NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 RAHASIA KELUARGA
Hujan yang mengguyur sejak siang tadi di kawasan pinggiran Yogyakarta akhirnya reda saat azan magrib berkumandang, menyisakan udara malam yang lembap dan dingin.
Aroma tanah basah yang terkena hujan menguar kuat, sesekali tersapu embusan angin malam yang menyusup masuk melalui celah ventilasi rumah keluarga Zaki.
Di ruang tengah yang biasanya terasa hangat, suasananya kini senyap dan tegang.
Televisi dibiarkan mati.
Zaki duduk di sofa tunggal sambil memijat pelipisnya yang berdenyut, sementara Nisa duduk di sebelahnya, matanya menerawang kosong ke arah pintu kamar Harumi yang tertutup rapat.
Sejak pulang dari rumah sakit tempo hari, Harumi semakin mengisolasi diri.
Harumi tidak keluar kamar, tidak bicara sepatah kata pun, dan hanya duduk meringkuk di sudut ruangan seakan takut pada bayangannya sendiri.
Di rumah sakit, Haruma juga masih berjuang memulihkan diri dari cedera fisik dan guncangan mental yang tak kalah hebat.
Sesekali, Zaki menatap wajah istrinya itu, begitu juga sebaliknya. Namun, belum ada obrolan apapun di antara mereka berdua. Seolah segala kengerian yang telah terjadi semenjak peristiwa di pelataran Candi Prambanan itu telah mengambil alih kehangatan di rumah Zaki dan Nisa.
Keheningan rumah itu tiba-tiba dipecah oleh suara mesin mobil diesel yang menderu memasuki pelataran rumah, disusul oleh sinar lampu depan yang menyapu kaca jendela ruang tamu.
Zaki dan Nisa saling berpandangan kesekian kalinya dengan kening berkerut. Karena mereka berdua juga tidak sedang menunggu tamu, dan sebagian besar tetangga sudah tahu bahwa keluarga ini sedang tidak ingin diganggu.
Zaki beranjak dari sofa, berjalan menuju pintu depan, lalu membukanya.
Di teras rumah yang remang-remang, sudah berdiri sesosok pria tua berusia akhir tujuh puluhan yang turun dari mobil itu. Postur tubuhnya masih tegap meski dibalut kemeja flanel sederhana dan peci hitam usang. Wajahnya yang keriput memancarkan ketegasan sekaligus kebijaksanaan yang dalam. Di tangannya, ia menenteng sebuah tas kain berisi beberapa helai pakaian.
Napas Zaki seketika tercekat saat menyadari siapa sosok yang datang ke rumahnya ini.
"Loh? Bapak?" ucap Zaki.
Nisa, yang mendengar suara suaminya, langsung berlari ke pintu depan.
Matanya membelalak tak percaya. Nisa kini melihat Bapaknya sendiri sudah datang ke rumahnya.
"Bapak??? Ya Allah, Bapak jauh-jauh dari Bogor ke sini sendirian??? Kenapa tidak mengabari kami dulu, Pak??? Biar kami jemput..." ucap Nisa sambil menghambur ke dalam pelukan Bapaknya itu.
Pak Rusdi—kakek angkat dari Haruma dan Harumi, sekaligus ayah kandung Nisa—tersenyum tipis. Matanya yang tajam menatap wajah putrinya yang kuyu dan sembap.
"Kalau Bapak ngabari dulu, kalian pasti ngelarang Bapak ke sini dengan alasan nggak mau ngerepotin orang tua. Kamu pikir Bapak bisa tenang duduk diam di rumah setelah dengar kabar cucu-cucu Bapak di rumah sakit dan dituduh menusuk saudaranya sendiri?" ucap Pak Rusdi.
Nisa langsung memeluk lebih erat tubuh ayahnya, menangis tersedu-sedu menumpahkan segala kepenatan dan ketakutan yang ia pendam selama ini.
Zaki dengan sigap mengambil tas kain dari tangan mertuanya, lalu menuntun pria tua itu masuk ke dalam ruang tamu dan mempersilakannya duduk.
Setelah Nisa membuatkan secangkir teh panas untuk ayahnya dan menyuguhkan beberapa piring camilan yang tak tersentuh, mereka bertiga duduk di ruang tengah. Pak Rusdi menghela napas panjang, menyesap tehnya pelan, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja.
Suasana di antara mereka berubah menjadi sangat serius.
"Gimana keadaan Haruma sekarang, Zak?" tanya Pak Rusdi dengan suara berat khas orang tua.
"Alhamdulillah, Pak, masa kritisnya sudah lewat. Luka operasinya juga mulai mengering perlahan-lahan," jawab Zaki sambil menunduk. "Tapi... sorot matanya kosong, Pak. Dokter bilang itu trauma pasca-operasi, tapi saya dan Nisa merasa... dia seperti melihat sesuatu yang tidak bisa kami lihat."
Pak Rusdi mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu. "Lalu... Harumi? Gimana, Nis?"
Nisa kemudian menatap pintu kamar putrinya dengan mata berkaca-kaca. Dan kembali menatap wajah sang Ayah.
"Harumi ada di kamarnya, Pak. Dia menolak keluar. Menolak bicara. Polisi memberinya bebas bersyarat, tapi raganya seperti masih terkurung di sel itu, Pak. Setiap malam dia terbangun sambil menjerit-jerit ketakutan, bilang kalau ada perempuan bergaun merah yang mencekiknya dan mengancam akan membunuh Haruma." jelas Nisa.
Mendengar penuturan putrinya, raut wajah Pak Rusdi tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Tidak ada raut tak percaya atau sanggahan logis seperti yang biasa ditunjukkan oleh orang tua saat mendengar hal-hal mistis. Alih-alih, wajah pria tua itu berubah menjadi sangat suram dan dipenuhi penyesalan yang mendalam. Ia mengusap wajahnya yang keriput dengan kedua tangannya.
"Ini salah Bapak..." gumam Pak Rusdi dengan suara bergetar, pandangannya jatuh ke lantai. "Seharusnya Bapak ceritakan kebenaran ini sejak lama. Seharusnya Bapak tidak membiarkan kalian membesarkan mereka tanpa tahu bahaya apa yang mengintai di dalam darah mereka."
Zaki dan Nisa saling menatap dengan penuh tanda tanya.
"Maksud Bapak apa? Rahasia apa, Pak?" desak Zaki.
Pak Rusdi menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk membongkar sebuah kotak rahasia masa lalu yang telah ia kunci rapat-rapat selama lebih dari dua dekade.
"Nisa, Zaki... kalian mengadopsi Haruma dan Harumi saat mereka masih bayi merah berumur satu bulan dari sebuah panti asuhan di desa terpencil di kaki Gunung Salak. Apakah kalian masih ingat apa yang pengurus panti itu katakan tentang orang tua kandung mereka?" tanya Pak Rusdi.
Nisa mengangguk pelan. "Ibu panti bilang orang tua kandung si kembar meninggal dalam kecelakaan tragis saat ibu mereka baru saja selesai melahirkan. Tidak ada keluarga lain yang mau menampung mereka."
"Itu hanya sebagian kecil dari kebenarannya," potong Pak Rusdi, suaranya berubah menjadi sangat dingin. "Bapak sengaja mencari tahu latar belakang keluarga kandung mereka secara diam-diam beberapa tahun setelah kalian mengadopsi mereka, karena Bapak merasakan ada keanehan."
"Keanehan apa, Pak?" tanya Zaki cepat.
"Saat Haruma dan Harumi balita, setiap kali Bapak menginap di sini, Bapak sering melihat ada bayangan hitam yang mengelilingi boks bayi mereka saat tengah malam," mata Pak Rusdi menerawang, membayangkan kembali memori yang meresahkan itu. "Awalnya Bapak pikir itu hanya halusinasi orang tua. Tapi bayangan itu terlalu nyata. Dan setiap malam Jumat Kliwon, Bapak selalu mencium aroma melati bercampur kemenyan dari dalam kamar mereka."
Nisa terkesiap. Tangannya refleks menutup mulutnya. Aroma itu persis seperti yang Harumi ceritakan!
