Hai kembali lagi di karya terbaru ku hehee..
Aku harap kalian dapat bijak dalam membaca..
Zaidara, atau kita akan sapa dengan panggilan Dara.. Dara adalah seoang gadis sederhana, ia adalah anak pertama dari dua bersaudara yang tidak mengenal kata manja.. Sejak kecil ia hidup dengan keadaaan yang sangat sederhana, dan penuh rasa prihatin ..
Tiga tahun Dara yang bekerja sebagai seorang Call Center, di sebuah perusahaan Market Place yang sedang naik daun.. Karena sebuah kesalahan ia di pecat.
Dara bekerja sebagai pengasuh anak seorang pengusaha kaya raya..
Anak pengusaha? namun tahukah kamu? Dara harus menelan kesedihan saat mengetahui siapa anak itu sebenarnya..
Bunga Terakhir
SELAMAT MEMBACA
❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mynamei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BT - 17
Bagas terlihat asyik bermain dengan Zaidar, sementara Dara tengah berada di dapur bersama Mbok Suti merapihkan dapur serta meja makan.
"Mbok... aku boleh tanya?" ucap Dara pelan sambil melirik ke arah sekitaran nya.
"Mbok sudah tau kamu mau tanya apa, nanti saja kita bicarakan" kata Mbok Suti seolah mampu menembus apa yang tengah di pikirkan Dara.
Dara mengerti, ia kembali membantu Mbok Suti merapihkan pekerjaan dapur.
"Dimana Bagas?" tanya Ibu Nia mengejutkan Dara juga Mbok Suti.
Dara dan Mbok Suti saling melempar pandangan.
"Hemm bermain di atas Bu bersama Den Zaidar" kata Dara berbicara sangat santun.
Ibu Nia pergi begitu saja menuju lantai dua apartemen milik Bagas itu.
"Beliau memang begitu .. tapi aslinya baik kok.. " kata Mbok Suti pada Dara.
"Mbok sudah lama bekerja disini?" tanya Dara.
"Sejak Pak Bagas berusia lima tahun , Mbok sejak dulu memang bertugas di dapur..." ucap Mbok Suti.
"Apa sikapnya ketus begitu terhadap Zaidar? tadi Zaidar seperti ketakutan" Ucap Dara mengingat dekapan Zaidar yang sangat kencang.
"Yaa memang begitu.. penyebabnya apa, mbok juga tidak tahu .. yang jelas Nyonya besar memang tidak menyukai Zaidar sejak ia lahir, makanya Den Bagas pindah kesini ..." kata Mbok Suti menjelaskan.
"Lalu siapa mama nya Zaidar, mbok?" Tanya Dara spontan.
Mbok Suti nampak terkejut mendengar pertanyaan Dara.
Sepertinya Dara tidak mengetahuinya.. batin mbok Suti.
"Yang jelas dia seorang perempuan, nanti kamu pasti tahu" kata Mbok Suti sambil melepas senyum tipis nya.
Dara tak ingin banyak mengorek informasi saat itu, baginya ia hanya cukup bekerja dengan baik dsn menghasilkan uang untuk kebutuhan kedua orang tuanya saja sudah lebih dari cukup.
Tak lama berselang, Bagas teriak memanggil nama Dara...
Langkah cepat Dara membawanya naik ke lantai dua.
"Ajak Zaidar bermain di kamarnya saya harus pergi, ada urusan" kata Bagas dengan ketus.
"Bagas!! kamu tidak menghargai mama kah?" kata Ibu Nia dengan kesalnya.
Dara yang tak ingin Zaidar tertekan membawanya bergegas ke kamar Zaidar meninggalkan Bagas juga Ibu Nia yang terlihat tengah bertengkar kecil.
"Bagas capek, capek di tekan terus sama mama.. bagas bisa mengatur kehidupan Bagas sendiri.. Bagas laki-laki yang punya pilihan..." kata Bagas sambil memakai jaket kulit nya.
"Mama tidak menekan.. mama hanya minta lepaskan Mawar...!!" Ucap tegas Ibu Nia dengan penuh amarah.
Tatapan Bagas sangat sinis.. dengan cepat Bagas meraih kunci motor nya lalu pergi meninggalkan ibunya seorang diri.
Teriakan Ibu Nia hanya mendapat tatapan sinis Bagas yang langsung pergi meninggalkan apartemen nya.
Bagas penuh dengan rasa kesal emosional bergegas mengendarai motor besarnya menuju rumah sakit.
*
Bagas menggunakan APD lengkap, Bagas masuk kedalam ruangan dimana seorang wanita berbaring lemah dengan banyak alat di sekujur tubuhnya.
"Siang,Bungaku...." ucap Bagas menegang tangan Wanita yang bernama Mawar.
