Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Nathan tersenyum sinis. "Ya, aku memang petani bodoh," ia berbalik kemudian membanting pintu dan melangkah ke lorong. Nathan menuruni tangga, tepat di seberang kasino, menampar pintu ayun keluar dari jalannya dan pergi keluar. Dia terus berjalan, berharap udara malam akan menyejukkannya.
'Nathan… Lupakan Angel! Lupakan saja aku pernah meminta seorang istri! aku tidak terlalu membutuhkannya. Nathan… aku akan tetap membujang.' Ia terus berjalan. Tuhan, kenapa dia? Katakan padaku itu. Mengapa bukan gadis yang dibesarkan dengan lembut, yang tak tersentuh oleh lelaki mana pun sampai malam pernikahannya? Mengapa bukan janda yang takut akan Tuhan? Tuhan, kirimkan aku seorang wanita biasa, baik hati dan tabah, seseorang yang mau bekerja bersamaku di di kebun. Memuouk, menanam, dan memanen! Seseorang yang dapat memberi aku anak. Mengapa apakah engkau jatuhkan hatiku pada seorang pela*ur?
Nathan berhenti, marah. "Aku bukan nabi!" ia berteriak pada kegelapan langit. “Aku bukan salah satu orang suci. Aku hanya manusia biasa!”
Terbesit rasa ia ingin kembali kepada Angel. “Wanita itu memang untuk di tiduri, dia akan memberikan banyak kesenangan.... Ah tidak, tidak! aku tidak akan tidur dengan wanita mana pun yang bukan menjadi istriku!" Nathan mengacak-acak rambut dengan tangannya.
Hujan mulai turun. Hujan yang cukup deras dan dingin. Nathan berdiri di jalan berlumpur yang gelap, yang tak jauh dari tempat prostitusi. Hujan itu mulai membasahi tubuhnya dan ia menutup matanya. "Terima kasih," ucapnya. "Terima kasih banyak." Darah panas dan marah dipompa dengan cepat melalui pembuluh darahnya. “Jika ini cara-Mu untuk menyejukkan hatiku."
Nathan mulai berjalan lagi, menuju rsebuah ruko tempat ia memarkirkan mobil baknya. "Di depan jalan sana ada genangan banjir yang cukup parah, mobilmu bisa saja mati mesin jika kau menerjang banjir itu," ucap tukang parkir.
Nathan tak peduli dengn banjir "Aku benar-benar muak dengan tempat ini," ia memberikan selembar uang sepuluh ribuan kepada tukang parkir tersebut.
"Baik-lah semoga beruntung."
Untuk bisa keluar dari gang, Nathan harus melewati tempat prostitu*i yang ramai dengan tawa pemabuk dan musik DJ yang menggema. Nathan bahkan tidak melihat ke jendela lantai atas saat dia lewat. Kenapa harus melihat dia? Dia mungkin sedang bekerja. Begitu aku tiba di perkebunan, aku akan melupakan gadis yang terikat neraka itu, aku akan merasa lebih baik. Dan lain kali aku akan berdoa agar Tuhan mengiriminku seorang wanita untuk berbagi hidup denganku. Aku akan meminta dengan doa yang jauh lebih spesifik tentang jenis yang aku inginkan.
Bella sedang berdiri di depan jendelanya ketika dia melihat Nathan lewat. Ia tahu itu adalah dia bahkan dengan pintu kaca mobil yang tertutup oleh air hujan. Bella menunggu Nathan membuka kaca mobilnya dan melihatnya ke atas, tetapi Nathan tidak melakukannya. Bella memperhatikannya sampai Nathan menghilang dari pandangan.
Yah, Bella akhirnya berhasil mengusir Nathan. Itu yang ingin Bella lakukan sejak awal Nathan datang. Tapi mengapa sekarang ia merasa sangat kehilangan? Bukankah seharusnya Bella senang karena akhirnya ia dapat menyingkirkan Nathan? Nathan tidak akan duduk di kamarnya lagi, berbicara dan berbicara dan berbicara sampai Bella pikir ia akan menjadi gila.
Bella mengangkat tangannya yang gemetar dan meetakkannya di atas kaca. Rasa dingin merembes ke telapak tangannya dan naik ke lengannya. Dia menekan dahinya ke kaca dan mendengarkan hujan deras. Bunyinya membuatnya teringat akan gubuk dekat dermaga dan ibunya tersenyum dalam kematian.
Ya Tuhan, aku tercekik. Aku sekarat.
Bella mulai gemetar dan membiarkan tirai jatuh kembali ke tempatnya. Mungkin itu adalah satu-satunya jalan keluar. Kematian. Jika dia mati, tidak ada yang bisa 'memakainya' lagi.
Bella duduk di tempat tidur dan menarik lututnya erat-erat ke dadanya. Menekan kepalanya ke lututnya, dia mengayunkan dirinya sendiri. Kenapa Nathan harus datang padanya? Sekarang Nathan telah pergi. Mengapa ia harus menghancurkan keheningan batinnya? Bella mengepalkan tangannya, ia tidak bisa menyingkirkan bayangan Nathan saat pria itu mengemudi di tengah hujan. Bella memiliki firasat buruk bahwa ia baru saja membuang kesempatan terakhirnya.
****************
Badai berlangsung selama berhari-hari. Angel bekerja seperti biasanya, namun di malam hari ia berdiri di jendela dan melihat ke arah bangunan kumuh berdinding kayu yang diterangi lampion hingga subuh. Tidak ada pemandangan hijau, yang ada hanya kabut dan air.
Heni menyajikan sarapan pukul 07.00 pagi, tapi Bella tidak lapar, dan dia tidak ingin duduk dengan teman-temannya dan mendengarkan pertengkaran mereka atau keluhan mereka.
Hujan datang semakin deras, dan bersamaan dengan itu muncul kenangannya bersama Mama, ia dan mama bermain game di sore hari saat hujan lebat. Tapi Bella takmmerasa kedinginan sebab ia duduk di pangkuan Mama dan Mama membungkus tubuhnya selimut serta memeluknya dengan erat.
Sejak saat itu Bella menjadi menyukai badai sebab Mama akan memeluknya hingga tubuhnya merasa hangat. Mama juga bercerita hal-hal yang membahagiakan. Mama tidak pernah berbicara tentang penolakan orang tuanya, Mama juga tidak pernah berbicara tentang Alex. Tapi setiap kali Mama diam, Bella tahu Mama memikirkan Alex dan penolakan orangtuanya.
Mama memeluknya dengan erat sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya dan ia bersenandung. "Segalanya akan berbeda untukmu, Sayang," ucap Mama, lalu mencium Bella. “Kau akan bahagia."
Tirai jendela terjatuh dan Bella berhenti memikirkan masa lalu. Matanya mengerjap dan memikirkan Nathan tidak akan kembali. Tidak akan. Bellla menutup matanya dengan erat, ia mengepalkan tangan di pangkuannya. Kenapa aku memikirkannya? “Ayo pergi bersamaku dan jadilah istriku.” kalimat yang sama yang lernah di lontarkan Adipati dan Jordy beberapa tahun lalu.
Namun hidup tidak pernah berubah!!
Bella berbaring di tempat tidurnya dan menutupi wajahnya dengan kain satin. Ia teringat pada orang-orang yang menutup wajah kaku ibundanya saat meninggal dan seketika ia merasa hidupnya kosong.
Harapan apa pun yang pernah ada di dalam dirinya telah terkuras, tidak ada yang tersisa ia sudah terlanjur masukmpada kubangan prostitu*i. "Kalau pun ada perubahan, aku yang membuatnya sendiri," ucapnya ke dalam keheningan di sekelilingnya.
“Kau bisa Angel.” Seseorang membuka pintu kamarnya, menyentakkan punggungnya dari ingatan gelapnya.
"Bolehkah aku masuk?"
Angel menyambut kedatangan Lucyana. Wanita itu mengingatkannya pada Mama kecuali saat Lucy tengah mabuk.
“Akhir-akhir ini kau menyendiri,” ucap Lucy sambil duduk di tempat tidur dengannya. "Apakah kamu baik-baik saja? Apaka kamu tidak sakit atau apa?”
"Aku baik-baik saja," ucap Angel.
"Kamu tidak sarapan bersama kami." samping.
"Aku tidak lapar."
“Kamu juga tidak bisa tidur nyenyak. Kau memiliki lingkat mata panda. Kamu hanya merasa sedih, bukan?” Dengan lembut Lucy membelai rambut Angel ke belakang. "Yah, itu yang sering terjadi pada pela*ur seperti kita."
Lucy terlihat begitu menyayangi dan mengkhawatirkan Angel, sebab Angel masih sangat muda dan ia di paksa untuk bekerja lebih keras dari pelac*r lainnya.
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.