Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Nikahan Massal.
Afnan, Hasna dan Ubaydillah, Lintang sudah sampai di rumah mereka. Ternyata Aftha dan Kyra sedang di tatar oleh putra mereka.
"Assalamualaikum ....." sapa Afnan dan yang lainnya.
"Waalaikum salam. Kami serahkan pada Biyya dan O'om." Afkha dan Arsya meninggalkan sofa. Kini berganti Hasna dan Lintang yang duduk di hadapan Aftha serta Kyra.
"Jelaskan! tentang kekacauan di Hubbul Wathan sore ini. Siapa yang memulai?" tanya Afnan dengan segala wibawanya.
"Maaf Biy! Aaf yang mulai. Aku punya alasan!" balas Aftha.
"Beri tahu!" pinta Afnan dingin.
"Aaf ingin menikah dengan Kyra. Apa salah? aku sudah meminta Biyya dan Mimma melamarnya. Akan tetapi, Biyya dan Mimma menganggap itu lelucon." Terang Aftha.
"Itu rupanya. Maafkan Biyya dan Mimma, bukan begitu maksud Biyya dan Mimma. Kalian bisa nikah, tapi nanti setelah cukup usia." Afnan kembali memberikan pengertian.
"Apa bedanya sekarang dan nanti Biy, Mim?" tanya Aftha lagi.
"Bukan begitu, segala sesuatu tidak dapat dilakukan terburu-buru. Harus dipikirkan secara matang, terlebih ini tentang pernikahan, Sayang." Kali ini Hasna yang memberikan pengertian.
"Baik Mimma," ucap Aftha, "Ky, jadi betul kamu menolak-ku?" Aftha kali ini bertanya kepada Kyra.
"Aku tidak bisa menjawab! saat ini aku masih-lah dibawah tanggung jawab Ayahku!" kerlingan mata Kyra kepada Ubaydillah sang ayah, meminta ia yang menjawab pertanyaan Aftha.
"Dik Aaf. Ky menyerahkan segala jawaban kepada Om Dad's, maka izinkan O'om ikut campur dalam hal ini," izin Ubaydillah dengan hati-hati.
"Silakan Om Dad's. Mohon jawaban yang pasti dan tidak bertele-tele," pinta Aftha.
"Tentu. Maafkan Om Dad's dan Aunty Mom's sebelumnya, dengan tegas Om Dad's nyatakan. Bahwa Kyra masih kecil dan belum cukup usia untuk menikah. Maka Om Dad's dan Aunty Mom's, menentang pinangan untuk saat ini, jikapun kalian berjodoh, itu mungkin nanti ketika saatnya tiba dan pada waktu yang tepat serta dalam keadaan lebih siap." Ubaydillah berkata dengan tegas tanpa keraguan.
"Baik! terima kasih atas jawaban yang bijaksana Om Dad's. Untuk kamu Ky, jangan coba menampakkan lagi wajahmu di-hadapanku, jika memang aku belum diizinkan untuk menikahi kamu. Mulai saat ini, mari saling menjaga jarak. Aku akan tertutup dihadapan kamu dan hanya akan terang-terangan meminta kamu kepada Allah. Bukan kepada kamu dan juga orang tua kamu lagi. Assalamualaikum!" Aftha berdiri dan pergi begitu saja, setelah terdengar helaan napas berat. Serta mengecup kedua tangan orang tuanya.
"Aaf! mau kemana, sudah malam!" panggil Hasna. Namun, Aftha berlalu begitu saja.
"Biarkan saja Mimma. Ia butuh sendiri, biarkan dia memikirkan kesalahannya," Ujar Afnan.
"Baik By!"
"Aa Bro, Dek Nana. Maafkan Ana!"
"Dek, tidak apa. Hanya ego usia muda dan masih terlalu dini." sergah Afnan cepat, ia paham akan perasaan Ubaydillah.
"Dik Ky, jangan dipikirkan ya, sekarang lebih baik istirahat," pinta Hasna.
"Iya Mimma." jawab Kyra.
"Na, aku bawa Ky pulang dulu ya. Mari Bang!" pamit Lintang dan mengajak Arsya serta.
"Ia Lin, mangga. Ingat! kita ini sahabat, ipar dan calon besan," kelakar Hasna.
"Ia Na, paham." Lintang menyeringai dan mengangguk.
"Mom's, Bang, Dik Ky! Dad's disini dulu ya. Masih ada urusan dengan Biyya Nan!" ujar Ubaydillah.
"Baik, Dad's!"
"Oke, Dad's!
"Iya, Dad's!"
Balas Lintang, Arsya dan Kyra secara bersamaan namun, dengan jawaban agak berbeda. Kemudian mereka pulang ke rumahnya. Hasna dan Afkha berpamitan ke kamar. Ubaydillah dan Afnan terlibat sebuah rencana.
Di tempat berbeda,
Tiiiiid ... tiiiiid ...
Terdengar suara klakson yang begitu bergaduh. Di rumah Gentala dan Afsha.
"Appa, itu dilual belicik cekali?" tanya Gean.
