Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Elang membelikan pesanan bunda Sinta di dalam mall itu, karena harus memilih dan menunjukkan kepada bundanya lewat telepon genggam, jadi membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Maaf, kalian nunggu lama!" ucap Elang, yang baru datang dia membawa sebuah kantong plastik ukuran sedang.
"Elang, kamu dari mana saja?" tanya Dira, melihat bawaan Elang.
"Beliin titipan bunda!" jawab Elang, menunjukkan barang yang di bawa.
"Ayo kita pulang! ibuku pasti sudah menunggu!" ajak Luna, dia sangat tidak tenang jika pergi terlalu lama.
"Kakak ganteng, beneran gak mau anterin Nisa?" tanya Nisa, dengan manjanya pada Elang.
"Nanti bisa di atur," jawab Elang.
Elang tidak tega dengan Nisa dan Luna, dia mengantarkan Luna lebih dahulu, kemudian Nisa. Dira dia bawa pulang ke rumahnya, padahal tadi melewati rumah Dira, dia sengaja membuat Dira kesal.
"Elang!" teriak Dira.
"Berisik! bisa diem gak Dira!" ucap Elang, sambil tersenyum.
"Kelewat tau! kamu sengaja ya!" kata Dira, membuka pintu mobil Elang lalu turun setelah sampai di rumah Elang.
"Ntar aku antar pulang! ayo masuk dulu!" ajak Elang, lalu menarik tangan Dira.
"Elang, lepasin! aku bisa jalan sendiri!" rengek Dira.
"Dira, tumben main ke rumah tante! ayo masuk sayang!" ajak bunda Sinta.
"Terpaksa tante! tadi Dira pulang bareng Elang gak di turunin di rumah!" ucap Dira dengan kesal, Dira mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu.
"Kok terpaksa sih, tante senang Dira mau main ke rumah," ucap bunda Sinta, lalu duduk di sebelah Dira.
"Bunda, ini pesanan bunda tadi!" ucap Elang, memberikan barang yang ada di dalam plastik tadi.
"Terimakasih anak bunda, uangnya minta ganti ayah kamu ya?" kata bunda Sinta, sembari tersenyum ke arah putra bungsunya.
Elang lebih sering di minta tolong oleh bundanya ketimbang Arkan, karena Elang terbilang lebih jeli untuk memilih sesuatu ketimbang Arkan.
"Bunda, kebiasaan sama ayah juga tidak di ganti," ucap Elang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak ikhlas itu, tante!" sahut Dira, melihat ke arah Elang.
Bunda Shinta tersenyum melihat Dira dan Elang saling meledek, lalu dia masuk ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Dira.
"Elang, aku pulang dulu ya!" pamit Dira.
"Bunda lagi buatin kamu minum," ucap Elang.
Tak lama kemudian bunda Sinta datang membawa minum dan camilan.
"Dira, ayo di minum dulu!" ucap bunda Sinta, memberikan minuman pada Dira.
"Jadi bikin repot kan!" ucap Dira, merasa tidak enak.
"Biasanya juga gimana!" sahut Elang, sambil melirik Dira.
"Gak usah dengerin kata Elang, ayo Dira kita minum!" ajak bunda Sinta, untuk meminum teh buatannya.
Suara ketukan pintu membuat mereka menghentikan percakapannya, Elang lalu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Arkan, dia baru pulang dari kantor.
"Kakak!" ucap Elang, saat membuka pintu.
"Bunda mana, El?" tanya Arkan, lalu masuk ke dalam rumah.
"Ada, lagi sama Dira!" ucap Elang, sembari menutup pintu kembali.
Arkan masuk ke ruang tengah, ternyata benar ada Mira sedang berbicara dengan bunda Sinta.
"Arkan, udah pulang? tumben cepetan?" tanya bunda Sinta.
"Iya, bunda! kerjaan hari ini tidak terlalu banyak!" jawab Arkan, ikut duduk di sebelah bunda Sinta.
"Kak Arkan, tadi tidak ke kampus ya?" tanya Dira, sambil melihat ke arah Arkan.
"Dia bolos, Dira!" sahut Elang, tidak tau jadwal Arkan mengajar.
"Tidak ada jadwal hari ini di kampus, Dira," ucap Arkan, tersenyum ke arah Dira.
