Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Diceng-Cengin
Hari-hari berikutnya berjalan bagaikan roda komedi yang melaju di atas lintasan gila. Samsudin menjalani tiga peran sekaligus secara simultan, pagi hari bertelanjang dada menjadi pawang buaya, siang hari secara rahasia belajar menjadi Chief Executive Officer (CEO) konglomerat di ruang VIP rumah sakit, dan malam hari berperan sebagai calon suami kredit yang patuh di hadapan Tia.
Di Rumah Sakit Medika, keadaan Papa Norman perlahan-lahan membaik meski masih harus menjalani perawatan intensif. Yang unik, di gedung lantai yang sama, hanya berjarak tiga blok kamar, ayah tiri Sam juga dirawat setelah diterbangkan tim medis suruhan Hendra dari kampung. Sam jadi rutin bolak-balik menyusuri koridor rumah sakit, berganti ekspresi dari anak kandung yang perhatian ke anak tiri yang berbakti.
"Mas Sam..." bisik Hendra suatu sore di ruang tunggu VIP, seraya menyodorkan tablet berisi laporan keuangan Norman Corp. "Soal agenda bulan depan... Bapak Pengacara meminta jadwal Mas Sam dikosongkan untuk pendaftaran berkas balik nama saham utama. Tapi kok saya lihat di kalender pribadi Mas Sam ada catatan bertuliskan: Akad Nikah Kredit Katering Warteg?"
Sam yang sedang menyesap kopi mahal spontan tersedak. "Uhuk! Mas Hendra jangan baca-baca catatan pribadi saya dong!"
"Bukan begitu, Mas Sam," Hendra menahan tawa giginya. "Sebagai sekretaris pribadi, saya wajib mengatur efisiensi waktu pimpinan. Jadi... Mas Sam ini beneran mau menikah secara kontrak sama Mbak Tia?"
Sam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah memerah canggung. Mau tidak mau, ia membocorkan skenario gila buatan Tia, dari utang pinjol lima juta, ancaman pingsan calon ibu mertua, hingga rencana cerai setelah satu bulan demi mendapatkan 'status janda damai'.
Hendra menyimak penjelasan Sam dengan mata berkedip-kedip kaku, sebelum akhirnya tawa sekretaris tegap itu pecah pelan. "Luar biasa... Mbak Tia itu staf admin tapi otaknya punya strategi ekspansi risiko yang mengalahkan direksi kita. Baik, Mas Sam. Selama hal itu tidak mengganggu proses transisi kepemimpinan dan belajar bisnis Mas Sam, saya akan amankan jadwalnya. Bahkan kalau butuh gedung ballroom rahasia, tinggal bilang."
"Jangan, Mas Hendra! Nanti Mbak Tia curiga kalau gedung kelurahannya mendadak berubah jadi ballroom berhias kristal!" potong Sam panik. "Biar saja kateringnya tetap tempe orek sama rendang warteg, yang penting dia senang."
Sementara itu, di tempat kerja utamanya, Kebun Binatang Kota, penyamaran Sam sebagai rakyat jelata menghadapi ujian berat, bukan dari musuh, melainkan dari kawan-kawan sesama pawang.
Kabar mengenai Tia yang saban hari bolak-balik menjemput Sam memakai motor matik merah jambu, membelikan baju kemeja bagus, hingga membawakan martabak manis, akhirnya bocor ke seluruh divisi reptil dan mamalia.
Di ruang istirahat staf yang berbau minyak kayu putih dan aroma kopi sasetan, tiga rekan pawang Sam, Mamat pawang ular, Bowo pawang monyet, dan Pak Budi senior pawang gajah, sedang mengepung Sam yang sedang menyantap mie instan cup.
Di lingkungan Kebun Binatang, nama "Samsudin" sama sekali tidak keren. Kawan-kawannya tidak pernah memanggilnya "Sam", melainkan Udin.
"Oalah, Din, Udin!" cerocos Mamat sambil menunjuk hidung Sam pakai krupuk blek. "Gaya lu belakangan ini songong amat! Pantesan dandanannya klimis, rambut pakai minyak wangi melati, ternyata udah gaet mbak-mbak kantoran!"
"Iya nih si Udin!" timpal Bowo seraya menyapu otot dada Sam. "Gua curiga lu panggil buaya bukan pakai mantra reptil lagi, tapi pakai pelet jaran goyang! Kok bisa cewek bening begitu mau naik motor merah jambu bonceng buaya rawa kayak lu?"