"Kapan kamu mau bangun? Zaidar sudah besar, dia sering bertanya dimana mama nya, dia membutuhkan sosok ibu yang hilang selama ini" kata Bagas begitu menyentuh, bibirnya pun sampai gemetar.
"Bangun... aku berjanji akan menurunkan egoku.. asalkan kamu mau bangun." Bagas terlihat emosional dalam berbicara, hingga suster penjaga pun bergegas memangil dokter yang memang menjaga Mawar selama perawatan..
"Bagas... lo gila? hah??!" seseorang berseragam dokter lengkap datang masuk dan menarik tubuh Bagas.
"Cukup selama ini Lo menyita raganya disini, jangan Lo sakiti lagi" bentak seseorang yang nampak begitu mengenal Bagas.
"Gue hancur.. hancurrrr" teriak Bagas.
"Ikut gue, ikutt gue" ucap Haris, sambil menarik tangan Bagas.
Bagas dengan pasrah mengikuti langkah Haris. Satu tangan Haris memainkan ponselnya dengan lincah.
Tiba di sebuah ruang perawatan kosong.
"Tenangin diri Lo dulu....! minumlah..."Haris memberikan satu botol air mineral pada Bagas.
Bagas tak hanya meneguk air mineral itu, ia juga menyiram wajahnya sendiri dengan air mineral tersebut.
"Lo kenapa? kan gue sudah bilang soal Mawar, apa Lo ga paham? mau sampai kapan?" tanya Haris kesal.
"Semua ada prosedurnya, habis gue jika ada pasien koma berbulan-bulan disini..." kata Haris lagi.
"Gue salah.. gue yang salah" kata Bagas penuh beban.
"Sudahlah.. Lo pikirkan lagi apa yang terbaik untuk Mawar, kasihan dia.. Dia harusnya bisa tenang di alam nya sekarang.." kata Haris
"Gak.. gue yakin dia bisa sadar.. Dia bilang sama gue dia mau melihat anaknya, dia bilang sama gue dia mau memperbaiki semuanya, dia bilang dia mau jujur sama gue.. dan gue yakin semua akan dia tepati" kata Bagas begitu frustasi.
"Terserahlah.. yang jelas gue tidak akan membiarkan ini berlarut, gue beri Lo waktu satu bulan lagi , semoga Lo sudah memiliki keputusan" kata Haris kemudian ia beranjak dan pergi meninggalkan Bagas seorang diri.
Tiga puluh menit Bagas merenung diri sendiri di ruang yang cukup besar itu..
Tak lama, hadirlah Alex yang begitu iba melihat sosok Bagas di sudut ruangan menatap ke arah jendela kaca..
"Tuan..." sapa Alex, Namun Bagas hanya diam mematung.
"Tuan, baik nya kita pulang.. Zai kembali demam sejak satujam lalu.. Dara menghubungi saya" kata Alex membuat Bagas menoleh sinis.
"Bagaimana bisa? Dara bisa menghubungi saya, kenapa ke kamu?" kesal Bagas .
"Maaf Tuan, tapi saya pun tidak bisa menghubungi Tuan, Apalagi dengan Dara..?" tanya Alex membuat Bagas berfikir sejenak.
Hemm aku lupa, sebelum masuk ke ruangan mawar aku memang mematikan posnelku.. Ucap Bagas dalam hatinya mengingat kesalahannya.
"Kita pulang..." ucapnya pada Alex tanpa menoleh sedikitpun.
Dalam perjalanan.. Bagas masih saja teringat perkataan terakhir Mawar meski hanya lewat sebuah panggilan telfon..
"Aku janji, aku akan kembali.. dan aku akan memberi tahu siapa ayah dari Zaidar ... aku sangat menyayangimu, Mas.. tapi tumbuh cinta lain yang melebih rasa sayangku padamu.. "
*Kata-kata mu sungguh menyakitkan Mawar.. persis seperti duri dalam tangkai mawar yang terlihat indah namun sakit terasa bila terlalu dalam menusuk ...
Aku sudah sangat mencintaimu, menyayangi Zaidar ... Aku tidak bisa jauh dari nya*..
Bagas merenung dalam kursi penumpang mobilnya, sementara Alex fokus mengendarai mobilnya saat itu..
*
*
*
Haiii.. selamat hari Senin..
Bagi temen-temen yang memiliki vote gratis boleh yaa di berikan ke aku, jika ada gift kopi atau mawar juga boleh hehe..
I ❤️ u all...
kakak beradik itu mencintai wanita yg sama, yaitu mawar.
tapi sepertinya reag tidak tau kalau itu anaknya, bahkan Bagas juga tidak tau.
tq kak mei karya2 nya emg best
semoga sukses selalu kak mei,
dan pasti nya di tunggu karya2 berikut nya