"Paling juga Dayi Aaf. Coba Gean ingat-ingat, siapa yang setiap kali datang kemari dengan sesuka hati, jam berapapun tanpa batasan dan yang biasanya paling berisik bunyiin klakson berkali-kali, padahal ada penjaga di depan," ujar Gentala. Sedangkan Afsha berada di dapur sedang menyiapkan camilan.
"Yeaaayy, Dayi Aaf. Gean ada teman main." sorak kegirangan dari Gean, "Gean buka pintunya ya Appa." Pamit Gean dengan berlari, tanpa menunggu sang ayah mengiyakan.
Ceklek.
Pintu terbuka. Gean berdiri diambang pintu dengan sumringah, tatkala melihat Aftha sudah memarkirkan motornya di halaman.
"Dayiii ...." Gean berlari dan menyongsong kedatangan sang Paman.
"Hai, anak Shalih. Assalamualaikum," ucap Aftha dengan tersenyum lebar, sampai Gean berhenti melangkah sejenak dan mengerutkan keningnya.
Bukan ini yang ia ingin lihat, berasa ada yang berbeda. Ia lebih suka sang paman yang jutek. "Waalaikum salam." jawabnya dingin, lalu ia berbalik badan dan masuk kedalam begitu saja.
Aftha mengerut dahi, ada apa dengan keponakannya? mengapa sifatnya menjadi aneh. Keceriaan yang tadi ia bawa dari dalam lenyap seketika. Aftha mengedikkan bahu dan langsung masuk kedalam serta mengulang salamnya kembali.
"Ada apa Nak?" tanya Gentala, yang melihat sang putra, masuk kedalam rumah dengan cemberut dan tidak bersemangat.
"Dayi cudah tidak acik lagi, Appa."
"Tidak asik, bagaimana?" Gentala tidak mengerti.
"Bicalanya lulus, tidak beyok yagi. Cekalang bicala Dayi Aaf milip Olang dewaca, cepelti Baba." ujar Gean, sampai Gentala mengekeh karena merasa lucu.
"Ya bagus dong kalau bicaranya lurus. Tidak jutek dan ceplas ceplos lagi." Gentala meraih sang putra kedalam pangkuan.
"Gean, tidak cuka!" Gentala hingga geleng kepala dan terdengar-lah Aftha berucap salam berbarengan dengan Afsha yang membawa camilan serta minuman dari arah dapur.
Afsha dan Gentala menjawab salam bersamaan. "Loh Dik, sendiri?" tanya Afsha yang melihat sang adik hanya muncul seorang diri.
"Ia Kak! aku ...."
"Ada apa?" tanya Afsha kembali dengan menaruh camilan juga minuman di bantu sang Art diatas meja. Kemudian sang Art berpamitan kearah dapur kembali.
"Aku buat ulah lagi di pesantren!" jawab Aftha santai, tangannya mengambil kue sus coklat tanpa di persilakan.
"Lagi? Astagfirullah ...." tanya Afsha dengan nada terkejut.
Gentala tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. "Kekacauan apalagi Dik?" tanya Gentala.
"Ngelamar Kyra, tapi ditolak! eh Kyra malah nambahin Kacau. Sudah nolak, malah bawa rombongan janda muda sampai tua biar aku milih buat nikah sama mereka saja." Terang Aftha membuat Afsha dan Gentala tertawa.
"Aduh ya Allah Dik. Kamu berdua sebetulnya cocok. Ya mungkin belum saatnya bersama karena usia kalian 'kan belum memenuhi syarat untuk melangsungkan pernikahan," ujar Afsha.
"Ya mau nanti atau sekarang sama saja 'kan? justru karena aku tidak mau lebih sering ber-khalwat dengan Ky, makanya aku ajak nikah. kalau kami dekat-dekat, aman 'kan gak takut dosa." ujar Aftha lagi.
"Dik ... Dik! tidak seperti itu alurnya, setidaknya kalian harus tamat sekolah menengah atas dahulu, baru nikah." Gentala memberikan pengertian.
"Hem, lagi pula Ky juga tidak mau, ya sudah. Aku malas bertemu Ky, jadi aku mau disini dulu ya Kak, Ko?" tanya Aftha.
"Iya boleh." Jawab Afsha dan juga Gentala.
"Ge, ada Dayi koq diam saja?" tanya Afsha. Karena sang putra, dari tadi hanya diam dan cuek. Tatapannya hanya menonton televisi dan tak teralihkan.
"Dayi, gak acik lagi. Sudah cepelti Olang dewaca!" dengus Gean kearah Aftha, membuat ketiga orang di tempat itu tercengang yang akhirnya tertawa secara bersamaan saat Gentala menjelaskan tentang Gean yang tidak suka dengan perubahan perangai Aftha.
***
Keesokan harinya,
Di Pesantren Hubbul Wathan begitu ramai. Hari ini diadakan nikah massal. Afnan dan Ubaydillah berusaha memperbaiki kekacauan kemarin akibat ulah anak-anak mereka. Dipersilakan para janda-duda ataupun gadis-bujangan dari berbagai usia untuk mengikuti acara nikahan massal tersebut.