Sam hampir tersedak bumbu mie instan. "Sembarangan lu kalau ngomong! Gua ini pangeran reptil, ya wajarlah Mbak Tia terpesona!"
"Halah, Pangeran Reptil!" ledek Pak Budi pawang gajah sambil tertawa terbahak-bahak sampai perut buncitnya berguncang. "Pangeran tapi kasbon di warteg Pak Ujang masih numpuk tiga ratus ribu! Gua denger-denger dari Pak Ujang, lu mau nikah ya Din bulan depan? Beneran lu mau kawin?"
"Iya, Pak Budi," sahut Sam meringis, mencoba bersikap sesantai mungkin. "Jodoh datangnya tak terduga."
"Tapi Din..." Mamat memiringkan kepalanya, menatap Sam dengan pandangan selidik yang sangat mencurigakan. "Lu kagak pake acara bohong kan sama itu cewek? Kemarin pas gua lewat, gua denger si Mbak-Mbak itu manggil lu Spesialis Konservasi Reptil Senior Skala Internasional. Padahal kerjaan lu sehari-hari nyikat punggung Si Bejo pakai sikat kamar mandi!"
"Bener, Din!" pangkas Bowo heboh. "Jangan sampai pas resepsi nanti, mertua lu minta lu atraksi memeluk gajah, terus lu pingsan gara-gara diseruduk! Malu-maluin divisi reptil lu!"
Sam menepuk jidatnya keras-keras. "Kagak ada yang bohong, Mat! Mbak Tia tahu kok gua pawang buaya! Justru dia suka karena gua berani!" (Batin Sam menjerit: Iya, berani dibayar kredit tiga ratus ribu per bulan!).
"Alah, alik-alibi lu!" Mamat menyenggol lengan Sam. "Awas ya Din, pas resepsi nanti jangan lupa udangan buat kawan-kawan kebun binatang! Gua mau ngabisin kateringnya! Tapi ingatin calon bini lu, jangan sediakan menu olahan daging reptil, kagak etis buat profesi kita!"
"Iya, tenang aja! Kateringnya rendang sapi sama tongkol balado warteg!" sahut Sam tertawa lepas.
"Bagus dah!" puji Pak Budi sambil menepuk bahu Sam kekar. "Yang penting lu bahagia, Din. Biar kata gaji kita pas-pasan dan muka lu mirip model kover majalah yang kesasar di kubangan lumpur, akhirnya ada juga wanita yang mau nampung lu!"
Sam hanya bisa mengangguk-angguk pasrah dipanggil "ditampung" oleh kawan-kawannya. Di dalam hati, Sam tertawa membayangkan betapa guncangnya jiwa Mamat, Bowo, dan Pak Budi jika suatu hari nanti mereka tahu bahwa "Udin Pawang Buaya" yang suka kasbon tempe orek ini adalah pemilik tunggal gedung pencakar langit 45 lantai di pusat kota.
Sore harinya, tepat pukul 16.30 WIB, suara klakson motor matik merah jambu meraung-raung di gerbang samping kebun binatang.
Tia sudah bersiap di atas motornya, mengenakan helm bogo warna cokelat dan kacamata hitam, melambaikan tangan ke arah Sam yang baru saja selesai mandi dan mengganti kausnya.
"Udin! Tuh putri jemputan lu udah dateng!" teriak Mamat dari kejauhan seraya tertawa goda.
Sam melambaikan tangan pada kawan-kawannya, lalu berlari kecil menghampiri Tia. Ia melompati jok belakang motor matik merah jambu itu dengan cekatan.
"Sore, Mas Sam!" sapa Tia riang dari balik helmnya. "Gimana Si Bejo hari ini? Nurut kan?"
"Nurut banget, Mbak Tia," jawab Sam sambil membenarkan posisi duduknya di jok sempit. "Malah Si Bejo kirim salam, katanya kapan Mbak Tia mau mampir lagi buat ngelus dagunya?"
"Idih! Sampaikan salam balik sama Si Bejo, aku mau fokus urus sewa baju pengantin di salon Mas Riki sore ini!" cibir Tia sambil memutar gas mendalam.
Motor matik merah jambu itu meluncur membelah kemacetan sore. Di belakangnya, Samsudin sang calon miliarder menggenggam pinggang staf admin sewaannya erat-erat, menikmati embusan angin sore.
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran