NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: PUNCAAK PENGKHIANATAN DI LANTAI 50

​Langit Jakarta malam ini tampak merah, seolah-olah awan sedang bersimbah darah. Angin kencang menerjang atap Menara Adiguna, membuat rambut panjang Gwen berkibar liar. Di tangannya, ia menggenggam liontin perak yang terasa sedingin es. Di pinggangnya, terselip pistol yang masih menyisakan bau mesiu dari pertempuran di mansion tadi.

​Gwen melangkah masuk ke ruang kantor CEO yang luas—ruangan yang seharusnya menjadi singgasananya, namun kini terasa seperti jebakan maut.

​Di sana, duduk di kursi kebesarannya, Pratama Adiguna tampak sedang menyesap segelas wiski mahal. Di sampingnya, berdiri dua pria bertubuh kekar dengan senjata laras panjang yang siap menyalak kapan saja.

​"Keponakanku sayang," Pratama tersenyum, namun matanya tidak memancarkan kehangatan sedikit pun. "Tepat waktu. Lima belas menit tersisa di jam kematian pengawalmu. Luar biasa, cinta memang bisa membuat wanita bodoh menjadi pahlawan, ya?"

​Gwen tidak bergeming. Wajahnya sedatar permukaan danau yang membeku. "Hentikan omong kosong ini, Paman. Kamu ingin liontin ini? Ambil. Tapi matikan sistem penghancur diri di jantung Elang sekarang juga."

​Pratama tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di ruangan sunyi itu. "Kamu masih mengira ini hanya soal uang dan perusahaan? Gwen, Proyek Gerhana adalah kunci kekuatan yang jauh lebih besar. Chip di jantung Elang itu berisi algoritma peretasan perbankan global yang ayahmu curi dari Global Syndicate. Tanpa itu, aku hanyalah orang kaya biasa. Dengan itu, aku adalah penguasa dunia!"

​"Ayahku tidak mencuri!" teriak Gwen, suaranya bergetar karena amarah. "Ayahku menyimpannya agar orang-orang serakah sepertimu tidak menyalahgunakannya!"

​"Dan dia menanamnya di jantung anak seorang pengawal sebagai jaminan? Ayahmu sama kotornya denganku, Gwen!" Pratama berdiri, mengulurkan tangannya. "Berikan liontinnya. Sekarang."

​Gwen menatap jam digital di pergelangan tangannya. [00:10:42].

​Setiap detik yang berlalu adalah satu langkah Elang menuju liang lahat. Di gudang sana, Elang mungkin sedang meregang nyawa karena chip itu mulai memicu kejutan listrik ke saraf jantungnya.

​Gwen melangkah maju, tangannya gemetar saat menyodorkan liontin itu. "Matikan sistemnya dulu."

​"Berikan dulu!" bentak Pratama.

​Gwen melempar liontin itu ke atas meja mahoni. Pratama segera menerkamnya seperti binatang buas. Dia membuka bagian belakang liontin dan memasukkan micro-SD transparan itu ke dalam komputer pusat di mejanya.

​"Ya... ya! Inilah kodenya!" mata Pratama berkilat gila saat melihat barisan data mulai terenkripsi.

​"Paman, janjimu! Matikan sistemnya!" seru Gwen.

​Pratama menoleh, seringai iblis muncul di wajahnya. "Oh, aku lupa memberitahumu satu hal, Gwen. Sistem penghancur diri itu tidak bisa dimatikan hanya dengan kode ini. Kode ini hanya untuk mengunduh datanya. Begitu data terunduh 100%, chip itu akan meledakkan jantung Elang untuk menghilangkan jejak bukti fisik."

​Dunia Gwen seolah runtuh. "Apa?! Kamu membohongiku?!"

​"Tentu saja! Aku butuh dia mati, dan aku butuh kamu mati agar tidak ada lagi pewaris Adiguna yang sah!" Pratama memberi isyarat kepada dua pengawalnya. "Habisi dia. Buat seolah-olah dia bunuh diri karena stres."

​Dua pria itu melangkah maju, mengokang senjata mereka. Gwen mundur hingga punggungnya menempel pada kaca jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota di bawah sana.

​"Paman... kamu benar-benar iblis," bisik Gwen. Tangannya perlahan merayap ke belakang punggung, menyentuh gagang pistolnya.

​"Iblis yang menang, Sayang," sahut Pratama.

​DOR! DOR!

​Dua tembakan terdengar, tapi bukan dari arah pengawal Pratama.

​Kaca jendela besar di belakang Gwen hancur berantakan. Dari kegelapan luar gedung, sebuah tali meluncur dengan cepat. Sosok bayangan hitam masuk dengan tendangan maut yang menghantam kepala salah satu pengawal hingga terpental.

​"ELANG?!" Gwen terpekik.

​Pria itu mendarat dengan anggun, meski perbannya tampak merah pekat oleh darah. Itu bukan Elang yang sekarat, melainkan Elang yang dipenuhi aura kematian. Di belakangnya, Sarah muncul dari jendela yang sama, memegang senapan dengan laras berasap.

​"Maaf terlambat, Nona," suara Elang serak, namun tetap terdengar seperti musik di telinga Gwen. "Dokter Aris adalah ahli bedah yang hebat, tapi dia lupa bahwa aku tidak butuh bius untuk tetap hidup."

​Pratama panik. Dia mencoba meraih pistol di laci mejanya, namun sebuah belati melesat dari tangan Sarah, menancap tepat di telapak tangan Pratama hingga menembus meja.

​"AAARRGHHH!" raungan Pratama memenuhi ruangan.

​"Sarah?!" Gwen menatap wanita itu dengan bingung.

​Sarah hanya melirik Gwen sekilas, lalu fokus pada Pratama. "Aku memang bekerja untuk organisasi, tapi organisasi tidak suka pengkhianat yang mencoba bermain dua kaki seperti Pratama. Dan Elang... aku tidak akan membiarkan siapa pun membunuhnya kecuali aku."

​Elang berjalan mendekati meja Pratama, mengabaikan rasa sakit di dadanya. Dia melihat layar komputer yang menunjukkan progres unduhan: 98%.

​"Gwen, menjauh dari sana!" Elang berteriak.

​Elang menghantam layar komputer itu dengan gagang pistolnya hingga hancur berkeping-keping. Dia mencabut paksa kabel server utama.

​[00:01:05]

​Hitungan mundur di jam tangan Elang berhenti di angka satu menit lima detik. Layar merah berkedip, menunjukkan pesan: SYSTEM INTERRUPTED. DATA CORRUPTED.

​"TIDAAAK! DATAKU!" teriak Pratama sambil meronta dengan tangan yang masih tertancap.

​Elang mencengkeram leher Pratama, mengangkat pria itu hingga kakinya tidak menyentuh lantai. "Ini untuk ayahku. Ini untuk pengkhianatanmu pada Gwen. Dan ini... untuk setiap detik kesakitan yang harus kami tanggung."

​Elang tidak membunuhnya. Dia melemparkan Pratama ke arah Sarah. "Bawa dia ke organisasi. Biarkan mereka yang memutuskan apa yang harus dilakukan pada tikus sepertinya."

​Sarah mengangguk, dia memborgol Pratama dengan kasar. Sebelum pergi, dia menatap Elang cukup lama. "Kita impas sekarang, Elang. Jangan cari aku lagi. Dan untukmu, Gwen... jaga jantungnya baik-baik. Itu adalah satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunia ini."

​Sarah menghilang ke dalam kegelapan gedung bersama Pratama, meninggalkan Elang dan Gwen di tengah kekacauan kantor CEO.

​Sunyi menyergap. Elang terhuyung, namun Gwen dengan cepat menangkapnya. Mereka berdua jatuh terduduk di lantai yang dipenuhi pecahan kaca.

​"Kamu gila," tangis Gwen pecah. Dia memeluk Elang seerat mungkin, tidak peduli pada noda darah yang mengotori bajunya. "Kamu seharusnya di meja operasi, bukan bergelantungan di gedung lantai 50!"

​Elang tersenyum tipis, dia membelai rambut Gwen dengan tangan yang gemetar. "Aku tidak bisa membiarkan ratuku menghadapi iblis sendirian. Lagipula... detak jantungku hanya akan stabil jika aku berada di dekatmu."

​Gwen menatap dada Elang. Lampu merah di dadanya sudah padam. Chip itu sudah tidak aktif karena sistem pusatnya dihancurkan. Elang kini bebas.

​"Jangan pernah... jangan pernah lakukan itu lagi," bisik Gwen di bibir Elang.

​Elang tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarik Gwen ke dalam sebuah ciuman yang terasa seperti kemenangan. Di atas ketinggian Jakarta, di antara puing-puing pengkhianatan, mereka akhirnya menemukan sesuatu yang nyata.

​Namun, di tengah momen itu, sebuah suara muncul dari speaker komputer yang hancur. Sebuah suara yang jauh lebih berat dan lebih dingin dari Pratama.

​"Selamat, Gwen Adiguna. Kamu baru saja menghancurkan mainan kecilku. Tapi ingat... Proyek Gerhana hanyalah bab pertama. Selamat datang di permainan yang sesungguhnya."

​Gwen dan Elang saling berpandangan. Mereka tahu, kedamaian ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!