Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Aku harus memastikan sesuatu. Semakin aku mencoba melupakan masalah ini keraguan dan kecemasan semakin melanda. Aku harus menemui wanita itu. Dia pernah memberiku kartu namanya aku akan datang kesana agar semua ini jelas.
Setelah mendengarkan penjelasan darinya aku mengerti apa yang selama ini terjadi padaku. Entah kenapa aku jadi bingung dengan perasaanku sendiri seharusnya saat ini aku merasa bahagia tapi aku merasa ini bukan berita yang baik.
Saat aku kembali ada mobil Revan terparkir tepat di depan rumah kami. Bukankah dia mengatakan sangat sibuk hari ini.
“Jhon? Dimana Revan?” tanyaku pada Jhon yang baru saja keluar dari ruang kerja Revan.
“Tuan masih di kantor. Saya hanya diminta untuk mengambil berkas ini.” Aku melihat map berwarna merah yang di pengganh Jhon. Pasti itu dokumen penting. Dasar Revan selalu saja ceroboh.
“Nyonya, saya pamit dulu.” Jhon pergi dan aku masih tetap berdiri di depan ruang kerja Revan.
Aku membalikkan badan dan menuju mobil Revan lalu duduk di kursi belakang. Jhon terkejut dengan ke datanganku.
“Apa? Ada yang aneh? Ayo jalan!” tanyaku dengan melipat kedua tanganku di atas dada bergaya ala nyonya konglomerat sedang memerintah bawahannya. Jhon pun hanya tersenyum melihat tingkahku dia pun melajukan mobilnya.
🌟🌟🌟
“Biar aku saja, kamu tunggu disini.” aku mengambil map di tangan Jhon dan menuju ruangan Revan.
"Nyonya, saya bisa melakukanya sendiri. Anda tidak perlu repot ke ruangan kerja tuan. Pastinya beliau juga sedang sibuk dan tidak bisa bertemu."
"Aku tidak keberatan melakukan ini. Kenapa kamu harus begitu khawatir."
"Baiklah, saya akan menunggu anda di sini."
Aku sengaja menemuinya di kantor untuk meminta maaf atas sikapku beberapa hari ini yang sedikit acuh padanya dan menyimpan kecurigaan.
Lagi pula aku akan memberi dia kabar yang mengembirakan dan tentunya aku akan menghapus semua kecurigaan yang tidak mendasar.
Saat aku sampai di depan ruangan Revan sekertarisnya menyambutku dengan senyuman.
Wanita ini bernama sofie. Berwajah cantik dan memiliki bentuk tubuh yang profesional. Pantas saja Revan betah berlama - lama di kantor.
Ya, ampun aku sangat lucu cemburu tanpa alasan lagi. Mungkin aku sudah tergila-gila padanya.
“Revan ada di dalam?” tanyaku kepada Sofie
Sofie menghampiriku, “Bapak, sedang ada tamu, Bu” jawabnya dengan sopan
“Ya, aku hanya mengantarkan berkas yang dia minta. Sepertinya ini sangat penting.”
“Baik, Bu. Silahkan masuk” Sofie membukakan pintu untukku.
Aku melangkah masuk dan sofie masih menahan pintu menunggu aku masuk sepenuhnya ke ruangan Revan.
Tetapi aku terkejut dengan apa yang aku lihat tepat didepan mataku. Begitu juga dengan Sofie yang tidak kalah terkejut.
“Maaf Bu, saya permisi dulu,” Sofie segera meninggalkan ruangan Revan dan menutup pintu.
Aku masih tak bisa berkata-kata bahkan untuk menahan tubuh ku agar tidak terjatuh sangat sulit.
Akal sehatku mencoba untuk berpikir dengan positif tetapi apa yang aku saksikan sungguh di luar kata wajar.
“Nara! Kamu sejak kapan disini?” tanya Revan dengan kebingungan
Tanpa aku sadari bulir bening menetes di kedua pipiku. Aku menghapus air mataku dengan punggung tanganku dan melangkahkan kaki menuju meja kerja Revan.
“Ini berkas yang kamu minta.”
“Nara dengarkan aku. Wanita jalang ini yang menggodaku."
Revan memelukku dengan erat “Aku mohon percaya padaku. Apa pun yang telah kau lihat aku sama sekali tidak menginginkan itu.”
“Beb, bukankah kamu mengatakan bahwa aku lebih hebat di ranjang di banding istrimu.”
Wanita itu duduk di atas meja kerja Revan. Tatapan kemenangan terpancar di matanya.
Seakan mengatakan bahwa dia telah memenangkan hati Revan dan aku hanya butiran sampah tidak berguna.
“Diam kau perempuan jalang. Katakan sekarang juga pada Nara bahwa kau yang memaksaku.” Revan mengatupkan rahangnya dan menatap tajam Natali.
Ya, perempuan itu Natali. Wanita yang aku temui saat di pesta rekan bisnis Revan, wanita yang pernah aku lihat bersama Revan di sebuah restoran. Inikah sebabnya Revan sangat marah saat aku berkenalan dengan Natali. Dia tidak ingin perselingkuhannya terbongkar.
"Alasan kamu tidak mengizinkan aku bicara banyak dengannya malam itu. Ternyata kamu takut perselingkuhan ini terbongkar?"
"Nara, aku mohon dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu lihat."
Aku meninggalkan ruangan Revan. Rasa amarah sampai tidak jisa aku ungkapkan. Ingin rasanya melenyapkan mereka berdua sekarang juga.
Revan menarikku ke dalam mobilnya dan kami pulang ke rumah bersama.
“Papa?!”
“Kalian dari mana saja? Papa sudah menunggu dari tadi.”
Saat aku dan Revan sampai di rumah papa sedang duduk di sofa ruang tamu. Tidak biasanya Papa datang tanpa memberitahu kami.
“Ya, aku tadi mengantar berkas Revan yang ketinggalan, Pa” jawabku dengan spontan.
Tentu saja aku menutupi semua kejadian di kantor tadi. Ini masalah antara aku dan Revan.
“Revan, jangan membuat Nara kelelahan itu tidak baik untuk perkembangan janin dalam rahimnya.” ucap Papa dengan wajah berbinar bahagia
“Janin? Maksud Papa...” Revan mencoba mencerna perkataan papanya dan memandangku dengan senyuman bahagianya.
“Benarkah yang di katakan Papa? Kamu hamil?” tanya Revan dengan mengatup wajah ku dengan kedua telapak tangannya.
“Ya” jawabku singkat
Revan mengecup keningku dengan lembut dan memelukku dengan erat “Terima kasih sayang. Aku sangat bahagia.”
“Oh maaf menantuku sudah menghancurkan rencana untuk memberi kejutan pada suami bodohmu ini. Papa kira dia sudah kamu beri tahu.” papa tertawa dan menepuk pundak Revan
“Papa tahu dari tante, Sheryl?” tanyaku
“Benar sekali. Saat Papa sedang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin tante Sheryl mengatakan bahwa kamu baru saja menemuinya dan mengatakan bahwa kamu sedang hamil 3 minggu.”
Aku menikmati saat bahagia ini. Seharusnya memang seperti ini yang aku inginkan tapi mengapa disaat kebahagian datang permasalahan yang lebih besar datang padaku.
Aku merebahkan tubuhku di ranjang dan mencoba untuk memejamkan mataku.
Terdengar pintu kamar terbuka kemudia tertutup lagi. Revan duduk di tepi ranjang dan membelai wajahku. Kubuka mataku dan menatap dalam ke manik matanya.
“Nara, aku mohon maafkan aku. Aku memang berbohong padamu tentang Natali tapi percayalah aku tidak memiliki hubungan apapun selain rekan bisnis. Dia masa laluku dan yang aku inginkan hanya kamu.”
“Lalu apa yang kalian lakukan tadi di kantor? Kau benar-benar menjijikkan! Tidak bisakah kalian mencari hotel saja!” aku tidak bisa lagi menahan amarahku.
Kejadian tadi siang sungguh mengganggu. Bagaimana tidak hati wanita mana yang tidak sakit melihat orang yang di cintai sedang memangku wanita lain dengan mesra.
“Kejadian yang sebenarnya tidak begitu. Natali tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh di pangkuanku. Kamu lihat sendiri tadi dia memakai heels yang sangat tinggi”
Aku berbaring miring membelakangi Revan “Kamu mengatakan padanya bahwa aku sangat buruk saat di ranjang”
“Oh ya ampun Nara jangan percaya kata-katanya, dia mengatakan itu agar kita bertengkar seperti ini,” Revan ikut merebahkan tubuhnya di samping ku dan memelukku.
“I love you so much. Jangan pernah kamu palingkan wajahmu dariku. Aku tidak sanggup jika kau seperti ini,” Revan mengecup pundakku dan membelai lembut rambutku.
Haruskah aku percaya padanya setelah sekian masalah yang menimpaku.
Ya, apapun yang terjadi aku harus bertahan karena kini aku hidup bukan untuk diri ku sendiri ada kehidupan lain di tubuhku yang akan aku jaga sampai kapan pun.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Jangan lupa 👍❤️ Vote & Comment
Follow IG Author: @hanania442
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...