NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kesibukan adalah jalan keluar

Suara denting notifikasi dari tablet di atas meja kerja kayu mahoni itu terdengar nyaring, memecah konsentrasiku yang sedang sibuk memadupadankan kain organza dengan silk premium. Di layar, puluhan email masuk dengan subjek yang hampir serupa: "Konfirmasi Jadwal Webinar," "Undangan Pembicara Literasi," hingga pertanyaan dari editor setia, "Aruna, bagaimana kabar naskah barunya?"

​aku menghela napas panjang, merapikan krudung yang sudah tidak beraturan. Sudah hampir tiga bulan ia menyandang status Hiatus. Bagi dunia literasi Indonesia, aleea adalah nama besar, penulis fiksi romansa-psikologis yang bukunya selalu merajai rak best-seller. Namun, bagi diriku sendiri saat ini, Aleea adalah seorang pengusaha yang sedang berjuang memastikan koleksi Spring/Summer butiknya, "Dear Alea", selesai tepat waktu.

​Kesibukan yang Menghimpit

​"Mbak Aleea, ini sampel kain dari Bandung sudah sampai. Bagaimana menurut Mbak?" tanya Maya, asisten butiknya, sambil membawa beberapa gulungan kain berwarna bumi.

​Aku bangkit, jemarinya meraba tekstur kain tersebut. "Terlalu kaku,ila. Kita butuh yang lebih jatuh untuk desain drapery ini. Coba kontak lagi vendornya, bilang kita butuh yang grade A."

​Sambil memberikan instruksi, Aku melirik kalender digitalnya. Besok ia harus terbang ke Surabaya untuk mengisi webinar literasi bagi mahasiswa, lusa di Medan untuk bincang kreatif, dan akhir pekan ia harus berada di Makassar. Jadwalnya sepadat antrean penandatanganan bukunya dulu. Ironisnya, saat aku berbicara tentang "Produktivitas Menulis" di depan ribuan peserta Zoom atau audiens di aula, aku sendiri belum menulis satu paragraf pun dalam tiga bulan terakhir.

​Namun, di balik tumpukan pola baju, kancing, dan sketsa busana, ada sebuah rahasia yang aku simpan rapat dalam sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Di sana, bukan angka penjualan butik yang ia tulis, melainkan fragmen-fragmen emosi yang mulai aku kumpulkan kembali.

​Di ketinggian 35.000 kaki menuju Surabaya, saat kabin pesawat mulai tenang, Aku mengeluarkan buku catatan itu. aku menatap halaman kosong yang selama berbulan-bulan hanya berisi coretan abstrak.

​Menjadi penulis sekaligus pengusaha butik bukanlah hal mudah. Banyak yang mengira hiatusnya Aku adalah bentuk "kelelahan" atau tanda bahwa ia telah lelah untuk berkarya. Padahal, bagiku, hiatus adalah cara mengosongkan cangkir agar bisa diisi kembali dengan air yang lebih jernih.

​aku memejamkan mata. Di kepalaku, bayangan seorang tokoh mulai muncul. Seorang wanita yang bekerja di balik layar sebuah industri besar, terjepit di antara ekspektasi dan identitas asli. Mirip dengannya, tapi dengan konflik yang jauh lebih gelap.

​Aku meraih pulpen. Jemariku gemetar kecil—sensasi yang selalu ia rasakan saat sebuah ide besar mulai mengetuk pintu kesadarannya. aku mulai menuliskan beberapa kata. Bukan premis, bukan sinopsis, melainkan sesuatu yang akan menjadi jangkar kepulangannya ke dunia literasi tahun depan.

​Di Surabaya, webinar berlangsung meriah. Ratusan wajah antusias bertanya tentang kapan aku akan merilis karya baru. Aku hanya tersenyum tipis, memberikan jawaban diplomatis, "Tunggu tahun depan, ya. Saya sedang menyiapkan sesuatu yang berbeda."

​Malamnya, di sebuah hotel yang menghadap gemerlap lampu kota, Aku tidak langsung tidur. Ia membuka laptopnya. Butiknya sudah berjalan stabil di bawah pengawasan ibu dan ila, urusan pengiriman bahan sudah beres, dan ia punya waktu tiga jam sebelum rasa kantuk menyerang.

​aku mulai mengetik. Satu kata, dua kata. Ia menghapus lagi. Mencari diksi yang paling pas untuk menggambarkan perasaan terasing di tengah keramaian. Ia ingin judul ini menjadi sebuah pernyataan bahwa dirinya telah kembali, bukan sebagai penulis yang sama, melainkan sebagai versi yang lebih matang.

​Beberapa opsi muncul di kepalaku:

​Benang-Benang yang Terputus (Terlalu klise, pikirnya).

​Di Balik Manekin (Terlalu harfiah).

​Simpul Sunyi

​Aku terdiam pada opsi ketiga. Simpul Sunyi.

​Ia membayangkan bagaimana seorang penulis harus mengikat semua emosi, kesibukan, dan ekspektasi menjadi satu simpul yang tenang sebelum akhirnya dilepaskan dalam bentuk tulisan. Judul itu terasa pas. Elegan, namun menyimpan misteri.

​Comeback yang Terencana

​Perjalanan berlanjut ke Medan dan Makassar. Di tengah padatnya jadwal, Aku mulai disiplin. Di ruang tunggu bandara, aku menulis. Di dalam mobil menuju lokasi acara, aku merekam ide lewat voice note. Butikku kini menjadi inspirasi, bukan lagi penghalang. aku melihat bagaimana warna kain bisa merepresentasikan suasana hati seorang tokoh. aku melihat bagaimana kerumitan pola baju bisa menjadi metafora kerumitan plot cerita kisahnya.

​Pada malam terakhir kunjunganku di Makassar, sambil menikmati angin sepoi di Pantai Losari, Aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada editornya.

​To: Mas Editor

​"Mas, siapkan slot untuk bulan Mei tahun depan. Judulnya sudah ada: Simpul Sunyi. Aku akan mengirimkan tiga bab pertama bulan depan."

​Balasan dari Mas editor masuk hanya dalam hitungan detik. "Akhirnya! Sang Ratu kembali dari pertapaan butiknya. Aku tunggu janjimu, Aleea."

​tak terasa aku tersenyum lebar. aku tahu, tahun depan akan menjadi tahun yang sangat melelahkan. aku harus membagi fokus antara peluncuran koleksi busana lebaran dan peluncuran novel baru. Namun, rasa lelah itu berbeda. Bukan lagi lelah yang menguras energi, melainkan lelah yang memberi arti.

​Sekembalinya ke Jakarta, Aku memasuki butik dengan energi baru. aku melewati deretan manekin dengan anggun, menuju kantor meeting gedung produksi yang kini terbagi dua: sisi kiri penuh dengan contoh kain dan sketsa baju, sementara sisi kanan kembali dihiasi oleh tumpukan buku referensi dan laptop yang menyala.

​aku duduk, menyesap kopi hitamnya, dan mulai mengetik baris pertama dari Simpul Sunyi.

​Hiatus baru di mulai. Butik sedang bersinar, dan kini, dunia literasi sedang menahan napas menanti apa yang akan lahir dari jemari seorang wanita yang berhasil menjahit mimpinya di antara benang-benang kesibukan. Aku bukan lagi sekadar penulis yang sedang "istirahat", aku adalah seorang kreator yang sedang berproses di tengah hiruk-pikuk dunia.

​Tahun depan, judul itu tidak akan lagi hanya ada di buku catatan kecil saja. Judul itu akan terpampang di rak depan toko buku seluruh Indonesia, menandai kembalinya sang pencerita dengan sejuta rasa yang baru.

Hiatus hanya alasan... Aku sedang tidak ingin dikejar dunia literasi yang memaksa aku terus mengeluarkan novel baru setelah novel baruku baru terbit, dan butik adalah jalan keluarku agar banyak manusia ikut berproses bersama denganku, aku tidak mau sibuk sendiri dan menikmati buah kesibukanku sendirian, sekarang aku bersama mereka dan mengejak mereka berproses bersama.

Kesibukan ini bukan hanya sibuk, aku menyimpan sesuatu di dalamnya, aku tidak bisa mengeluarkannya dengan bentuk apapun, mungkin nanti saat aku bisa, aku akan mengeluarkannya dalam bentuk buku. Sehingga kekal dan menjadi kisah baru untuk pembaca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!