"Dari penelusuran Bapak di desa asli mereka," lanjut Pak Rusdi, matanya kini menatap lurus ke arah Zaki dan Nisa. "Orang tua kandung Haruma dan Harumi tidak meninggal karena kecelakaan biasa. Mereka meninggal secara tidak wajar. Keluarga kandung mereka adalah keturunan penganut sebuah kepercayaan aliran tua yang sudah lama punah di tanah Jawa."
Suasana ruang tamu itu terasa semakin pekat. Udara dingin dari luar seakan menyusup masuk dan merayapi kulit Zaki dan Nisa.
"Dan yang lebih penting..." Pak Rusdi mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya diturunkan menjadi bisikan yang sarat akan kengerian. "Haruma dan Harumi bukanlah anak kembar biasa. Mereka terlahir dengan membawa sebuah kelebihan spiritual yang sangat langka dan berbahaya. Di dunia supranatural, kondisi mereka dikenal dengan sebutan Tulang Wangi atau Darah Manis tingkat tinggi."
"Tulang wangi? Maksudnya mereka bisa melihat makhluk halus?" sela Nisa, kebingungan dan ketakutan mulai bercampur aduk.
"Lebih dari sekadar melihat, Nisa," Pak Rusdi menggeleng tegas. "Orang dengan tulang wangi biasa mungkin hanya sensitif terhadap kehadiran bangsa lelembut, bisa melihat atau mendengar mereka. Tapi Haruma dan Harumi terlahir kembar, dan ini melipatgandakan energi mereka. Darah dan energi batin mereka memancarkan 'aroma' yang sangat memabukkan bagi entitas gaib."
Pak Rusdi menunjuk ke arah kamar Harumi dengan telunjuk yang gemetar. "Bagi iblis, jin, dan makhluk halus penguasa kegelapan... anak-anak dengan tulang wangi kembar seperti mereka ibarat lentera terang di tengah kegelapan malam. Mereka adalah suar penarik bahaya. Dan yang paling mengerikan... tubuh mereka adalah wadah kosong yang paling sempurna untuk dirasuki oleh entitas yang memiliki dendam kuat."
Zaki menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Penjelasan mertuanya itu seperti menyambung kepingan puzzle yang dibawa oleh Yuda dan Dion.
Tragedi panggung itu, perubahan mata Harumi yang seketika menjadi hitam pekat, dan tenaga tidak masuk akal yang dimiliki Harumi di rumah sakit... semuanya berakar dari darah tulang wangi ini.
"Kenapa... kenapa Bapak tidak pernah memberitahu kami soal ini sebelumnya?" tanya Zaki dengan suara setengah tertahan, antara kecewa dan putus asa.
"Karena Bapak berharap, dengan kasih sayang kalian yang tulus, dengan ajaran agama dan perlindungan rumah yang bersih dari hal-hal gaib, kelebihan itu akan tertutup dengan sendirinya," jawab Pak Rusdi dengan raut penyesalan yang sangat dalam. "Selama hampir dua puluh tahun, mereka tumbuh menjadi anak yang ceria dan normal, kan? Tidak ada kejadian aneh yang membahayakan nyawa mereka. Bapak pikir, doa kita berhasil menyegel tulang wangi itu."
Pak Rusdi menghela napas panjang yang terdengar seperti erangan rasa sakit.
"Tapi Bapak salah besar. Kalian membiarkan mereka ikut teater itu. Kalian mengizinkan mereka pergi ke Candi Prambanan... dan terlebih lagi, memainkan lakon Roro Jonggrang di malam bulan purnama."
"Bapak tahu soal mitos lakon itu?" Zaki tersentak.
"Siapa pun tetua Jawa yang paham soal keseimbangan alam pasti tahu, Zak," jawab Pak Rusdi dingin. "Candi Prambanan itu bukan sekadar tumpukan batu mati. Itu adalah monumen dendam ribuan tahun. Di bawah tanahnya, terkubur ribuan entitas lelembut pekerja dan jiwa Panglima Jin pelindung sang putri yang ikut tersegel saat kutukan batu itu jatuh."
Bulu kuduk Nisa meremang hebat. Ia memeluk lengannya sendiri, membayangkan putrinya berdiri di atas pusat kutukan itu sambil mengucapkan kalimat terlarang.
