NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: AGENDA JAM SEPULUH MALAM

Malam kian merambat, jam dinding di ruang tengah rumah Aldi sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Aldi yang baru saja selesai mandi dan berniat rebahan sambil memikirkan wajah Jasmine, mendadak dikagetkan oleh sebuah pesan suara WhatsApp dari Pak RW. Isi pesannya singkat, padat, dan langsung membuat jiwa kepemimpinan Aldi yang baru berumur jagung itu ternyata harus bergerak se cepat ini.

Pak RW meminta Aldi selaku Ketua Karang Taruna yang baru untuk segera mengambil berkas proposal di rumahnya, lalu mengantarkannya ke rumah Bu RT Jasmine malam ini juga. Berkas itu sangat darurat karena menyangkut tanda tangan persetujuan dua proyek besar kompleks yakni pembangunan Taman Karya di area perumahan, dan proyek pembangunan irigasi dari sungai ke saluran air rumah-rumah warga.

Fungsi Aldi dan anak-anak Karang Taruna di sini sebenarnya sebagai tim pelaksana lapangan. Mereka bertugas membantu mendata kebutuhan material—mulai dari menghitung jumlah sak semen, pasir, hingga pipa—sekaligus menggerakkan para pemuda kompleks untuk kerja bakti membersihkan lahan yang akan digali minggu depan.

Aldi yang sudah berganti pakaian rapi menggunakan celana jeans dan kaus hitam polos baru saja hendak melangkah ke teras luar ketika suara Bu Baren menginterupsinya dari arah dapur.

"Mas! Mau ke mana kamu malam-malam begini? Sudah jam sepuluh lewat lho, jangan kelayapan gak jelas!" tegur Bu Baren sambil berjalan keluar membawa sebuah wadah rantang plastik berwarna hijau muda. Aroma gurih kaldu daging dan rempah mendadak menyeruak memenuhi ruangan.

"Ini, Bun, disuruh Pak RW nganterin berkas proyek taman sama irigasi ke rumah Bu RT Jasmine. Katanya besok pagi-pagi banget harus sudah diserahin ke kecamatan," jelas Aldi jujur.

Mendengar nama Jasmine disebut, mata Bu Baren langsung berbinar. Ia buru-buru menyodorkan rantang plastik yang dipegangnya ke depan dada Aldi. "Nah, kebetulan banget! Mas, Bunda titip ini buat Bu Jasmine ya, itung-itung berbagi. Tadi Bunda masak sup iga kebanyakan, dagingnya empuk banget ini, mumpung masih hangat."

Aldi sempat melongo menatap rantang di tangannya. "Waduh, Bun... malem-malem gini ngasih sup iga? Gak aneh apa?"

"Aneh apanya toh? Orang bertetangga saling berbagi makanan kok dibilang aneh. Udah, bawa aja, sekalian bilang salam dari Bunda ya!" titah Bu Baren, tidak menerima bantahan.

Aldi hanya bisa tersenyum lebar di dalam hati. Lampu hijau dari ibunya ternyata makin lama makin terang benderang. Namun, setelah melangkah keluar pagar rumah, Aldi mendadak menghentikan langkahnya di bawah temaram lampu jalan. Otak sehatnya mendadak berfungsi.

Gila aja gue ke rumah Jasmine sendirian jam segini, batin Aldi cemas. Ya kali cowok bujang bertamu sendirian jam sepuluh malem ke rumah janda muda yang cuma tinggal berdua sama anak balitanya? Bisa-bisa besok pagi gue langsung digerebek sama komite ghibah pimpinan Bu Ratna dan Bu Widuri!

Demi menjaga nama baik Jasmine sekaligus keselamatan nyawanya dari fitnah, Aldi langsung meraba saku celananya, mengambil HP, dan mengetikkan pesan darurat di grup chat tongkrongannya.

