Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Warisan yang Terlupakan
Langkah kaki Aura terasa berat saat ia menapaki anak tangga batu yang menghubungkan setiap lantai makam bawah tanah menuju permukaan. Di sepanjang koridor, suasana sudah berubah total. Tim peneliti yang baru datang sibuk bergerak lincah; lampu-lampu sorot portabel menerangi relief dinding yang selama berabad-abad hanya bersahabat dengan kegelapan. Aura melihat mereka dengan pandangan kosong, hanya diam seribu bahasa saat melewati para ahli yang tengah mencatat setiap detail sejarah itu.
Namun, saat kakinya berpijak di lantai pertengahan, ia mendadak berhenti. Udara di sekelilingnya mendadak berubah. Oksigen terasa menipis, digantikan oleh gelombang hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Aura mendekap lengannya sendiri, napasnya keluar dalam bentuk uap putih tipis.
Perasaan ini kembali, batin Aura dengan helaan napas berat. Ada rasa sesak yang familiar, sebuah tarikan gaib yang selalu muncul sebelum kesadarannya terlempar ke masa lalu.
"Kak, aku mau istirahat di ruangan sana dulu boleh? Sebelum kita melanjutkan perjalanan ke atas," ucap Aura pelan kepada salah satu tentara yang mengawalnya.
Tentara itu menoleh, melihat wajah Aura yang mendadak pucat pasi. Ia menyeka keringat di dahinya sendiri dan mengangguk setuju. "Tidak masalah. Kami juga merasa lelah. Kita istirahat di sini sepuluh menit," perintahnya kepada anggota tim yang lain.
Mereka memasuki sebuah ruangan kecil yang tampak seperti bekas ruang penyimpanan artefak. Di sana, Aura duduk bersandar pada dinding batu yang dingin. Begitu ia memejamkan mata, hawa dingin itu meledak, menyeret kesadarannya keluar dari realitas.
Saat Aura membuka matanya kembali, ia tidak lagi berada di reruntuhan yang gelap. Ia berdiri di tengah sebuah peradaban yang agung. Langit di atasnya berwarna biru cerah, dan aroma rempah serta bunga melati memenuhi udara. Tempat itu terasa sangat asing, namun di saat yang sama, ada kehangatan yang membuatnya merasa seolah ia pernah berada di sana.
Di tengah jalan utama yang terbuat dari marmer putih, seorang pemuda berjalan dengan wibawa yang luar biasa. Wajahnya sangat mirip dengan Asaarmata, sosok yang menghantui ingatan Aura selama ini. Pemuda itu tersenyum tulus kepada para penduduk yang menyapanya dengan penuh rasa hormat. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun sutra yang melambai anggun menggandeng lengannya. Mereka adalah gambaran kebahagiaan sejati.
Apa ini yang ingin kau tunjukkan padaku? Kejadian sebelum maut menjemput mereka? pikir Aura dalam hati.
Namun, pemandangan indah itu mendadak luluh lantak. Langit berubah menjadi merah saga, gelap oleh asap pembakaran. Suara terompet perang memecah kedamaian. Aura menyaksikan dengan kengerian saat gerombolan tentara dari berbagai kerajaan lain menyerbu, melakukan pemberontakan massal terhadap Kerajaan Asaarmata.
Pasangan penuh cinta itu terdesak ke sudut istana yang terbakar. Mereka tidak berusaha lari untuk menyelamatkan diri. Sebaliknya, mereka berdiri kokoh, saling menggenggam tangan dengan erat, membentuk barisan perlindungan terakhir bagi sesuatu di belakang mereka. Aura melihat pedang-pedang menghujam, dan pasangan itu tumbang dalam genangan darah, namun tetap memeluk sebuah bungkusan kain sutra dengan sisa tenaga mereka.
Aura mendekat, rasa penasaran yang menyakitkan mendorongnya untuk melihat apa yang mereka lindungi dengan nyawa.
"Bayi..." ucap Aura lirih di dunia nyata.
Matanya terbuka seketika. Jantungnya berdebar kencang seolah baru saja berlari maraton. Aura mencoba mengatur napasnya yang memburu, mencerna setiap detail yang ia lihat. Namun, ada satu bayangan terakhir yang membuatnya merinding; bayi dalam bungkusan itu tidak sepenuhnya manusia. Di lengan kecilnya dan di sepanjang punggungnya, terlihat sisik-sisik halus yang berkilau seperti batu mulia, persis seperti kulit ular.
