terpencil. Namun, nilai likuiditasnya cukup besar untuk membuat guncangan jika dilempar ke pasar secara mendadak.

​"Anak perusahaan Neovault yang bergerak di bidang distribusi sedang dalam posisi rentan pagi ini," gumam V sambil mengamati grafik berwarna merah yang mulai berkedip.

​"Berapa banyak yang akan kau lepas?" nelayan itu mendekat, menatap angka-angka yang bergerak cepat.

​V menekan sebuah tombol eksekusi dengan mantap. "Seluruhnya. Aku akan menjual aset itu dengan harga dua puluh persen di bawah nilai pasar dalam satu kali transaksi besar."

​Aksi jual mendadak ini dirancang untuk menciptakan efek domino yang mengerikan bagi anak perusahaan Arlan. Dalam dunia bursa, penjualan aset fisik secara terburu-buru sering kali dianggap sebagai sinyal bahwa ada masalah besar di balik layar. Para investor ritel dan institusional akan mulai panik dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

​"Perintah penjualan terkirim. Sekarang kita hanya perlu menunggu para serigala di lantai bursa mencium bau darah," ujar V sambil bersandar pada kursinya.

​Suasana hening kembali menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding dan dengung kipas komputer. Namun, di dalam layar monitor, sebuah kekacauan sedang mulai terbentuk. Satu demi satu broker mulai bereaksi terhadap tawaran gila yang dilemparkan oleh pihak anonim yang sebenarnya adalah V.

​"Lihat itu, harga saham Neovault Logistics mulai goyah," tunjuk nelayan itu pada salah satu grafik yang melengkung tajam ke bawah.

​V mengambil napas dalam, merasakan sensasi kemenangan kecil yang dingin menjalar di dadanya. "Itu baru permulaan. Saat harga menyentuh batas bawah, aku akan menyebarkan rumor bahwa penjualan ini adalah hasil dari laporan internal yang bocor."

​Suara notifikasi dari forum investor yang ia masuki semalam mulai berbunyi tanpa henti. Spekulasi mulai liar beredar di kalangan para pialang saham di pusat kota Neovault. Mereka mengira ada orang dalam yang sedang melarikan diri sebelum kapal Neovault tenggelam karena skandal yang belum terungkap.

​"Kau benar-benar tidak memberi mereka ruang untuk bernapas, ya?" nelayan itu terkekeh pelan, meski matanya tetap waspada.

​"Arlan tidak pernah memberiku napas saat dia membiarkanku tenggelam di sungai itu, Paman," balas V dengan nada bicara yang datar.

​Di layar monitor ketiga, V membuka akses ke kamera CCTV publik di depan gedung bursa efek. Ia bisa melihat kerumunan wartawan ekonomi yang mulai berkumpul, mencium aroma berita besar dari penurunan mendadak saham anak perusahaan Valeska. Kepanikan adalah komoditas yang paling mudah diproduksi jika seseorang tahu cara menekan tombol yang tepat.

​"Berapa kerugian yang akan mereka tanggung dalam satu jam ini?" tanya nelayan itu penasaran.

​V menghitung cepat di dalam kepalanya, membandingkan persentase penurunan dengan total kapitalisasi pasar. "Sekitar lima belas juta dolar nilai valuasi akan menguap begitu saja jika Arlan tidak segera melakukan intervensi."

​"Lalu, apa yang akan dia lakukan?" nelayan itu kembali menyesap kopinya yang kini sudah mendingin.

​"Dia akan dipaksa menggunakan dana cadangan pribadinya untuk membeli kembali saham-saham itu agar harganya tidak terus terjun bebas," jelas V dengan sorot mata yang dingin.

​Hal itulah yang memang diinginkan oleh V; memaksa Arlan mengeluarkan uang pribadinya untuk menambal lubang yang ia ciptakan sendiri. Dengan begitu, likuiditas Arlan akan menipis, membuatnya lebih rentan terhadap serangan-serangan berikutnya yang sudah V siapkan di dalam agendanya.

​"Ponselku bergetar. Informan kita di Menara Neovault mengatakan Arlan baru saja membatalkan rapat direksi pagi ini," lapor nelayan itu setelah memeriksa perangkatnya.

​V tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak asing namun mematikan di wajah hasil rekonstruksinya. "Bagus. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan kendali atas sesuatu yang ia banggakan."

​V kemudian kembali sibuk dengan papan tiknya, memindahkan sisa modal dari penjualan aset tadi ke beberapa akun bayangan di luar negeri. Ia harus memastikan jejak uangnya tidak bisa dilacak oleh tim siber Neovault yang dikenal sangat agresif. Keamanan adalah hal utama dalam permainan kucing dan tikus ini.

​"Serangan pertama ini sangat efektif, V. Tapi Arlan pasti akan mulai mencari tahu siapa di balik semua ini," nelayan itu mengingatkan dengan nada serius.

​V menutup salah satu jendela peramban dan menoleh ke arah jendela apartemen yang menghadap ke pusat kota. "Biarkan dia mencari. Dia sedang mencari hantu, dan hantu tidak akan bisa ditemukan sebelum dia sendiri yang memutuskan untuk menampakkan diri."

​Bau logam dari komputer yang bekerja terlalu panas mulai tercium, namun V tidak peduli. Ia terus memantau pergerakan pasar hingga sesi perdagangan siang ditutup sementara. Hasilnya sangat memuaskan; saham Neovault Logistics ditutup dengan penurunan sebesar tujuh persen, sebuah angka yang signifikan untuk perusahaan sebesar itu.

​"Ini baru guncangan kecil di pinggiran, Paman. Besok, aku akan mulai menyentuh fondasi utama kerajaannya," ujar V sambil berdiri dari kursinya.

​"Kau harus istirahat, V. Mata itu tidak bisa berbohong kalau kau kelelahan," sahut nelayan itu sambil membereskan cangkir-cangkir kosong di meja.

​V hanya mengangguk singkat, namun pikirannya sudah melompat ke rencana berikutnya. Serangan saham pertama ini sukses membuktikan bahwa Arlan Valeska bukan tidak terkalahkan. Di bawah permukaan yang mengkilap, kekaisaran pria itu memiliki retakan yang bisa diperlebar dengan sedikit tekanan yang presisi.

​V berjalan menuju kamar mandinya, membasuh wajahnya dengan air dingin yang segar. Ia menatap pantulannya di cermin, memastikan perban di bahunya masih terpasang rapi di balik pakaiannya. Luka bakar itu berdenyut, seolah-olah ikut merayakan kerugian jutaan dolar yang baru saja dialami oleh Arlan.

​"Apakah ini sudah cukup membuatmu tidak bisa tidur malam ini, Arlan?" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.

​Ia keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang utama, melihat nelayan tua itu sedang memeriksa enkripsi pada router mereka. Kesetiaan pria tua ini adalah sesuatu yang tidak pernah V duga akan ia dapatkan di tempat kumuh seperti distrik Rust. Namun di dunia ini, musuh dari musuhmu adalah sekutu yang paling berharga.

​"Paman, siapkan data tentang mantan mitra Arlan yang didepak tahun lalu. Aku butuh nama-nama itu sore ini," perintah V dengan nada yang tidak bisa dibantah.

​"Aku sudah menyiapkannya di folder terenkripsi. Kau benar-benar ingin mulai merekrut sekutu?" nelayan itu bertanya sambil terus bekerja.

​V mengangguk pelan, menatap layar monitor yang kini menampilkan grafik penutupan pasar. "Serangan dari luar tidak akan cukup. Aku butuh orang-orang yang tahu di mana Arlan menyembunyikan mayat-mayat di masa lalunya."

​V kembali duduk, membiarkan tubuhnya bersandar pada kursi sambil memejamkan mata sejenak. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia bisa melihat wajah Arlan yang sedang murka di dalam kantor mewahnya. Bayangan itu memberinya kedamaian yang aneh, sebuah kepuasan yang lebih manis daripada harta mana pun di dunia.

​"Identitas V sudah mulai dikenal di lantai bursa sebagai pemain misterius yang berbahaya," gumam V pelan.

​"Dan itu baru hari pertama. Aku tidak sabar melihat apa yang akan kau lakukan di hari keseratus," balas nelayan itu sambil tersenyum tipis.

​V tidak menjawab, ia hanya membiarkan keheningan apartemen itu menelan suara-suara di sekitarnya. Serangan saham pertama telah usai, meninggalkan luka yang cukup dalam pada reputasi finansial Arlan. Langkah pertama dari tarian kematian ini telah dieksekusi dengan sempurna, dan V siap untuk langkah-langkah berikutnya yang jauh lebih berdarah secara digital.

​Ia tahu bahwa mulai besok, Arlan akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menstabilkan harga saham. Namun, Arlan tidak menyadari bahwa umpan yang ia telan hanyalah bagian kecil dari perangkap yang jauh lebih besar. V telah membuang seluruh hidupnya sebagai Asha hanya untuk saat-saat seperti ini, dan ia tidak akan berhenti sampai semuanya rata dengan tanah.

​"Selamat menikmati hari-hari terakhirmu di puncak, Arlan," batin V sebelum akhirnya tertidur di atas kursi kerjanya.

​Matahari kini sudah naik tinggi di atas langit Neovault, menerangi gedung-gedung pencakar langit yang tampak megah namun menyimpan banyak kebusukan di dalamnya. Di salah satu gedung itu, Arlan mungkin sedang berteriak pada para analisnya, menuntut jawaban atas apa yang terjadi. Jawaban yang tidak akan pernah ia temukan, karena musuh yang ia hadapi adalah seseorang yang ia anggap sudah tidak bernyawa.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!