NovelToon NovelToon
THE EAGLES OF DEATH

THE EAGLES OF DEATH

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Contest / Badboy / Tamat
Popularitas:448k
Nilai: 4.9
Nama Author: lisaautmptri

SEASON 1
"DIAM MENAKUTKAN, BERGERAK MEMATIKAN." Semboyan dari sebuah gank remaja SMA Taruma Bangsa.
Orang bilang, masa SMA adalah awal dari sebuah perjuangan. Putih Abu menjadi saksi, pahit manis kehidupan tanah suci pendidikan.

SEASON 2

Bagi Nabila, Zein adalah segala nya. Zein adalah hidup nya.

Bagi Zein, cinta dan ungkapan perasaan itu dua hal yang berbeda. Dia bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaan melalui ucapan atau perbuatan.

Bagi inti 'The Eagles' persahabatan adalah segala nya, susah senang kehidupan akan mereka jalani bersama. Menjalani kehidupan dengan tujuan masing-masing? Boleh saja, namun 'The Eagles' tetap menjadi prioritas.

Siap mengikuti kisah percintaan dan persahabatan mereka? Jangan lupa klik favorite untuk mendapat notifikasi saat update.

Akun ig @_lisaautmpri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THE EAGLES OF DEATH 17

"Ibuu, aku berangkat yah!" teriak Nabila dari dalam kamar, gadis yang sudah berseragam rapi itu tengah memakai sepatunya.

Tidak ada jawaban dari sang ibu, Nabila bergegas ke dapur mencari keberadaan ibunya. "Ibu, Kiya berangkat yah," panggil Nabila lagi, wanita paruh baya yang tengah sibuk dengan perkakas dapur bersama seorang wanita lagi itu menoleh.

"Jam segini udah mau berangkat Bila?" tanya Siti, pekerja rumah tangga yang lebih dulu mengabdi pada keluarga Wijaya.

"Hehehe," Nabila menggaruk tengkuk yang tak gatal, melirik pada ibunya yang menatap penuh selidik.

"Jam enam aja belum, kamu tuh murid atau satpam?" celetuk Hanum yang kembali sibuk pada pekerjaannya.

"Emm, Kiya harus mampir ke café dulu bu sebentar. Yaudah Kiya mau langsung berangkat ya bu, Assalamualaikum," pamit gadis itu setelah mencium tangan Hanum dan Siti bergantian.

Berlari keluar rumah secepat mungkin, sialnya Nabila justru bertemu dengan si patung tampan. Siapa lagi jika bukan Zein, pemuda yang masih menggunakan sarung dan kaus oblong berwarna abu itu barusaja memanaskan mesin motor.

"Apa?!" tanya Nabila galak, melihat wajah Zein yang menatapnya heran.

"Lo berangkat jam segini?" tanya Zein melirik jam dinding besar di sudut ruangan, lalu memperhatikan penampilan Nabila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gadis yang mengenakan seragam putih abu lengkap dengan atributnya dengan rambut hitam yang di kuncir kuda, serta wajah yang masih fresh setelah mandi terlihat menggemaskan.

Tunggu, menggemaskan apanya coba? Zein geleng-geleng sendiri mengusir pikiran aneh dikepalanya.

"Iya lah, aku kan murid teladan dan dapat beasiswa. Mana boleh terlambat masuk kelas, beda sama tipekal bad boy sekolah," sindir Nabila dengan bangga, melirik Zein penuh kemenangan.

Sadar disindir, Zein hanya berdecak kesal lalu berkacak pinggang. "Sana berangkat, jangan halangi jalan gue!" ketus pemuda itu mendorong Nabila ke samping, lalu berjalan dengan sombongnya.

"Yee biasa aja dong patung!" dengus Nabila mengepalkan tangan, ingin sekali melempari kepala songong Zein yang baru saja melintas disampingnya dengan guci, sapu atau apapun yang ada didekatnya.

Sabar Bila sabar, pacar kontrak kamu memang gitu. Harus sabar, orang sabar disayang pacar.

Mengelus dada sendiri untuk meredakan emosinya, Nabila masih menatap kesal pada Zein yang sudah naik tangga ke lantai atas. Saat pemuda itu tak lagi terlihat, baru lah Nabila mengumpat penuh kekesalan.

Setengah berlari menyusuri jalan, jam setengah tujuh Nabila baru keluar dari komplek perumahan elite yang ditinggalinya.

Entah kesialan apa yang di alami gadis itu hari ini, hampir pukul delapan pagi angkot nya baru sampai di depan gerbang sekolah karena terjebak macet.

Nabila berlari setelah membayar ongkos, gadis itu mengintip di sela gerbang berharap ada satpam yang berbaik hati membukakan pintu gerbang.

"Pak!" panggil Nabila pada seorang pria paruh baya yang berseragam serba hitam.

