Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Sisi Lain
Nada menyetir mobilnya dengan perasaan tak tentu arah, wanita itu tadi baru disemprot habis-habisan oleh Pak Wira karena kelupaan membawa berkas yang sangat penting. Untunglah emosinya sedikit terkendali karena telah mengambil kembali laporan yang tertinggal, kadang Nada heran dengan sikap Pak Wira. Jika di kantor dia akan sangat kejam dan galak pada Nada, namun jika diluar kantor pria itu terlihat sangat baik padanya. Bahkan Nada masih sangat ingat kejadian malam itu, dimana Pak Wira mentraktir makan-makanan mahal untuknya dan menyuruhnya menambah jika merasa kurang. Apakah Pak Wira itu memiliki kepribadian ganda? Karena setiap situasi selalu berbeda sikap dan sifatnya. Nada menggelengkan kepalanya berusaha menghapus semua pikiran aneh yang bersarang dikepalanya, anggap saja Pak Wira bersikap professional saat bekerja. Lamunannya buyar ketika suara dering ponselnya berbunyi, langsung saja Nada mengangkatnya dari nomor tak dikenal.
Saat ini Nada tengah berada di perjalanan menuju restoran favoritnya sendirian, jam makan siangnya akan ia habiskan diluar kantor. Dia tadi sudah mengajak Fani, Erik dan Andini namun mereka tidak bisa karena ada pekerjaan lain yang harus mereka urus, jadilah Nada berangkat sendirian sambil mencari suasana yang nyaman untuknya setelah seharian dimarahi. Dengan masih mengendari mobilnya, Nada berbicara.
"Halo..." Nada menyapa suara disebrang sana.
"Halo, dengan Bu Nada betul?"
"Iya saya sendiri, ini siapa ya?" Tanya Nada dengan kening berkerut.
"Saya Gita Bu, guru BK dari sekolah SMA Jaya Karsa. Jadi begini Bu, keponakan Ibu terlibat dalam sebuah tawuran dengan SMA lainnya Bu. Saya harap Ibu bisa hadir sebagai walinya." Kening Nada semakin berkerut, perasaan dia tidak memiliki keponakan yang sudah SMA deh.
"Tunggu sebentar Bu, saya tidak memiliki keponakan yang bersekolah disana Bu."
"Loh, Danu sendiri yang bilang kalau walinya sekarang adalah Ibu." Nada hampir menjerit ketika mendengar ucapan Bu Gita, jadi Danu!! Tapi tunggu dulu, tadi Nada tidak salah dengarkan kalau Danu terlibat tawuran? Astaga!! Nada tidak dapat percaya ini, Danu kan anak polos dan manja mana mungkin mampu tawuran!! Ada-ada saja!!
"Iya Bu saya akan segera kesana." Ucap Nada kemudian menutup telfonnya setelah mendapat balasan sopan dari Bu Gita.
Nada mengendari mobilnya menuju SMA Jaya Karsa dengan perasaan yang berkecamuk, antara heran, tidak percaya, dan terkejut. Sebelumnya Nada tidak pernah tau dimana Danu bersekolah karena Nada juga tidak mau tau tentang suami berondongnya ini, namun Nada kini dibuat terkejut dari sisi lain yang dimiliki Danu. Wanita itu turun dari mobilnya setelah memakirkan mobilnya diarea parkir sekolah, ia berjalan dengan penuh percaya diri. Banyak yang kagum akan kedatangan Nada, para siswa seakan menatap Nada layaknya Nada itu artis yang mendadak mendatangi SMA mereka. Berkali-kali Nada mendapat sapaan dari beberapa siswa SMA, namun hanya Nada abaikan saja.
SMA Jaya Karsa tergolong SMA yang didalamnya banyak siswa-siswi yang berasal dari kalangan atas, Nada tau itu. Nada kini tiba didepan ruang BK, tak sulit mencari ruang BK yang letaknya hanya beberapa meter dari area parkir. Begitu memasuki ruangan BK, Nada sudah disuguhi dengan pemandangan wajah beberapa siswa laki-laki yang wajahnya babak belur, banyak luka dan warna kebiru-biruan dipipi dan dagu mereka. Pandangan Nada beralih pada Danu yang wajahnya tak ada bedanya dengan yang kalau Nada tidak salah kira mereka adalah teman-teman Danu yang terlibat dalam tawuran. Ada beberapa orangtua dari beberapa siswa itu yang kini telah hadir.
"Jadi begini Pak, Bu... Anak kalian terlibat dalam tawuran dengan sekolah lain, mereka melakukan tawuran itu pada saat jam pelajaran berlangsung yang artinya hukuman mereka bertambah karena membolos sekaligus tawuran. Ada salah satu anak dari sekolah itu yang menjadi korban dan terluka parah, dia kini tengah berada di rumah sakit. Untuk itulah dengan berat hati saya akan memberikan skorsing selama tiga hari serta pengurangan poin sebesar min tiga puluh, saya harap Bapak dan Ibu selaku wali dari siswa yang bermasalah ini dapat membimbing mereka dirumah dengan baik. Semoga mereka tidak mengulangi kesalahannya lagi, sekali lagi terimakasih dan mohon maaf." Jelas Bu Gita, Nada sebenarnya tak terlalu memperhatikan penjelasan Bu Gita. Wanita itu lebih sibuk memperhatikan wajah Danu yang dipenuhi luka lebam, raut wajah pria itu berbeda jauh dengan ketika mereka dirumah. Danu saat ini terlihat lebih dingin dan sedikit menyeramkan dengan mata tajamnya, apakah seperti inilah Danu saat disekolah? Berbeda 180 derajat dengan dirumah. Pikir Nada.
"Kalau begitu Bapak dan Ibu bisa membawa mereka pulang sekarang, terimakasih atas kedatangan Bapak dan Ibu kesini." Ucap Bu Gita mengakhiri sesi penjelasannya.
"Jadi itu istri lo Dan, cantik juga." Nada masih dapat mendengar dengan jelas bisikan dari temannya Danu itu pada suami berondongnya yang kini hanya menatapnya datar.
"Tapi sayang kelihatannya galak gitu ya?"
"Tapi cantik juga loh, gue juga mau sama yang lebih tua dari gue kalau dia secantik istri lo." Mata Nada semakin melotot mendengar itu, perlahan Nada berjalan kearah Danu.
"Ehem... Danu, ayo kita pulang." Tanpa menunggu balasan dari Danu, Nada terlebih dahulu keluar dari ruang BK.
"Gue gak nyangka ya kalau lo hobinya tawuran gitu." Ucap Nada ketika mereka telah memasuki mobil.
"Hallo Fan, bisa tolong izinin gue gak ke Pak Wira?" Nada langsung menghubungi nomor Fani.
"Emangnya lo sekarang dimana Nad?"
"Udah nanti aja gue cerita, pokonya izinin gue dulu."
"Ya udah iya gue izinin."
"Okey, thanks Fan, gue tutup ya?"
"Hmm..."
"Dan sekarang lo harus di skorsing, mana muka lo babak belur gitu lagi." Nada melirik sekilas Danu yang hanya diam, tumben biasanya juga ribet-ribet manja. Heran Nada.
"Emangnya apa sih alasan kalian tawuran?" Tanya Nada sedikit kepo.
"Biasa, urusan anak laki." Nada mencibir mendengarnya.
Setelah tiba dirumah, Nada langsung menarik Danu agar memasuki kamar mereka. Nada pergi sebentar untuk mengambil air dan handuk serta antiseptik, sejahat-jahatnya Nada dia tidak akan tega melihat Danu terluka. Kasihan juga wajah gantengnya itu jadi sedikit tercemar luka dan memar.
"Buka baju lo." Pinta Nada.
"Eh buat apa yang? Badan aku sakit-sakit gini, masa kamu mau ngajakin kita main?" Nada memutar bola matanya malas ketika mendengar ucapan mesum Danu, pikiran nih bocah emang selalu menjurus kesitu ya? Lagian siapa juga yang mau ngajakin dia begituan disaat sakit gini? Mending waktu sehat, tenaganya kuat untuk memuaskannya. Eh?
"Geer banget sih lo, gue nyuruh lo buka baju karena gue mau ngobatin luka lo." Danu akhirnya membuka seragam dan kaos yang menempel ditubuhnya.
"Luka lo cukup parah ya?" Nada bergidik ngeri ketika melihat luka-luka ditubuh Danu yang ternyata begitu banyak.
Nada baru tau sisi lain Danu, Danu yang polos dan manja padanya saat dirumah. Namun berbeda jika disekolah, pria itu akan menjadi sosok yang dingin juga suka adu jotos!! Astaga, Nada tidak dapat mempercayainya.