Perjanjian antara sang Daddy dan Queena, jika dia sudah berusia 18 tahun dia diperbolehkan berpacaran.
"Daddy! Aku sudah mempunyai pacar! Aku sangat menyukainya."
Saat Queena mengatakannya, seakan dunia menjadi gelap. Vard Ramberd seketika emosi. Ia tak rela pria lain memiliki Queena, gadis itu adalah miliknya!
Dengan kasar Vard memanggul tubuh Queena di pundaknya, menjatuhkan gadis itu ke atas ranjang menindihnya. "Queena, kau selamanya adalah milikku!"
Setelah Vard menodai paksa Queena, gadis itu memandang penuh benci pada sang Daddy. "Aku membencimu, Vard Ramberd! AKU MEMBENCIMU!!!"
---Kuy ikuti kisahnya, lovers ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Baru Queena.
8 Tahun Kemudian.
Queena yang kini sudah berganti indentitas itu sedang mengurus pekerjaan nya sebagai financial consultant, para klien-nya dari berbagai macam bidang. Terkadang ia membantu menangani memeriksa laporan yang telah dibayar oleh klien dengan prosedur yang benar juga meng-evaluasi atas besaran pajak yang telah dilaporkan untuk meminimalisir kesalahan laporan. Tapi terkadang ia juga memberikan opini, saran serta nasihat dan solusi atas masalah yang dialami oleh klien-nya.
Wanita yang berganti nama Esther yang berarti bintang tersembunyi itu kini sedang mengurus masalah keuangan salah satu klien.
Drrtttt Drtttttt
Esther menoleh pada ponselnya yang bergetar dia atas meja, ia tersenyum lalu mengangkatnya. "Ya, honey?"
"Mommy! Aku bilang aku sudah besar! Jangan panggil aku honey lagi! Apalagi di depan teman-teman sekolahku seperti kemarin!"
"Kau merajuk lagi, Justin. Itu panggilan sayangku padamu, you know that..."
Terdengar dessahan dari ujung telepon, "Terserah, Mommy."
"Katakan, ada apa menelepon Mommy? Apa kakekmu tidak menjemputmu ke sekolah?"
"Kakek Darish menjemputku, tapi aku sebentar lagi ada wisata dari sekolah. Guru bilang semua siswa harus ikut."
"So?"
"Mommy mengijinkan aku ikut, bukan?"
"Kalau kamu ingin ikut, tentu saja Mommy ijinkan. Ada lagi?"
"Aku harus membeli beberapa barang, Mommy bisa memberiku uang?"
"Berapa?"
"500 dolar..."
"Itu banyak, Justin. Kamu gak akan beli barang aneh-aneh seperti sebelumnya bukan? Barang-barang yang kamu beli selalu tak terlihat oleh Mommy, entah kemana barang-barang itu!"
"Mom! Come on... percayalah pada putramu ini."
"Hihi... Mommy hanya bercanda, honey. Oke, Mommy siapkan uangnya nanti. Emuachhh, kasih Mommy kiss sayang."
"Enggak!" tolak Justin.
"Honey..."
"Mom!"
"Ah... aku sangat menyedihkan, putraku tidak menyayangiku..."
"Emuacchhh, emuachhh...."
Tutttttt. Sambungan terputus.
"Hahaha... Putra gengsi-ku. Kenapa kamu sangat imut sayang." Esther tersenyum hangat, semua tentang putranya akan selalu membangkitkan semangatnya. "8 tahun... kakek Bernard, aku merindukanmu, kek." Tiba-tiba ia merindukan kakek yang selalu menyayanginya.
Paman Darish sering memberi kabar tentanng Kakek Bernard tapi ia selalu menolak mendengar kabar tentang pria yang sudah menyakitinya, Vard. Sejak ia pergi tak sedikit pun ia ingin mendengar kabar tentang pria itu.
***
Setelah terpuruk selama lebih dari 4 tahun, karena Perusahaan banyak mengalami kerugian akhirnya Vard mau tak mau kembali bekerja. Kini setelah 4 tahun memperbaiki kerugian Perusahaan, Vard bisa membawa kembali Perusahaan pada kejayaan nya.
"Presdir, pesawat Anda ke kota M akan berangkat pukul 2 siang." Ujar Assisten nya.
"Hm, oke. Ayo pergi sekarang."
Pria dengan wajah yang semakin dewasa tapi tetap terjaga aura ketampanan nya itu berjalan dengan langkah panjang keluar ruangan.
Soppie sudah datang dengan kopernya sedang menunggu di depan Perusahaan di dalam mobilnya. Wanita itu tersenyum saat melihat Vard keluar dari dalam Perusahaan, meskipun selama 8 tahun ini ia masih tetap belum dinikahi Vard tapi ia tetap bertahan karena pamornya di dunia model sudah tak bersinar lagi jadi sebisa mungkin ia terus menempel pada pria itu.
"Vard..." Soppie keluar dari dalam mobil seraya menarik kopernya.
"Kenapa kau disini?" tanya Vard dengan tatapan tak suka.
"Ayahmu yang menyuruhku, kau tau Papa-mu ingin aku mengurusmu. Kalau kamu gak suka, telepon saja Papamu agar aku tidak ikut."
Saat mendengar Soppie membawa-bawa nama Ayahnya, seketika wajah Vard tak berekspresi. Ia tak berkata apa-apa lagi lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Soppie ikut masuk setelah sopir memasukkan kopernya ke dalam bagasi. "Vard, perjalanan bisnis kali ini untuk berapa lama?"
Vard menipiskan bibirnya tak ingin menjawab, pria itu menolehkan kepalanya keluar jendela mobil memandang dengan tatapan kosong.
Soppie tak memperdulikan sikap Vard karena ia sudah terbiasa, ia terus saja mengoceh tentang semua hal sampai mereka masuk ke dalam pesawat dan lepas landas.