Pada akhirnya kekacauan teratasi. Ada sekitar tujuh puluh pasangan nikah massal. Yang sebelumnya tidak memiliki pasangan, diberikan kesempatan untuk saling ber-ta'aruf terlebih dahulu. Pada akhirnya semua memiliki pasangannya masing-masing. Acara berlangsung hingga malam hari. Semua pendanaan dari kantong pribadi Afnan dan juga Ubaydillah.
Keesokan harinya lagi,
Aftha si pembuat kekacauan telah kembali ke pesantren. Afnan dan Hasna tidak marah, ia tahu sang putra butuh waktu untuk merenungkan segala kesalahannya. Gentala telah memberitahukan bahwa Aftha ada di rumahnya. Afnan dan Hasna merasa lega.
"Maafkan Aaf Biy, Mim!" ujar Aftha sembari menangis memeluk kedua orangtuanya.
"Sudahlah Dik. Tidak mengapa! setiap manusia itu, tidak dapat mengintropeksi diri, bila belum melakukan kesalahan. Jadikan pelajaran berharga dari kejadian kemarin." Afnan mengelus punggung sang Putra.
"Kalau bisa, jangan dilakukan lagi. Pikirkan matang-matang sebelum nekad." Hasna pun sama mengelus lembut punggung sang putra.
"Terima kasih Biyya, Mimma. Aaf mau minta maaf ke Ky. Aaf tetap ingin nikah-nya sama Ky. Walaupun itu harus menunggu lama. Aaf bersedia menunggu kesediaan-nya untuk menikah dengan Aaf." Aftha menyudahi pelukannya dan menghapus air matanya.
"Iya boleh. Minta maaf terlebih dahulu kepada Aunty Mom's dan Om Dad's," ujar Afnan.
"Baik Biy!"
"Lakukan segera, Sayang! setelahnya kepada Aa dan juga Uma serta Aba. Lalu ke seluruh penduduk Hubbul Wathan. Mereka ikut merasakan dampak dari kekacauan yang Aaf lakukan." Hasna menimpali. Aftha mengiyakan, lalu ia berpamitan untuk ke rumah Ubaydillah dengan tujuan meminta maaf.
Ubaydillah dan Lintang menerimanya dengan tangan terbuka dan juga pelukan hangat serta beberapa wejangan kembali.
"Aaf mau minta maaf ke Ky. Boleh Aaf menemuinya?" tanya Aftha. Namun, Ubaydillah dan Lintang hanya diam dan saling pandang.
"Maaf Dik!"
"Tidak boleh ya?"
"Bukan begitu ...." ucap Ubaydillah.
"Lalu?"
"Ky, ikut Abang ke Jakarta. Katanya mau melanjutkan sekolah disana. Kami akan menyusul nanti malam, untuk mengurus berkas-berkas kepindahan Ky." Ubaydillah menjelaskan tentang kepergian sang putri ke Jakarta.
"Ky menghindari Aaf, Dad's?" tanya Aftha sembari berurai air mata.
"Tidak seperti itu, akan tetapi ...." ucap Lintang.
"Tak apa Aunty Mom's. Aaf pantas mendapatkan ini semua. Di jauhi dan di lupakan."
"Dik ...."
Dari Sejak saat itu Aftha terkesan dingin dan bicaranya lebih cepat-ceplos lagi. Hingga sampai saat ini Kyra kembali. Aftha merasa rindu bercampur kesal. Maka dari itu, Aftha memilih ingin menyakiti perasaan gadis itu, sebagai bentuk pemberontakan perasaan karena di tinggalkan tanpa pamit.
***
"Heest, em ...." suara Kyra yang sepertinya sudah sadar.
"Ky ... Ky! Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar," ujar Aftha dengan sumringah.
"Kak Aaf? Koq kita bisa berduaan disini?" tanya Kyra nampak terkejut.
"Kamu yang ngundang aku kemari, untuk berduaan denganmu!" ketus Aftha.
"Eh kapan?" tanya polos Kyra dan sedikit kemudian ia mengerang kesakitan ketika menggerakkan kakinya dan terasa sakit yang teramat.
"Ky! ada apa?" panik Aftha dengan tanpa sadar saking paniknya ia meraih tubuh Kyra kedalam pelukannya.
"Kaki-ku sakit Kak!" bisik Kyra.
"Astagfirullah ...." tiba-tiba saja dua santri putra yang menemani Aftha baru saja kembali setelah menghubungi team SAR.
"Aw! Allahuakbar. Kak Aaf, aku orang loh bukan karung beras. Koq di lempar?" pekik Kyra dengan nada protes, saat tubuhnya terhempas Keatas tanah dari pelukan hangat Aftha.
Aftha terkejut saat kedua santri putra ber-Istighfar dengan kencang, ketika dirinya tengah memeluk Kyra. "Maaf Ky!" ujarnya kikuk.
ah coba Afka dengar