NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK KEGELAPAN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 16: Jejak Kegelapan

Setetes demi setetes air kembang terakhir menetes dari ujung rambut Jaka yang basah kuyup. Hawa dingin yang tadinya menusuk hingga ke tulang sumsum perlahan berganti menjadi sensasi panas yang membakar tepat di area dadanya, seolah-olah ada segumpal bara api gaib yang baru saja ditanamkan paksa ke dalam jiwanya.

"Ritualnya sudah selesai... sekarang kenakan kembali pakaianmu, Nak," bisik Mbah Usman. Suaranya terdengar sangat lelah dan parau, sementara wajah keriputnya tampak jauh lebih pucat dari sebelumnya—seperti baru saja terkuras habis tenaganya.

Mendengar perintah itu, dengan tangan yang masih gemetaran hebat, Jaka buru-buru mengenakan kembali pakaiannya. Seiring dengan lembaran baju terakhir yang melekat di tubuhnya, getaran pada lantai tanah mendadak berhenti seketika. Api obor yang tadinya meliuk-liuk liar kini kembali tenang, menyisakan kepulan asap hitam pekat yang membumbung dan menggantung di udara, memenuhi ruangan dengan bau hangus yang aneh.

Setelah ritual terakhir selesai dilaksanakan, perubahan sikap Jaka terlihat begitu drastis. Jaka yang tadinya penakut dan dipenuhi keraguan kini mendadak tampak sangat percaya diri. Matanya memancarkan sorot dingin yang tak biasa. Dengan langkah mantap, ia dan Mbah Usman berjalan kembali ke ruang tengah, lalu duduk memutar di dekat altar.

"Bacakan ini setiap kamu hendak tidur. Setelah genap satu minggu dan wanita incaranmu datang padamu, kamu harus kembali ke sini untuk ritual penyempurnaan. Jangan lupa bawa ayam cemani sebagai syarat terakhir," seru Mbah Usman seraya menyodorkan secarik kertas yang terbungkus rapi dengan kain hitam.

Tanpa ragu sedikit pun, Jaka meraih kertas tersebut lalu mengantonginya di dalam jaket.

"Iya, Mbah, terima kasih. Tunggu sebentar, Mbah, aku panggil temanku dulu," ujar Jaka seraya bangkit berdiri, lalu melangkah ke luar gubuk untuk menemui Kiki.

Kreeek!

Tepat saat pintu kayu tua itu terbuka, Jaka melihat Kiki tengah duduk terpaku di bale-bale kayu dengan wajah pucat pasi akibat panik dan ketakutan.

Begitu mendengar derit pintu terbuka, Kiki bergegas menoleh lalu langsung menghampiri Jaka.

"J-Jak! Kamu tidak apa-apa?!" seru Kiki panik dengan mata mendelik liar menatap sahabatnya dari atas sampai bawah. "Tadi ada gempa bumi hebat banget! Aku teriak-teriak sampai tenggorokanku mau putus, kok kalian tidak dengar sih?!"

Jaka hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang asing—menanggapi kepanikan Kiki.

"Kamu ini ngomong apa sih? Ngaco aja, mana ada gempa bumi! Sudah, mana uang untuk Simbah? Urusanku di dalam sudah selesai," sahut Jaka santai.

Mendengar kata uang, Kiki kian panik. Jaringan pikirannya berputar cepat mencari alasan. Jika Jaka yang menyerahkan uang itu langsung kepada Mbah Usman, rencana busuknya mengantongi bagian terbesar pasti terbongkar.

"Oh... uang untuk Simbah ada! Biar aku saja yang kasih, Jak! Soal uang biar jadi urusanku," sahut Kiki sedikit terbata-bata berusaha menutupi gugupnya.

"Ya sudah, sana kasih ke Simbah," seru Jaka santai tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Ternyata, Kiki sudah menyiapkan uang lima ratus ribu rupiah di dalam amplop sejak dari rumah—jauh sebelum ia meminta uang jaminan dua juta rupiah kepada Jaka. Sedangkan sisa uang satu setengah juta rupiahnya kini tersimpan aman di dalam kantong jaketnya.

Kiki pun bergegas melangkah masuk ke dalam gubuk diikuti oleh Jaka. Setelah duduk berhadapan dengan Simbah, Kiki segera menyodorkan amplop putih tersebut. Jaka yang berdiri sedikit di belakang Kiki hanya melihat saat amplop itu berpindah tangan, tanpa curiga atau mengetahui berapa nominal sebenarnya di dalam amplop tersebut.

Mbah Usman hanya menyunggingkan senyum miring yang dingin melihat transaksi itu, tanpa ada niat untuk memprotes sedikit pun—seolah ia sudah tahu persis berapa yang seharusnya ia terima, dan memilih untuk diam.

"Sudah malam... pulanglah kalian," usir Mbah Usman pendek seraya menunjuk ke arah pintu keluar. "Ingat semua pesan Simbah, Jaka. Jangan sampai ada yang kamu lupakan."

Jaka hanya mengangguk kaku. "Iya, Mbah. Terima kasih."

"Kalau begitu kami permisi dulu, Mbah," timpal Kiki seraya terburu-buru bangkit berdiri.

Mereka berdua lantas melangkah menuju pintu utama untuk pulang, tanpa sekalipun menoleh kembali ke belakang.

Kiki dan Jaka pun kembali menembus rimbunnya rumpun bambu dan pekatnya malam yang kini hampir menjelang subuh. Kabut tipis mulai turun menyelimuti jalan setapak, dan suara ayam jantan yang pertama sesekali terdengar samar dari kejauhan, menandakan fajar tak lagi jauh. Di tengah perjalanan, Kiki sempat menangkap sesuatu yang asing dan aneh dari gerak-gerik sahabatnya itu.

"Jak! Tunggu! Sebenarnya apa saja yang sudah kamu lakukan di dalam sama Simbah?" tanya Kiki penasaran. "Kamu tidak macam-macam, kan?"

Mendengar pertanyaan itu, Jaka menghentikan langkahnya seketika lalu melirik Kiki dengan pandangan dingin.

"Sudah, kamu tidak perlu tahu soal itu. Oh iya, terima kasih ya, Ki, sudah mengantarkan aku ke tempat Simbah," sahut Jaka dengan nada suara yang teramat datar.

Mendengar jawaban dingin nan datar dari sahabatnya, Kiki hanya bisa terbengong-bengong seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ada rasa asing yang merayap di benaknya melihat perubahan drastis pada diri Jaka—seolah-olah sahabat yang selama ini ia kenal sudah tertinggal di dalam gubuk tua itu.

Mereka berdua pun kembali melanjutkan langkah, dan tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di tepi jalan tempat motor diparkirkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!