Menjadi istri mantan preman membuatku terpaksa digadaikan oleh suamiku sendiri. Tak tanggung-tanggung, aku digadaikan pada musuh suami. Tanpa aku tahu bahwa sebenarnya suamiku mendapat ancaman. Ditambah lagi aku mesti menghadapi ibu mertua yang julid di masa kehamilan ini.
Pria yang sudah bertaubat, dipaksa untuk kembali menjalani kehidupan di dunia gelap karena sebuah ancaman.
Di posisi sulit ini, aku bertanya-tanya, akankah aku mampu menyelamatkan diriku dari pegadaian yang terpaksa dilakukan oleh suamiku sendiri? ikuti kisah penuh intrik ini dengan baca sampai ending.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Iblis
“Akhmar!” panggil Aiza membuat pria itu terkejut dan menoleh.
Tangan Akhmar langsung memasukkan hape ke kantong celana.
Aiza dapat melihat dengan jelas raut gelisah di wajah itu meski lampu- lampu di sekitar sana tidak semuanya menyala.
“Kenapa kamu turun? Ini tengah malam,” ucap Akhmar datar.
Bukankah seharusnya Akhmar menanyakan kalimat itu dengan senyum? Tapi ini catar banget. Malah lebih mirip seperti orang kenapa palak.
Aiza mendekati Akhmar, menatap wajah bimbang yang tadi baru sjaa terlihat pula situ dengan intens.
“Tidur yuk!” ajak Aiza lembut.
“Enggak. Pergilah!” Akhmar berpaling sambil membuang napas kasar.
“Kenapa? Kamu baru tidur sebentar loh. Akhir- akhir ini jadi sering nggak tidur malam begini?” lembut Aiza lagi berusaha membujuk.
“Pergilah, Aiza! Kamu tidur aja sendiri!” Akhmar menepis tangan mungil Aiza yang menjulur ke arahnya.
Terkejut, Aiza merasa diperlakukan dnegan kasar. Tangannya baru saja ditampik dengan keras oleh Akhmar. Hati Aiza teriris merasakan itu, tapi ia tahu Akhmar sedang dalam masalah besar sehingga ia memilih untuk mengalah.
“Kamu nggak akan bisa menyeleaikan masalahmu dengan cara begini. Mendekat dengan Tuhan akan lebih baik. Dari pada berdiam di sini, mendingan shalat tahajud,” lembut Aiza lagi.
“Aku bilang kamu pergilah sana! jangan menggangguku! Pergi!” hardik Akhmar dengan emosi, pria itu menjauh dari Aiza.
Seketika itu, Aiza mematung. Lidahnya tak bisa berkata- kata lagi. baru kali ini ia dihardik oleh pria yang dia cintai. Rasanya nyeri di ulu hati. Terluka namun tak berdarah.
Kok sesakit ini rasanya? Padahal ia sudah terbiasa mendapat hardikan dari para senior di kampus, hardikan dari Ismail, dan hardikan dari siapa saja. Namun ketika ia mendapatkan hardikan dari orang yang dia cintai, rasanya menusuk sampai ke jantung. Sulit dilukiskan dengan kata- kata.
“Akhmar, kalau kamu punya masalah dengan kasus pembunuhan yang mungkin itu melibatkan nama aku, kenapa kamu nggak langsung libatkan aku aja? Kenapa aku hanya dapet batunya begini tanpa tau sebabnya? Kenapa aku hanya kebagian marah- marah darimu aja?” Air mata Aiza menetes tanpa sadar.
Kalimat yang dilontarkan Aiza membuat Akhmar terkejut. Muka pria itu tampak gugup. “A apa yang kamu katakan?”
“Jangan bilang kamu nggak ada masalah apa- apa selain masalah kerjaan. Aku tau masalahmu, Akhmar. Aku tau!” Aiza memperjelas perkataannya.
Akhmar membeku di tempat. Dia terlihat tidak bisa bicara. Tangannya lalu mengusap wajah dengan kasar.
“Za, kamu salah udah nikah sama aku. kamu salah udah nikah sama pembunuh kayak aku. bahkan kamu udah tau sejak dulu kalau aku ini mantan pembunuh. Lalu kenapa kamu masih mau sma aku?” Akhmar terlihat menyesali kenyataan, bahkan marah pada keadaan.
“Stop menyalahkan takdir. Itu sama aja kamu nyalahin takdir. Smeua yang udah kita lewati bersama ini udah menjadi ketatapan Tuhan,” balas Aiza.
“Omong kosong dengan takdir! Aku capek!” Akhmar menatap ke atas. Menendang kursi hingga kursi itu terpental dan ambruk ke lantai. “Tuhan itu seperti udah menetapkan aku sebagai ahli neraka. Jadi, bagaimana pun usaha ku untuk menjadi manusia baik yang mengutamakan taubat, tetap aja Tuhan belokkan jalanku ke jalan orang- orang yang Dia murkai. Lalu apa gunanya aku terus berjuang untuk taubat kalau Tuhan aja terus memberiku peluang jalan lebar menuju kepada neraka? Aku lelah.” Kulit wajah Akhmar tampak memerah, urat rahangnya pun menegang. Tatapannya naar keman- mana.
Tangan Akhmar mengepal. Memukul meja hingga menimbulkan suara gebrakan keras. Meja retak. Ia kembali meenndang kursi lain.
“Ayo, kalau mau melihat aku menjadi jahat, kalau lebih suka melihat aku menjadi bajing*n, maka aku akan lakukan! Aku akan menjadi manusia iblis.” Akhmar berteriak dengan napas memburu.
Ya Allah…
Aiza menutup telinganya dengan kedua telapak tangan saat mendengar kegaduhan itu. Hatinya kebas. Rasanya terluka. Bukan terluka atas hardikan Akhmar tadi, tapi luka yang tadi sudah digantikan dengan luka baru yang jauh lebih menyayat hati, yaitu melihat Akhmar yang putus asa atas usahanya untuk istiqomah dalam kebaikan.
Ya Allah… sedih sekali melihat suami memilih untuk mengatakan kalimat itu.
Melihat Akhmar tak juga menghentikan kemarahannya, yang terus memaki pada sitausi, Aiza beristighfar.
Bersambung