Demi keluarganya dia rela menanggalkan gelar yang diraihnya hingga dia larut dalam statusnya sebagai ibu rumah tangga dengan segala kesibukan mengurus rumah dan dua anak balitanya.
Sampai pada akhirnya pengkhianatan suami dan hinaan yang tiada henti dari mertuanya menyadarkan dia untuk bangkit dan merubah dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thatya0316, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 prospek
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dua insan yang sedang kasmaran ingin menikmati perjalanan menuju ke kota Lembang. Tempat di mana orang tua Rama tinggal. Sementara dua orang yang duduk di belakang seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.
Amanda begitu canggung saat tadi dipaksa untuk ikut ke rumah Rama. Ingin sekali dia menolak, tapi sahabatnya sampai memohon padanya untuk menemani berkunjung ke rumah calon mertuanya. Meskipun Rama belum mengungkapkan kata-kata cinta pada Tania, tapi gelagat Rama begitu mudah ditebak kalau sebenarnya dia menyukai Tania.
Ya ampun kenapa bawa mobilnya lambat sekali. Kapan bisa sampai Lembang kalau bawa mobilnya seperti ini, keluh Amanda dalam hati.
Seperti mendengar isi hati Amanda, Gilang yang duduk di sebelah Amanda langsung menegur sahabatnya. "Rama, percepat mobilnya! Aku sudah lelah."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Gilang, dengan terpaksa Rama menaikkan kecepatannya. Gak pengertian banget nih punya bos, gerutu Rama dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, mobil sudah memasuki sebuah rumah bergaya klasik dengan pekarangan rumah yang cukup luas. Rama langsung menghentikan mobil tepat di depan teras rumahnya.
"Ayo, Tan! Jangan gugup, orang tuaku gak akan gigit," ucap Rama menenangkan Tania yang nampak tegang.
"Paling ceramah," timpal Gilang yang sedari tadi tidak bersuara saat berada di mobil.
Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya, Bu Rani langsung keluar untuk menyambut kedatangan putranya yang sudah lama tidak berkunjung ke rumah. Wajahnya terlihat berseri, dengan sedikit mengangkat daster yang dipakainya, ibu paruh baya itu langsung turun dari teras.
"Aduh kasep! Ke mana saja sudah lama tidak pulang ke rumah?" tanya Bu Rani saat Rama keluar dari mobil.
"Tuh Bu, tanya saja sama Gilang. Dia kasih aku pekerjaan terus-terusan." Rama mengadu pada ibunya yang sudah menganggap Gilang seperti putranya sendiri.
"Maaf Bu! Pekerjaan sedang banyak-banyaknya, jadi kita jarang pulang ke sini." Gilang langsung mencium punggung tangan Bu rani yang sudah seperti ibunya sendiri. "Abah ke mana, Bu?" tanyanya kemudian.
"Abah ada di belakang sedang menangkap ikan buat nanti kita makan malam," jawab Bu Rani. "Lah ini siapa cantik-cantik? Calon mantu ibu yang mana?"
"Tan, sini!" ajak Rama, Tania pun dengan malu-malu mendekat ke arah Rama dan langsung mencium punggung tangan Bu Rani yang diikuti oleh Amanda. "Ini calon mantu ibu, Tania dan yang satunya sahabat Tania, Amanda. Aku ingin bulan depan langsung nikah Bu." ucap Rama.
Plak!
Bu Rani langsung memukul tangan putranya. Dia merasa gemas pada anaknya yang selalu ingin buru-buru tanpa memberitahu orang tua dari jauh-jauh hari.
"Ibu sih setuju saja, apa orang tua Tania sudah setuju?" tanya Bu Rani yang langsung dijawab cengengesan oleh putranya. "Pasti kamu juga belum mengatakan cinta kan pada Tania?" tebak Bu Rani kemudian yang lagi-lagi dijawab cengengesan oleh Rama.
