NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 hukum yang dimulai perlahan

Di tempat lain, Mira menerima laporan yang sama.

Wanita itu duduk tenang sambil mendengarkan.

“Keluarga Wiratmaja sudah mengetahui semuanya.” Ucap orang kepercayaannya.

Mira menghela napas pelan.

“Cepat atau lambat memang akan terbongkar. Tidak selamanya rahasia di sembunyikan.”

“Apakah Nona Alkina perlu diberi tahu?”

Tatapan Mira langsung tertuju pada Alkina yang sedang membantu Rian belajar. Wajah gadis itu terlihat jauh lebih damai sekarang.

Dan Mira tahu kebenaran ini bisa kembali menghancurkan hatinya.

“Belum saatnya.” Jawab Mira tenang.

“Ibu yakin?” tanya orang kepercayaannya.

“Biarkan Ranti menanggung rasa bersalahnya lebih lama.”

Mira menatap Alkina lembut.

“Anak itu sudah terlalu lama menderita sendirian, biarkan Alkina bahagia dan tenang sebelum waktu dimana ia harus belajar kuat dan mampu menghadapi masalah yang datang nantinya.” Ucapan Mira terdengar misterius dan memiliki makna yang dalam.

******

Sejak malam pengakuan itu, sesuatu berubah dalam diri Ranti ia tidak lagi memeluk Sisil dengan hangat. Tidak lagi menanyakan kebutuhannya. Tidak lagi memandang gadis itu sebagai pusat dunianya.

Namun anehnya Ranti juga tidak langsung mengusirnya.

Wanita itu memilih cara lain. Cara yang jauh lebih pelan dan menyakitkan.

Pagi hari di rumah keluarga Wiratmaja terasa dingin. Sisil turun tangga sambil mengucek mata.

Setelah malam pengakuan itu, Sisil tidak merasa khawatir, ia berpikir bahwa mama angkatnya itu hanya bertanya, tidak ada pikiran lain yang Sisil pikirkan, ia masih bersikap seperti biasanya, ia masih bersikap angkuh dan masih bersikap bahwa dirinya selalu menjadi prioritas semua orang.

Biasanya sarapan favoritnya sudah tersedia di meja namun hari ini di meja makan tidak tersedia makanan favoritnya.

“Kenapa tidak ada sarapan?”

Sisil mengernyit lalu memanggil pelayan rumah yang baru dipekerjakan.

“Mana sarapan aku?”

“Maaf Nona, Ibu Ranti bilang mulai hari ini semua orang makan yang sama.”

Sisil langsung menatap meja hanya ada nasi, telur, dan sayur sederhana tidak ada jus mahal. Tidak ada roti impor. Tidak ada makanan khusus kesukaannya.

“Mama mana?”

“Ibu Ranti sudah berangkat kerja.”

Sisil menggigit bibirnya perasaan tidak nyaman kembali muncul.

Hari-hari berikutnya semakin aneh.

Kartu belanja Sisil dibatasi, mobil pribadinya ditarik, uang bulanannya dipotong drastis. Bahkan Ranti mulai memindahkan barang-barang mewah dari kamar Sisil satu per satu ke kamar lain.

Semua yang dilakukan Ranti tidak membuat Sisil sadar, malah Sisil dengan beraninya marah dengan Ranti.

“Mama!” bentak Sisil panik. “Kenapa barang aku dibawa?”

Ranti menatapnya datar.

“Yang pertama berhenti panggil saya mama, mulai sekarang kamu panggil aku aunty … paham?” Sisil menelan ludah, ia semakin khawatir sekarang.

“Ok, aku akan panggil mama dengan sebutan aunty.” Sisil sama sekali tidak perduli dengan panggilan, yang ia perdulikan barang-barang mewahnya yang sudah pindahkan dan juga uang.

“Yang kedua, semua barang-barang Itu dibeli pakai uang keluarga Wiratmaja.”

“Terus kenapa?”

“Karena mulai sekarang kamu harus belajar hidup sesuai kemampuan kamu.”

Deg.

Kalimat itu membuat wajah Sisil memucat.

“Aunty marah soal kejadian dulu?”

Ranti tersenyum tipis namun senyum itu tidak lagi hangat justru menakutkan bagi Sisil sekarang.

“Menurut kamu?” Tubuh Sisil langsung dingin.

Karena ini pertama kalinya ia melihat kebencian di mata Ranti.

“Seharusnya kamu senang karena tidak saya usir dari rumah ini, seharusnya kamu bersyukur karena saya tidak menghukum kamu atas kejadian yang mengakibatkan putra saya tiada.” Ucapnya tajam.

1
Adinda
kenapa gk lapor polisi
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!