-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Lembayung senja di ufuk barat mulai memudar, menyisakan gurat jingga yang perlahan tertelan oleh gelapnya langit. Jarum jam baru saja melewati angka enam sore, menandakan tugas harian Bianca di bangunan utama Villa Dirgantara telah tuntas. Gadis itu menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang seharian ini menghimpit pundaknya.
Di tangannya, terselip sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang sedikit mengelupas di bagian sudutnya. Itu adalah antologi puisi sastra klasik yang ia pinjam dari perpustakaan pribadi Pak Reza tempo hari. Membaca adalah satu-satunya pelarian yang tersisa bagi Bianca untuk menyegarkan pikirannya yang sering kali dihantui oleh bayang-bayang masa lalu.
Ia melangkah perlahan menuju taman kecil di samping paviliun, tempat yang cukup jauh dari kebisingan dapur karyawan. Di sana terdapat sebuah bangku kayu panjang di bawah pohon kamboja yang sedang berbunga. Bau harum bunga kamboja yang khas menyatu dengan aroma tanah basah sisa gerimis sore tadi, menciptakan suasana tenang yang begitu ia dambakan.
Bianca duduk, menyilangkan kakinya dengan anggun—sebuah kebiasaan yang tidak pernah bisa ia hilangkan meski kini ia hanya seorang pelayan. Ia mulai membuka halaman demi halaman, tenggelam dalam barisan kata-kata puitis tentang kehilangan dan penebusan. Sesekali, ia menyugar rambutnya yang tertiup angin malam dengan gerakan jemari yang lentur dan halus.
Ia tidak sadar, dari balik bayang-bayang pilar paviliun, sepasang mata tajam sedang mengawasinya.
Arlan sebenarnya hanya ingin mencari udara segar. Pikirannya buntu setelah berjam-jam berkutat dengan laporan keuangan dan ancaman-ancaman dari pihak Stella. Namun, langkah kakinya justru membawanya menyimpang jauh hingga ke taman paviliun pelayan.
Langkahnya terhenti seketika saat ia melihat sosok itu. Di bawah temaram lampu taman yang kekuningan, "Gita" tampak sangat berbeda. Tidak ada baki di tangannya. Tidak ada sikap menunduk yang biasanya ia tunjukkan saat melayani tamu. Di sana, di atas bangku kayu tua itu, duduk seorang wanita yang memancarkan aura intelejensia dan kelas yang sangat tinggi.
Arlan memperhatikan bagaimana Bianca memegang buku itu—dengan rasa hormat yang hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar memahami nilai sebuah karya sastra. Ia melihat bagaimana bibir wanita itu bergerak pelan, seolah sedang meresapi rima dalam diam. Sinar lampu yang jatuh di wajahnya menonjolkan profil samping yang tegas namun lembut, sebuah kecantikan yang tenang dan dewasa.
"Sepertinya buku itu jauh lebih menarik daripada pemandangan kebun teh di malam hari," suara Arlan memecah kesunyian, rendah dan berat.
Bianca tersentak. Ia segera menutup bukunya dan berdiri dengan sigap, refleks pelayannya kembali bekerja.
"Tuan Arlan... Maaf, saya tidak tahu Tuan ada di sini."
Arlan melangkah keluar dari kegelapan, mendekati Bianca. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung, membuatnya tampak lebih santai namun tetap mengintimidasi.
"Duduklah. Aku tidak datang untuk memberimu tugas tambahan," ujar Arlan sambil memberi isyarat agar Bianca kembali duduk.
Bianca ragu sejenak, namun akhirnya ia kembali duduk di ujung bangku. Arlan, di luar dugaan, ikut duduk di sisi lain bangku yang sama. Jarak mereka hanya terpaut satu meter, namun Bianca bisa merasakan aroma sandalwood dan sisa kopi yang maskulin dari tubuh pria itu.
"Apa yang sedang kamu baca? Ayah jarang meminjamkan koleksi pribadinya kepada sembarang orang," Arlan melirik sampul buku di pangkuan Bianca.
"Hanya beberapa puisi klasik, Tuan. Pak Reza sangat baik mengizinkan saya meminjamnya," jawab Bianca pelan, jemarinya mengusap sampul buku itu dengan lembut.
"Puisi?" Arlan menaikkan sebelah alisnya, ada nada skeptis namun penasaran di suaranya. "Biasanya orang-orang di posisimu lebih suka membaca majalah gosip atau novel romansa murah. Mengapa sastra?"
Bianca tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata namun terlihat sangat elegan. "Sastra memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak berani kita ajukan pada diri sendiri, Tuan. Puisi adalah cara paling sopan untuk mengakui bahwa kita sedang hancur."
Jawaban itu menghantam Arlan tepat di ulu hati. Ia menatap Bianca lebih dalam, mencoba menembus kabut rahasia yang menyelimuti wanita ini.
"Kamu bicara seperti seseorang yang pernah memiliki segalanya, lalu kehilangan segalanya dalam satu malam."
Bianca terdiam. Ia menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan perkebunan. "Bukankah kita semua pernah kehilangan sesuatu, Tuan? Perbedaannya hanya pada apa yang kita pilih untuk kita simpan di sisanya."
Arlan tersenyum pahit, teringat pada pengkhianatan Stella dan bagaimana hidupnya menjadi begitu mekanis setelah perceraian itu.
"Aku memilih untuk tidak menyimpan apa pun. Lebih mudah hidup dengan tangan kosong daripada memegang sesuatu yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi belati."
"Itu bukan hidup, Tuan. Itu hanya bertahan," bantah Bianca lirih, keberaniannya muncul kembali. "Tangan kosong memang tidak bisa terluka, tapi tangan kosong juga tidak akan pernah bisa menggenggam kebahagiaan."
Suasana mendadak menjadi sangat intim. Angin malam bertiup lebih kencang, membawa aroma bunga kamboja yang semakin kuat. Arlan menoleh ke arah Bianca, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihatnya sebagai pelayan atau wanita misterius yang harus diwaspadai. Ia melihat seorang jiwa yang sama-sama terluka.
Secara tidak sadar, Arlan menggerakkan tangannya ke arah tangan Bianca yang berada di atas buku.
"Siapa kamu sebenarnya, Gita? Semakin aku mencoba mencarimu, semakin aku merasa bahwa aku justru sedang menemukan diriku sendiri yang hilang."
Bianca menahan napas saat jari-jari Arlan yang hangat bersentuhan dengan kulit tangannya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena sensasi yang sudah sangat lama tidak ia rasakan—sensasi diinginkan sebagai seorang wanita.
"Saya hanya seseorang yang sedang mencoba pulang, Tuan," bisik Bianca, matanya mulai berkaca-kaca.
Tepat saat Arlan hendak berkata lebih jauh, indranya yang tajam menangkap suara langkah kaki dan gelak tawa yang mendekat dari arah koridor.
Tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya yang menggantung, Arlan berdiri dengan gerakan kaku. "Aku harus kembali ke bangunan utama," ucapnya pendek, nyaris berbisik. Sebelum Bianca sempat menanggapi, pria itu sudah melangkah cepat, menghilang di balik bayang-bayang pilar kayu dengan terburu-buru.
Bianca hanya bisa mematung, menatap punggung Arlan yang menjauh. Ia menggelengkan kepala pelan, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyum ironis. Gaya bicaranya seperti penguasa, tapi barusan dia lari seperti maling yang takut tertangkap basah, batinnya.
"Teh Gita! Masih di sini rupanya!"
Suara Isah yang melengking memecah lamunan Bianca. Gadis itu muncul bersama Marni, keduanya masih mengenakan celemek kerja namun wajah mereka tampak cerah. Mereka baru saja menyelesaikan giliran cuci piring terakhir di dapur besar.
"Sedang cari angin, Teh?" tanya Marni lembut, sambil membenahi letak kuncir rambutnya yang sedikit berantakan.
"Iya, Teh. Di dalam kamar terasa sedikit pengap," jawab Bianca, menyesuaikan nada suaranya agar kembali tenang. "Baru selesai?"
"Sudah bersih semua! Tinggal tidur," seru Isah sambil menghempaskan pantatnya di bangku kayu, tepat di samping Bianca. "Boleh bergabung, kan? Rasanya malas kalau langsung masuk kamar, suasananya lagi enak begini."
Bianca mengangguk dan mempersilakan mereka. Maka dimulailah obrolan santai khas perempuan di penghujung hari. Isah, yang paling muda dan paling vokal, mulai bercerita tentang betapa gagahnya Arlan saat tadi siang meninjau perkebunan.
"Aduh, Teh... Den Arlan itu ya, kalau lagi berdiri di bawah sinar matahari sambil pakai kacamata hitam, rasanya seperti lihat aktor di film-film Jakarta. Luar biasa gagah," celoteh Isah dengan mata berbinar.
Marni menyenggol lengan Isah dengan sikutnya, tertawa kecil. "Hus! Jaga matamu itu, Sah. Jangan sampai menaruh perasaan yang aneh-aneh sama majikan. Ingat posisi kita."
"Ih, si Teteh ini! Bukan cinta, Teh. Ini tuh namanya kekaguman estetik," kilah Isah menggunakan istilah yang entah didapatnya dari mana. "Kagum saja, kok. Sosoknya itu lho, tegas, pintar, tapi matanya dingin sekali. Kayak ada misteri di baliknya."
Bianca hanya tersenyum kecil mendengarkan perdebatan itu. Ia menatap kedua rekan kerjanya—wanita-wanita yang setiap hari bangun sebelum fajar, mengurus peluh orang lain, dan tidur dengan tangan yang sering kali kasar karena detergen. Namun, di wajah mereka, hampir tidak pernah ia temukan gurat keputusasaan yang dalam.
Sesuatu yang mengganjal di hati Bianca selama bertahun-tahun mendadak ingin ia tanyakan.
"Teh Marni, Isah..." Bianca menjeda, membuat kedua perempuan itu menoleh. "Apa kalian pernah merasa susah? Maksud saya, apa ada sesuatu yang membuat kalian benar-benar sedih sampai rasanya sulit untuk tersenyum?"
Isah mengerutkan kening, tampak polos. "Memangnya kenapa Teh Gita tanya begitu? Apa Teteh lagi sedih?"
Bianca menggeleng pelan, jemarinya memilin ujung bukunya. "Hanya heran saja. Setiap kali saya melihat kalian, kalian selalu tertawa. Seolah-olah hidup ini ringan-ringan saja, seolah tidak ada beban yang kalian pikul."
Marni terdiam sejenak. Ia menatap Bianca dengan sorot mata yang teduh—jenis tatapan yang mendalam dan penuh pengertian. Bagi Bianca, tatapan itu terasa begitu familiar. Itu adalah jenis sorot mata yang selalu diberikan kakaknya, Kirana, setiap kali Bianca melakukan kesalahan besar di masa lalu. Tatapan seorang kakak yang ingin melindungi, meski adiknya baru saja menghancurkan hati banyak orang.
Marni menghela napas pendek, lalu menyentuh tangan Bianca yang terasa dingin.
"Teh Gita... tentu saja kami pernah susah. Sering malah," ujar Marni lembut. "Isah putus sekolah saat SMA karena Ayah kami sakit menahun di desa sebelah. Gaji kami sering kali habis tiap bulan buat kirim obat. Saya sendiri? Suami pertama saya pergi entah ke mana saat anak saya masih bayi. Saya harus kerja di sini dan hanya bisa lihat anak saya sebulan sekali sampai akhirnya kami bercerai dan saya memilih untuk menikah buat yang kedua kalinya, meski hidup kami sederhana tapi saya bersyukur mendapatkan pengganti yang lebih bertanggung jawab dan mencintai kami."
Bianca terpaku. Ia tidak menyangka di balik tawa Isah yang renyah dan keramahan Marni, tersimpan luka yang begitu nyata.
"Tapi, Teh," lanjut Marni, "kami memilih untuk tidak menjadikan kesedihan itu sebagai beban yang dipikul di kepala. Kalau beban dipikul di kepala, jalan kita jadi bungkuk, mata kita terus lihat ke bawah, dan kita tidak bisa lihat matahari pagi yang indah. Kesedihan itu ditaruh di saku saja. Ada di sana, kita akui keberadaannya, tapi dia tidak menghentikan langkah kita."
Marni tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat bijak. "Hidup itu sederhana kalau kita pandai bersyukur, Teh. Kalau kita terlalu banyak menuntut pada hidup, hidup akan balik menuntut kita dengan rasa kecewa."
Kata-kata Marni menghujam telak ke ulu hati Bianca. Ia teringat dirinya sepuluh tahun yang lalu. Seorang Bianca Adytama yang memiliki segalanya—fasilitas, kekuasaan, kecantikan—namun tidak pernah merasa cukup. Ia selalu merasa hidup berhutang padanya. Keangkuhannya dulu adalah hasil dari ketidakmampuannya untuk bersyukur, yang akhirnya membawanya ke dalam jurang kehancuran.
Aku dulu punya segalanya, tapi jiwaku pengemis, batin Bianca pahit. Sementara mereka tidak punya apa-apa, tapi hati mereka seperti ratu.
"Terima kasih, Teh Marni. Itu... nasehat yang sangat saya butuhkan," bisik Bianca tulus.
Obrolan itu berakhir saat udara semakin menggigit. Mereka berpamitan untuk masuk ke kamar masing-masing. Namun, saat Bianca sudah berada di dalam kamarnya yang sunyi, ia tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi ranjang, merenungkan setiap kata yang diucapkan Marni.
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh