Berhijrah terkadang bukan perkara yang mudah, apalagi bayang kelam masa lalu bak sebuah benalu yang menggerogoti hati. Tak jarang membuat keyakinan merosot kembali.
Keinginan untuk menjadi lebih baik, terkadang di bumbui sebuah kesempurnaan. Bak
setiap pria yang mendambakan seorang istri sempurna, pun seorang perempuan mendambakan seorang suami yang sempurna. Namun terkadang keduanya tidak menyadari kalau mereka di ciptakan untuk saling menyempurnakan.
Inilah sebuah kisah. Perjalanan penuh Lika liku, mendambakan sebuah kesempurnaan untuk mencapai sebuah kebahagiaan.
Tidak pernah menyadari, berdiam di Zona nyaman sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, membuat hati buta.
Telat menyadari kalau kebahagiaan bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun bahagia, milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Alika terhenyak, ia menggigit bibir bawahnya menatap beberapa dokumen yang tergeletak di atas meja di depannya. Hatinya gelisah. Bimbang, haruskah ia bahagia? Atau sebaliknya ia harus bersedih menerima semuanya.
"Apa maksud Kakak memberikan semua ini?" Alika menatap nanar penuh kebingungan. Dokumen dokumen penting perusahaan. Sertifikat sertifikasi tanah yang tidak hanya
satu tempat, dan baku tabungan dengan jumlah yang begitu besar. Semua itu atas namanya.
Apa yang di pikiran dan di rencanakan Kakaknya sampai memberikan semua ini padanya.
Dia kini menatap Ali yang masih duduk di sampingnya, meminta pendapat pada sang suami. Apakah dia harus menerima semuanya? Atau menolaknya? Namun alih-alih mendapat jawaban Sang suami, Alika malah tambah bingung, karena Ali hanya diam tanpa ekspresi. Mungkin jika Ali membuka mulutnya dia akan berkata Terserah Adek saja. Karena Ali pun tidak bisa mencampuri urusan adik kakak itu.
"Kak Ansell, bisa perjelas lagi semua ini. Apa Kakak memberikan semua ini takut kalau Alex akan mengganggu rumah tangga kita. Kakak tidak percaya pada ku?"
Pikiran Alika sedang kacau. Tingkah Ansell yang tiba-tiba memberikan kekayaan padanya tepat saat kembali nya Alex dan kehadiran Afham membuatnya berasumsi kalau Kakaknya tidak mempercayai Ali sebagai suaminya. Bahkan sudah merambat dalam hati nya rasa terabaikan karena kini Kakaknya sudah mendapatkan kehidupan yang sempurna dengan kehadiran Afham di hidupnya. Sampai tidak lagi menyayangi nya.
"Atau mungkin Kakak memberikan semua ini agar aku tidak merepotkan Kakak lagi. Dan Kakak tidak akan memperhatikan ku lagi?"
Persetan dengan pandangan Ali akan menilainya seperti apa, yang jelas Alika hanya ingin mengeluarkan unek-unek nya. Kenapa dikala dulu Ia yang meminta sedikit bantuan Sang Kakak, Ia tidak mendapatkan respon dan dia harus merangkak sendiri. Dan sekarang di saat dia tidak membutuhkan bantuan, Sang Kakak malah memberikan separuh kekayaannya. Manusia normal mana pun pasti akan mengatakan kalau asumsi dia benar adanya.
Ansell awalnya diam, akan sampai mana adiknya itu berbicara dan sampai dimana kedewasaannya.
"Gus! sepertinya Alika selalu merepotkan mu ya?"
Alika seketika terdiam, menundukkan kepala. Malu. Kenapa Kakaknya malah tersenyum kecil setelah mendengar semua perkataan nya. Apa Kakaknya tidak pernah mengetahui se-sayang apa dia padanya. Padahal rasanya Ia sudah hampir menangis, mengeluarkan unek-unek nya.
"Sini! Sepertinya kau sudah merindukan pukulan ku."
Orang sudah hampir menangis dan membutuhkan penjelasan, Ia masih sempat tertawa dan mengerjainya. Menjentikkan jari menyuruh Alika duduk di samping nya. Dan hebatnya tanpa penolakan Alika langsung bergerak mendekat. Ansell tidak habis pikir kenapa sampai sejauh itu Alika menilai dirinya.
Tuk....
Benar saja satu sentilan mendarat pelan di kening Alika.
"Sakit Kak," Berpura-pura sakit saja karena ia belum tahu apa maksud Sang Kakak.
"Sepertinya kau lebih cocok jadi penulis skenario drama." Bibir terus mengumpat Alika, namun tangannya bergerak merangkul pundak Alika seolah bicara kalau dia menyayangi nya.
"Jika aku tidak mempercayai rumah tangga kalian, apa mungkin Aku akan mempertemukan kalian dengan Alex?" Ansell mulai bicara. Berpikirlah logis. Dia melakukan itu semata mata demi kebaikan semuanya. Ansell berharap cinta Alika pada Ali tidak akan goyah. Dan dia pun berharap Alex akan menyerah dan melupakan perasaan untuk adiknya. Dan sepertinya sejauh ini keinginan Ansell berjalan tanpa masalah.
"Jika aku tidak menyayangi mu, mungkinkah aku akan mengorbankan wajah tampan ku ini di pukul oleh si Alex sampai babak belur." Ansell kembali memperjelas maksud nya. Menyangkal kalau apa yang di pikirkan adiknya itu salah.
"Ku kira kau sudah dewasa Al, tapi tetap saja kau adik kecil ku yang suka merengek." Menjentikkan jarinya lagi tepat di kening Alika. Merasa lucu mendengarkan semua ocehannya.
"Lalu kenapa Kakak memberikan semua ini?" Hentikan pergerakan tangan Kakak, dan jelaskan semuanya. Hahaha, mungkin itu yang seharusnya Alika katakan.
"Aku memberikan semua ini bukan karena mengasihi kalian. Tapi aku mengembalikan semua ini pada pemiliknya." Makin bingung lagi, Alika masih belum bisa menafsirkan semua perlakuan Kakaknya.
"Maksudnya apa Kak?"
"Dari awal semua ini milik mu Al. Dan sekarang aku mengembalikan nya pada mu."
Raut wajah Ansell kini berubah. Di kepalanya kini muncul bayangan masa lalu. Iya, menurut Ansell mungkin sekarang waktu yang tepat untuk mengembalikan dan menjelaskan semuanya.
"Kau mungkin tidak akan mengingat nya karena dulu kau masih sangat kecil.
Sebelum sukses seperti sekarang, aku sama seperti mu, merangkak perlahan hingga bisa seperti ini.
Dan semua itu bukan hanya dari hasil tenaga ku saja, semua itu atas bantuan uang milik mu. Di masa lalu saat kita terpuruk, kita tidak mempunyai apa-apa selain rumah yang dulu kita tempati, dan sebuah kalung emas yang menempel di leher mu. Dan saat itu aku menjual kalung itu untuk ku jadikan modal."
Bagi terbentur batu, jantung Alika berdegup kencang. Terkejut mendengar cerita Kakaknya.
Jika harus di katakan, Ansell tidak akan pernah mengurangi takaran rasa sayang nya pada Alika. Alika bukan hanya sebuah alasan baginya untuk terus bekerja keras bertahan hidup melindungi, menyayangi dan membiayainya. Tapi Alika juga merupakan pemilik saham semua kekayaan nya. Iya, Tanpa uang dari hasil penjualan kalung Alika mungkin iya tidak bisa hidup seperti sekarang.
Dia berani menjual barang berharga Alika peninggalan Sang Ayah, tanpa sepengetahuannya.
Ansell sadar ia memang tidak pantas melakukan semuanya. Karena itu, Ansell tidak pernah menganggap uang itu cuma-cuma, dia menganggap kalau Alika sedang berinvestasi padanya yang hanya bermodalkan tenaga. Dan Ansell bertekad suatu saat akan mengembalikan uang milik Alika begitupun dengan bagiannya.
"Maaf, Kakak baru menceritakan semuanya sekarang. Dan maaf, karena telah menjual barang berharga dari Ayah tanpa sepengetahuan mu Al."
Ansell makin menundukkan kepala merenungkan semuanya.
Bagi Alika mungkin perhiasan itu tidak seberapa, lagi pula Ia tidak pernah tahu bentuknya seperti apa. Tapi bagi Ansell yang telah melakukan kesalahan besar pada Sang Ayah. Segala sesuatu pemberian Sang Ayah merupakan hal terbaik dan sesuatu yang berharga baginya.
"Mungkin semua harta ini tidak begitu berharga dengan barang yang telah Ayah berikan untuk mu, tapi Kakak harap kau menerima semuanya."
Kenapa hati Ansell begitu sesak mengingat semuanya. Jujur, inilah hal yang selalu Ansell hindari. Tidak mengungkit masa lalu yang akan menguak kesalahannya sendiri.
"Kakak menangis? Kak!
Kenapa minta maaf, apa sekarang Kakak yang sedang membuat drama?" Bukan hanya terkejut, Alika masih tidak percaya dengan apa yang di lakukan Ansell untuk nya. Terlalu hina jika dia menganggap Ansell tidak lagi menyayangi nya.
"Aku yang minta maaf Kak, Aku yang selalu merepotkan mu." Kini air mata Alika yang tidak bisa ia bendung. Badannya begitu lemas sampai Ia langsung bersimpuh di pangkuan Kakaknya.
"Maaf.... apa sesakit ini Kakak berjuang untuk ku. Kakak tidak harus mengembalikan semuanya. Apa Kakak menganggap ku materialistis? Kak! dengan sampai sekarang Kakak menyayangi dan melindungi ku saja semuanya sudah terbayarkan. Kakak tidak berhutang apa-apa pada ku." Alika kini bisa merasakan seberapa pedih perjuangan Ansell untuk sekedar bertahan hidup dan melindunginya.
"Astagfirullah. Ya Allah. Maafkan aku karena telah berburuk sangka pada Kakak ku sendiri.
Ampuni aku, aku sungguh hina, aku merasa tidak pantas menjadi adiknya."
"Al, ini janji ku untuk mengembalikan nya. Jadi terimalah ini dan manfaatkan semuanya." Lebih tepatnya janji kepada Sang Ayah untuk melindungi Alika menggantikan peran nya.
Ansell mengangkat pundak Alika. Menatapnya. Memberikan keyakinan kalau adiknya itu bisa bijaksana menerima semuanya. Agar Ansell tidak selalu di hatui rasa bersalah karena berani menjual peninggalan Ayahnya.
"Tapi Kak? Ini kantor cabang Rendra Group di bagian perhotelan. Apa Kakak sedang bercanda memberikan semua ini untuk ku. Bagaimana aku bisa mengelolanya Kak."
Ansell memang tidak tanggung tanggung. Rasa bersalah yang amat begitu besar mungkin akan sedikit berkurang setelah Ia memberikan separuh kekayaannya untuk Alika. Dan memberikan sedikit jalan agar adiknya benar benar bahagia.
"Dek Al. Kamu tidak harus turun tangan sendiri. Kami tidak akan merepotkan mu karena struktur organisasi nya masih sama seperti dulu. Kita hanya mengalihkan kepemilikan atas nama mu." Zahra kini yang menimpali. Sejauh ini Zahra yang paling tahu seberapa banyak kepiluan dan beban yang di rasakan Ansell.
Maka dia akan berusaha memahami setiap situasi untuk meringankan beban suaminya.
"Tapi Kak. Ini terlalu mendadak. Apa aku..." Akh, rasanya Alika sudah kehabisan kata-kata.
Bingung apa yang harus ia katakan di situasi seperti ini.
"Tidak harus buru-buru Al. Kamu bisa berdiskusi dulu dengan Kak Ali untuk melangkah kedepannya. Jadi jangan jadikan semua ini beban. Bismillah.... Semoga apa yang di berikan Kakak mu menjadi kebaikan. Dan menjadi keberkahan untuk Adek yang memanfaatkannya."
...***...
Malam telah tiba. Zahra dan Ansell kini sedang beristirahat setelah melihat Afham tertidur pulas di ranjang kecilnya.
"Habib. Tiga permintaan yang Habib pinta pada Kak Ali apa tidak terlalu berlebihan. Kita kan bisa satu persatu membereskannya."
Zahra menghampiri Ansell yang sudah terlebih dulu berbaring di tempat tidur.
Berniat masih ingin terus bicara dan mencari tahu jawaban Ansell, Dia malah di tarik Ansell dan langsung meringkuk di pelukannya.
"Dek, apa Adek tidak pernah merasa cemburu atau apapun itu?" Lah, orang bicara apa dia malah berkata apa.
Apa memang seorang lelaki tidak bisa fokus jika pikirannya sedang bergulat dengan sebuah kata cemburu? atau mungkin cemburu merupakan kelemahan seorang lelaki.
Zahra ingin membahas tentang yang tadi siang, tapi Ansell malah menyeleweng dari pembicaraannya. Zahra pun memilih diam, tidak mau menanggapi pertanyaan Ansell, karena mungkin suaminya sedang bercanda mengatakannya.
