NovelToon NovelToon
365 Day

365 Day

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Murni
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.

Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pasangan suami istri yang merasa sangat bersalah terhadap kedua anaknya itu pun akhirnya bekerja sama untuk mengurus keduanya hingga Alfaro melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan yaitu menguncir rambut putrinya untuk pertama kalinya.

Meskipun tidak serapi Hugo yang memang berbakat dalam hal itu tapi setidaknya ada kebahagiaan di hati mereka terutama Alfaro yang baru merasakan menjadi ayah yang sesungguhnya dan kini hatinya dipenuhi oleh rasa bersalah karena tidak memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah sejak mereka berdua lahir.

Hingga mereka berempat sarapan pagi dengan makanan yang disiapkan oleh asisten rumah tangga yang Alfaro pekerjakan sejak tiga tahun lalu untuk mengurus rumah penuh kenangan itu yang kini sudah menjadi tiga lantai karena Alfaro menambah lantai rumah tersebut menjadi tiga lantai untuk anak-anak nya yang kini sudah berada di sana bersamanya tanpa mengubah perabotan dan ruangan yang sudah ada.

"Setelah ini apa kalian ingin jalan-jalan daddy sudah siapkan tempat yang mungkin akan kalian sukai nanti."ucap Alfaro yang kini tersenyum manis pada ketiga nya.

"Ok daddy kami mau."ucap Damian.

"Ok sayang setelah ini bersiap lah karena kita akan pergi hari ini juga."ucap Alfaro yang membuat kedua anak nya bersorak gembira.

Embun yang kini masih diliputi kecemasan akan akhir dari kebahagiaan yang kini tercipta di hadapannya. Karena Alfaro bukan hanya miliknya dan anak-anak nya, tapi pria itu milik wanita lain putranya yang lain.

"Babe ada apa?"tanya Alfaro.

"Al tolong jangan terlalu memanjakan mereka, aku tidak ingin mereka menjadi terlalu bergantung padamu ingat diluar sana kamu masih memiliki anak dan istri lainnya yang juga merupakan prioritas utama mu. Aku takut anak-anak akan terluka jika nanti mereka tau bahwa kamu memiliki yang lain di luar sana."ucap Embun.

Alfaro pun hanya terdiam sambil menatap lekat wajah istrinya yang memang terlihat sangat khawatir dengan itu.

"Babe apapun yang terjadi aku akan berusaha untuk berbuat adil terhadap mu dan dia, dan anak-anak jadi jangan berfikir yang macam-macam."ujar Alfaro.

"Aku hanya takut Al, jika kamu tidak mampu memenuhi kewajiban mu sebagai seorang daddy maka biarlah Hugo yang akan tetap menggantikan posisi mu."ucap Embun.

Alfaro pun langsung menatap tajam kearah Embun dan berkata tegas."Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengijinkan orang lain berada antara kita."ucap Alfaro yang kini bangkit karena merasa sangat marah saat Embun lagi-lagi menyebut nama pria itu di hadapannya.

"Tapi itu satu-satunya cara agar mereka tidak terluka saat kamu bersama anak dan istri mu di luar sana."ucap Embun tidak mau kalah.

"Aku akan selalu ada untuk kalian dan hal yang kamu takutkan tidak akan pernah terjadi."ucap Alfaro.

"Hmm... semoga saja."ucap Embun yang kini meminum air putih miliknya.

Waktu terus bergulir dan kini mereka sudah berada di dalam pesawat penumpang menuju ke sebuah tempat yang tidak pernah Embun duga sebelumnya.

Sebuah harapan padang rumput yang luas dan sebuah danau buatan yang begitu cantik dengan villa yang ada di sebrang sana yang berada di atas perbukitan kecil seperti bukit Teletabis dengan hamparan bunga-bunga yang tumbuh bersama rerumputan yang hijau dan pohon-pohon yang rindang dan sangat terawat hingga memberikan kesejukan.

Ketiganya masih menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.

"Semua ini milik kita sayang."ucap Alfaro.

