Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Studio di sudut kamar
Perjalanan pulang dari pondok terasa lebih singkat. Mungkin karena beban di pundak Adeeva telah meluruh, atau mungkin karena kehangatan telapak tangan Shaheer yang tak sedetik pun terlepas dari jemarinya. Begitu mobil SUV hitam itu memasuki gerbang batalyon, Adeeva tidak lagi merasa seperti narapidana yang kembali ke sel. Ia merasa seperti pulang.
"Kamu turun duluan, aku harus ke kantor sebentar untuk laporan," ujar Shaheer saat mereka sampai di depan rumah nomor 12.
Adeeva mengangguk. Ia membawa bungkusan dari Umi dan masuk ke dalam rumah yang sunyi. Namun, saat ia melangkah menuju kamar, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda. Ada aroma cat kayu yang segar dan bau kain baru.
Ia membuka pintu kamar. Matanya terbelalak.
Di sudut ruangan yang dulunya hanya berisi meja belajar standar asrama, kini telah berubah. Shaheer diam-diam telah menyulap sudut itu menjadi sebuah studio gambar mini yang profesional. Ada meja arsitek yang bisa diatur kemiringannya, rak-rak kayu yang tersusun rapi untuk menyimpan gulungan kertas dan alat warna, serta sebuah lampu kerja dengan cahaya hangat yang nyaman untuk mata.
Bahkan, ada sebuah manekin penjahit di pojok ruangan.
Adeeva mendekat, menyentuh permukaan meja gambar yang halus. Di sana, terselip sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Shaheer yang tegas dan tegak:
Jangan biarkan tembok asrama ini membatasi imajinasimu. Berkaryalah di sini, di sisiku.
Dada Adeeva berdesir. Ia merasakan dorongan emosi yang kuat—sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa terima kasih. Selama ini, orang-orang di hidupnya selalu memaksanya untuk menjadi sesuatu. Abi ingin dia menjadi santriwati, Ibu Shaheer ingin dia menjadi istri perwira yang sempurna. Hanya Shaheer yang memberinya ruang untuk tetap menjadi seorang seniman.
Sore harinya, Shaheer pulang dan mendapati Adeeva sedang duduk di depan meja baru itu, asyik menggoreskan pensil dengan pashmina yang tersampir longgar di bahunya.
"Kamu suka?" tanya Shaheer sambil melepas baretnya.
Adeeva menoleh, matanya berbinar. Ia bangkit dan tanpa sadar langsung memeluk pinggang Shaheer. "Suka sekali. Terima kasih, Shaheer. Kapan kamu melakukan ini semua?"
Shaheer membalas pelukan itu, mengusap puncak kepala Adeeva. "Kaysan dan Nadhir yang membantuku saat kita di pondok kemarin. Aku ingin kamu merasa bahwa rumah ini bukan hanya tempat transit, tapi tempatmu berkarya."
Adeeva melepaskan pelukannya, menatap wajah suaminya. "Kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal aku sering membuatmu susah."
Shaheer tersenyum tipis, jemarinya merapikan helaian rambut Adeeva yang keluar. "Karena melihatmu bahagia adalah satu-satunya tugas yang tidak perlu aku laporkan pada komandan, tapi paling ingin aku selesaikan setiap hari."
Adeeva tertegun. Kalimat Shaheer kali ini tidak terdengar seperti rayuan gombal, melainkan sebuah janji setia seorang prajurit. Ia mulai menerima bahwa pria di depannya ini adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dibawa badai emosinya sendiri.
Malam itu, mereka duduk bersama di ruang tengah. Adeeva mencoba menjodohkan Fathiyah dan Kaysan dalam obrolan mereka, yang disambut tawa kecil oleh Shaheer. Namun, suasana damai itu pecah saat ponsel dinas Shaheer berdering.
Adeeva melihat raut wajah Shaheer berubah seketika. Tegas, dingin, dan penuh konsentrasi.
"Siap. Laksanakan. Saya segera meluncur ke markas," ucap Shaheer singkat sebelum menutup telepon.
Ia menoleh pada Adeeva. Ada sorot penyesalan di matanya. "Deeva, ada panggilan tugas darurat. Saya harus berangkat ke perbatasan malam ini juga. Operasi ini kemungkinan akan memakan waktu satu bulan."
Jantung Adeeva serasa berhenti. Satu bulan? Di saat ia baru saja mulai membuka hatinya?
"Malam ini? Tapi kita baru saja pulang dari pondok," bisik Adeeva.
Shaheer mendekat, menggenggam kedua bahu Adeeva. "Ini tugas, Deeva. Sumpah prajuritku. Aku sudah titipkan keamananmu pada Nadhir dan Fathiyah. Kamu tetaplah di sini, fokuslah pada desainmu."
Adeeva merasakan kecemasan yang luar biasa. Selama ini ia merasa aman karena ada punggung Shaheer yang menjaganya. Kini, ia harus berdiri sendirian di tengah asrama yang penuh mata menghakimi itu.
"Janji kamu akan pulang?" Adeeva menatap suaminya, kali ini dengan tatapan yang sangat membutuhkan.
Shaheer mengecup kening Adeeva lama. "Aku akan pulang. Selalu pulang padamu."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Adeeva merasakan perihnya menjadi seorang istri tentara. Ia berdiri di teras, menatap mobil dinas yang membawa Shaheer pergi ditelan kegelapan malam, menyisakan studio gambar baru yang kini terasa sangat sepi.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...