Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba Perhatian
"T-TIDAK... AKU NGGAK MAU!" Vivian menggeleng sambil menangis.
TOK
Tapi pulpen itu dipaksa masuk ke sela jari Vivian. Dingin. Berat.
"Lihat ke bawah. Di halaman terakhir. Kau harus tanda tangan di situ," bisik Chloe.
"AKU NGGAK MAU! INI SEMUA MILIKKU!"
"Tanda tangan, atau aku paksa," Chloe kembali berbisik.
Tangan Vivian bergetar hebat. Ujung pulpen itu menari-nari di atas kertas.
TREK....
TREK....
Akhirnya jatuh.
Vivian Weiss
Tanda tangannya berantakan. Basah oleh air mata, tapi tetap tanda tangan.
Chloe mengambil map itu. Membuka dan mengeceknya.
Satu detik... Dua detik...
"Bagus," hanya satu kata, tapi terdengar sangat dingin.
"Elsa, minta kepada penjaga untuk mengganti gaunnya," Chloe melangkah keluar dari penjara bawah tanah itu.
"Baik, Ratu," ucap Elsa patuh.
Tapi pada saat di ambang pintu ia menghentikan langkahnya.
"Selamat menikmati karma yang kau dan ibumu tanam sendiri, Vivian."
KREK
Pintu besi tertutup.
Tinggal Vivian sendirian. Duduk di kursi, borgol masih melekat di kedua tangannya.
Gaun pengantin putihnya kusut, kotor, dan basah air mata. Mahkota kecil yang ada di atas kepalanya jatuh ke lantai.
TING
"Aku... bukan siapa-siapa lagi... Mama, Papa, Kak Levin tolong aku," gumam Vivian. Isaknya pecah.
Di lorong markas,
"Kak... berkasnya sudah diamankan."
"Bagus. Sekarang kita ke kantor notaris. Untuk meresmikan mansion dan saham 51% Weiss Group atas namaku," ucap Chloe.
"Baik, Kakak," balas Elsa.
Dalam hati Chloe berkata, "Babak pertama selesai. Sekarang tinggal aku menunggu dua hari. Apa yang akan dilakukan Alexander, Serena, dan Levin? Apakah mereka akan menuruti apa yang aku katakan, atau justru ingin melawanku."
----
Jam sembilan malam.
Chloe kembali ke mansion keluarga Reinhard yang tentunya diantar oleh Elsa. Wanita itu hanya turun di depan pagar yang menjulang tinggi. Ia tidak ingin Elsa masuk ke halaman luas mansion besar itu. Karena jika Elsa masuk dan dikenali oleh Tuan Nicholas dan Erivo, maka identitas asli Chloe akan dipertanyakan oleh mereka.
Setelah Chloe keluar dari mobil, Elsa kembali melajukan mobilnya pergi sebelum ada yang melihatnya.
VROOM
Lampu mobil menghilang di ujung jalan.
Chloe menekan bel yang ada di depan pagar. Tak lama, satu orang satpam datang dan segera membuka pintu pagar.
"Silakan masuk, Nyonya Muda," ucap satpam itu hormat.
Chloe tersenyum lalu mengangguk singkat.
"Apa Erivo sudah pulang?" tanya Chloe.
"Belum, Nyonya," jawab satpam itu.
Chloe menghela napasnya pelan, lalu ia melangkah masuk ke halaman luas mansion besar itu. Dress-nya sedikit bergerak karena tertiup angin malam.
Mansion itu terlihat sunyi. Hanya ada beberapa penjaga yang berdiri di berbagai sisi.
Setelah sampai di depan pintu besar, Chloe langsung masuk. Bersamaan dengan Eleanor yang terlihat menuruni tangga.
DUG
Langkah Eleanor berhenti di anak tangga ketiga. Matanya menyipit menatap Chloe dari atas ke bawah.
"Dari mana saja kau?" tanyanya.
Chloe menghampiri wanita paruh baya itu dan berdiri di depan tangga.
"Aku ada urusan di luar, Nyonya. Jadi aku pulang malam," jawab Chloe dengan lembut dan sopan.
Eleanor menghampirinya.
"Apa kau sudah makan?" tanyanya lagi.
Chloe sedikit mengerutkan keningnya, menatap wanita paruh baya yang baru satu hari ini menjadi ibu mertuanya.
"Belum, Nyonya," jawab Chloe, karena memang ia tadi belum sempat makan malam.
"Hmm... Kau ikut aku ke ruang makan. Kau harus makan, supaya tubuh kurusmu itu cepat berisi," tanpa menunggu jawaban, Eleanor melangkah lebih dulu dan masuk ke ruang makan.
Chloe menatap punggungnya dengan wajah yang masih bingung. Lalu ia mengikuti Eleanor masuk ke ruang makan. Dalam hati ia berkata, "Tumben sekali dia perhatian ke aku."
Di ruang makan, lampu kuning menyala dengan terang. Hangat.
Eleanor menuang sup sendiri. Meletakkannya di atas meja makan.
"Duduk," ucapnya.
Chloe duduk dengan sopan, punggungnya tegak.
"Makanlah. Erivo sudah tiga kali meneleponku hari ini. Mempertanyakanmu. Kau sudah membuat putraku khawatir," Eleanor berbicara sambil duduk di kursi dan berhadapan dengan Chloe.