"Pak saya mau masuk pak, tolong di bukain pintu nya pak,"

"Aduh-aduh anak gadis," pria paruh baya itu menghampiri Nabila. "Jam segini baru datang, makanya kalau dandan jangan kelamaan atuh neng. Pulang aja sana, peraturan sekolah ini kalau murid terlambat ya tidak boleh masuk!" usirnya kemudian dan berlalu meninggalkan Nabila.

Astagfirullah, kalo ketahuan ibu pasti marah banget. Karena sepeda di ambil bapak jadi begini kan! rutuk gadis itu sembari menendang sebotol minuman dengan keras.

"Eh itu si Zein patung," menunjuk seorang pemuda yang berjalan santai ke arah gerbang samping.

Nabila berlari mengejar Zein lalu menghadang jalan pemuda itu.

"Heh kamu telat yah? Pulang sana, kata pak satpam kalo telat gak boleh masuk," cecar Nabila merentangkan kedua tangan menghadang jalan Zein.

"Minggir gue mau lewat!" sergah Zein menebas tangan Nabila lalu melewatinya begitu saja.

"Eh aku ikut, enak aja kamu mau masuk sendirian," teriak Nabila kembali berlari mengejar Zein.

Setelah cukup lama memutari gerbang pagar sekolah yang menjulang tinggi, dua orang itu sampai di gerbang samping dekat dengan toilet yang sudah tidak terpakai. Ada lubang kecil yang tertutup triplek yang digunakan oleh anak-anak nakal untuk membolos.

Zein masuk dengan mudahnya setelah menyingkirkan triplek penutup, disusul Nabila yang juga masuk dengan mudah karena tubuh mungilnya.

"Akhh, akhirnya bisa belajar," sorak Nabila senang, sedangkan Zein hanya mendengus kesal melihat tingkah makhluk disampingnya yang jauh dari definisi seorang gadis pada umumnya.

"Bagus. Baguss kalian yaa!" terdengar suara sumbang seseorang, disusul tepuk tangan yang lantang terdengar.

Zein dan Nabila kompak menoleh pada sumber suara dan dari situ lah kesialan mereka di mulai.

"Zein!" maki pak Santos garang, pria berkepala plontos dengan kumis lebat itu menarik telinga Zein sekeras mungkin.

"Kamu anak baru kan?" tanya nya pada Nabila garang, tangan kiri nya pun melakukan hal yang sama pada Nabila.

"Murid badung, kamu ini hampir setiap hari terlambat. Seenak jidat datang ke sekolah, kamu pikir sekolah ini milik bapak mu hah?" semprot pak Santos tegas, Zein hanya meringis saat telinganya di tarik sekeras mungkin.

"Dan kamu! Murid baru tapi kelakuannya seperti ini, perempuan lagi. Jangan beri contoh tidak benar pada siswi lain!"

"Maaf pak, saya tadi kesiangan. Saya cuma ikut-ikutan dia pak, dia yang ajak saya lewat sini," Nabila spontan menunjuk Zein dan melimpahkan semua kesalahannya pada pemuda itu.

"Eh kalo ngomong jangan ngaco, lo sendiri yang ikut gue!" sergah Zein tidak terima.

"Lho kok nggak ngaku, tadi kan jelas-jelas kamu yang suruh aku ikut lewat sini!"

"Ngaco lo! Lo yang ikutin gue!"

"Sudah-sudah! Kalian ikut saya!" bentak pak Santos menghentikan perdebatan Zein dan Nabila.

"Apaan maksud lo ngomong gitu?!" ketus Zein tertahan, mendelik tajam pada Nabila yang berjalan disampingnya.

"Wleeek," Nabila menjulurkan lidah mengejek Zein, membuat pemuda itu semakin geram.

"Kampret lo!" umpat Zein menggetuk kepala Nabila, lalu setengah berlari mengejar pak Santos dihadapan mereka.

"Sakit tau! Zein terkutuk!" maki Nabila mengejar Zein, memukul lengan pemuda itu sekeras mungkin.

Suasana sekolah yang sudah sepi karena jam pembelajaran berlangsung menyelamatkan Nabila dari sedikit rasa malu, setidaknya murid-murid lain tidak akan tahu masalah ini.

Sampai di depan kantor guru, Zein dan Nabila dihadapkan dengan guru piket yang bertugas.

Ibu Siwi yang terkenal baik hati dibanding guru lain, Zein dan Nabila mendesah lega. Setidaknya mereka diselamatkan dari pak Santos yang bisa saja meminta mereka untuk ditraktir di kantin.

"Jadi kenapa kalian lewat pagar belakang?" tanya Bu Siwi dengan gaya sok galaknya, wanita berkepala empat dengan gigi yang sedikit mancung ke depan itu melempar tatapan garang.

"Pintu gerbang depan tutup bu," jawab Zein santai dan jujur.

"Kenapa di tutup?"

"Karena udah masuk waktu belajar bu," jawab Nabila lemah, menundukkan kepalanya.

"Jadi intinya?"