"Dengan membaca dialog kutukan itu di area candi, mereka pada dasarnya membuka segel yang mengunci dimensi itu," jelas Pak Rusdi, matanya kini memancarkan teror yang menular. "Dan bayangkan... sebuah segel purba terbuka, dan hal pertama yang 'dicium' oleh iblis kuno yang baru terbangun itu adalah 'aroma' darah tulang wangi tingkat tinggi dari dua gadis kembar di atas panggung. Itu ibarat menyajikan hidangan paling lezat di depan makhluk buas yang sudah kelaparan selama ribuan tahun!"
"Ya Allah... astaghfirullah..." Nisa meracau, air matanya kembali tumpah. "Jadi makhluk bergaun merah yang merasuki Rumi... makhluk yang mencekiknya semalam di kamar itu... dia iblis dari candi itu, Pak? Dan dia ikut pulang ke rumah ini?"
Pak Rusdi mengangguk lambat. "Iblis itu telah menetapkan targetnya. Dia menggunakan Harumi sebagai alat, dan dia menargetkan Haruma karena dia tahu, jiwa Haruma sempat terlempar ke dimensinya. Selama kutukan ini belum diputus, iblis itu tidak akan pernah berhenti memburu mereka, di mana pun kalian sembunyi."
Hening.
Ruang tamu itu terasa seperti kuburan yang pengap.
Zaki mengepalkan tangannya kuat-kuat, meremas ujung kemejanya. Logika rasional yang selama ini ia pegang teguh telah hancur sepenuhnya. Ia tidak bisa melawan iblis menggunakan pengacara atau pihak kepolisian. Uang dan koneksinya tak ada harganya di hadapan kutukan berusia ribuan tahun.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?" Zaki akhirnya bertanya, suaranya parau oleh keputusasaan seorang ayah yang kehabisan akal. "Bagaimana cara kita menyelamatkan mereka? Apa kita harus memanggil ustad atau kiai untuk mengusir setan di rumah ini?"
Pak Rusdi menggeleng dengan sorot mata suram. "Ini bukan kerasukan jin biasa yang bisa disembuhkan dengan ruqyah atau doa pengusiran biasa, Zak. Yang menempel pada darah mereka adalah kutukan purba, sihir hitam kuno yang levelnya jauh di atas pemahaman manusia biasa. Kekuatannya berakar langsung pada karma pembuatan Candi Prambanan itu sendiri."
Pria tua itu kemudian mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Zaki dan Nisa secara bergantian.
"Untuk memutuskan kutukan berdarah ini... kalian hanya punya dua pilihan," ucap Pak Rusdi dengan nada yang sangat pelan, namun setiap suku katanya terdengar bagai palu godam yang menghantam dada mereka.
"Apa, Pak? Apapun itu, akan saya lakukan demi anak-anak saya!" tegas Zaki tanpa ragu.
"Pilihan pertama..." suara Pak Rusdi bergetar. "Menyerahkan nyawa Haruma sebagai tumbal untuk menghentikan murka iblis itu, dan berharap dia melepaskan Harumi setelahnya."
"TIDAK! JANGAN PERNAH KATAKAN ITU, PAK!" Nisa menjerit histeris, menutupi telinganya. "Lebih baik ambil nyawa Nisa saja!"
Zaki mengusap punggung istrinya dengan cepat, rahangnya mengeras. "Itu tidak akan pernah terjadi, Pak. Haruma tidak akan mati untuk iblis itu. Sebutkan pilihan kedua!"
Pak Rusdi menelan ludah, wajah keriputnya tampak semakin menua di bawah cahaya lampu ruang tamu. Ia menatap Zaki dengan sorot mata yang menyiratkan keputusasaan sekaligus kengerian dari informasi yang pernah ia dapatkan dari seorang kiai sepuh puluhan tahun lalu.
"Pilihan kedua..." bisik Pak Rusdi perlahan, mengulang kembali kalimat yang sama persis dengan yang ditemukan Yuda dan Dion dari Ningsih di desa Giriloyo pagi tadi.
"Kalian harus mencari orang yang mewarisi darah 'Bandung Bondowoso'... darah Sang Pembuat Candi."
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda