Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monisha Affan 16.
Jantung Mona rasanya baru saja merosot sampai ke dengkul.
Dua detik yang lalu, dia masih bisa bernapas lega setelah melewati razia kelengkapan atribut sekolah yang dipimpin langsung oleh Affan, dunia Mona serasa runtuh melihat apa yang terselip di balik buku paket Kimia tebalnya yang sedang dibawa oleh Bu Lastri.
Sebuah kertas HVS ukuran A4, terlipat menjadi empat, dengan kop resmi dari Kantor Urusan Agama.
Itu fotokopi surat nikah mereka.
Mona merutuki kebodohannya yang tiada tara. Semalam, Affan membawa Mona ke rumah orang tuanya untuk menyimpan semua berkas pernikahan.
Karena terburu-buru mengeluarkan semua dokumen dari tas malam tadi, lembaran itu malah terselip di buku sekolah.
Dan sekarang, buku itu sedang ditahan Bu Lastri karena Mona lupa mengerjakan tugas rumus hidrokarbon.
"Mona, ikut Ibu ke ruang guru sekarang. Bawa buku kamu," suara bariton dingin itu memecah kepanikan Mona.
Mona menoleh dengan patah-patah. Di ambang pintu kelas 12 A, Affan—sang Ketua OSIS sekaligus suaminya. Tatapan matanya yang tajam dan tajir itu menatap Mona tanpa emosi.
Di samping Affan, Bu Lastri tampak menyerahkan tumpukan buku tugas yang belum dinilai kepada Affan untuk dibantu dibawa ke ruang guru.
Gawat. Kertas itu ada di dalam salah satu buku itu! Mona membatin panik. Waduk keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Eh, Fan... biar saya— maksudnya, saya aja yang bawa bukunya ke ruang guru, Bu Lastri!" Mona langsung bangkit dari bangkunya, hampir menjatuhkan tempat pensilnya sendiri.
Bu Lastri mengerutkan kening, menatap Mona heran melalui kacamata minusnya. "Tumben kamu rajin, Mona? Biasanya kalau disuruh ke ruang guru alesannya sakit perut."
"Enganu, Bu... saya mau sekalian tobat dan nanya soal remedial," bohong Mona sambil meremas ujung rok abu-abunya. Matanya melirik tajam ke arah Affan, memberi kode darurat yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Kode yang berarti: 'Ada barang bahaya di situ!'
Affan yang menangkap sinyal kepanikan Mona yang tidak wajar langsung melirik tumpukan buku di tangannya.
Sebagai cowok dengan otak encer, dia tahu ada yang tidak beres. Namun, di depan Bu Lastri, Affan tetap harus menjaga citranya sebagai murid teladan yang kaku.
"Tidak usah, Mona. Tugas dari Bu Lastri sudah diserahkan ke saya untuk direkap nilainya. Kamu tetap di kelas dan kerjakan sanksi menulis rumus di buku tulis," ucap Affan formal, suaranya terdengar begitu menyebalkan di telinga Mona.
"Tapi Fan—"
"Ayo, Affan, kita ke ruang guru. Biarkan Mona menyelesaikan hukumannya," potong Bu Lastri tegas, lalu berjalan mendahului.
Affan berbalik, namun sebelum benar-benar melangkah, dia memberikan satu tatapan penuh arti pada Mona. Mona bersumpah, jika rahasia pernikahan paksa mereka terbongkar hari ini karena kecerobohannya, dia tidak akan siap menghadapi amukan masa satu sekolah—terutama untuk para fans fanatik Devan yang jumlahnya mirip penonton konser. Tapi cuma satu yang sangat nyebelin, Selly.
Mona tidak bisa duduk tenang. Di dalam kelas, kakinya terus menghentak-hentak lantai. Pikirannya sudah terbang ke ruang guru.
Bagaimana kalau Bu Lastri membuka buku Kimia itu? Bagaimana kalau kertas itu jatuh di koridor dan dipungut oleh mading sekolah?
Nikah muda karena wasiat kakek adalah satu hal, tapi dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat adalah bencana level akhir.
"Mon, lo kenapa sih? Kayak cacing kepanasan dari tadi," tanya Andin, yang sedang asyik memoles lip balm.
"Foto copy surat nikah ada di buku yang di bawa ke ruang guru" Bisik Mona, membuat Andin membelalak mata, ikutan panik.
"Seriusan!" Teriak Andin, membuat satu kelas sontak mendelik ke arahnya.
"Husss... Duh saya mules. Saya ke toilet bentar ya!" tanpa menunggu jawaban Andin, Mona langsung melesat keluar kelas.
Tujuannya bukan toilet, melainkan koridor ruang guru.
Mona berjalan mengendap-endap. Beruntung, saat ini jam pelajaran sedang berlangsung, sehingga koridor sepi. Dia mengintip melalui jendela kaca ruang guru yang buram.
Di dalam sana, Affan sedang duduk di meja kosong khusus OSIS, tepat di seberang meja Bu Lastri. Di hadapan cowok itu, tumpukan buku Kimia kelas mereka sudah terbuka. Jantung Mona berdegup dua kali lebih cepat saat melihat Affan mulai membuka buku satu per satu untuk mencatat nama murid yang mengumpulkan tugas.
Buku saya yang sampulnya ada stiker kucing... please jangan dibuka sekarang... doa Mona dalam hati sambil meremas tangannya.
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundak Mona dari belakang.
"Ngapain kamu ngintip-ngintip di sini? Mau nyontek jawaban ya?"
Mona tersentak kaget dan hampir berteriak. Saat menoleh, ternyata itu adalah Guntur, anggota seksi keamanan OSIS sekaligus sahabat dekat Affan yang terkenal paling hobi belajar di perpustakaan.
"Eh, Gu-guntur! Enggak, ini... saya cuma nungguin Bu Lastri," jawab Mona terbata-bata, mencoba bersikap kasual meski mukanya sudah sepucat kertas.
"Nunggu Bu Lastri atau nungguin Affan?" Guntur menyipitkan mata, tersenyum jahil. "Kalian berdua kan hobi banget berantem. Jangan-jangan kamu mau bales dendam gara-gara dirazia tadi pagi?"
"Ngaco kamu! Udah ah, saya balik ke kelas," Mona mencoba menghindar, namun Guntur justru berjalan menuju pintu ruang guru.
"Fan! Ini ada Mona nyariin kamu di luar!" panggil Guntur setengah berteriak begitu membuka pintu.
Sumpah, Mona rasanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Guntur sialan!
Di dalam ruangan, Affan mendongak kepala. Tangannya tepat berada di atas buku bersampul stiker kucing—buku milik Mona. Saat Affan menarik buku itu, lipatan kertas HVS putih di dalamnya bergeser dan jatuh tepat ke lantai di bawah meja.
Mata Mona membelalak. Kertas itu jatuh dengan posisi agak terbuka, memperlihatkan tulisan tebal berbunyi: KUTIPAN AKTA NIKAH.
Affan melihatnya. Sesaat, ekspresi tenang milik Ketua OSIS itu berubah tegang. Matanya melebar, namun dengan kecepatan refleks, Affan langsung menjatuhkan pulpennya sendiri ke lantai.
"Aduh, pulpen saya jatuh," ujar Affan dengan nada yang dibuat senatural mungkin.
Affan membungkuk di bawah meja. Dengan cepat, tangan kanannya memungut pulpen, sementara tangan kirinya menyambar kertas fotokopi surat nikah tersebut dan langsung meremasnya, lalu memasukkannya ke dalam saku celana abu-abunya dalam sekali gerakan.
Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari tiga detik. Bu Lastri yang sedang sibuk mengetik di laptop sama sekali tidak menyadari drama hidup dan mati tersebut.
Affan kembali menegakkan badannya, wajah nya sudah kembali sedingin es jika disekolah. Dia menatap Guntur, lalu melirik Mona yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan wajah syok.
"Ada apa, Mona? Kalau urusan tugas, temui saya nanti jam istirahat. Jangan mengganggu di ruang guru," ucap Affan dengan nada ketus yang amat meyakinkan. Ini hanya sandiwara mereka jika di sekolah.
Guntur menoleh ke Mona sambil mengangkat bahu. "Tuh, galak kan pawang sekolah. Udah, balik kelas sana Mon, sebelum kamu kena poin pelanggaran lagi."
Mona hanya bisa mengangguk kaku. "I-iya. Maaf mengganggu."
**
Saat bel istirahat berbunyi, Mona langsung berlari menuju ruang OSIS, tempat yang paling aman karena biasanya sepi di lima menit pertama istirahat. Benar saja, di dalam ruangan yang ber-AC itu, Affan sudah duduk menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran Ketua OSIS.
Mona langsung menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.
"Kamu gila ya?!" semprot Mona langsung tanpa basa-basi, menghampiri meja Affan dengan napas memburu.
Affan tidak langsung menjawab. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan gumpalan kertas HVS yang sudah agak lecek, lalu meletakkannya di atas meja kerja.
Cowok itu menatap Mona dengan pandangan menghakimi yang amat melelahkan.
"Harusnya saya yang tanya, kamu yang gila?" suara Afan terdengar rendah, namun penuh penekanan. "Mona, kalau kamu teledor kayak gini sekali lagi, reputasi saya hancur. Kamu tahu apa ini?" Affan mengetuk kertas itu dengan telunjuknya.
"Saya nggak sengaja! Tadi malam enggak kelihatan terselip!" Bela Mona, wajahnya memerah karena campur aduk antara malu, takut, dan kesal. "Lagian kamu ngapain juga pakai pamer sok disiplin di depan Bu Lastri? Kalau kamu kasih buku itu ke saya tadi di kelas, kejadiannya nggak bakal kayak gini!"
Affan menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak pening. Menghadapi cewek keras kepala yang statusnya adalah "musuh bebuyutan di sekolah" sekaligus "istri sah di rumah" benar-benar menguras energinya.
"Saya masih Ketua OSIS, Mona. Kalau saya kasih perlakuan khusus ke kamu di depan guru dan anak-anak, mereka bakal curiga," Affan bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Mona hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkel.
Aroma parfum maskulin khas Affan yang bercampur wangi detergen langsung menusuk indra penciuman Mona, membuat cewek itu refleks mundur selangkah hingga punggungnya membentur pintu.
Affan mengunci pergerakan Mona dengan menaruh satu tangannya di daun pintu, tepat di samping kepala Mona. "Dengerin saya. Mulai detik ini, periksa tas kamu tiga kali sebelum berangkat sekolah. Saya nggak mau status kita ketahuan cuma gara-gara kecerobohan konyol kamu. Paham?"
Mona menelan ludah berat. Menatap mata hitam pekat Affan dari jarak sedekat ini selalu berhasil membuat pasokan oksigen di sekitarnya menipis.
Ketegangan sisa hampir ketahuan tadi rupanya belum sepenuhnya hilang, berganti dengan ketegangan jenis baru yang membuat dadanya berdesir hebat.
"I-iya, paham. Lepas ah, sempit tau!" Mona mendorong dada Affan menjauh dengan sisa-sisa keberaniannya, lalu dengan cepat menyambar kertas nikah di meja dan memasukkannya ke dalam saku roknya sendiri.
Affan hanya mendengus pelan, kembali ke mejanya. "Sekarang keluar. Sebelum ada anak OSIS lain yang lihat lo di sini dan bikin gosip baru."
Mona menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Affan—sifat aslinya sebagai musuh bebuyutan kembali muncul setelah rasa takutnya mereda. "Dasar suami dan Ketos menyebalkan! Makasih bantuan daruratnya sayang!" Katanya sebelum memutar kunci pintu dan melesat keluar, meninggalkan Affan yang mengulum senyum yang tak pernah diperlihatkannya pada siapapun di sekolah itu.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan