NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:417
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

“Ya udah, kalau emang nggak ada yang mau menuaikan visi-misi, nggak apa-apa. Rapatnya nggak usah diadain aja. Dan misalkan kalian ada hal yang mau dibicarakan, lewat chat aja. Nggak usah rapat, toh juga lewat rapat nggak pernah ada yang ngomong. Cuman ngomongnya di belakang doang, bikin malas.”

Arnold keluar dari ruangan itu. Lalu yang lain mulai membicarakan dia, tetapi tetap saja dengan suara kecil agar dirinya tidak dengar.

Saat Arnold keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba ada yang mendekap dirinya dari belakang. Arnold langsung menoleh, melihat siapa yang mendekapnya. Saat tahu itu ternyata Alia, Arnold terdiam dan malah membalas dekapan itu dengan erat.

“Kenapa, jelek? Kok hari ini kamu beda banget? Harusnya keluar dari ruangan OSIS senang, ini kenapa sedih banget? Berantem lagi sama orang OSIS?”

“Ya… kok kamu tahu? Kamu hebat ya, selalu tahu kalau aku lagi ada masalah atau nggak. Emang hebat.”

“Masalah apa? Kalau aku boleh tahu. Kalau nggak boleh, juga nggak apa-apa. Karena aku nggak mau maksa kamu juga. Untuk apa juga aku maksa orang yang nggak mau cerita, bener nggak?”

Arnold ingin menceritakan, tapi ini soal Alia. Arnold takut Alia marah dan merubah mood-nya jadi nggak baik. Walau Alia sudah biasa mendengarnya, tapi Arnold sendiri belum terbiasa untuk cerita.

“Apa sih? Bilang dong. Aku juga mau dengar apa yang dibicarakan di OSIS. Apa karena aku bukan anggota OSIS jadi aku nggak boleh tahu?”

“Bukan gitu masalahnya. Orang OSIS nggak sebaik yang kamu pikirkan.”

“Emang mereka bilang apa sampai kamu bisa bicara gitu?”

Arnold menghela napas. Capek rasanya punya cewek yang sangat polos dan baik. Entah kenapa itu yang membuat Arnold tanpa sadar menyayangi Alia.

“Al, bisa nggak sih kamu jadi cewek jangan terlalu baik dan polos? Kan aku jadi nggak tega sama kamu kalau kamu dijahatin orang lain, Al.”

“Baik gimana? Aku biasa aja. Kadang aku juga jahat, itu menurut kamu doang kali aku baik.”

“Tapi emang bener, Al. Kamu nggak pernah jahat sama aku. Jadi aku nggak bisa bilang kamu jahat.”

Alia hanya diam, tidak bisa bicara apa-apa. Walau dirinya tidak jahat, tetap saja Alia merasa nggak enak sama kepala Arnold.

“Nold, kamu ngerasa nggak sih kalau kamu terlalu baik sama aku sampai kamu nggak sadar kalau aku jahat?”

“Ya kayaknya aku udah kebucinan banget sama kamu, makanya aku nggak sadar kamu jahat sama aku.”

Alia yang mendengar perkataan pria ini jadi takut, seakan dirinya takut ditinggal oleh Arnold.

“Nold, kalau kamu udah bosen sama aku, apa kamu bakal cari cewek lain?”

“Ya dong, masa nggak. Kalau nggak cari cewek lain emang mau ngapain?”

“Oh, begitu ya…”

Arnold menganggukkan kepala. Alia yang mendengar itu merasa kesal, seakan ingin membelah kepala Arnold saat bicara demikian.

“Kalau kamu sendiri bisa bosen sama aku, Al?”

“Enggak. Kenapa emang?”

“Loh, kenapa? Bosan? Nggak dong. Nggak pernah ada di kamus aku bosan sama kamu. Kamu aja yang jahat, bosen sama aku.”

Arnold merasa bersalah setelah berkata demikian. Padahal dirinya hanya bercanda, tapi Alia menganggapnya sungguhan.

“Aku juga bercanda kok. Kenapa sih kamu serius banget? Lagian aku mana mungkin bosen sama kamu, yang.”

“Barusan kamu ngomong sendiri kalau kamu bosen sama aku. Lagian aku mana tahu kalau kamu beneran nggak bosen atau iya.”

“Kalau aku bosen sama kamu, aku nggak mungkin sama kamu sekarang. Lagian ngapain juga aku sama kamu kalau aku bosen?”

“Kenapa sih kamu tuh selalu bikin aku kesel gitu tanpa alasan. Padahal aku tuh ya nggak mau marah-marah sama kamu, tapi ya udahlah…”

Tiba-tiba telepon Arnold berdering. Dari namanya, dia langsung tahu siapa.

“Halo, Ma. Ada apa?”

Arnold yang mendengar suara di seberang langsung diam dan meninggalkan Alia. Alia hanya bingung lalu mengikuti Arnold.

Sesampainya di depan sekolah.

“Mama ngapain, Ma, ke sekolah?”

“Emangnya Mama nggak boleh ke sekolah kamu?”

“Boleh aja sih. Cuman Arnold kaget aja Mama di sekolah.”

“Mama mau ketemu sama Alia.”

Alia langsung menghampiri mama Arnold tanpa berkata apa-apa. Tak lama, mama Arnold tersenyum melihatnya.