"Dira, ayo aku antar pulang sekarang!" kata Elang, sewot dengan Arkan.
"Boleh, ayo Elang!" ajak Dira, lalu berdiri dari duduknya dan berpamitan pada Arkan dan bunda Sinta.
"Dira, besok main lagi ya?" ucap bunda Sinta, mengantarkan Dira sampai depan pintu.
Elang mengantarkan Dira dengan naik motor karena rumah mereka dekat, setelah sampai Dira mengajak Elang untuk masuk ke dalam rumah, tetapi Elang menolak karena akan berolahraga futsal.
####
Keesokan harinya Dira tidak ke kampus, dia berangkat kerja pagi hari.
"Mah, Dira pamit berangkat kerja dulu!" ucap Dira, sambil membereskan piring bekas sarapannya.
"Mamah antar ya? sekalian berangkat ke butik!" kata mamah Meri, menawarkan diri untuk mengantarkan putri sulungnya.
"Ayo, mah! kita berangkat!" ajak Dira, takut terlambat.
Di dalam perjalanan mamah Meri tanya pada Dira, soal pekerjaan.
"Dira, kamu tidak tertarik bantu mamah di butik?" tanya mamah Meri, dia ingin Dira meneruskan bisnisnya.
"Besok aja, mah! kalau Dira sudah menikah!" ucap Dira, membuat mamahnya kaget.
"Menikah? kamu sudah punya pacar?" tanya mamah Meri.
"Belum!" ucap Dira singkat.
Ketiga sahabat itu memang belum ada yang punya pacar, karena mereka masih seperti anak-anak tidak paham dalam hal percintaan. Yang Dira tau hanya kerja dan mandiri tidak mau merepotkan orang tua, Luna hanya memiliki seorang ibu jadi dia fokus kuliah dan bantu ibunya, sedangkan Nisa dia selain makan juga membantu orang tua.
Tak terasa sudah sampai di tempat kerja Dira, dia segera masuk ke dalam cafe sedangkan mamahnya melanjutkan perjalanannya menuju butik miliknya.
Ayah Dira sebenarnya sudah melarang mamah Meri untuk tidak berkerja, tetapi Dira belum mau meneruskan butik nya. Jadi sayang sudah banyak pelanggan juga, keluarga Dira semua senang berkerja keras. Dira yang dulu anak manja kemana-mana di antar sekarang bisa mandiri, walaupun mereka hidup berkecukupan tetapi gaya hidup mereka sangat sederhana.
####
"Sisil, sepi juga ya Dira dan teman-temannya tidak masuk!" ucap salah satu teman Sisil.
"Besok kalau masuk bagaimana kalau kita kerjain!" ide jahat teman Sisil.
"Aku udah capek berurusan dengan mereka!" ucap Sisil, entah karena selalu merasa kalah dengan Dira.
"Kenapa?" teman-teman Sisil bertanya.
"Gara-gara ide kalian, aku selalu kena masalah! sedangkan kalian malah pada kabur!" ucap Sisil, kesal dengan temannya.
"Kok kamu nyalahin kita? kalau berhasil kan kamu yang menikmati!" jawab teman Sisil.
Sisil berdebat dengan teman-temanya, dia merasa di rugikan dengan ide-ide dari temannya itu.
Dari jarak yang lumayan dekat Elang mendengar semua perkataan Sisil dan temanya, dia jadi tau kalau Dira sebenarnya tidak jatuh tetapi di keroyok Sisil dan temanya. Elang marah mendengar semua itu, lalu dia berjalan ke arah Sisil dan bertanya.
"Sisil, benar kamu yang mencelakai Dira?" tanya Elang, wajahnya menahan amarah.
"Maksud kamu apa Elang? tiba-tiba tanya begitu, gak jelas banget!" jawab Sisil, sebenarnya dia khawatir Elang tadi mendengarkan percakapannya.
"Jangan bohong!" bentak Elang, kesal dengan Sisil.
"Wah... beraninya sama perempuan!" ucap Leo, mahasiswa baru teman Sisil.
"Gak usah ikut campur!" bentak Elang pada Leo.
Elang dan Leo berdebat, Leo sebenarnya tidak tau apa-apa, dia tidak terima karena Sisil di bentak Elang. Mereka hampir berantem untung ada seseorang dosen yang melerai dan membubarkan mereka.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