Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kucing liar.
Seorang dokter masih berusaha tenang tapi tidak untuk dua assisten di belakangnya.
Bang Rinto melihat jam tangannya. "Saya masih ada kesibukan, kalau memang belum bisa saya ambil surat kesehatan nya, saya pamit sekarang saja."
Baru saja beranjak dari duduknya, Dokter langsung membuka suara.
"Pak Rinto. Saya tidak bermaksud ikut campur. Tapii.. Ibu positif hamil. Usia kandungannya masih sangat muda, kurang lebih sekitar empat mingguan."
"Anjrittt.." Bang Rinto meringis mendengarnya.
Anye langsung bersandar lemas, wajahnya yang semula lemas kini semakin seputih dinding rumah sakit. Matanya membulat besar dengan rasa tak percaya. Tangannya menyentuh perutnya yang masih datar.
"Nggak.. Nggak mungkin. Anye selalu hati-hati." Protesnya sedih.
Air mata Anye menetes deras, seketika pandangannya berkunang-kunang dan terasa berat. Ia tak paham bagaimana dirinya bisa hamil.
Di sisi lain Bang Rinto masih menguatkan hati dan perasaannya. Ia mengingat kejadian malam itu namun tidak pernah menyangka satu hentakan menembus benteng lawan bisa sampai menanamkan nyawa baru dalam rahim Anye.
Anye sungguh tidak percaya sampai histeris dan terisak menghadapi kenyataan di hadapannya.
Rasa syok Bang Rinto sekaligus mempertanyakan bagaimana situasi yang saat itu bahkan dirinya tidak merasa 'selesai, tuntas dan puas' bersama sang istri. Ia tau betul, serangannya baru saja di titik awal.
"Nggak.. Nggak mungkin Anye hamil. Anye masih mau kuliah. Anye nggak mauuuu......" Tubuh Anye terasa tak bertenaga. Kaget, takut, dan bingung sampai bersandar pada pinggang Bang Rinto.
Beberapa saat tadi Bang Rinto memang sempat marah, tapi saat tau Anye hamil, sikapnya mendadak lembut, ia membelai rambut Anye.
"Saya sudah memahami sesuatu, tapi mungkin dokter bisa mendetailkan keraguan saya. Saya belum sepenuhnya 'menyentuh' istri saya, bisa di katakan.. Saya tidak mengalami ej******i."
"Tidak ada yang tidak mungkin, Pak Rinto. Ada yang namanya splash pregnancy juga. Hmm.. Coba Pak Rinto ingat dulu, asalkan Pak Rinto sudah sempat p*******i, apalagi tanpa pengamanan, kehamilan tetap bisa terjadi." Jawab dokter.
Bang Rinto mengangguk paham, nafasnya pun mulai berangsur normal.
...
Sesampainya di rumah malam hari, pertengkaran pun kembali tak bisa di hindarkan.
"Itu anak saya, memang malam itu saya yang melakukannya, insiden alergi tongkol itu saya yang buat." Ucap Bang Rinto terus terang.
"Apa kamu tau kalau aku pernah melakukannya dengan laki-laki lain???? Aku ini penyanyi, penggemarku juga banyak."
"Jaga bicara mu..!!!" Tegur Bang Rinto tidak suka mendengarnya.
"Kamu nggak usah belaga bo*oh ya..!! Perkiraan dokter, anak ini usianya empat sampai lima minggu, insiden tongkol itu baru beberapa waktu yang lalu. Kamu kira aku bo*oh??? Saat itu aku masih pacaran sama laki-laki lain."
Pikiran Bang Rinto yang awalnya jernih kini menjadi berantakan, emosi yang tadinya sudah reda kini kembali tersulut. Dadanya panas tak sanggup membayangkan Anye memadu kasih bersama pria lain.
"Siapa dia????"
"Kamu nggak perlu tau, yang jelas sampai aku hamil begini berarti dia jauh lebih segalanya dan lebih hebat dari kamu." Jawab Anye semakin menyulut bara api di hati Bang Rinto.
Satu cengkeraman menekan pergelangan tangan Anye. Tatapan mata Bang Rinto juga terasa menusuk.
Bang Ronald melihat kejadian tersebut dari balik vitrage jendela, saat dirinya baru saja pulang patroli, ingin melerai namun dirinya tak ada hak apapun, dari jauh hanya bisa mengawasi sebab ia paham akan sifat bringas Letnan Rinto yang tanpa ampun.
"Ada apa, Ron?" Tanya Bang Rico saat melihat juniornya menghentikan laju motor dan mandeg di depan rumahnya tanpa pergerakan.
"Ijin, Bang. Ada keributan kecil. Untungnya satu barak rumah dinas ini hanya ada kita." Jawabnya dengan mata terus menatap ke arah rumah lettingnya.
Benar saja. Anye memutar pergelangan tangannya. Ia marah dan membalas Bang Rinto.
"Aku nggak mau jadi istrimu, pacaran denganmu saja sudah sangat memuakan. Kamu kasar, kejam, nggak punya perasaan. Kamu nggak pernah cinta sama aku. Aku juga nggak pernah kamu sayang. Lantas kenapa kalau aku mencari rasa sayang laki-laki lain, cita-citaku sudah kamu rusak, biar saja aku rusak dengan laki-laki lain." Teriak Anye.
"Kamu bisa diam atau tidak??" Tegur Bang Rinto.
"Nggak.. Pokoknya aku nggak mau pacaran apalagi sampai nikah sama kamu, pokoknya cerai, cerai.. Ceraaiii..!!!!!!"
Seketika Bang Rinto menyambar vas bunga dan melemparnya hingga pecah berantakan. Tanpa rasa takut, Anye memukul Bang Rinto sekuat tenaga. Pukulan bahkan tendangan sudah melayang tapi Bang Rinto seolah tak bergeser dari tempatnya.
Saat itu Bang Ronald dan Bang Rico berlari mendekat meskipun masih memberi jarak aman di sekitar teras rumahnya.
Belum puas dengan semuanya, Anye menyambar pisau adat yang menjadi hiasan pada dinding rumahnya. Tak ingin terjadi sesuatu pada Anye dan kandungannya, Bang Rinto pun mencengkeram tangan Anye dan tanpa Anye duga pisau tersebut langsung menancap pada dada Bang Rinto.
Darah meleleh di sela tangan keduanya. "Sudah ya, Neng. Kita impas..!! Kasihan anak..!!"
Anye terkejut setengah mati, perlahan Bang Rinto mengambil alih pisau tersebut dan menyimpan di balik pinggangnya lalu mengecup kening Anye dan memeluknya. Tubuh Anye bergetar hebat, tak lama 'gadisnya' itu lemas dalam dekapannya.
"Jangan di biasakan ngomong ngawur. Saya tidak selalu bisa 'sadar' setiap saat. Bagaimana kalau tadi saya sempat menamparmu??" Bang Rinto kembali menegur Anye.
"Memang itu yang Anye mau. Biar kita tidak perlu bertemu lagi." Jawab Anye lirih.
"Masih sempat kau memancing emosi saya. Berani kau bertingkah??"
Anye hendak menjawab dengan wajah marah tapi Bang Rinto sudah menatapnya dengan mata memerah dan basah membendung air mata.
"Apa tidak bisa sopan sedikit?? Dimana tata krama mu???"
"Cari saja perempuan lain yang sesuai dengan inginmu." Omel Anye masih tetap ketus.
Bang Rinto mengangkat dagu Anye. "Mungkin perasaan saya belum bisa menyentuh hatimu. Tapi kamu harus tau, di setiap do'a saya, selalu ada rayuan pada Tuhan untuk meluluhkan hatimu. Ingat ucap saya.. Musuh di medan perang saja saya taklukan, masa satu kucing liar tidak mampu saya jinakan??"
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu