Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Rumah
Matahari siang merayap tinggi, memantulkan cahaya terik di balik gorden ruang tamu. Namun, di dalam sini, suasana terasa jauh lebih sejuk.
Kehadiran Mama di rumah bukan sekadar tamu; ia adalah malaikat tanpa sayap yang mengerti betapa ringkihnya pundakku beberapa hari terakhir.
"Ri, kamu duduk saja. Susui Rasyid atau tidurlah sebentar. Biar Mama yang selesaikan ini," ujar Mama sambil menarik tumpukan baju dari dalam keranjang plastik besar.
Aku menatap tumpukan kain yang menggunung itu dengan rasa bersalah.
"Ma, harusnya Riana yang kerjakan. Mama sudah repot mengurus Rasyid kemarin-kemarin."
Mama hanya terkekeh, tangannya dengan cekatan menyalakan setrika.
Aroma uap panas dan pewangi pakaian mulai memenuhi ruangan. "Mengurus cucu itu hobi, bukan repot. Tapi melihat anak Mama kurus karena kurang istirahat, itu baru beban buat Mama. Sudah, sana!"
Aku hanya bisa tersenyum pasrah.
Menghabiskan waktu siang itu bersama Mama adalah terapi tersendiri. Sembari ia menyetrika, kami mengobrol tentang banyak hal—resep masakan hingga wejangan tentang bagaimana menjadi ibu tanpa harus merasa sempurna setiap saat.
Beberapa jam kemudian, saat mentari mulai condong ke barat, Mama merapikan tumpukan baju yang kini sudah licin dan wangi ke dalam lemari. Ia berpamitan. Sebelum melangkah keluar pintu, Mama menghampiri box bayi, membungkuk sedikit, dan memberikan kecupan singkat yang dalam di dahi Rasyid.
"Jaga Ibu ya, Sayang. Jadi anak saleh," bisik Mama lembut. Beliau menepuk bahuku sekali lagi, seolah menyalurkan sisa-s kekuatan, lalu mobilnya perlahan menghilang di ujung gang.
Sore pun tiba, membawa semburat jingga di langit dapur. Aku memutuskan untuk memasak menu istimewa sebagai bentuk perayaan kecil kembalinya kebahagiaan kami. Rendang. Aroma santan, lengkuas, dan serai mulai menari-nari di udara saat aku mengaduk kuali perlahan.
Di ruang tengah, terdengar suara tawa bariton yang sangat aku kenali. Aku mengintip dari balik sekat dapur. Di sana, Hamdan sedang bersiap memandikan Rasyid.
"Ayo, Jagoan Ayah! Kita berenang di bak mandi singa," seru Hamdan dengan nada bicara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
Aku menyandarkan tubuh di pintu, memperhatikan suamiku dengan rasa haru yang membuncah. Hamdan, pria yang biasanya terlihat kaku dengan kemeja kerjanya, kini begitu telaten. Ia mengetes suhu air dengan sikunya, lalu dengan sangat hati-hati menyangga leher Rasyid saat membasuh tubuh mungil itu.
"Hap! Segar, kan?" Hamdan mengangkat Rasyid yang menggigil lucu ke dalam balutan handuk putih.
Ia membawanya ke kamar, merebahkannya di atas kasur, dan mulai memakaikan baju. Aku menghampiri mereka, berdiri di ambang pintu kamar sambil melipat tangan di dada. Hamdan sedang asyik mengajak Rasyid bicara sambil memakaikan minyak telon.
"Lihat, Ibu masak rendang buat kita, Nak. Baunya sampai sini, ya?" Hamdan menoleh padaku lalu mengedipkan mata. "Ibu hebat, ya, Dek?"
Aku mendekat, membantu mengambilkan bedak bayi. "Mas juga hebat. Aku nggak menyangka Mas bakal se-luwes itu mandiin bayi."
Hamdan tertawa kecil sembari mengancingkan baju monyet bergambar jerapah ke tubuh Rasyid. "Belajar dari YouTube semalam, Ri. Aku nggak mau kamu capek sendirian. Selama aku bisa bantu, aku bakal lakuin. Kamu itu ratu di sini, dan Rasyid pangerannya."
Melihat cara Hamdan menatap putra kami, aku sadar betapa beruntungnya aku. Ia bukan sekadar suami yang menafkahi, tapi suami teladan yang memikul beban tanggung jawab dengan penuh cinta. Rasa aman yang sempat hilang saat masa baby blues dulu, kini kembali utuh berkat keberadaannya.
Malam pun jatuh dengan tenang. Setelah kenyang menyusu, Rasyid akhirnya terlelap dengan pulas. Napasnya yang teratur menjadi melodi paling damai di telinga kami.
Setelah memastikan pintu terkunci dan lampu dapur padam, aku duduk di sofa ruang tengah. Hamdan sudah menunggu di sana, memegang remote TV. Ia menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan aku untuk mendekat.
"Anak kita sudah mimpi indah. Sekarang giliran kita," ucapnya lembut.
Aku merebahkan kepala di bahunya, sementara Hamdan melingkarkan lengannya di pinggangku. Kami menonton acara TV secara acak—entah itu film lama atau sekadar acara bincang-bincang—tujuannya bukan untuk memahami tontonan itu, tapi untuk menikmati kehadiran satu sama lain.
"Rasanya seperti pacaran lagi ya, Mas?" bisikku.
Hamdan mengecup puncak kepalaku.
"Kita memang harus selalu merasa pacaran, Ri. Statusmu memang istri dan ibu, tapi di mataku, kamu tetap gadis yang membuatku jatuh cinta di pondok dulu. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya?"
Aku mengangguk dalam diam, meresapi kehangatan kausnya dan detak jantungnya yang tenang. Di bawah pendar cahaya televisi yang redup, kelelahan fisikku menguap begitu saja.
Kami mengobrol santai, sesekali tertawa kecil membahas hal-hal konyol, sampai perlahan-lahan mataku terasa berat.
Malam itu, di sofa yang sederhana, aku tertidur dalam pelukan suamiku. Bukan lagi karena pelarian dari rasa sedih, melainkan karena rasa syukur yang terlalu penuh. Rumah ini tidak lagi sepi; ada napas Rasyid di kamar sebelah, dan ada dekapan Hamdan yang menjagaku hingga pagi menjemput.
TBC.
semangat tor