NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: BANGUNNYA SANG SINGA

Malam itu, dalam tidurnya yang gelisah, Arcelia seperti ditarik ke dalam ruang hampa yang serba putih. Di sana, berdiri seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengannya, namun dengan tatapan yang jauh lebih sayu dan lelah.

Alzena yang asli.

Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kelegaan. "Adikku... terima kasih sudah kembali. Ambil semuanya. Tubuh ini, identitas ini, dan harga diri kita. Jangan biarkan mereka menginjak kita lagi seperti yang mereka lakukan padaku."

Arcelia mencoba meraih tangan kakaknya, tapi sosok itu perlahan memudar menjadi serpihan cahaya. "Gue janji, Zen. Gue bakal bikin mereka sujud di kaki lo," batin Arcelia tepat sebelum matanya terbuka lebar.

Cahaya matahari menusuk matanya. Arcelia bangun, tapi bukan dengan tangis seperti kemarin. Ia duduk tegak, mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar. Tatapan matanya kini tajam, sedingin es, dan penuh dengan aura intimidasi yang biasanya hanya dimiliki oleh seorang bos mafia.

"Waktunya bersih-bersih," gumamnya.

Ia turun ke ruang makan dengan langkah yang mantap. Tidak ada lagi langkah ragu atau bahu yang membungkuk. Ia mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka—sangat kasual, sangat berani.

Di meja makan, keluarga Winchester sudah berkumpul. Adrian sedang membaca koran, sementara Keano menyesap kopinya dengan wajah gelisah. Begitu Arcelia muncul, suasana mendadak hening.

"Pagi," sapa Arcelia pendek. Ia menarik kursi di samping Keano dengan kasar hingga menimbulkan suara decit yang nyaring, lalu duduk sambil menyandarkan punggungnya dengan santai.

Adrian menurunkan korannya, menatap menantunya dengan alis berkerut. "Kau sudah merasa lebih baik, Alzena? Kemarin kau membuat kegaduhan yang cukup besar."

Arcelia mengambil sepotong roti, mengolesnya dengan selai kacang menggunakan pisau yang gerakannya sangat presisi. "Kegaduhan? Gue rasa itu cuma reaksi normal manusia pas tau kalau hidupnya selama ini dikelilingi sama orang-orang munafik."

Keano hampir tersedak kopinya. Ia menatap istrinya dengan mata melebar. "Alzena, jaga bicaramu di depan Ayah."

Arcelia menoleh pada Keano, memberikan senyum miring yang provokatif. "Kenapa? Apa gue salah bicara? Dunia ini emang nggak adil, kan? Ada orang yang dibuang kayak sampah cuma karena takhayul bodoh, dan ada orang yang duduk manis menikmati harta sambil pura-pura nggak tau apa-apa."

Adrian meletakkan pisaunya dengan bunyi *dentang* yang keras. "Apa maksudmu dengan takhayul? Dan sejak kapan kau bicara begitu kasar di meja makan ini?"

Arcelia menatap mertuanya tanpa rasa takut sedikit pun. Ia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Denger ya, Papa Adrian yang terhormat. Sopan santun itu mahal harganya, dan gue nggak bakal buang-buang itu buat orang yang cuma peduli sama reputasi. Dunia yang Papa banggain ini... penuh sama kotoran. Dan gue capek harus pura-pura nggak nyium baunya cuma biar dianggap 'menantu teladan'."

"Kau!" Adrian terpaku. Ia tidak pernah ditantang seperti ini seumur hidupnya, apalagi oleh seorang wanita yang biasanya hanya bisa menunduk.

Keano menatap Arcelia. Bukannya marah karena istrinya tidak sopan pada ayahnya, Keano justru merasa jantungnya berdegup kencang. Keberanian ini, gaya bicara yang "bar-bar" ini, dan cara Arcelia memutar pisau rotinya... itu sangat seksi. Itu sangat kuat.

"Ayah, biarkan dia," potong Keano tiba-tiba. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Arcelia, mencoba memberikan peringatan sekaligus dukungan.

"Jangan pegang-pegang, gue lagi makan," Arcelia menepis tangan Keano tanpa melihatnya.

Keano justru tertawa kecil—sebuah tawa yang membuat Riven dan Velina yang sejak tadi menyimak di pojokan hampir menjatuhkan garpu mereka. Kakak mereka yang kaku baru saja ditolak, dan dia malah tertawa?

"Lo kenapa ketawa? Lucu?" tanya Arcelia, menaikkan sebelah alisnya.

"Kau sangat menarik saat sedang marah," bisik Keano, suaranya rendah. Ia tidak peduli lagi pada tatapan tajam ayahnya. Ia merasa seperti baru saja menemukan sisi dari istrinya yang selama ini ia cari-cari.

Adrian menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Sepertinya kau benar-benar sudah berubah, Alzena. Tapi ingat, besok kita tetap berangkat ke Calveron. Aku harap kau bisa mengontrol dirimu di sana."

Arcelia berdiri, meneguk kopinya hingga habis dalam satu tarikan. "Gue bakal kontrol diri gue kalau nggak ada yang cari gara-gara. Tapi kalau ada ular yang coba-coba matok gue lagi... jangan salahin gue kalau gue balik patahin lehernya."

Ia berbalik dan berjalan pergi menuju ruang gym tanpa menoleh lagi.

Adrian menatap Keano. "Keano, dia benar-benar bukan Alzena yang kita kenal."

Keano bangkit, merapikan jasnya dengan senyum misterius di bibirnya. "Mungkin ini Alzena yang sebenarnya, Ayah. Dan jujur saja... aku jauh lebih menyukai versi yang ini. Dia jauh lebih... hidup."

Sementara itu, di gym, Arcelia mulai memukul samsak dengan kekuatan penuh. *Bugh! Bugh! Bugh!*

"Aldric Halim, Shania... kalian pikir kalian bisa tidur nyenyak setelah apa yang kalian lakuin ke Arcelia dan Alzena?" Arcelia menyeringai, matanya berkilat haus akan pembalasan. "Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, pialanya adalah kehancuran kalian."

Ia tidak mengaku siapa dia sebenarnya, tapi tindakannya hari ini adalah deklarasi perang. Singa itu sudah bangun, dan dia tidak akan kembali tidur sebelum mangsanya habis.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!