Bu Rani menghela napas sebelum di melanjutkan bicaranya. "Maaf Nak Tania! Putra ibu ini tidak tahu bagaimana caranya berpacaran karena setiap hari dia hanya memegang buku tebal. Ibu senang kalau Nak Tania bersedia jadi menantu ibu."
"Kalau itu, aku ...." Tania menggantungkan ucapannya saat Bu rani memotongnya.
"Tidak usah dijawab sekarang! Lebih baik istirahat dulu di dalam sambil menunggu makan malam siap." Bu Rani langsung menuntun Tania masuk ke dalam untuk mengenalkannya pada Abah. Sementara Amanda dan yang lainnya mengikuti dari belakang.
Betapa beruntungnya Tania! Seandainya dia jadi menikah dengan Rama. Sudah dari keluarga berada, ibunya Rama juga terlihat seperti orang yang baik.
Setelah cukup bercengkrama dengan keluarga Rama, Amanda dan yang lainnya pun memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok mereka harus kembali.
...***...
Sepulang dari kota kembang, hubungan Tania dan Rama semakin dekat. Bahkan mereka berdua sering mengunjungi ruko tempat konveksi Amanda berada yang lama kelamaan tenaga kerjanya keteteran karena pemesanan daster yang begitu banyak. Melihat semua itu, Rama pun berinisiatif menyuruh Tania dan Amanda mengajukan kerjasama pada perusahaan tempatnya bekerja.
"Manda, kata Aa kita disuruh bikin proposal untuk mengajukan kerjasama ke Green Textile. Nanti dia yang akan bantu kita bicara dengan Pak Bos. Kalau aku yang langsung bicara, takutnya dia tidak menanggapi," ucap Tania saat kedua sahabat itu sedang menghitung jumlah penjualan dan pembelian bahan baku untuk konveksi.
"Aku sih mau, Tan. Tapi aku ragu, Gilang mau apa tidak? Kamu tau sendiri, selama di Bandung kita bersama, dia sangat jarang sekali bicara. Hanya pada Kia dan Azka dia bisa bicara panjang," tutur Amanda.
"Kita coba saja, kalau misalkan kamu setuju, aku akan membuat proposal," ucap Tania.
"Aku setuju saja, kita bertaruh keberuntungan saja." Amanda tersenyum manis.
"Siap Bu Bos! Titah Bu bos, segera hamba laksanakan." Tania pun mengangkat tangannya dan menghormat Amanda seperti menghormat tiang bendera yang langsung dikomentari oleh Kia.
"Tante, memang sekarang hari senin ya? Tante kho hormat tidak ada benderanya," tanya Kia.
"Tante lagi hormat sama bundanya Kia," jawab Tania.
"Memang bunda bendera ya?" tanya Kia.
"Bukan sayang! Bunda itu bosnya Tante," jawab Tania.
Sementara di tempat lain, terlihat dua lelaki tampan sedang menikmati makan siangnya di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan tempatnya bekerja. Setelah menghabiskan makanannya, barulah Rama mengajak bicara sahabatnya.
"Lang, ada yang mau mengajukan proposal kerjasama pada perusahaan kita. Sebenarnya hanya usaha konveksi rumahan sih, tapi ku lihat prospeknya bagus. Meski untuk saat ini mereka masih fokus pada pembuatan daster kekinian. Aku yakin, jika menjadi perusaahan konveksi dengan skala besar akan memenuhi kebutuhan daster dalam negeri. Kita juga bisa berinovasi, selain membuat daster, kita bisa membuat baju yang lainnya." Rama begitu antusias menceritakan tentang usaha konveksi Amanda.
"Atur saja, Ram! Tapi satu hal yang harus kamu tahu, jangan pernah menjodohkan aku dengan perempuan manapun apalagi dengan sahabat pacarmu," ucap Gilang.
"Ya enggaklah! Tapi kalau kamu mau sama dia, aku sih gak keberatan."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lupa klik like comment vote rate gift dan masukin juga ke favorite....
...Terima kasih!...