"Deeeek." Ansell merengek.
Rupanya itu bukan candaan dan diam bukan solusi yang tepat. Bibir yang bungkam itu telah di cium habis oleh sang pemiliknya. Sebuah hukum karena tidak menjawab pertanyaannya.
"Habib.... "
"Makanya jawab."
"Habis pertanyaan aneh dan tiba-tiba. Ya jelas pernah, aku kan juga manusia." Cemberut manja, ngedumel dengan bibir berkerut kesal karena kelakuan Ansell. Ekh, tambah kesal lagi karena Ansell kembali menciumnya tanpa aba-aba.
"Habib.... Kok di hukum lagi? kan sudah di jawab."
"Hahaha lucu sekali Dek ngambek nya." Batin mungkin terbahak. Tapi wajah berusaha so cool untuk kembali memastikan sesuatu dari istrinya.
"Ini hukuman karena reaksi Adek selalu bias saja saat aku akan pergi ke kantor. Padahal di kantor setiap hari aku bertemu dengan Keysa loh Dek.
Apa tidak cemburu? Keysa kan pernah dekat dengan ku?" Hahaha. Pertanyaan macam apa itu, seorang Ansell yang sekuat batu menerjang kehidupan masa lalu yang pahit rupanya punya pertanyaan yang lucu seperti ini pada istrinya.
Zahra menahan tawa. Berbulan-bulan suaminya satu perusahaan dengan Keysa tapi kenapa baru sekarang melontarkan pertanyaan itu. Padahal kalau tidak di tanyakan pun Ansell pasti sudah tahu jawabannya.
"Karena aku percaya pada Habib. Lagi pula Keysa nya kan sudah berubah sudah menjadi istri Tuan David pula. Kenapa harus cemburu."
Jawaban yang pas dan logis. Yang pasti Ansell pun puas mendengar jawaban.
"Emang kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
Zahra kini yang berbalik bertanya. Karena Ansell tidak seperti biasanya mempertanyakan hal seperti itu.
"Tidak apa-apa, hanya ingin bertanya saja." menjawab dengan begitu santai sambil memeluk Zahra, agar istrinya itu tidak bisa melihat seringai tips di bibirnya.
Bibir memang bisa sedikit berbohong. Tapi tidak dengan isi hatinya kan.
Ansell senyum senyum sendiri. Isi kepalanya kini mengingat kembali setiap bait perkataan Ali yang memohon pada nya.
"Bang. Apa permintaan yang ke tiga ini bisa di ganti? Permintaan Abang agar aku bisa membantu Alika di perusahaan mungkin bisa aku pertimbangkan. Dan permintaan Abang untuk mengajari Alex ilmu Agama insyaallah saya bisa karena memang itu tugas sesama muslim untuk saling mengingatkan."
"Tapi... Untuk permintaan Abang yang ke tiga, aku tidak bisa.
Bagaimana bisa aku memperkenalkan Alex dengan Rani. Kalau mereka saling mengenal, otomatis Alex akan lebih sering bertemu dengan Alika dong Bang."
"Akh. Tidak bisa Bang, aku tidak bisa melakukannya. Membayangkan Alika akan bertemu dengan Alex saja sudah sangat kesal. Apalagi kalau beneran mereka sampai bertemu. Tidak bisa Bang, carikan wanita lain saja."
Hahaha, rupanya itu rengekan Ali ketika Ansell meminta tiga permintaan darinya. Jelas saja Ansell terbahak. Hanya mengingat semua kata kata nya saja membuat Ansell menggelitik lucu, apalagi saat mengingat ekspresi Ali yang sedang frustasi. Sesaat jatuh harga diri Pak Ustadz.
"Hahaha. Rupanya Gus Ali belum percaya diri ya menjadi suami Alika. Sampai segitunya cemburu pada Alex. Padahal si Alex terlihat serius mau berubah. Dan Alika pun tidak mungkin kembali pada nya."
Dalam hati terbahak mengejek orang lain. Tidak sadar dirinya sendiri terlihat seperti anak kecil di saat ada laki laki lain yang melihat istrinya.
Sungguh ironis sekali kisah cinta Pak Ustadz dan Babang CEO ini. Sama sama di buat mati gaya di saat mereka takut kehilangan istrinya.
.
.
.
.
nungguin lho bolak balik cek blm up jg
apalagi dengan tokoh zahra...
🙏🙏