Aldi Wijaya: PING! Urgent babi! Nan, Sen, lu berdua buruan ke depan gang rumah gue sekarang. Gak pakai lama, bawa motor. Ada misi!

Sendy Kunyuk: Misi matamu! Orang udah mau tidur juga. Misi apaan?

Kenan Ajah: Kalau misinya kagak dapet kopi sama rokok sebungkus, gue mogok.

Aldi Wijaya: Gue modalin ro*ok dua bungkus sama kopi ntar di warkop, buruan! Ini urusan negara, kita mau ke rumah Bu RT Jasmine!

Mendengar kata "Bu RT Jasmine", tidak butuh waktu lima menit, suara deru knalpot motor bebek milik Sendy dan Kenan sudah terdengar saling bersahutan memecah kesunyian gang. Dua kunyuk kesayangan Aldi itu muncul dengan setelan khas ronda—celana pendek, kaus oblong kedodoran, dan sandal jepit yang tipisnya sudah selevel tisu dibagi dua.

"Mana? Mana berkasnya? Mana Bu RT?" cerocos Sendy langsung mematikan mesin motornya begitu sampai di depan Aldi.

"Lu berdua bener-bener ya, kalau denger mau ke rumah Bu Jasmine langsung gerak cepat kayak tim SAR," cibir Aldi sambil menunjukkan berkas proposal tebal di tangan kiri dan rantang sup iga di tangan kanannya.

Kenan menyipitkan matanya, menatap rantang hijau itu dengan pandangan penuh selidik. "Bentar, Di. Itu lu bawa berkas proyek atau mau hantaran lamaran? Kok pakai bawa rantang segala? Isinya apaan tuh? Jangan-jangan lu dukun ya, mau memelet Bu RT pakai media makanan?"

"Otak lu bersihin dulu pakai bensin, Nan! Ini sup iga bikinan Bunda gue, dititip buat Bu Jasmine," omel Aldi sambil menjitak pelan kepala Kenan. "Udah, buruan jalan. Sendy bonceng tiga cepet. Inget ya, lu berdua fungsinya di sini sebagai tameng pelindung biar kita gak dikira mau macam-macam malam-malam."

"Siap, Pak Ketua Karang Taruna! Tugas mengawal kebucinan Anda akan kami laksanakan dengan penuh rasa lapar," sahut Sendy sambil terkekeh gembira.

Ketiga pemuda itu akhirnya meluncur membelah jalanan kompleks perumahan yang mulai sepi. Hanya butuh waktu sekitar tiga menit bagi mereka untuk sampai di depan pagar rumah bercat putih gading milik Jasmine. Dari luar, lampu teras rumah tampak menyala terang, namun pintu kayunya sudah tertutup rapat.

Aldi turun dari motor dengan jantung yang mendadak kembali berdisko. Ia merapikan kaus hitamnya sebentar, mendeham keras-keras, lalu melangkah pelan memasuki halaman rumah diikuti Kenan dan Sendy yang sibuk saling sikut di belakangnya.

Tok, tok, tok.

"Permisi... Assalamualaikum, Bu RT," panggil Aldi dengan suara yang sengaja dilembutkan, agar tidak terdengar seperti maling jemuran.

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Aldi sempat bertukar pandang dengan Sendy yang mulai pasang muka jail. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara kunci pintu berputar dari dalam. Cklek.

Pintu kayu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Jasmine dari balik celah pintu. Malam ini, Jasmine tampaknya baru saja bersiap untuk tidur. Ia mengenakan daster lengan panjang berkerah santai berwarna merah marun, dengan rambut panjangnya yang digerai rapi membingkai wajah cantiknya yang polos tanpa riasan. Matanya tampak sedikit terkejut melihat siapa yang bertamu di jam sewisata malam ini.

"Eh, Mas Aldi? Ada apa ya malam-malam begini?" tanya Jasmine lembut, matanya kemudian beralih menatap dua cowok di belakang Aldi. "Lho, ada Mas Kenan sama Mas Sendy juga?"

"Malam, Bu RT cantik!" sapa Sendy dan Kenan serempak sambil memamerkan cengiran kompak mereka, membuat Aldi diam-diam menginjak jempol kaki Sendy dengan kesal.

"Iya, maaf banget ya, Bu Jasmine, ganggu waktu istirahatnya malam-malam gini," buka Aldi, mencoba mengabaikan kelakuan dua temannya. "Ini tadi saya dapet amanah dari Pak RW. Ada berkas proposal pembangunan Taman Karya sama proyek irigasi sungai yang harus ditandatangani malam ini juga, Bu. Kata Pak RW besok pagi-pagi banget harus sudah diserahin ke kecamatan."

Jasmine langsung mengangguk paham, wajahnya yang semula heran kini berubah serius begitu mendengar urusan dinas kompleks. "Oh, proyek itu ya? Iya, Pak RW kemarin memang sempat bilang ke saya. Sini berkasnya, Mas, biar saya tanda tangan sekarang."

Aldi menyerahkan map tebal itu. Jasmine menerimanya, lalu melirik ke arah tangan kanan Aldi yang masih menenteng sebuah rantang plastik hijau. "Kalau... yang di tangan kanan itu apa, Mas Aldi? Berkas material juga?" tanya Jasmine dengan nada bercanda, membuat matanya menyipit manis.

Wajah Aldi seketika merona merah akibat salting yang tak tertahankan. "E-eh, bukan, Bu RT. Ini... sup iga dari Bunda saya, katanya tadi masak kebanyakan di rumah, jadi sengaja dititip buat Bu Jasmine dan Nadeo, hitung-hitung berbagi, Bu. Salam dari Bunda katanya," ujar Aldi menyerahkan rantang itu dengan gerakan kikuk.

Mata Jasmine tampak berbinar haru, ia menerima rantang itu dengan kedua tangannya. "Ya ampun, Bu Baren repot-repot banget sih. Tolong sampaikan terima kasih banyak ya ke Bunda kamu, Mas Aldi. Kebetulan saya belum sempat makan malam tadi karena repot nidurin Nadeo yang rewel."

"Sama-sama, Bu RT. Dimakan ya, mumpung masih hangat," sahut Aldi, hatinya rasanya langsung meleleh bagai es batu disiram air panas mendengar perhatian kecilnya disambut baik.

"Ehem! Berkasnya ditandatanganin di teras aja Bu RT, biar kita gak kena tilang sama intel PKK komplek," celetuk Kenan tiba-tiba, memecah suasana romantis dadakan itu.

Jasmine tertawa kecil, suara tawa renyahnya terdengar begitu merdu di telinga Aldi malam itu. "Iya, benar juga kata Mas Kenan. Sebentar ya, saya ambil pulpen dulu di dalam. Kalian duduk saja dulu di kursi teras."

Jasmine membalikkan badan masuk ke dalam rumah untuk mengambil pulpen. Begitu sosok Jasmine hilang di balik pintu, Sendy langsung merangkul pundak Aldi dengan kasar.

"Gila lu, Al! Modus lu malam ini bener-bener ye nyet! Bawa berkas dinas demi bisa apel malam-malam, plus dapet bonus senyuman maut dari Bu RT dasteran merah marun. Sumpah, jantungan gak lu tadi?" ledek Sendy setengah berbisik.

"Diem lu, Nyuk! Untung lu berdua gue ajak, kalau enggak, bisa pingsan gue di tempat tadi," balas Aldi sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang, menatap pintu rumah Jasmine dengan senyum penuh harapan. Malam ini, misi darurat jam sepuluh malamnya bener-bener membawa berkah yang luar biasa. Perjalanan panjang Aldi untuk meluluhkan hati sang Bu RT tampaknya berjalan di jalur yang sangat tepat.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!