#Maaf jika ada kesamaan nama tokoh.
Alana seorang gadis dari zaman modern. Dirinya harus menggantikan jiwa istri Duke Cristin, yang tak lain sebagai pengganti sang Kakak yang tiba-tiba menghilang di saat pernikahannya atas desakan kedua orang tuanya.
Duchess Viola, anak dari Duke Arland dengan istri keduanya, istri yang tidak di cintainya. Ibunya pergi meninggalkannya saat ia berusia 5 tahun. karena tidak kuat dan sakit hati yang Duke Arland tolehkan.
Hanya karna sebuah pernikahan politik. Viola dan Ibunya sama-sama terjebak ke dalam laki-laki yang tidak pernah mencintainya.
Duke Cristin
"Maafkan aku Vio, aku mencekik mu ke dalam janji itu. Aku tidak bisa mengabaikan janji ku. Aku tidak bisa menghapus tanggung jawab ku. Meskipun janji itu melukai perasaan ku, melawan arus perasaan ku."
ig:@riiez.kha.37
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang dulu sudah hilang
#Selamat membaca, semoga hari ini lancar aktivitasnya. Seluruh keluarganya di berikan kesehatan dan rezeki lancar 😊
"Untuk apa dia kesini? untuk apa pula dia mengeluarkan tanduknya?" Cerocos Viola kesal. Ia melipatkan kedua tangan di dadanya, menyandarkan tubuhnya ke pohon dan membuang muka.
"Pergi," Perkataan Duke Cristin membuat para bangsawan menunduk hormat dan pergi. Mereka tidak akan mengusik raja singa di depannya. Para bangsawan itu pun melihat ke arah Viola, berharap akan ada lain waktu bertemu kembali.
Hem
Sekelibat hawa dingin ke arah para bangsawan. Mereka pun langsung pergi dengan wajah ketakutan.
"Pulanglah," Duke Cristin melihat sekelilingnya. Ia tidak akan memarahi Viola di depan umum.
"Kenapa? mau marah," Viola menghela nafas, ia pergi melewati Duke Cristin, namun Duke Cristin menggenggam tangannya.
"Ikut aku,"
Lagi-lagi Viola hanya mendengus kesal. Ia seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh. Viola tidak menanggapi pikiran dan hatinya yang bermonolog jika dirinya selingkuh. Dan suatu saat nanti dia juga akan pergi dari kediaman Duke.
Sepenjang perjalanan, Viola menopang dagunya melihat ke arah luar jendela. Pohon rindang yang berjajar rapi, kicauan burung di batang pohon. Semilir Angin yang membuat dedaunan bergerak.
"Untuk apa kamu datang kesini? menggangu saja," ujar Viola tanpa melihat ke arahnya.
"Apa aku salah menjemput istri ku?"
"Istri? semenjak kapan aku menjadi istri Yang Mulia Duke yang terhormat? aku rasa tidak pernah,"
"Jadilah, seperti dulu Duke. Aku lebih suka yang dulu, tidak di perhatikan atau pun sok peduli." sambung Viola, menatap benci ke arahnya.
"Mau suka atau tidak suka. Aku peduli karena aku seorang Duke. Sudah sepantasnya aku mengingatkan seorang Duchess, maksudnya kehormatan bangsawan seorang Duchess." Hati Duke Cristin meronta, ia tidak ingin mengatakan seperti itu, tetapi pikirannya mengatakan tidak ingin terlihat peduli atau perhatian. Ia tidak ingin di katakan mencintai Viola.
"Ck, aku salah mengira. Cepat atau lambat aku juga akan pergi. Alangkah baiknya aku menyiapkan suami lebih dulu."
"Viola." Bentak Duke Cristin, dadanya terasa sesak. Viola akan mencari suami pengganti untuk dirinya.
Viola menyunggingkan sudut bibirnya. "Ada yang salah, aku rasa tidak."
Tanpa terasa kereta itu telah berhenti di depan kediaman Duke. Viola turun, ia menarik gaunnya ke atas. Memperlebar langkah kakinya. Sesampainya di ruang tamu, Viola melihat ke arah Duke Arland dan Duchess Eliana yang langsung berdiri saat melihat ke datangannya.
"Duchess." Duchess Eliana menuju ke arahnya. Ia memeluk Viola begitu erat, mengusap surai hitam itu dengan penuh kasih sayang.
"Jangan melakukannya lagi, kamu membuat Ibu khawatir Duchess."
"Maaf Ibu," Viola terdiam, ia merasakan kasih sayang yang tulus dari Ibunya itu.
Viola melihat ke arah Duke Cristin lalu berganti ke arah Duke Arland. Kedua laki-laki itu siap menceramahi dirinya. Malas untuk berdebat, Viola melepaskan pelukannya. Saat hendak melangkahkan kakinya, suara Duke Cristin menghentikannya.
"Aku harap kamu tidak melakukannya lagi Duchess. Aku tidak ingin ada rumor yang tidak sedap datang pada ku."
"Memangnya kenapa Duke Cristin?" tanya Duke Arland.
"Dia menggoda para bangsawan."
"Viola," bentak Duke Arland. Tidak seharusnya seorang bangsawan menjatuhkan harga dirinya. Jika ada rumor yang tidak sedap, keluarganya juga akan menanggung malu, tetapi bukan hal itu yang mengganjal di hatinya. Ia hanya memikirkan tentang Viola. Tidak ingin melihatnya di kucilkan oleh wanita bangsawan. Demi Viola saat ini, dengan sepenuh hati dia akan membelanya.
"Aku lelah." Viola membalikkan badannya, ia mengatupkan kedua tangannya di depan dahinya dengan kepala menunduk. "Aku mohon, jadilah seperti dulu. Tidak usah memperdulikan apa yang aku lakukan. Dan untuk menggoda para lelaki, aku tidak menggodanya. Justru mereka yang datang sendiri pada ku. Dan aku sebagai istri yang di ceraikan. Aku hanya ingin mencari penggantinya." ujar Viola kemudian hendak pergi.
"Viola !"
"Jangan membentak ku." Viola langsung menoleh ke arah mereka.
"Aku lelah berdebat dengan kalian. Memohon pun aku sudah bosan. Aku bukan putri mu Yang Mulia Duke Arland dan Aku juga bukan istri mu Yang Mulia Duke Cristin. Kata-kata itu sudah mendarah daging di tubuh ku. Jadi jangan memperlihatkan keperdulian kalian pada ku. Aku lebih suka kalian membenci ku, kalian membentak ku setiap hari, mengacuhkan ku, mengabaikan ku."
"Kamu putri ku Viola, darah ku mengalir di tubuh mu."
"Semenjak kapan?" Viola mengangguk, "Semenjak kapan?" ujar Viola dengan suara meninggi.
"Jangan pernah lupa dengan kata-kata mu, yang pernah kamu lontarkan pada ku." Viola mengentikan langkah kakinya.
"Cinta yang dulu sudah hilang, tidak ada lagi Viola yang mengharapkan cinta dari kalian. Tidak ada lagi Viola keluarga kalian. Viola yang dulu sudah mati dan mati." ujar Viola kembali melanjutkan langkah kakinya ke lantai atas.