Embun hanya bisa menatap sendu tanpa berkata apa-apa pada pria yang kini merangkul pinggang nya sementara anak-anak mereka kini tengah berlarian bersama beberapa kelinci hias yang sangat ini berkeliaran di Padang rumput yang indah itu.

Beberapa orang asisten mulai menghampiri kedua anak Embun tersebut sementara Alfaro membawa Embun masuk kedalam villa yang sangat mewah.

"Bagaimana babe apa kamu suka."ucap Alfaro yang kini tersenyum pada Embun.

"Ini milikmu Al?"tanya Embun.

"Ya babe ini milik kita berempat mulai dari sekarang setiap kali ingin berlibur kita bisa tinggal di sini."ucap Alfaro yang kini mengecup bibir Embun dengan penuh kelembutan.

Mereka melewati bahagia hingga beberapa hari terakhir namun setelah nya gangguan mulai datang dari pihak Alfaro yang kini tengah bersiap untuk kembali pulang seorang diri karena ibunya bilang Alvino dilarikan ke rumah sakit.

Embun yang melihat itu pun langsung berkata."Kami juga akan segera pulang karena lusa ada aku harus mengurus barang-barang yang akan datang saat itu."ucap Embun.

"Babe aku minta maaf tapi ini diluar kendaliku dia juga anak ku."ucap Alfaro yang menyadari kekecewaan yang dirasakan oleh Embun.

"Aku tau itu dan aku sangat tau diri, aku juga tidak melarang mu untuk kembali bukan hanya saja aku juga punya urusan, dan lagi anak-anak harus segera mencari sekolah yang tepat untuk mereka belajar nantinya."ucap Embun.

"Babe kamu bilang seperti itu seolah aku tidak akan pernah peduli dengan kalian lagi, please tunggu aku disini dan jika aku tidak kembali dalam waktu dekat kamu baru boleh kembali."ucap Alfaro.

"Tidak Al kami akan kembali hari ini juga terserah jika kamu tidak ingin pergi bersama dengan kami bertiga, kami bisa pulang dengan pesawat lainnya setelah mu."ucap Embun yang kini mulai kembali terasa diingatkan akan siapa dirinya yang tidak sebegitu pentingnya dalam hidup Alfaro.

"Babe bukan itu please jangan salah faham aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama kalian nantinya setelah aku pulang dari rumah sakit nantinya."ucap Alfaro.

"Tapi aku tidak bisa, sebaiknya nanti kamu kembali bersama mereka saja."ucap Embun yang membuat Alfaro naik darah.

"Cukup babe!! Aku tau kamu tidak rela aku pulang tapi anak itu juga tanggung jawab ku."ucap Alfaro.

"Aku sangat tau itu maka dari itu aku sudah bilang bahwa kamu tidak perlu repot-repot bertanggung jawab atas kami karena kami masih bisa hidup tanpa mu seperti selama ini."ucap Embun yang kini membereskan barang-barangnya.

Alfaro langsung menghentikan pergerakan tangan Embun dan menariknya dengan kasar."Apa yang kau katakan babe, aku sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya demi cinta ku pada mu demi anak-anak kita aku hanya minta waktu untuk pulang menjenguk putraku tapi kau malah bersikap egois seperti ini."ucap Alfaro.

"Kamu menganggap aku egois Al karena aku memutuskan untuk pulang ke rumah lagipula tempat ini bukan rumah ku jadi wajar jika aku ingin kembali."ucap Embun.

"Tapi bukankah sudah aku katakan bahwa tempat ini adalah milik kita,itu berarti miliku dan kamu."ucap Alfaro tegas.

🪵🪵🪵

Sudah satu bulan lebih sejak hari itu Alfaro tidak datang ke rumah meski sekedar untuk bertanya tentang kabar anak istrinya.

Mungkin bagi Embun itu sudah biasa karena dulu pun Alfaro pernah seperti itu setelah nya datang sesuka hati, tapi tidak dengan anak-anaknya Embun yang hampir setiap waktu bertanya kemana daddy mereka pergi.

