Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Permintaan Sang CEO
Panggilan dari Gio datang sebelum jam makan siang.
Keira sedang duduk di sudut kafe kecil dekat kantor D.N, mencoba menata ulang napas setelah pagi yang terlalu panjang. Sampel kain sudah ia ambil, tetapi pikirannya masih tertinggal di halaman TK Internasional. Pada mata Genki yang berkaca-kaca. Pada buntalan kecil yang tetap ia peluk meski seragamnya bersih dan mahal.
Nomor asing muncul di layar.
"Halo?"
"Selamat siang. Apakah benar ini Keira?"
Suara pria itu rapi dan profesional. Keira langsung mengenalinya. "Gio?"
"Benar. Maaf mengganggu. Pak Rayhan ingin bertemu dengan Anda hari ini, jika Anda berkenan."
Sendok kecil di tangan Keira berhenti mengaduk kopi. "Untuk apa?"
Gio diam sejenak, seperti memilih jawaban paling aman. "Beliau ingin menyampaikan permintaan secara langsung. Mengenai Genki."
Nama itu membuat Keira tidak bisa langsung menolak.
Ia menatap pantulan dirinya di permukaan kopi. Seharusnya ia menjaga jarak. Dua hari berturut-turut bertemu anak seorang konglomerat, lalu diminta datang ke rumahnya, jelas bukan urusan kecil. Hidup Keira selama ini sudah cukup rumit tanpa perlu masuk ke lingkaran keluarga Harto.
Tetapi ia teringat suara kecil Genki.
Kak Kei jangan lupa Genki.
"Di mana?" tanya Keira akhirnya.
"Vila Biru, Menteng. Kami bisa menjemput Anda."
"Tidak perlu. Kirim alamatnya. Saya akan datang setelah izin setengah hari dari kantor."
"Baik. Terima kasih, Keira."
Panggilan berakhir.
Keira menatap layar ponsel beberapa detik lebih lama. Di luar kafe, kendaraan bergerak padat, suara klakson pendek terdengar bersahutan. Jakarta tetap berjalan seperti biasa, sementara hidupnya terasa seperti baru saja dibelokkan ke jalan yang tidak ia kenal.
Sore itu, mobil yang dipesan Keira berhenti di depan gerbang Vila Biru.
Ia pernah melihat rumah besar dari luar. Menteng memang menyimpan banyak pagar tinggi dan halaman luas, tetapi Vila Biru tetap berbeda. Gerbang hitamnya menjulang, dijaga dua petugas keamanan dengan seragam rapi. Di baliknya, jalan masuk melengkung melewati taman yang dipotong sempurna, kolam dangkal, dan deretan kamboja putih.
Ketika namanya disebut, gerbang terbuka tanpa suara berat.
Keira turun dari mobil di depan teras utama. Udara di sana lebih sejuk, mungkin karena pohon besar dan air mancur kecil di sisi halaman. Seorang staf rumah menyambutnya dengan sopan.
"Selamat sore, Nona Keira. Pak Rayhan sudah menunggu."
Keira mengangguk. "Terima kasih."
Begitu masuk, ia mengerti kenapa orang menyebut dunia konglomerat seperti dunia lain. Bukan hanya karena marmer mengilap, lukisan besar, atau lampu gantung yang tampak lebih mahal daripada biaya hidup banyak orang selama setahun. Yang membuatnya sesak justru keteraturan yang terlalu sempurna. Tidak ada barang salah tempat. Tidak ada suara berlebihan. Bahkan langkah para staf terasa diatur agar tidak mengganggu.
Keira merapikan pegangan tote bag-nya.
Ia bukan orang yang mudah merasa kecil. Namun di tempat ini, perbedaan antara hidupnya dan hidup keluarga Harto berdiri terang-terangan, tanpa perlu disebutkan.
"Kak Kei!"
Suara itu memecahkan semua jarak.
Genki berlari dari arah ruang keluarga dengan kecepatan yang membuat dua pengasuh di belakangnya langsung panik. Buntalan kecil masih ada di tangannya, diseret sebentar di lantai sebelum ia mengangkatnya.
"Genki, pelan-pelan!" seru salah satu pengasuh.
Genki tidak peduli. Ia menabrak kaki Keira dan memeluknya sekuat tenaga.
Keira terhuyung setengah langkah, lalu tertawa pelan. "Genki."
"Kak Kei datang beneran."
"Iya. Kan kemarin aku janji kalau ada kesempatan kita bertemu lagi."
"Sekarang kesempatan."
Jawaban polos itu membuat Keira tidak bisa menahan senyum.
Dari ujung ruang, Rayhan berdiri.
Ia tidak memakai jas lengkap seperti di parkiran mall. Hanya kemeja gelap dengan lengan dilipat sampai siku. Tetapi entah kenapa, kesan dingin itu tetap ada. Bedanya, di rumah sendiri, ia tampak sedikit lebih manusiawi. Tidak selembut orang biasa, tetapi tidak setajam ruang parkir kemarin.
"Keira," sapanya.
"Pak Rayhan."
Genki langsung mengangkat kepala. "Bukan Pak. Papa."
Keira hampir tersedak oleh tawanya sendiri.
Rayhan menatap anaknya. "Genki."
"Kak Kei bilang Pak Rayhan. Genki bilang Papa."
"Karena Papa bukan papanya Kak Kei."
Genki berpikir sebentar, lalu memeluk Keira lebih erat. "Tapi Kak Kei punya Genki."
Keheningan singkat jatuh di antara mereka.
Rayhan memijit pangkal hidungnya pelan, seperti sedang menahan sesuatu yang bukan marah sepenuhnya. Gio yang berdiri tidak jauh dari sana menunduk, sangat jelas pura-pura tidak mendengar.
"Duduk dulu," kata Rayhan.
Mereka berpindah ke ruang duduk yang menghadap taman. Genki bersikeras duduk di samping Keira, bukan di sofa kecil miliknya. Pengasuh membawa jus apel dan kue kecil, tetapi Genki hanya mengambil satu, lalu meletakkannya di piring Keira.
"Kak Kei makan."
"Genki tidak makan?"
"Nanti. Kak Kei dulu."
Keira menyentuh piring itu, hatinya menghangat sekaligus sakit. "Terima kasih."
Rayhan memperhatikan tanpa banyak ekspresi. Namun matanya tidak melewatkan apa pun.
Setelah Genki sibuk menunjukkan gambar krayon yang ia buat di sekolah, Rayhan akhirnya membuka pembicaraan.
"Saya akan langsung saja."
Keira menoleh.
"Genki sulit menerima orang baru," kata Rayhan. "Sejak pulang ke keluarga Harto, dia tidak pernah sedekat ini dengan orang di luar rumah. Bahkan dengan beberapa anggota keluarga sendiri, dia butuh waktu lama."
Genki yang sedang memegang gambar langsung menyahut, "Genki pilih-pilih."
Rayhan menatapnya datar. "Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan."
"Tapi Kak Kei baik."
"Saya tahu."
Keira terdiam mendengar jawaban itu.
Rayhan kembali menatapnya. "Saya ingin meminta bantuan Anda. Mulai besok, bisakah Anda mengantar Genki ke TK dan menjemputnya pulang? Tidak seharian. Hanya pagi dan pulang sekolah. Jadwal, transportasi, dan kompensasi akan saya atur dengan jelas. Kalau Anda punya pekerjaan di D.N, kami akan menyesuaikan."
Keira tidak langsung menjawab.
Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi ia tahu tidak sesederhana itu. Mengantar anak Rayhan Harto berarti namanya akan mulai masuk ke rumah ini, ke jadwal keluarga ini, mungkin juga ke pertanyaan orang-orang yang tidak ia kenal.
"Kenapa saya?" tanyanya pelan. "Anda bisa mencari pengasuh terbaik. Guru privat. Psikolog anak. Siapa pun."
