Ini adalah kisah Kanina, gadis 20 tahun yang harus kehilangan masa depannya. Di tengah malam yang gerimis, seseorang menyeretnya dengan paksa. Memperlakukan gadis itu bagai binatang.
Alung, putra dari orang ternama di kota itu. Anak badung yang selalu membuat masalah. Kali ini, masalah yang ia buat bukan main-main.
Anggara Kusuma Dinata, pria 35 tahun yang sudah didesak sang ibu untuk segera mengakhiri masa lajang. Pria terpandang di kampung sebelah, dambaan para gadis desa dan mantu idaman.
Mana yang akan melangkah bersana Kanina?
Bagaimana kisah Kanina, setelah sebulan kemudian ia dinyatakan hamil?
Hai, selamat datang di novel terbaru Sept. Jangan lupa baca juga novel Sept yang lain.
1. Rahim Bayaran
2. Suamiku Pria Tulen
3. Istri Gelap Presdir
4. Dea I Love You
5. Wanita Pilihan CEO
6. Kesetiaan Cinta
7. Menikahi Majikan
Ig : Sept_September2020
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CARE
Mencari Daddy Bag. 17
Oleh Sept
Rate 18 +
"Itu mantunya kenapa, Bu?"
Bu Sadewo seolah tidak mendengar pertanyaan dari tetangganya itu, ia hanya mengikuti Gara yang membopong tubuh Kanina masuk mobil. Sopir pribadinya buru-buru membuka pintu untuk mereka.
"Maaf, Pak ... Buk ... kami permisi dulu."
"Nggeh ... nggeh, Bu!" (Iya ... iya, Bu!")
"Langsung ke klinik terdekat, Pak!" seru Gara pada sopir.
Bu Sadewo ikut panik, "Ini kenapa? Kenapa dia pingsan dan jatuh dari ranjang?"
"Gara tidak tahu, Ma. Ceritanya panjang. Nanti Gara jelasin."
***
Klinik Mitra
Karena jauh dari rumah sakit, maka Gara yang hafal daerah sana, meminta langsung ke klinik terdekat. Karena terlalu lama jika harus ke pusat kota untuk ke rumah sakit yang bagus.
UGD
Saat Kanina sudah ditangani, bu Sadewo langsung mengintogasi putranya. Ia menyentuh pundak Gara, meminta anaknya itu menceritakan lagi dengan jelas.
"Mengapa dia pingsan?"
"Sepertinya jiwanya masih terguncang, Ma. Beberapa hari lalu ia ditemukan tengelam, hanyut terbawa arus. Dan ...!"
Gara nampak ragu saat akan melanjutkan ucapannya.
"Dan apa?" mamanya makin penasaran.
"Tadi kami ketemu dengan pelakunya."
"Ayah bayi itu?" Bu Sadewo mencoba menjelaskan arti ucapan sang putra.
Gara mengangguk pelan.
"Sudah dibawa ke kantor polisi?"
Pria itu menggeleng.
"Kenapa tidak kamu seret ke kantor polisi, Gara?" seru mamanya dengan marah.
"Kanina takut, Ma! Gadis itu trauma. Wajahnya langsung pucat saat kami tidak sengaja bertemu."
Wanita itu langsung diam, tidak lagi bertanya. Kalau ia di posisi Kanina, sudah pasti ia sangat ketakutan. Tiba-tiba ia teringat dengan putri angkatnya yang sedang kuliah di Jogya. Bagaimana bila hal mengerikan itu menimpa keluarganya?
KLEK
Ruang UGD terbuka.
"Keluarga Mbak Kanina?" tanya perawat sambil membawa catatan.
Bu Sadewo beranjak dari duduknya, ia kemudian mendekati perawat.
"Iya, bagaimana keadaannya?"
"Ada berkas yang harus ditandatangani, Bu. Kami butuh persetujuan wali untuk tindakan medis selanjutnya."
Bu Sadewo berbalik, ia menoleh pada Gara. Keduanya hanya saling menatap, kemudian wanita itu kembali menghadap perawat di depannya.
"Saya walinya, selamatkan dia."
"Mari, Bu."
Mereka bertiga kemudian ke sebuah ruangan, saat semua sudah duduk, seorang dokter kemudian masuk.
"Dengan keluarga pasien atas nama Nyonya Kanina?"
Gara dan mamanya mengangguk.
"Begini, Buk .. Pak. Sepertinya ada permasalah dengan kandungan istri Bapak. Setelah kami periksa, sepertinya Nyonya Kanina harus segera dirujuk. Mengingat keterbatasan alat di klinik ini."
"Memangnya kenapa, Dok?" sela mamanya Gara yang penasaran.
"Ada masalah dengan janinnya, untuk menghindari dari resiko berbahaya, lebih baik dirujuk dulu."
"Baik, Dok!" Gara mengangguk, yang penting Kanina bisa tangani dengan tepat.
Malam itu juga, Kanina dibawa ke rumah sakit di pusat kota. Gara ikut naik ambulance. Sedangkan sang mama, Gara meminta mamanya itu pulang. Besok akan ia kabari.
Awalnya bu Sadewo menolak, tapi karena suaminya juga mencari sejak tadi. Menelpon berkali-kali, akhirnya Bu Sadewo pulang ke rumah. Sedangkan Gara, ia naik mobil ambulance menuju rumah sakit yang lebih besar.
Dari UGD satu pindah ke UGD yang lain, sampai di rumah sakit Gara tidak menepis saat dokter dan perawat menganggap dirinya adalah suami dari Kanina.
Mereka, para tim medis langsung memasang banyak alat pada tubuh Kanina. Gadis itu sepertinya bukan jiwanya saja yang sakit, mungkin fisiknya tak pernah sembuh sejak kejadian itu.
Pagi harinnya.
Sinar matahari yang masuk lewat jendela, langsung bebas masuk menerpa wajah Gara. Pria itu tertidur sambil duduk. Ia tidak tahu bahwa Kanina sudah sadar beberapa saat yang lalu.
KLEK
Sura pintu terbuka.
"Selamat pagi, Bu!" sapa perawat yang hendak memeriksa selang infus.
Kanina hanya tersenyum.
"Ada keluhan?"
Kanina menggeleng.
"Syukurlah kalau begitu ... semalam suami bu Kanina sampai tidak tidur karena khawatir dengan kondisi bu Kanina. Dia mondar mandir di depan UGD. Beruntung ya bu Kanina ... suaminya sayang sekali."
Glek Kanina menelan ludah. Suami yang mana? Menikah saja belom.
"Apa ini anak pertama?"
Kanina mendongak, dan sedikit terkejut.
"Pak Gara bertanya terus tentang janin bu Kanina, apakah bisa dipertahankan, padahal semalam tim dokter hampir menyerah. Mungkin berkat doa suami bu Kanina. Kalian berdua bisa melewati masa kritis. Kalau Bu Kanina tidak segera bangun, entah apa yang akan dilakukan suami bu Kanina."
Kanina hanya tertegun saat mendengar perawat itu yang terus saja berbicara sambil menganti kantong infusnya.
"Cepat sehat ya Bu Kanina, saya permisi dulu."
Kanina hanya mengangguk lagi.
KLEK
Suara pintu yang ditutup dari luar, membuat Gara jadi terbangun. Pria itu kemudian mengerjap, tanpa sengaja mata keduanya malah bertemu. Bersambung.