WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
#20
Firza mengemudi seperti orang gila, “Bertahanlah, Resha,” gumamnya. Tujuannya kini adalah rumah sakit, dan pada jam-jam seperti ini lalu lintas sangat sibuk.
Resha yang pada dasarnya tidak apa-apa, segera membuka mata di saat yang ia rasa telah aman.
“Uh, ish,” ringis Resha, mulai menggeliat dari posisi duduknya yang tak nyaman.
“Kamu sudah sadar?”
“Hmm, kita dimana?” tanyanya masih memejamkan mata agar sandiwaranya mengesankan.
“Di perjalanan menuju rumah sakit, tahan sebentar lagi, ya?”
Tapi, Resha menggeleng pelan, “Tak perlu, kita ke apartemen saja, semua obatku ada di sana.”
Namun, Firza punya pertimbangan lain. “Tidak. Kita harus ke rumah sakit, aku tak mau terjadi apa-apa denganmu.”
Resha menegakkan posisi duduknya, hatinya berbunga bahagia, karena ia telah resmi memenangkan Firza sepenuhnya. Dari mamaknya, dari Ersha, dan dari anak kandungnya.
Wanita itu sudah ber siasat licik jika kelak mereka punya anak sendiri, ia akan memastikan Abizar tidak akan pernah bisa merebut kasih sayang Firza dari anak yang ia lahirkan.
“Dengarkan aku, tadi hanya sedikit pusing dan mual, sekarang aku baik-baik saja. Kita pulang ke apartemen orang tuaku saja, karena semua obatku ada di sana.
“Yakin?” Firza kembali memastikan.
Resha mengangguk.
“Baiklah.”
Mobil Firza pun mengarah ke apartemen mewah milik kedua orang tua Resha. Meski sebenarnya, Firza khawatir akan terjadi sesuatu pada Resha.
Pikiran mulai tenang, kekhawatiran pun mereda. Ingatan Firza kembali tertuju pada tangisan Abizar yang terdengar memilukan. Tanpa sadar kedua tangannya mencengkram erat setir mobil, memaki dirinya sendiri yang kini sudah gagal menjadi ayah yang baik untuk Abizar. “Maafkan Ayah, Nak,” gumam Firza.
“Hah, apa kamu bilang?” tanya Resha.
Firza menggeleng cepat, tersenyum walau terpaksa, kenapa ia belum bisa membagi perasaannya tentang Abizar pada Resha? Padahal sebentar lagi mereka menikah.
“Maafkan aku,” ucap Resha tanpa diduga, wanita itu menundukkan raut wajah sendunya sambil meremas ujung pakaiannya. “Gara-gara aku, kamu tak bisa berlama-lama dengan—” Resha tak melanjutkan ucapannya. Ia terisak sedih, entah bagaimana air matanya begitu lancar keluar, padahal hanya berpura-pura.
Firza menggenggam tangan Resha, “Tidak apa-apa, lain kali kita ajak dia pergi bertiga, ya?”
“Aku sangat tak sabar,” ucap Resha dengan antusiasme palsunya.
•••
Kembali ke kediaman Biru dan Pink.
Hampir satu jam lamanya Abizar menangis, tapi bocah itu tak menangis sendiri, karena Mamak Karmila pun ikut menangis bersamanya. Kini setelah ia kembali tidur, baik Mamak Karmila maupun Ersha tak beranjak dasana.
Keduanya duduk di dua sisi berbeda pembaringan tersebut, tak mampu beranjak karena ikut merasa pilu melihat anak sepolos Abizar meluapkan kekesalan hatinya karena tak bisa melepas rindu dengan ayahnya secara
leluasa.
Dada Abizar kembang kempis mengikuti laju nafasnya yang naik turun dengan teratur, sesekali ia masih sesenggukan, efek samping dari terlalu lama menangis.
Sementara dua orang yang ada di dekat Abizar tetap diam membisu dengan beragam perasaan yang tak bisa dilukiskan, beberapa kali Mamak Karmila maupun Ersha menghela atau menghembuskan nafas berat.
Sejujurnya mereka kehilangan topik pembicaraan, karena masalah ini cukup menguras emosi dan kewarasan.
“Sholatlah dulu, Nak. Mamak masih ingin menemani Abizar sejenak.”
Ersha mengangguk tenang, lalu menghampiri toilet untuk berwudhu.
Beberapa saat kemudian, Ersha ikut membantu kesibukan Pink dan Mamah Ayu menyiapkan makan malam. “Malam ini menginap sini saja, ya?”
“Iya, Mah. Lagi pula sudah ada janji dengan Miranda untuk persidangan pertama esok, dan rumah ini cukup dekat dari dari lokasi. Ersha titip Abi disini, gak papa, kan, Ma?”
Mamah Ayu mengusap lengan Ersha, lembut, dan penuh dukungan. “Hal seperti itu, apa perlu ditanyakan? Tentu saja boleh, Vio pasti senang punya teman bermain.”
“Iya, Er, nanti aku bawa ke playground, semoga tidak rewel.”
“Terima kasih, Pink. Mamah.”
Malam harinya, setelah makan malam dan obrolan santai berakhir. Mamak Karmila mendekati Ersha yang baru selesai menyusui Abizar. “Mamak belum tidur?”
Mamak Karmila menggeleng, “Mamak mau bicara padamu.”
Ersha segera bangkit dari baringnya, “Kenapa, Mak? Ersha lihat, tadi Mamak juga tak banyak makan. Bagaimana kalau Mamak sakit? Abi pasti ikut sedih.”
“Di situasi begini, Mamak mana bisa makan, Mamak sedih, Mamak terluka, tapi Mamak tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya melihat saja,” isak Wanita yang melahirkan Firza itu.
Kemarin adalah hari paling menyakitkan bagi semua orang yang menyayangi Ersha dan Abizar.
Luruh air mata Ersha, kedua lengannya memeluk Mamak Karmila, dua wanita itu menangis saling berpeluk. Kesedihan mereka sama, duka mereka serupa, tak perlu mengatakan apa penyebabnya.
Secara otomatis, telapak tangan Mamak Karmila mengusap lembut kepala dan punggung Ersha, naik turun lembut penuh kasih. “Seumur hidup, baru kali ini Mamak merasa gagal menjadi ibu, karena anak Mamak tega menyakitimu, bahkan Abizar.”
“Mamak hanya bisa memberimu beban berat mengasuh Abizar seorang diri. Titip Abizar, didik dia sebaik mungkin, teguhkan prinsip hidupnya, tanamkan akhlaq, dan aqidah mulia sejak dini. Mamak percaya kamu pasti bisa, karena hanya doa seorang ibu yang mampu menembus langitnya Allah.”
“Insya Allah, Mak. Mamak bantu doa, ya.”
“Selalu, Nak. Doa Mamak akan selalu tertuju padamu, karena engkau yang melahirkan cucu untuk Mamak dan Ayah.”
Isak Ersha semakin keras, kesedihan ini tidak ia rasakan seorang diri, beban berat yang menghimpit dadanya kini bisa berkurang setelah mendengar ucapan Mamak Karmila.
“Bila suatu saat nanti, kau bertemu pria baik yang bersedia menerima Abizar, jangan ragu untuk mengatakan iya, ya, Nak?”
“Tapi, siapa yang mau menerima janda dengan satu anak, Mak? Pasti mereka akan berpikir ribuan kali sebelum memutuskan,” kata Ersha, belum apa-apa, ia sudah merasa rendah diri.
Mamak Karmila melerai pelukan mereka, “Percaya sama Mamak, laki-laki seperti itu, meski hanya satu berbanding seribu, tapi pasti ada di suatu tempat.”
•••
“Aku pulang dulu, ya?” Firza pamit setelah melihat sendiri Resha sudah meminum semua obatnya.
“Tunggu sampai mama dan papaku pulang,” tawar Resha, memanfaatkan situasi agar bisa berduaan lebih lama dengan Firza.
Mereka sedang duduk berdekatan di sofa, dan Resha semakin erat memeluk lengan Firza, karena bersandar di bahu pria itu adalah hal yang paling membuatnya nyaman.
“Baiklah, aku akan disini sampai kau tidur.” Resha tersenyum senang, meski yang ia harapkan lebih dari sekedar ditemani.
Resha semakin merapatkan tubuhnya, jika semula hanya bersandar, kini merangsek masuk ke pelukan pria itu. Jemari tangannya tak tinggal diam, mengusap dan membelai penuh perasaan.
“Res—” Firza menangkap telapak tangan Resha agar tak merambat kemana-mana.
“Kenapa?” tanya Resha lirih, kedua matanya menatap intens ke mata Firza, ini adalah hal yang selalu dihindari Firza mati-matian sejak dulu. Kini Resha ingin mempertaruhkan semua agar setidaknya sekali saja bisa membuat Firza bertukar keringat dengannya.
“Sebentar lagi kita menikah, kurasa tak masalah bila kita melakukannya sekarang,” sambung Resha, suaranya masih lirih nyaris seperti bisikan penuh godaan.
Deg!
Deg!
###
Kalau ada typo lagi, klmen aja, ya. Othor nulisnya diperjalanan menuju Ancol. Jadi harav maklum 😁😚
toh sama" single