Leona harus menghadapi cobaan hidup yang berat sejak usia dini. Ketika berusia lima tahun, orangtuanya, yang merupakan sepasang perwira yang teguh, tewas dalam pembantaian mengerikan karena ikut mengusut sebuah kasus besar yang terjadi di kota X.
Ditinggalkan tanpa keluarga, Leona harus belajar bertahan dan menghadapi kehidupan yatim piatu. Meskipun begitu, kekuatan batinnya yang luar biasa membantu Leona melawan rasa kehilangan dan kesepian. Pada usia enam tahun, hidupnya berubah secara tak terduga ketika dia diadopsi oleh seorang pria kaya bernama Willson Smith.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika Leona mengetahui bahwa Willson Smith sebenarnya adalah seorang ketua mafia yang kuat dan berpengaruh di kota C. Terpapar oleh dunia gelap kejahatan, Leona harus menemukan keberanian dan keteguhan untuk menjaga integritasnya sendiri.
Sanggupkah dia menemukan pembunuh kedua orang tuanya dan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arlingga Panega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Calvin Steward
Brak...
Sebuah meja tiba-tiba saja melayang, seiring kemarahan dari seseorang pria paruh baya, matanya memerah dengan rahang yang terkatup. Dia telah berusaha keras selama 1 tahun mencari keberadaan cucu kesayangannya, namun hingga saat ini masih belum juga mendapatkan titik terang.
Calvin Steward, ayah kandung dari Laura Romero tak bisa lagi menahan kekesalannya, dia telah bersabar selama satu tahun lebih, hanya demi untuk bisa menemukan cucu perempuan tercintanya.
"Sabar pa," mata Carina Steward terlihat berkaca-kaca, kesedihan begitu jelas terpampang dari raut wajah sendunya. Dia juga merindukan cucu kecilnya, namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana bisa keluarga Romero tetap diam, sementara Leona hingga saat ini masih belum ditemukan? Aku bahkan telah mengeluarkan begitu banyak uang, menyewa beberapa orang detektif hanya demi untuk menemukan cucu kesayanganku." ucap Calvin Steward sambil mengusap kasar wajahnya.
"Pa.." Carina memanggil suaminya dengan suara yang sangat serak, meskipun Laura bukanlah putri kandungnya, tapi dia yang telah membesarkannya selama 20 tahun terakhir.
Calvin melirik ke arah sang istri, sorot matanya masih menunjukkan kekesalan, setelah bertemu dengan pihak keluarga Romero, emosinya mendadak tidak terkendali, besannya itu benar-benar tidak menghargai kekerabatan diantara dua keluarga besar, setelah Adrian dan Laura meninggal akibat pembantaian, mereka seolah acuh dengan nasib Leona.
"Pa, lindungi Liora, jangan sampai gadis itu mendapatkan nasib yang sama seperti Laura. Hingga saat ini bahkan pelaku pembunuhan terhadap Laura masih berkeliaran, mama tidak ingin dia mengalami masalah saat berada di luaran." ucap Carina, menyadarkan Calvin jika saat ini dia harus berusaha untuk menyembunyikan putri keduanya.
"Astaga, mama benar. Papa hampir saja melupakan Liora. Kita harus segera ke kota S, papa yakin saat ini para penjahat itu pasti masih terus memburu keluarga kita." ucap Calvin, dia segera melangkah ke lantai atas untuk bersiap.
Sementara Carina membantu untuk menyiapkan semua kebutuhan Calvin selama berada di kota S, dia tak mungkin membiarkan suaminya melakukan semua hal itu sendiri, apalagi saat ini rumah besarnya tak lagi memiliki banyak pelayan seperti dulu, kepergian Laura membuat para pelayan yang tinggal di kediaman besar itu satu persatu pergi, akibat ketakutan.
Apalagi setelah maraknya kabar tentang teror pada keluarga Romero, membuat binar ketakutan dimata para pelayan semakin menjadi-jadi, mereka tidak ingin mengambil resiko terlalu besar, sehingga akhirnya memutuskan untuk pulang kampung dan tidak melanjutkan pekerjaannya sebagai pelayan di rumah kediaman milik Calvin Steward.
.
.
.
Kota S merupakan sebuah kota kecil, seorang wanita berusia 25 tahun nampak menatap jalanan lengang disekitarnya. Dia baru saja mendapatkan panggilan kerja, namun masih belum bisa memutuskan untuk menerimanya. Apalagi pekerjaan yang saat ini dia dapatkan mengharuskannya pindah ke kota C, sedangkan dia memiliki seorang putra berusia 6 tahun dan juga ibu yang masih membutuhkan penjagaannya.
"Apa yang kau pikirkan, Liora?" seorang wanita paruh baya muncul membawa nampan di tangannya sambil mendudukkan diri tepat di samping putrinya itu.
"Haruskah kita pindah ke kota C, bu? Aku tak yakin akan betah disana, apalagi Kendrick juga telah nyaman tinggal disini." Liora melirik ke arah sang ibu, sambil mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir berisi teh yang disodorkan wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu melirik ke arah Liora, sambil sesekali terdengar menghembuskan nafas lelah. "Maafkan ibu, andai saja ibu tidak sakit-sakitan, mungkin kau tidak perlu bekerja hingga sekeras ini."
"Apa yang ibu katakan? Meskipun saat ini kehidupan kita jauh dari kata berlebih, setidaknya kita tak kekurangan. Lagi pula Kendrick juga sebentar lagi harus mulai sekolah, sehingga aku harus berusaha lebih giat lagi agar tak mengecewakannya." jawab Liora, matanya menyiratkan kehangatan.
"Ibu merasa tidak berguna karena tak bisa membantumu, maafkan ibu." desah wanita paruh baya itu, sambil menatap wajah lelah putrinya.
"Lupakan semua itu bu, saat ini yang terpenting kita harus menata kembali kehidupan baru, agar tak mengalami nasib buruk seperti yang sudah-sudah." jawab Liora.
Pikirannya kembali menerawang pada kejadian 6 tahun yang lalu, saat dia bekerja sebagai seorang cleaning service di sebuah hotel besar, andai saja kemalangan itu tak menimpanya mungkin saat ini Liora telah bahagia.
'Aku akan bekerja keras demi ibu dan juga Kendrick, apapun yang terjadi, aku tak akan meminta bantuan pada pria bajingan itu. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah tahu kebenaran tentang putraku.' gumamnya sambil mengepalkan kedua tangan.
Marlina yang melihat ketegangan diwajah putri cantiknya hanya bisa menghembuskan nafas kasar, andai saja Calvin peduli pada putri mereka, mungkin saat ini Liora tak perlu menanggung beban yang begitu besar, apalagi kehidupan mereka sangat menyedihkan selama 20 tahun terakhir, setelah perpisahannya dengan Calvin Steward.
Brum...
Brum...
Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan rumah yang ditempati oleh Marlina dan juga Liora, seorang pria paruh baya muncul, menunjukkan diri setelah 20 tahun terakhir menghilang, membuat wajah Marlina langsung mengeras. Sedangkan Liora masih acuh tak acuh, mengabaikan kedatangan pria itu. Namun sudut matanya masih memancarkan kerinduan yang sama.
"Calvin? Apa yang kau lakukan ditempat ini?" tanya Marlina, segera dia bangkit dari kursi yang didudukinya.
"Aku perlu berbicara serius dengan kalian berdua," jawab Calvin sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah milik Marlina.
Hal itu tentu saja membuat mantan istrinya langsung melotot, amarah tiba-tiba saja muncul dari matanya, "Apalagi yang ingin kau bicarakan? Akan lebih baik jika kau segera pergi dari rumahku!"
Calvin tidak memperdulikan suara teriakan dari mantan istrinya, dia menulikan pendengarannya dan langsung menjatuhkan diri di sofa ruang tamu. Marlina berjalan kearah ruang tamu, kedua tangannya bersedekap dada.
"Duduklah, kita perlu bicara!" ucap Calvin, membuat Marlina berdecak sebal. Pria itu masih belum juga berubah, dia selalu saja bertindak sesuka hatinya.
Liora mendudukkan dirinya di sofa, berhadapan dengan Calvin, tak lama kemudian Marlina pun melakukan hal yang sama. Tatapan wanita paruh baya itu masih saja menunjukkan permusuhan terhadap Calvin.
"Apakah ja*angmu itu yang menyuruh datang kesini, hingga kau menempuh perjalanan yang begitu jauh?" tanya Marlina, aura ketegangan masih terasa pekat diruangan itu, membuat Liora berkali-kali harus melirik ke arah ibunya.
"Cukup Marlina, Carina bukanlah ja*ang seperti yang kau pikirkan. Dia wanita yang sangat baik, bahkan dia merawat Laura seperti anak kandungnya sendiri." ucap Calvin menatap tajam ke arah Marlina.
"Cepat katakan! Apa tujuanmu datang ke rumahku?" tanya Marlina, nafasnya terdengar memburu, menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya.
"Dengar! Aku tidak berniat untuk merebut salah seorang putrimu, hanya saja Carina saat itu benar-benar dalam keadaan terpuruk, hingga mau tak mau aku harus mengambil Laura darimu, agar dia bisa sedikit menghilangkan rasa sakit dan kecewanya setelah kehilangan anak kami." ucap Calvin menjeda ucapannya.
"Maafkan aku, karena tak bisa menjaga putri kita dengan baik, hingga akhirnya dia tiada. Tapi kau harus tahu, kepergian Laura bukan karena aku atau pun Carina, melainkan pembantaian yang terjadi oleh sekelompok mafia, setelah mereka mengetahui jika Laura merupakan istri dari seorang perwira, yang mendapatkan tugas untuk memata-matai seluruh kegiatan mereka." ucap Calvin.
"Aku datang atas permintaan Carina, hingga saat ini kelompok mafia itu bahkan belum ditangkap, kemungkinan besar mereka masih terus mencari tahu orang-orang yang terlibat dengan keluarga Romero maupun keluarga Steward. Aku harus melindungi Liora, jangan sampai mereka melihatnya." ucap Calvin.
Marlina dan Liora langsung membelalakan matanya, mereka tak menduga, jika kematian Laura berhubungan dengan kelompok mafia apalagi saat ini keselamatan Liora menjadi taruhannya.
"Ikutlah bersamaku, mulai hari ini kalian berdua akan tinggal bersamaku di kota J." ucap Calvin.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu itu tuan Calvin? Kau ingin aku tinggal satu atap dengan ja*ang itu? Tidak! Aku tak akan pernah sudi!" ucap Marlina, dia sudah bangkit dari sofa dan langsung bertolak pinggang di hadapan pria paruh baya itu.