“Oh, kamu yang namanya Alia?”

“Iya, benar Tante. Kenalin, aku Alia, Tante.”

“Cantik ya calon menantu Tante. Kamu gimana kok bisa sama anak Tante? Emang kamu yakin sama anak Tante? Anak Tante ini orangnya bandel loh. Kamu nggak takut gitu kalau dia bandel?”

“Selama Alia kenal Arnold, anaknya baik kok Tante. Nggak ada yang aneh-aneh. Tapi kalau misalkan ada aneh-aneh, ntar aku ngadu ke Tante deh biar Tante omelin. Gimana, Tante?”

Arnold hanya diam saja melihat kedua wanita yang disayanginya berbicara satu sama lain. Tidak disangka, bisa ada momen seperti ini. Rasanya seperti mimpi.

“Boleh nanti kamu kasih tahu Tante ya, kalau misalkan ada apa-apa sama Arnold. Dan kalau misalkan dia macam-macam sama kamu, kasih tahu Tante juga biar Tante hukum dia.”

“Baik, Tante. Aku pasti akan kasih tahu Tante apapun.”

Arnold merasa dirinya sudah terpojok. Saking terpojoknya sampai tidak bisa melawan sedikit pun. Tapi tidak apa-apa. Bagi Arnold ini adalah penglihatan impiannya di masa depan.

“Ya udah, Mah. Kalau gitu ayo kita ke kantin. Mama udah makan belum? Kalau Mama belum, ayo kita ke kantin sekalian makan.”

“Boleh. Mumpung ada calon menantu Mama di sini, jadi kita bisa ngobrol lebih akrab lagi. Ya kan, Al? Gimana, kamu keberatan nggak kalau Tante ajak kamu ke kantin makan bareng sambil ngobrol cantik?”

“Enggak kok, Tante. Aku malah seneng. Makasih ya Tante udah mau bicara sama aku. Jadi aku nggak enak, udah ganggu acara Tante sama Arnold.”

Mama Arnold tersenyum. Walau sebenarnya Alia juga senang bisa bicara santai dengan mama Arnold, selayaknya mimpi.

“Ya udah, Tante juga nggak keberatan kok. Aku juga nggak keberatan kalau buat pergi makan bareng dan ngobrol banyak sama Tante. Jadi kita bisa bongkar-bongkar aibnya Arnold.”

“Boleh. Nanti kalau kamu tanya-tanya apa aja, Tante jawab kok. Lagian kita sesama wanita, untuk apa juga rahasia? Kita hanya perlu rahasia sama laki-laki aja.”

“Wah, Mama parah. Berarti Mama banyak donasi sama Papa yang Papa nggak tahu. Nanti aku kasih tahu Papa ah, biar Mama dimarahin Papa.”

“Tuh kan, Al, lihat tuh calon suami kamu kurang ajar banget sama Mama. Gimana coba kalau Mama nggak omelin dia.”

Alia malah mendukung Mama Arnold. Seketika pembicaraan jadi terhanyut begitu saja tanpa terombang-ambing dari pihak manapun.

“Ih, ini para wanita. Kalau ada laki-laki, pasti laki-laki yang disalahin. Kenapa sih? Padahal aku cuma bercanda doang loh.”

“Kamu nggak boleh gitu, Ar, sama Mama kamu. Kamu jadinya kurang ajar tahu sama Mama kamu. Kamu tuh harus sopan sama Mama, iya kan Tante?”

“Iya, bener. Calon menantu Tante emang paling bener dah, nggak pernah salah. Masa iya calon suami kamu jahat sama mama tua kamu, gimana itu ceritanya?”

“Ya, Ar, kamu nggak boleh gitu. Kamu harus minta maaf sama Mama kamu, biar Mama kamu nggak sedih. Nanti kalau Mama kamu sedih, kamu gimana? Ayo lho, kamu nggak bisa ngebales kalau Mama kamu nangis.”

Arnold merasa sedang dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit, bahkan tidak ada pilihan yang bisa dia lakukan.

Terkadang Arnold suka mikirin, apa salah dirinya dan kenapa bisa bertemu wanita yang sangat mirip sama mamanya, seperti kembaran.

Melihat kedua wanita yang disayanginya berbicara satu sama lain membuat Arnold merasa ini anugerah indah yang dikasih Tuhan. Sampai dirinya takut kalau hal itu hilang.

“Arnold, kenapa kamu diam aja? Aku suruh kamu minta maaf sama Mama kamu, malah diam aja.”

“Ma, minta maaf ya. Wanita aku bawel soalnya. Nanti aku malah diambekin dia setahun.”

“Lebay banget sih. Aku nggak pernah ya ngambekin kamu setahun. Ya tiga tahun lah…”

Tak terasa waktu sudah sore hari. Arnold sudah seharusnya pulang. Tak lama, mama Arnold mengusap pelan tangan Alia.

“Al, Tante pulang dulu ya. Titip Arnold. Kalau bandel, pukul aja tangannya. Kalau nggak, bilang ke kepala sekolah. Kan Arnold takut sama kepala sekolah. Jadi nggak apa-apa, kamu bilang aja ke kepala sekolah.”

“Siap, Tante. Aku jagain aman. Aku tinggal bilang aja ke Papa aku kalau Arnold macam-macam, Tante.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!