Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dua paruh baya tengah menatap hamparan luas kebun bunga yang di penuhi kupu-kupu mungil berwarna warni.
Sejenak, wajah renta itu terlihat memendam beribu sesal dalam mata rentanya. Wajah senjanya pun tak kalah demikian.
Yusman, dengan duduk di kursi rodanya yang di dorong pelan sang istri.
Meski wajah mereka penuh dengan kasih sayang yang nyata hingga usia tak lagi muda, namun nyatanya persoalan yang cukup pelik menimpa mereka hingga ke titik ini.
Tak lama, mereka berjalan menuju sebuah tempat pemakaman keluarga. Satu nama yang mereka tuju, Ambar Sayu.
Kini Jelita telah kembali, namun siapa sangka.... sekembalinya Jeluta, justru semakin membuat hati mereka porak poranda karna telah mendapati fakta bah a Jelita telah melahirkan benih seorang Chandra Adi Prama.
Kehidupan ini begitu ringkih.
Di saat Kita mempertahankan kebahagiaan orang tersayang kita, Justru terkadang ada hati lain yang terluka. Selalu ada timbal balik dari sebuah ambisi.
Seperti pertahanan diri, di saat kejayaan, kita capai dengan ambisi, terkadang ada orang lain yang tanpa sadar telah kita korbankan.
Setelah mereka sampai pada sebuah pemakaman bertuliskan nama Ambar Sayu, mereka menunduk, melafalkan doa pada sang maha pencipta, agar tersampaikan Rana kerinduan terhadap makhluk yang telah berpulang.
Sukma meneteskan air mata.
Andai waktu bisa kembali terulang, Tak akan mungkin Ambar Sayu pergi tanpa memberinya kesempatan maaf.
Taukah kau hal yang lebih menyakitkan lagi bagi yusman? Bahkan, Jelita dan anak-anaknya lah yang lebih terluka dari mereka.
Yusman dan Sukma sama-sama menyesal.
Kendati demikian.....
Tak urung jua waktu tetap berjalan tanpa Sudi kembali terulang.
"Mbak yu Ambar....... Bahagiakan engkau di sana?",
Tangan renta Sukma terulur mengusap batu nisan bertuliskan Ambar Sayu.
Mereka tak tau saja bahwa sesungguhnya, yang terkubur dalam gundukan tanah itu jasad orang lain tanpa identitas.
Jelita telah berhasil mengelabui mereka sembilan tahun lama.....
"Maaf telah membuatmu menderita selama dua puluh tahun lamanya...
Aku dan mas Yusman disini telah mendapat hukuman. Kami semua benar-benar hanyut dan tenggelam dalam penyesalan..... seperti kebenaran yang di ucapkan putrimu yang malang karna kami...... Jelita".
"Ambar....
Maaf.... Kau.... kau pasti bahagia dan tersenyum di surga, bukan?
Lihat, cucu cucu kita telah tumbuh dan berkembang dengan sangat sehat dalam asuhan putri kita, Jelita. Sayangnya...... tak seujung kuku pun Lita mengijinkanku untuk menyentuh dan mendekati mereka".
Seperti petir yang menggelegar dalam seluruh ruang hati Sukma saat mendengar kata cucu.
Sukma sadar, putrinya tak mampu melahirkan garis keturunan mereka. Tapi mendengar kata-kata Yusman, kembali menoreh luka di sudut hatinya yang sebelumnya telah berdarah.
Air mata itu kembali menggenang di pelupuk mata Sukma.
Sepahit inikah karma?
Sesakit ini kah kehancuran?
separah ini kah luka tak berdarah itu?
Semahal ini kah ia harus membayar?
Rasanya begitu menyakitkan.
Andai manusia di berikan satu kesempatan dalam mengutarakan permintaan...
Sukma dan Yusman hanya meminta memutar waktu kembali, untuk memperbaiki kesalahan terhadap Ambar Sayu.....
Namun terlambat.
Maka TENGGELAMLAH mereka dalam lautan duka, lautan nestapa dan lautan derita.
Merengkuh kesakitan tanpa tau batas akhir.
Seperti samudera Atlantik. Seluas itulah duka mereka.
Bila demikian, Sukma kembali berkaca pada keegoisannya dua puluh sembilan tahun silam.
"Mbak yu Ambar..... Egoiskah aku bila aku berharap Jelita menganggapku sebagai ibu, dan anak-anak Lita memanggilku nenek?",
Yusman tercekat mendengar kalimat istrinya. Rupanya, Yusman selama ini mengabaikan duka istrinya. Yusman merasa dirinya yang paling merana.
Nyatanya.....
Sukma juga telah terluka. Wajah renta itu.... kian di selimuti kabut pesakitan yang semakin menggerogoti nurani. Tak seorangpun mampu menyelamatkan dan bersedia menyembuhkan.
Dengan menarik nafas dalam-dalam, Yusman mengeluarkannya perlahan, kemudian berkata......
"Sayang, mari kita menemui Jelita dan suaminya.... Tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah kata maaf, bukan?"
Sukma terperanjat. Benar.....
tidak ada kata terlambat untuk sebuah kata maaf.
*****
Mentari semakin terik. Panas kian terasa menyengat tatkala hari telah beranjak menuju siang. Suara kicau burung kian hilang, berganti dengan suara lalu lalang banyak orang di tengah padatnya lalu lintas.