Bagaimana mungkin dua manusia bisa menghasilkan bayi yang memiliki sisik seperti ular? batin Aura bergejolak. Siapa mereka sebenarnya?
DUARRRR!
Belum sempat Aura menenangkan pikirannya, sebuah ledakan hebat mengguncang seluruh struktur makam. Suara tembakan beruntun menggema dari arah lorong bawah, diikuti oleh getaran yang membuat debu-debu kuno berjatuhan dari langit-langit.
Tentara yang tadinya beristirahat langsung siaga, mengokang senjata mereka dengan cepat. Tim peneliti yang berada di ruangan sebelah berteriak histeris, mencari perlindungan di balik meja-meja kerja mereka.
"Apa yang terjadi di bawah?!" teriak salah satu tentara.
Ia berdiri dan melangkah hati-hati menuju ambang pintu ruangan untuk memeriksa situasi. Namun, baru saja satu langkah kakinya keluar dari ruangan, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan yang tak masuk akal.
"Aakhhh!" Tentara itu terpelanting ke belakang, dadanya terkoyak oleh cakaran sesuatu yang tajam.
Aura membeku. Di hadapannya, hanya berjarak beberapa langkah, sosok itu muncul dari kegelapan. Sosok itu tidak besar; tingginya hanya seukuran anak kecil berumur lima atau enam tahun. Tubuhnya dibungkus oleh sisik-sisik hitam legam yang memantulkan cahaya lampu senter dengan cara yang aneh.
Aura memandang makhluk itu dari atas sampai bawah. Matanya yang jernih bertatapan dengan mata makhluk itu yang vertikal seperti reptil, namun mengandung kesedihan yang sangat manusiawi.
Ini... bayi yang aku lihat di memori itu, kan? bisik batin Aura. Anehnya, ia tidak merasa takut. Ia merasa tenang, sebuah ketenangan yang dingin.
Langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari lorong belakang. Kieran, Falix, Jack, dan Kenzo muncul dengan napas terengah-engah, diikuti oleh pasukan tentara tambahan. Mereka berhenti mendadak saat melihat pemandangan di dalam ruangan itu.
"Aura! Menyingkir dari sana!" teriak Kieran. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kecemasan yang nyata. Ia mengangkat senjatanya, membidik tepat ke arah bayangan hitam di depan Aura.
"Jangan bergerak, makhluk itu berbahaya!" Falix menimpali, tangannya sudah memegang granat asap.
Namun, Aura justru melakukan sesuatu yang membuat semua orang menahan napas. Ia memberikan gerakan mata yang tegas kepada Kieran dan yang lain sebuah isyarat bisu untuk tetap diam dan jangan menyerang.
Kieran tertegun. Ia melihat mata Aura yang penuh keyakinan, sebuah tatapan yang memaksanya untuk menurunkan laras senjatanya meski hatinya memberontak karena khawatir.
Aura kembali menatap sosok anak kecil bersisik itu. Makhluk itu mengerang rendah, suaranya terdengar seperti perpaduan antara desisan ular dan tangisan bayi yang tersedat. Namun, hidung Aura menangkap sesuatu yang berbeda. Tidak ada bau bangkai, tidak ada bau binatang buas.
Ia mencium bau tanah basah yang segar. Bau kehidupan yang terkubur terlalu lama di bawah ribuan ton batu dan debu sejarah.
Kenzo Baki Barir, yang berdiri di belakang Kieran, menyipitkan mata. Sebagai ahli sejarah, ia melihat sosok itu bukan sebagai monster, melainkan sebagai sebuah misteri biologis yang seharusnya punah ribuan tahun lalu. "Kieran, tunggu... lihat tangannya," bisik Kenzo dengan suara gemetar karena takjub.
Anak itu terus mengerang, tubuhnya gemetar seolah menahan beban dari seluruh sejarah kerajaannya yang runtuh. Ia menatap Aura, satu-satunya manusia yang tidak mengangkat senjata ke arahnya.
Aura perlahan mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah makhluk ini akan mencabiknya seperti tentara tadi, ataukah ia akan menemukan jawaban atas memori berdarah yang baru saja ia lihat?
"Kau tidak sendirian," bisik Aura, suaranya lembut di tengah kekacauan itu. "Aku tahu siapa kau."
Suasana menjadi begitu sunyi hingga detak jantung mereka terdengar jelas. Di antara puing-puing makam kuno ini, sebuah rahasia besar yang melibatkan genetik, sejarah, dan cinta yang terkubur, perlahan-lahan mulai tersingkap di depan mata mereka semua.