Dan jika sudah begitu Embun hanya akan menjawab bahwa Alfaro sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan meskipun Embun sendiri tidak pernah tau pria itu berada di mana.

Embun pun menyarankan mereka agar menghubungi Hugo, jika ditanya antara Hugo dan Alfaro siapa yang lebih dekat dengan anak-anak tentunya Hugo yang lebih dekat dan selama satu bulan ini bisa mengembalikan keceriaan mereka berdua.

"Mam ayo jalan-jalan aku mau ketaman bermain."ucap Dilara.

"Iya mam, aku juga ingin bermain di time zone."ucap Damian.

"Baiklah anak mama tersayang ayo bersiap lah."ucap Embun yang kini membawa mereka untuk bersiap pergi menuju Mall terbesar yang tidak terlalu jauh dari area kompleks perumahan yang ia tempati.

Hingga mereka tiba di sana mereka langsung naik ke lantai atas dimana wahana permainan anak berada, sesampainya di sana langkah Embun terhenti saat melihat orang yang selama satu bulan terakhir tidak pernah datang menemui mereka.

Alfaro bersama istri dan ibunya sedang duduk sambil menikmati minuman mereka di tempat tunggu.

"Daddy!"teriak Damian disusul oleh Dilara.

"Daddy!"teriak dilara mereka berdua berlari menghampiri Alfaro tanpa Embun bisa cegah.

"Hi... siapa kalian kenapa berani-beraninya memanggil putraku daddy, apa kau tidak"

"Cukup mommy biarkan saja mungkin mereka salah mengira."ucap Alfaro yang kini menatap kearah Embun.

"Anak-anak kemarilah dia bukan daddy kalian."ucap Embun yang langsung menarik tangan kedua anak nya menjauh dari Alfaro yang kini terlihat kelabakan.

"Tapi mam itu daddy aku sangat kenal daddy."ucap Damian.

"Tidak sayang kamu salah orang."ucap Embun yang kini terus menahan air matanya.

"Tidak mam itu daddy kenapa daddy diam saja dan tidak memeluk kami seperti daddy Hugo saat tidak bertemu lama dengan kami."ucap Dilara yang akhirnya membuat air mata Embun menetes tak bisa dibendung lagi.

"Dia bukan daddy kalian, sejak awal Mama sudah bilang bahwa dia bukan daddy kalian kalian lihat itu anak mereka."tunjuk Embun pada keempat orang yang kini berjalan tidak jauh dari mereka.

"Hiks.... hiks... lalu kenapa daddy begitu mirip dengan kami."ucap Dilara dan Damian yang terus bertanya-tanya sambil menangis.

"Sayang kalian kenapa?"tanya seseorang yang kini baru saja datang.

"Daddy!!"teriak mereka berdua yang kini membuat Embun mematung melihat pria yang baru saja datang menyusul mereka.

"Hugo."ucap Embun yang membuat Alfaro dan keluarga nya menghentikan langkahnya.

"Babe kau disini syukurlah beruntung sinyal dari gelang mereka masih berfungsi."ucap Hugo yang kini memeluk erat dan mendaratkan kecupan sayang di puncak kepala keduanya secara bergantian dan penuh kasih.

Seseorang kini tengah mengepalkan tangannya dan berlalu pergi lebih dulu dari yang lainnya.

"Daddy tolong jangan pergi lagi."ucap Dilara.

"Tidak sayang bukankah kita akan kembali ke Paris."ucap Hugo yang membuat langkah wanita lanjut usia itu terhenti.

"Tunggu sepertinya aku pernah bertemu dengan mu, ya kau wanita yang telah membuat gaun pengantin untuk putra dan menantu ku."ucap nya.

"Hmm... anda tidak salah nyonya."balas Embun.

"Jadi itu anak mu?"tanya wanita itu lagi.

"Ya nyonya maaf mereka salah mengira tadi."ucap Embun.

Namun wanita itu menatap lekat wajah kedua anak kembar identik itu, lalu kemudian berkata."Dia ayah mereka?"ucap nya lagi.