Chandra dan sang istri tercinta membelah jalanan ibu kota menuju kediaman Radhi, sekertaris sang papa yang telah mengundurkan diri dari perusahaan yang di pimpin mertua Chandra.
Beragam tanya menghiasi setiap sudut hati Chandra.
Bagaimana dulu Jelita menjalani masa-masa sulit itu tanpa dirinya?
Bagaimana dulu Lita melahirkan buah hati mereka?
Pernahkah lita mengalami masa-masa ngidam?
Harusnya Chandra berada di sisi Lita saat Lita mengalami fase ngidam.....
Apakah Radhi mengurus Lita dengan sangat baik?
Chandra benar-benar berhutang banyak pada Radhi yang telah ikut andil dalam mengurus anak-anak Chandra.
Semua itu tak lagi terasa berarti bagi Jelita.
Dewi....
Sang istri yang duduk setia di samping kemudi, ikut risau...
Risau kalau-kalau nanti Jelita tak menerima kehadiran mereka dan memilih mengusir Chandra dan Dewi.
Andai Lita saat itu mengatakan bahwa ia tengah mngandung benih Chandra, tentu Dewi tak akan meneruskan langkah membina rumah tangga bersama Chandra.
Faktanya, Dewi bersedia di persunting Chandra, setahun setelah menghilangnya Lita.....
Dan yang lebih menyakitkan bagi Chandra dan dewi, adalah.... mengalami keguguran sebanyak dua belas kali selama delapan tahun menjalani rumah tangga.
Ironis memang.
Mereka pasangan suami istri yang selalu kehilangan buah hati mereka tatkala buah hati belum sempat terlahir..
Inilah hukuman...... yang nyata.
"Sayang.....", Chandra meraih dan meremas pelan telapak tangan sang istri. Tangan yang terasa dingin di sebabkan kegugupan dan ketakutan yang melebur menjadi satu. Sebisa mungkin menyalurkan kekuatan.
"Iya, mas....",
"Tenanglah... Jangan risau, ada aku", Ujar chandra pelan. Meski tak ia pungkiri, chandra sendiri merasa.... berselimutkan rasa takut.
"Aku mengerti", Dewi tersenyum dan mengangguk.
Dewi bersyukur, ditengah-tengah masalah yang menimpa rumah tangga mereka, nyatanya Chandra masih mampu bersikap hangat terhadapnya. Ini lah kelebihan Chandra, cintanya pada Dewi, lebih besar di banding pada Jelita yang telah Chandra korbankan, bahkan anak-anaknya pun, Chandra pertaruhkan.
Seberharga itu kah Dewi di mata Chandra?
Mengingat nama Jelita, Dewi kembali murung. Sedang Chandra kembali fokus pada Jalanan di depannya.
Tanpa terasa, mobil yang di kendarai Chandra dan Dewi telah sampai di pelataran parkir sebuah rumah yang begitu sederhana.
Sebelum turun dari mobil, Pandangan Chandra terpaku pada anak kembar yang tampak riang bermain di teras rumah itu, Arlan dan Ariana.
Tak jauh dari mereka, seorang pengasuh dengan seragam putih tengah menyuapkan makanan pada putra pertama Radhi, Kara.
Air mata itu kembali menetes di pipi mulus Chandra. Ingin sekali rasanya Chandra meraih dua tubuh mungil anaknya. Tapi tak mungkin.
Rasa malu karna Chandra tak bertanggung jawab, membuat Chandra semakin rendah diri. Chandra dan Dewi pun turun.
Pengasuh yang menyadari kedatangan Chandra segera masuk dengan langkah tergesa, mengabari tuannya.
Tak lama, mereka keluar dengan Jelita dan wajah ayunya. Penampilannya jauh lebih anggun di banding Dewi meski Lita hanya istri dari seorang sekertaris.
Tidak ada yang tau kecuali Radhi dan pengasuh, bahwa Dia lita memiliki empat cabang salon kecantikan dan satu salon pusat yang di rintis Lita seorang diri, itu pun berkat dukungan Radhi.
"Untuk apa kalian kemari? Enyahlah kalian dari sini",
Ungkap Jelita dingin sembari menuntun anak-anaknya masuk ke dalam. Tak ia ijinkan Chandra sampai menyentuh mereka.
"Tolong beri aku kesempatan, setidaknya untuk bicara padamu, Lita", pinta Chandra.
Radhi yang rak jauh dari mereka hanya memasang wajah datar. Radhi tau, cepat atau lambat, ini pasti terjadi.
Namun.....
mustahil bagi Jelita untuk membebaskan anak-anak Chandra untuk bertemu ayah biologisnya.
"Pulanglah. Aku tak Sudi meski hanya bertatap mata dengan mu". Jawab Jelita dengan kesinisan yang nyata.
"Benarkah? Bukankah dulu kau mencintaiku?".
"Ya. Namun itu kesalahan terbesarku, menyerahkan diriku padamu, pria biadab!".
Chandra dan Dewi tersenyum miris mendengar umpatan Jelita.
"Aku datang untuk memohon maaf Lita. Bila kau menghukum ku lewat anak-anakku, aku bersedia. Tapi setidaknya, beri aku kesempatan memeluk mereka sekali saja".
"Dalam mimpimu".
Pendar kemarahan Jelas terlihat pada netra mata Jelita.
'Bila kata maaf mudah kau ucapkan, akan ada banyak chandra-chandra lainnya yang akan bermunculan....
Aku tak Sudi memaafkanmu, pria laknat.'
🍁🌺🍁