"Intinya kami terlambat bu," jawab Nabila lagi semakin menunduk dalam.

"Kenapa terlambat?"

"Bangun kesiangan," kali ini Zein yang menjawab, tanpa beban dan tanpa rasa bersalah.

"Kesiangan gimana, tadi kamu udah bangun kok," tanya Nabila setengah berbisik, seingatnya tadi saat dia hendak berangkat sempat bertemu dengan si patung Zein dulu.

"Tidur lagi," jawab Zein setengah berbisik.

"Yaudah kalian lari keliling lapangan aja sana, saya ada jam sekarang. Lain kali jangan di ulangi, apalagi kamu Zein. Guru-guru lain udah capek ngurusin kalian, sesekali jadi lah contoh yang baik untuk adik kelas dan teman kamu. Kalian itu kan banyak penggemarnya, harus nya bisa memberi kesan yang bagus bukan malah seperti ini, mengerti?!" tanya Bu Siwi memastikan.

Wanita paruh baya itu berlalu setelah memberikan petuahnya dan siraman rohani nya untuk Zein dan Nabila.

Tanpa ingin mengulur waktu lagi, Nabila langsung berlari mengelilingi lapangan yang luas nya hampir setengah lapangan bola ini.

Sesekali Nabila mengelap peluh yang mulai membasahi wajahnya setelah tiga kali putaran sukses dia lakukan.

"Heh hati-hati kenapa sih, nggak liat badan aku sebesar ini?!" teriak Nabila pada Zein yang barusaja menubruknya, membuat Nabila hampir terhunyung ke samping. Bisa dipastikan Zein sengaja melakukan itu dan tanpa rasa bersalah malah mempercepat langkahnya.

"Awasssss!" teriak Nabila memberi peringatan, lalu sekuat tenaga menubruk tubuh Zein membuat pemuda itu terhunyung ke depan.

"Humm, mampus. Makanya jangan nyebelin," ejek Nabila setengah tertawa, berjalan mundur sembari menjulurkan lidah pada Zein.

Brukk. Gadis itu terjatuh saat menabrak sesuatu dibelakangnya, lebih tepatnya menabrak seseorang.

"Maaf, maaf aku nggak sengaja," lirih Nabila langsung berbalik untuk melihat siapa yang ditabraknya.

Gadis yang berdiri dihadapan Nabila itu hanya menatap dengan remeh dan senyum mengejeknya, melipat dua tangan didepan dada lalu berjalan melewati Nabila begitu saja.

"Kak Zein aku mau bicara," ucap gadis itu pada Zein yang masih berdiri di belakang Nabila.

Nabila menoleh lagi, melihat Putri yang sedang tersenyum ramah dengan tangan kiri yang mengulurkan sebungkus tisyu pada Zein.

Zein menatap wajah dan tangan Putri bergantian, lalu menghembus napas panjang mengatur pernapasan setelah berlarian.

"Gue lagi di hukum, nanti aja," ketus Zein lalu berlari meninggalkan Putri dan berlalu begitu saja tanpa menatap Nabila yang di lewatinya.

"Kak Zein!" panggil Putri lagi, sebungkus tisyu di tangannya sudah terjun bebas ke tanah.

Nabila mengedikkan bahu, lalu ikut berlari meninggalkan Putri. Jelas saja dirinya tidak mau ikut campur, hukumannya saat ini lebih penting dibanding mengurusi Putri yang tidak jelas apa mau nya.

🌺

🌺

🌺

1
Rizka Ajah
yaiyalah harus berakhir,, cantik tp gatau diri
Naylatul Maufiroh
mantap ceritanya bagus
Naylatul Maufiroh
😂😂seru seru
gah ara
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
gah ara
😂😂😂
gah ara
,kagak ada ponsel kasihan
gah ara
😂😂😂😂
gah ara
🤭🤭🤭🤭😂😂
yuhuuuu
keren karya² mu Thor...
Yanti
aku udah baca dua kali 🥰
mau tanya Thor , novel kisahnya anaknya si Zein ada gak ☺️
Grizelle
Om somplak ye😂🤣🤣
Grizelle
🤣😂😂😂 si Kevin emang bikin mood naik sih, nggak pernah gagal bikin ngakak
Grizelle
🤣😂😂😂😂 asli ni temen pada somplak, tapi bener juga sih kurang umur dekat dengan kematian
Grizelle
Masya Allah, jazakillah khairan katsiira untuk authornya
Apalagi ada cerita tentang nabi
Grizelle
Padahal yg nyari kesempatan malah dia sendiri 😂🤣 dasar Kevin
Grizelle
Makanya jangan terlalu percaya diri dan punya ekspektasi tinggi. Kalo kenyataan nggak sesuai harapan kan yg sakit juga diri sendiri, akhirnya kecewa
Grizelle
🤣😂😂
Grizelle
Udah omes ya
Grizelle
Emang curhat sama temen somplak mah gitu ye
Grizelle
Bisa-bisanya ya nanya gitu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!