Agatha senang saat tahu akan memiliki kakak walau tidak kandung. Tapi rasa senangnya itu berubah jadi rasa takut, Jeno sang kakak tirinya itu merusaknya dan membawanya kabur lalu menikahinya. Rasa takut pun perlahan berubah menjadi rasa yang tak asing yaitu rasa cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chanie1001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Agatha merapihkan kasur. Jeno sedang menyiapkan sarapan.
"Tha, garam yang mana?" tanya Jeno dengan celemek Berwarna merah.
"Biar aku aja yang masak.."
"Ck! Ga biar aku aja, biar aku coba aja yang mana garem, micin dan gula.." ketus Jeno seraya berlalu.
Agatha mengulum senyum seraya menatap lengan bagian atas yang terciprat minyak semalam.
"Tubuh kamu ini punya aku juga, beraninya minyak loncat kearah kamu! Lain kali biar aku yang masak.."amuk Jeno yang entah kenapa membuat Agatha berdebar dan tersenyum.
Mengingat itu jadi malu sendiri dengan cepat Agatha kembali merapihkan kasur.
***
Mata Agatha berbinar saat merasakan masakan pertama Jeno. Memang orang Jenius itu berbeda. Bicara sih ga bisa, ga tahu mana garam, tapi kenyataannya buatannya ini sangat enak.
"Ini udah mirip banget kayak nasi goreng spesial, enak banget.." puji Agatha tulus.
Jeno tersenyum bangga."Pasti.." balasnya seraya memulai makannya.
Beberapa menit hanya suara piring dan sendok yang terdengar.
"Kamu mau kemakam mama?"
Jeno menyudahi minumnya lalu menatap tajam Agatha."Buat apa? Udah lama bagi gue dia meninggal.." dingin Jeno seraya beranjak meninggalkan Agatha.
Agatha menatap Jeno penuh kesedihan. Setelah kejadian itu Jeno lebih sering uring uringan, moodnya cepat berubah.
***
Jeno merebahkan kepalanya di paha Agatha, keduanya tengah berada di balkon kamar.
Jeno membenamkan wajahnya ke perut Agatha. Agatha repleks mengusap rambut yang cukup panjang milik Jeno. Terlihat kasar namun saat di sentuh ternyata lembut. Agatha juga yakin Jeno pun begitu.
"Cowok nangis juga boleh, kamu ga sedih denger semuanya kemarin?"
Jeno mendongkak dengan tatapan tak bersahabat. Agatha mencoba berani.
"Aku istri kamu, yang udah janji ga akan ninggalin kamu kecuali kematian. Aku percaya sama kamu, aku juga mau kamu percaya sama aku.."
Jeno terpaku, apakah hubungannya dengan Agatha sudah sejauh itu? Benar - benar tak menyangka.
"Ak-gue nikahin lo karena biar bokap gue sakit aja.."
Agatha mengulum senyum yang sangat tulus."Cuma karena itu?" tanyanya pelan.
Jeno terdiam kedua matanya saling terkunci."Kata pengasuh gue kalo gue nangis gue cewek, gue lemah.." jelas Jeno dengan rahang mengeras.
"Justru kalo kamu ga nangis kamu sebagai manusia di pertanyakan loh.. cuma psyco yang ga punya perasaan sedih, aku yakin dan percaya kamu baik bukan psyco.."
"Gue? Baik? Setelah siksa lo? Paksa lo? Lo ga waras Agatha.."
"Itu cobaan yang tuhan kasih buat aku, sekarang kamu ga sekasar dulu berarti Tuhan baik sama aku biar sedih - sedihan dulu terus endingnya bahagia .." terang Agatha.
Jeno terpana, seolah - olah matanya terbuka dan betapa baiknya wanita yang kini menjadi istrinya itu. Tapi jika melibatkan perasaan maka semua akan berbeda. Cinta akan membuat semua berubah. Jeno belum siap ditinggalkan.
"Terserah lo!" ketus Jeno seraya beranjak menuju kedalam kamar.
***
Agatha mengganti seragamnya memakai seragam olah raga. Hari selasa adalah hari termalas Agatha pasalnya dirinya tidak suka olah raga dan takut juga karena sedang hamil.
"Nak Agatha.." panggil bu Astut, guru olah raga.
"Oh? Iya bu, ada apa?" Agatha menutup lokernya.
"Kata pak kepsek kamu ga bisa ikut olah raga jadi jangan takut bilang ya kalau ada apa - apa. Kamu bisa duduk aja di pinggir lapangan.."
Agatha mengangguk kaku."I-iya bu.."
***
Jeno menyimpan handuk kecilnya ke kepala Agatha."Mundur, cari tempat teduh.." ketusnya dengan nafas terengah lalu meneguk sebotol air.
"Nanti kena bola tahu rasa! Sana pindah.." usir Jeno.
Agatha meraih handuk itu lalu melap keringat yang begitu banyak di pelipis Jeno. Mengabaikan ucapan Jeno.
Jeno tidak ambil pusing, di gerayangi Agatha disini pun Jeno tak masalah pikirnya mesum.
"Mau beli roti atau mie ayam? Hm? Mau apa?" tanya Agatha seraya terus melap keringat Jeno.
"Kamu.."
Agatha mematung membuat Jeno tersenyum miring, karena merasa berhasil mengerjainya.
"Kamu aja yang pilih.."sambung Jeno seraya berlari kelapangan dan mulai bermain basket lagi.
Agatha mengelus dada, merasa kalau dirinya akhir akhir ini selalu berpikiran mesum.
***
Agatha membawa roti menuju kearah kelas namun sebelum sampai dirinya sudah berpapasan dengan Jeno.
"Ini, roti aja ya.."
"Iya, makasih.."
Agatha menautkan alisnya bingung, merasa tumben sekali Jeno selembut ini.
"Permisi, bisa ga pacarannya jangan di tengah jalan!"
***
Agatha masih betah di dalam bilik toilet, ceritanya menguping.
"Jefri adu jotos sama si Jeno cuma gara - gara naksir sama Agatha, hebat bener tu cewek, gue jadi gatel pengen tahu kelemahannya itu apa biar gue sebar disekolah pasti seru.."
Agatha refleks mengusap perutnya dengan gelisah.
"Si Jeno hebat dia ga babak belur, si Jefri memarnya di bibir, pipi. Kasian babang tampanku.."
Agatha memutar ingatannya. Tentang pria yang marah karena jalannya di halangi tadi waktu istirahat. Mukanya juga babak belur.
***
Agatha mencuri pandang kearah Jeno yang tengah fokus mengemudi.
"Apa? Mau bercinta di mobil?" celetuk Jeno tanpa menatap Agatha.
Agatha sontak menggeleng cepat walau tidak bisa terlihat oleh Jeno."Engga! Engga! Aku cuma mau tanya.." cicit Agatha di akhir.
Jeno masih fokus kejalan."Apa? Ngomong aja.." ujarnya acuh.
"Kamu be-be_"
"Bercinta? Tunggu cari tempat sepi dulu.." potong Jeno dengan begitu santai.
"Ih bukan! Kamu berantem sama orang di sekolah?" dengan penuh kecemasan Agatha menatap Jeno.
"Iya" jawabnya singkat.
"Ke-kenapa?"
Jeno menghentikan mobilnya karena lampu merah lalu menatap Agatha.
"Menurut lo?"
Agatha memberengut bete."Aku ga tahu makanya aku tanya.."
"Aku tahu, kamu tahu" balas Jeno tepat sasaran.
Agatha mengulum senyum."Bagus! Aku - kamu.."
Jeno hanya menghela nafas pendek."Cium.." pinta Jeno seraya mencondongkan tubuhnya kearah Agatha.
Dengan sedikit kaget Agatha mendekat lalu mengecup pipi Jeno.
Jeno menarik Tubuh nya."Pipi? Em bolehlah.."
"Kamu ga ada yang luka?"
Jeno kembali melajukan mobilnya.
"Ga ada.."
"Lain kali jangan berantem ya, aku ga mau kamu kenapa - kenapa, kalo terjadi sesuatu sama kamu, aku sama anak kita gimana?" tanya Agatha lirih.
Jeno menghela nafas panjang."Ya ya, gue usahain.."
"Ga aku - kamu?"
"Ya ya aku usahain.."
***
Jeno memakai kaosnya seraya berjalan menuju dapur.
"Tha, mau makan apa?" teriaknya.
Agatha yang mendengar teriakan Jeno pun beranjak bangun lalu bergegas menyusul Jeno ke dapur.
"Mau telor mata sapi dua aja.."
Jeno membuka kulkas, meraih telor.
"Pake garem?"
"Ga usah"
Dengan cekatan Jeno mulai menyalakan api, memasukan minyak pada wajan.
"Duduk aja di sana" suruh Jeno pada Agatha yang tengah berdiri di belakangnya.
"Ga mau.."
"Duduk disana! Nanti bisa kecipratan minyak lagi! Cepet sana" ketus Jeno.
***
Jeno mengangkat piring kosong miliknya lalu berjalan menghampiri Agatha yang masih makan.
Agatha menatap Jeno bingung. Jeno membungkuk di depan Agatha.
"Telornya enak?"
Agatha mengangguk, memang nyatanya enak.
Jeno mendekatkan bibirnya pada bibir Agatha. Mengulumnya, ********** sesaat lalu dilepaskan.
"Abisin.." ujarnya seraya berlalu.
***
Septian berlari kearah rumah Jeno. Mengetuk pintu cukup tergesa.
"Jen, Agatha!" panggilnya.
Jeno yang kebetulan belum tidur dengan cepat membuka pintu.
"Ada apa?"
"Gawat, bokap lo belum kesini? Tadi gue liat mobilnya di depan gerbang perumahan.."
Jeno mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
"Ga usah khawatir.." ujar Jeno.
"Dia bareng beberapa orang Jen, lo ga akan bisa hadepinnya.."