Lika-liku perjalanan rumit antara Frisilia Calista dan Jeni Anggoro yang memiliki ikatan persahabatan sedari kecil yang melahirkan kisah cinta diantara mereka. Banyak konflik dan tragedi yang harus mereka hadapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elena Wanita Rubah
Derap langkahku senada dengan langkah seseorang yang berada di disampingku. Jeni tidak membiarkan diriku melangkah dibelakangnya, dia menyuruhku berjalan berdampingan dengannya. Itu membuat semua mata yang memandang kami, terutama karyawan-karyawati dikantor.Tertuju dengan beragam pemikiran masing-masing. Kini di restoran yang kami datangi pun, tatapan itu tetap tertuju pada kami. Mungkin karena ketampanan dan pesona yang dimiliki Jeni, membuat mata mereka tak rela untuk tidak melihatnya.
Kami menghampiri seorang wanita yang jelas aku kenali, dia tersenyum. Walaupun ku tahu dibalik senyuman, ada rasa kesal. Tatapan matanya, seolah ingin memakanku bulat-bulat.
"Sayang kau mengajaknya." Sambutnya.
Kami pun masih berdiri menghadapnya.
"Aku sengaja mengajaknya."
"Aah, begitu. Aku baru melihatmu akrab dengan seorang wanita selain diriku."
"Aku sengaja mengajaknya sebagai ucapan terimakasih, dia telah membantu urusan utusanku tadi pagi. Sepertinya, kaupun harus lebih berterimakasih padanya. Mengingat kau orang yang paling terbantu."
Elenapun terdiam sesaat dibuatnya.
"Kau mengetahuinya sayang? aku berharap dia tidak menceritakannya dengan berlebihan." Balasnya dan memandang diriku sinis.
"Aku tahu semuanya dari utusan yang ku kirim. Frisilia tidak berniat sedikitpun bercerita padaku."
Untuk kedua kalinya, Elena dibuat terdiam. Mungkin ia merasa tertampar oleh ucapan Jeni. Akupun, pasti akan merasa malu. Tapi melihat sifat yang dimiliki Elena, kurasa dia akan memiliki muka tebal. Sifat egois, angkuh dan manjanya, pasti membuatnya merasa gengsi untuk menerima kekalahan. Dia seperti itu, mungkin karena terbiasa dimanjakan oleh orang tuanya yang kaya raya.
Oh, kasian sekali kau Jeni .
Dia wanita yang kau pilih.
Dan itu tidak mudah bagimu untuk membuatnya melepaskan semua sifat buruknya itu.
Jenipun menarik sebuah kursi dan mempersilahkan diriku untuk duduk dikursi itu. Sekali lagi dengan sedikit menyipitkan mata tak suka, Elena memandangku. Diapun memberi senyuman yang seakan terpaksa sebagai tanda mengiyakan diriku untuk duduk menghadapnya.
Jenipun, duduk disamping Elena dan membuat dia tersenyum senang. Kulihat pandangannya seolah berbicara padaku.
Dia kekasihku, kau jangan terlalu bahagia diperlakukan sangat baik olehnya.
"Apa yang akan kau pesan sayang ?"
"Tadi aku sudah makan saat meeting dengan Pak Aryo. Aku datang kesini untuk memenuhi permintaanmu."
"Aah dan kau ? maaf siapa namamu aku lupa."
"Cukup kau Panggil Frisilia, Elena." Sebelum ku menjawabnya, Jeni sudah menjawab terlebih dulu.
"Pesanlah apa yang kau suka ! hari ini aku mentraktirmu."
Akupun meraih daftar menu yang tergeletak didepanku. Kemudian melihat dengan seksama restoran mewah ini, kulihat orang-orang yang sedang makan disini dari penampilannya saja sudah tampak jelas mereka bukan orang biasa. Kembali ku lirik daftar menu, namun tak satupun menu yang aku suka.
*P*adahal restoran mahal tapi tak ada satupun menu makanan yang aku suka.
Aku cemberut sambil melihat buku menu. Tanpa kusadari, Jeni tersenyum memperhatikanku.
"Maaf pak saya terlambat. Ini pesanan yang bapak minta." tiba-tiba seorang lelaki yang tak aku kenal datang dan membawa sekotak makanan dan jus stowberi. Kemudian dia meletakkannya tepat di hadapanku.
"Ya, terimakasih." Ucapnya.
lelaki itupun berpamitan dan pergi.
"Apa ini buatku, Jeni. Ups..?" saking senangnya aku memanggilnya dengan menyebut namanya.
"Makanlah ! aku tahu menu disini tak akan ada yang kau suka."
"Terimakasih, Pak."
"Diluar kantor kau boleh memanggil namaku." Pintanya sambil tersenyum.
"Baiklah..."
Tapi aku tidak langsung memakannya, walau cacing dalam perutku semakin menusuk meminta jatah makan siangnya. Melihat Elena belum memesan makanan.
"Makanlah, duluan ! Jangan sungkan." Elenapun dengan tatapan tajam mempersilahkanku.
aku sangat lapar, namun yang kulihat Dimata eanita itu. Dia jauh lebih lapar seakan ingin menelanku.
"Baiklah."
Dan akupun membuka kotak itu, ternyata cake stowberi dengan porsi yang pas. Jeni masih tahu apa yang aku sukai. Dan akupun dengan lahan memakannya. Tak ku hiraukan lagi mereka berdua, terdorong oleh rasa lapar yang sudah menyiksaku dari tadi.
"Kau begitu tahu apa yang dia suka sayang. Sejak kapan kalian saling mengenal ?" tanyanya, disela acara makanku yang begitu bersemangat.
"Sejak usia kami 9 tahun dan tidak bertemu 10 tahun yang lalu." Terangnya, sambil melihatku yang sibuk dengan makan siangku.
"Jadi hari ini adalah pertemuan pertama kalian ?"
Dan dibalas dengan anggukan.
"Frisilia, selama 5 tahun bekerja di kantor cabang menjadi sekertaris Ardi." Terangnya kemudian.
"Jadi kau sengaja memindahkannya menjadi sekertarismu. Agar bisa sekantor denganmu bahkan dalam satu ruangan." Tebak Elena, sedikit memperlihatkan kecemburuannya.
"Kau benar, aku membutuhkannya karena kulihat Farhan selalu kewalahan. Frisilia kupilih bukan karena aku telah mengenalnya, dia juga memiliki kinerja yang sangat baik dan bisa dibilang sekertaris yang handal. Setelah ku melihat dari hasil kerjanya bersama Ardi. Aku tidak memiliki tujuan lain, selain alasan itu." Terangnya, seakan meredamkan rasa cemburu gadis yang duduk disampingnya.
"Kau terlalu berlebihan." Selaku
Akupun melanjutkan makananku. Walaupun dari tadi aku mendengar pembicaraan mereka. Namun aku merasa menjadi makhluk yang tak terlihat diantara mereka. Sedikit menyebalkan, namun tak mengapa yang terpenting perutku kenyang.
"Aku bahagia saat bertemu dengannya, akhirnya dia memiliki kekasih. Dulu dia sangat dingin dan menyebalkan. Kau harus tau, tidak ada satupun wanita yang mau dengannya. Aku sangka dia tidak menyukai wanita, tapi syukurlah. Kini sahabatku yang bagai es ini sudah memiliki kekasih." Akupun berkomentar sambil tersenyum senang. Namun kulihat wajah kusam Jeni.
"Owh, begitukah ? aku merasa beruntung sebagai wanita satu-satunya yang bisa menjadi kekasihnya." Balas Elena dan tersenyum manja pada Jeni, dibalas dengan senyuman yang terpaksa.
"Benar sekali, kau sangat beruntung Elena." Akupun mengiyakan dibarengi senyuman, dilanjut memasukkan suapan terakhirku.
"Tapi, Frisilia. Apakah kau sudah memiliki kekasih? melihat wajahmu yang cantik pasti banyak yang menaruh hati padamu."
"Aah, untuk memikirkannya saja aku tidak sempat Elena. Aku lebih fokus pada pekerjaanku saja." Jawabku sambil melirik wajah Jeni yang tersenyum kecil.
"Aku baru mengingatnya saat bertemu Ardi. Dia pernah bercerita tentangmu, Ardi sepupuku."
"oh begitu ? semoga dia tidak menceritakan kekecewaannya atas pekerjaanku yang kurang baik baginya."
"Kau jangan takut ! Ardi tidak pernah menceritakan hal buruk tentangmu, malah sebaliknya. Melihat dari bahasa dan ekspresi wajahnya saat bercerita tentangmu, sepertinya dia menyukaimu." Terangnya.
"Kau mungkin salah menilai Elena."
"Tapi aku rasa dia memang menyukaimu."
Akupun tertawa kecil menanggapinya, namun saat ku lihat kembali wajah Jeni, dia terlihat tidak senang.
"Maaf saya permisi dulu."
Dan Elenapun mengangguk. Dengan cepat ku langkahkan kakiku ke dalam toilet, langsung ku basuh mukaku. Makan siang ini sungguh tidak terasa enak diperutku.
"Bila ku bisa memilih, lebih baik ku kembali bekerja di kantor cabang." Ocehku, sambil bercermin.
Kulanjutkan mengelap mukaku dan merias ulang wajahku kembali.
"Menarik juga Frisilia." Tiba-tiba terlontar ocehan sinis dari bibir Elena.
"Maksudmu ?" Akupun menolehnya yang tepat berdiri disampingku sambil berkaca.
"Aku harap kau bisa menempatkan dirimu dengan baik disini dan tidak diluar batas. Hanya karena kau berteman baik dengannya." Diapun membalikkan badannya menghadapku dan akupun melakukan hal yang sama. Kami saling berhadapan.
"Elena.."
"Panggil aku nona Elena !" Bentaknya.
"Nona Elena. Aku berharap kau bisa merubah sikapmu itu. Karena aku jauh lebih tenang, Jeni berdampingan dengan seorang wanita yang memiliki kepribadian yang baik."
Elenapun menyunggingkan senyuman sinis.
"Kau tidak berhak untuk berbicara itu. Rasanya tidak pantas keluar dari mulutmu, mengingat kau bawahan dari kekasihku."
"Aku malas meladeni wanita angkuh sepertimu." Akupun melangkah untuk meninggalkannya, namun dengan kuat Elena menggenggam lengan kananku.
"Lepaskan ! kau menyakitiku Elena. Kau harusnya malu berlaku sepeti ini, hanya anak-anak yang melakukan perbuatan seperti ini." Akupun mengibas lenganku agar tangannya terlepas. Namun genggamannya semakin kuat.
Wah benar-benar wanita ini sangat menyebalkan.
"Untuk kedepannya, bila bertemu denganku jaga bicaramu ! dan satu hal lagi, kau harus memanggil Jeni sesuai jabatan yang kau miliki. Terdengar tidak sopan, sebagai bawahan kau menyebut namanya." Elenapun mengibas lengan yang ia genggam kuat dengan kasar dan membuatku tergoyang tak seimbang.
Diapun pergi berlalu dengan bibir dan tatapan sinisnya.
"Ya Tuhan, wanita itu benar-benar seperti rubah." Akupun meraba-raba lenganku yang memerah akibat genggamannya yang kuat.
*Le*bih baik aku ke kantor saja sendirian dan membiarkan mereka untuk berdua.
Aku sangat muak untuk bertemu wanita itu lagi.
Akupun melangkah dengan terburu meninggalkan restoran mewah itu. Untuk kembali ke kantor tanpa berpamitan. Keberuntungan menghampiriku, ada taksi terparkir didepan restoran. Akupun naik dan terduduk sambil mengusap lenganku yang agak sakit dan masih memerah.
"Frisilia..." terdengar samar-samar ada yang memanggilku, namun aku sudah tak peduli. Yang ku inginkan sekarang meninggalkan tempat ini.
"Nona, apa anda mengenal lelaki itu ?sepertinya dia memanggil nona." Tanya supir taksi, sambil menunjuk lelaki yang berada di spion kanan mobilnya.
"Biarkan saja pak, teruskanlah !" akupun melihatnya berdiri memandang taksi yang kunaiki.
Alasan apa yang akan Frisila katakan pada Jeni ? Kenapa dia pergi begitu saja.
Apakah Jeni akan tahu, perbuatan Elena ?
Simak terus ya😊
Habis baca😎 jangan lupa like and votenya😊
Akhirnya bertemu kembali Semangat frisilia..
lanjuttttttt thor
lanjutt thor
lanjut thor
ikutan nangis
lanjuttttt
tapi ceritanya bagus banget