"Sudah."
Keira menatapnya.
"Sebagian bekerja dengan baik," lanjut Rayhan. "Tapi Genki tetap mencari Mama setiap kali hatinya terguncang. Dua hari ini, hanya Anda yang bisa membuatnya berhenti berlari."
Kalimat itu jatuh tanpa drama. Justru karena tanpa drama, bobotnya terasa lebih berat.
Genki menempelkan gambar krayon ke lengan Keira. Di kertas itu ada tiga bentuk orang. Satu tinggi memakai warna hitam. Satu kecil membawa kotak cokelat yang tampaknya buntalan. Satu lagi memakai gaun putih.
"Ini Papa. Ini Genki. Ini Kak Kei."
Keira menyentuh tepi kertas. "Bagus sekali."
"Besok Kak Kei jemput Genki?"
Pertanyaan itu terlalu jujur.
Keira menatap Rayhan. "Kalau saya setuju, ada batasannya."
"Sebutkan."
"Saya bukan pengganti siapa pun. Saya juga tidak mau Genki dibuat berpikir bahwa saya bisa menggantikan Mama yang dia cari."
Rayhan diam sebentar, lalu mengangguk. "Saya mengerti."
"Saya akan membantu sebagai orang dewasa yang dia percaya. Sementara. Sampai dia lebih stabil."
"Baik."
"Dan saya tetap punya pekerjaan."
"Jadwal Anda prioritas. Gio akan menyesuaikan, bukan sebaliknya."
Gio langsung mengangguk. "Baik."
Keira menarik napas pelan. Semuanya terlalu rapi. Terlalu mudah. Dan justru itu membuatnya takut. Tetapi Genki sedang menatapnya dengan mata yang sama seperti di halaman sekolah, mata yang berharap namun siap kecewa.
Keira tidak tega membuat mata itu padam.
"Baik," katanya akhirnya. "Saya coba."
Genki terdiam.
Lalu ia melompat dari sofa.
"Kak Kei jemput Genki!"
Ia berlari memutari meja ruang duduk, tertawa kecil, lalu kembali memeluk Keira. Pengasuh yang sejak tadi tegang akhirnya ikut tersenyum lega.
Rayhan bersandar sedikit di kursinya. Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya nyaris bergerak.
Nyaris.
Satu jam berikutnya berlalu lebih cepat daripada yang Keira kira. Genki menunjukkan kamar mainannya, rak buku, mobil-mobilan, bahkan tempat ia menyimpan buntalan kecil di samping tempat tidur. Ia bicara tanpa henti, kadang meloncat dari satu topik ke topik lain.
Keira mendengarkan.
Rayhan lebih banyak diam di ambang pintu, tetapi tatapannya mengikuti mereka. Bukan mengawasi seperti majikan kepada tamu. Lebih seperti seseorang yang sedang melihat hal mustahil terjadi di rumahnya sendiri.
Menjelang magrib, Keira berdiri. "Aku harus pulang."
Genki yang sedang menyusun balok langsung berhenti.
"Nggak."
"Genki, besok pagi aku datang lagi."
"Nggak mau besok. Sekarang."
Keira berjongkok. "Aku harus pulang dulu. Genki juga harus mandi dan makan malam."
Genki menggeleng keras. Matanya mulai merah. "Kak Kei jangan pergi."
Rayhan melangkah mendekat. "Genki."
"Papa diam!" seru Genki, lalu memeluk leher Keira. Tangisnya pecah tiba-tiba, kecil tapi pilu. "Kak Kei jangan tinggalin Genki."
Keira membeku.
Tangan kecil itu gemetar di belakang lehernya.
Rayhan berhenti di tempat.
Di wajahnya yang selalu tenang, untuk pertama kalinya Keira melihat sesuatu yang jelas. Bukan marah. Bukan malu.
Sakit.
Karena baru saat itu Rayhan benar-benar melihat betapa dalam anaknya takut ditinggalkan oleh seseorang yang baru dikenalnya dua hari.