"Hmm..."lirih Embun.

"Sepertinya kalian tidak benar-benar pintar mendidik anak bagaimana bisa mereka salah mengenali ayah mereka, mereka tidak buta bukan."ucap nyonya Wijaya dengan lantang nya.

"Cukup nyonya, saya sudah meminta maaf atas kesalahpahaman anak-anak tadi dan anda tidak berhak berbicara buruk tentang anak kami lagipula perbuatan mereka tadi tidak merugikan kalian semua bukan."ucap Embun yang kini membuat wanita itu merasa tidak terima karena baru kali ini ada yang berani berani mencela kata-katanya.

"Memangnya kau siapa bisa seenaknya berbicara tidak sopan padaku hehh! Kau tidak tau siapa aku! Aku bisa menghancurkan hidup mu dalam sekejap."ancam nyonya Wijaya yang kini menjadi pusat perhatian semua orang.

Embun terlihat tidak takut sedikitpun dia menatap tajam kearah wanita tua yang ada di hadapannya, sudah cukup selama ini ia terus mengalah pada orang yang selalu berbuat semaunya sekarang tidak lagi. Apalagi wanita itu sudah menyumpahi anaknya buta secara tidak langsung Embun pun tersenyum sinis.

"Mungkin anda adalah orang kaya yang cukup berpengaruh di kota ini, tapi anda tidak punya hak menghina orang sesuka hati anda, ingat nyonya tanpa adanya orang kecil yang tidak punya kuasa apa-apa anda tidak akan menjadi orang besar, tanpa adanya orang seperti saya anda juga tidak akan terkenal seperti saat ini, jadi jangan sombong jika anda masih bergantung pada orang kecil seperti saya dan yang lainnya karena harta tidak dibawa mati dan orang-orang yang setia pada anda tidak akan pernah ikut anda mati saat hari itu tiba bahkan tempat kita sama-sama di tanah."ucap Embun yang membuat wanita itu langsung melayangkan tangan nya ke wajah Embun namun seseorang menahan nya.

"Jangan pernah sakiti putriku jika tangan ini masih ingin pada tempatnya."ucap seorang pria lanjut usia yang kini datang bersama beberapa pengawal nya.

"Uncle."ucap Embun saat melihat pria yang pernah ia tolong di Paris ada di sana.

"Siapa kau berani-beraninya menghentikan ku!"ucap nyonya Wijaya yang semakin dibakar emosi.

"Anda tidak perlu tau siapa saya, tapi saya akan pastikan hidup anda hancur jika sekali saja berani menyentuh putri saya."ucap pria itu dengan tatapan mata memburu.

"Ada apa ini?"ucap Alfaro yang kini kembali ke hadapan mereka setelah tadi sempat menghilang entah kemana.

"Al dia berani menghina ku di depan mereka dan kamu tau caranya untuk mengurus nya bukan."ucap wanita licik itu.

"Rupanya kalian bersekongkol untuk menyakiti putriku baiklah kalau begitu."ucap pria yang kini melirik kearah anak buahnya.

"Maafkan mommy saya tuan Gavin, beliau memiliki gangguan hipertensi jadi sedikit tidak terkontrol."ucap Alfaro yang kini melirik kearah Embun.

"Sebaiknya kamu bawa dia pergi atau ibumu pulang ke akhirat."ucap pria itu tegas.

"A apah?! Hey! Kau tidak sopan padaku memangnya kau siapa."ucap nyonya Wijaya yang kini dibawa menjauh oleh Alfaro yang mengenal pria yang kini berdiri di samping Embun tersebut.

"Kau tidak apa-apa nak, kenapa tidak menghubungi ku jika ada masalah."ucap pria bernama Gavin Menzies.

1
end
cerita aneh
partini
👍👍👍👍👍
partini
berbakti pada orang tua tapi bikin orang lain sengsara hah ada gitu yah apa itu ga dosa ,busehhhhh gampang amat
ajaran dari mana itu ????????
Erny Su: Itulah ciri-ciri orang yang keliru.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!