Wanita paruh baya itu meraih jeruk dan mengupasnya.
Chloe sedikit menunduk, mengaduk supnya.
"Maaf..."
"Hmm... Makanlah," ucap Eleanor.
"Terima kasih, Nyonya," sendok Chloe menyentuh sup. Hangat.
Eleanor meletakkan kulit jeruk di atas piring dengan rapi.
"Kau kurus sekali. Apa selama lima tahun ini ayah dan ibu tirimu menyiksamu dengan begitu keras?"
DUG
Sendok di tangan Chloe berhenti.
Sup yang hangat tiba-tiba terasa dingin di tenggorokan.
"Nyonya..." ucap Chloe kepada wanita paruh baya itu.
"Katakan saja. Jangan sungkan. Aku bukan orang luar lagi untukmu. Kau sudah menjadi putriku," ucap Eleanor.
Chloe semakin bingung dengan tingkah wanita paruh baya itu yang tiba-tiba berubah menjadi baik dan lembut seperti ini.
"Apa Nyonya sudah mengetahui semuanya?" tanya Chloe. Ia kembali memakan sup itu dengan tenang.
"Hmm... Tadi pagi Erivo yang mengatakan semuanya," jelas Eleanor.
Chloe mengangguk pelan. Ia tahu siapa itu Erivo Reinhard. Informasi seperti ini hanya kecil untuknya.
"Seperti yang Nyonya ketahui. Itulah yang terjadi kepadaku selama lima tahun ini," ucap Chloe.
Eleanor terdiam. Tangannya yang sedang menyimpan jeruk di atas piring kosong berhenti.
"Lima tahun? Lima tahun anak yang seharusnya jadi penerus Weiss Group dibuang dan disiksa di dalam rumah sakit jiwa. Dan selama lima tahun ini mereka menikmati semua kemewahan yang seharusnya menjadi milikmu," wajah Eleanor terlihat marah.
Chloe kembali memakan supnya dengan terlihat santai.
"Itu dulu, Nyonya. Sekarang aku sudah mengambil apa yang menjadi hakku."
"Bagus," Eleanor mendorong piring jeruk yang sudah ia kupas ke arah Chloe.
"Makan yang banyak. Kau butuh tenaga untuk menghadapi mereka. Aku sangat yakin, mereka tidak akan tinggal diam," ucap Eleanor.
"Aku tahu, Nyonya. Dan aku memberikan mereka waktu dua hari untuk meninggalkan mansion keluarga Weiss," Chloe meraih air minum dan meminumnya hingga habis.
"Dua hari... Kenapa kau tidak langsung memenjarakan mereka?" wajah Eleanor terlihat geram.
Chloe meletakkan gelas pelan.
"Karena kalau aku penjarakan mereka, Nyonya... media akan bilang aku anak durhaka."
"Aku mau mereka pergi dengan terhormat. Dengan koper. Bukan dengan borgol. Tapi kalau setelah dua hari mereka masih di sana... baru aku pakai cara lain, dengan menyerahkan semua bukti ke pihak berwajib" jelas Chloe sambil mengepalkan tangannya cukup kuat.
"Bukti?" gumam Eleanor.
"Hmm... Bukti kejahatan mereka selama ini. Terutama rekaman CCTV saat ibuku, Nyonya Irina Weiss, ditembak oleh Serena dan Alexander hanya diam saja."
DUG
Tangan Eleanor terkepal semakin kuat.
"Apa katamu? Ibumu dibunuh oleh mereka?"
"Ya... Dan aku mempunyai bukti itu," jawab Chloe.
Eleanor terdiam. Jadi kabar kematian Irina Weiss karena bunuh diri itu hanya palsu.
Eleanor menutup mata. Napasnya berat.
"Selama ini... aku kira Irina bunuh diri."
"Itu hanya skenario mereka, Nyonya," Chloe meraih sebiji jeruk lalu memakannya.
"Jadi itu sebabnya mereka membawa kau ke rumah sakit jiwa. Karena takut kau mengatakan jika yang membunuh ibumu adalah Serena dan Alexander," tebak Eleanor.
"Tepat sekali. Dan setiap aku mengatakan jika ibuku dibunuh, mereka semua menganggap ucapanku itu hanya halusinasi," jelas Chloe.
Ia beranjak berdiri, meraih piring jeruk.
"Sudah larut malam. Sebaiknya Nyonya istirahat."
"Aku ambil jeruknya ya, Nyonya. Terima kasih untuk makanannya malam ini," ucap Chloe sambil tersenyum lalu melangkah keluar dari ruang makan.
Baru beberapa langkah, suara Eleanor menghentikan langkahnya.
"Tunggu," ucap wanita paruh baya itu, berdiri lalu menghampiri Chloe.
Chloe menoleh.
"Ya, Nyonya?"
"Hmm... Mulai malam ini panggil aku Mama, sama seperti Erivo memanggilku," ucap Eleanor. Ia menatap Chloe dengan lembut.
Chloe diam sejenak, lalu ia mengangguk pelan.
"Selamat malam, Mama," ucapnya sambil tersenyum lalu melangkah pergi, meninggalkan Eleanor yang berdiri menatapnya.
Eleanor menghela napasnya pelan. Wanita paruh baya itu bergumam,
"Aku hampir menikahkan putraku dengan anak seorang pembunuh yang haus harta."
---
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys 🙏 😊 🥰 🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,