NovelToon NovelToon
Pernikahan Bisnis

Pernikahan Bisnis

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Sudah Tamat.

Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Satu bulan melaju cepat, membawa perkembangan yang makin nyata pada kandungan sang permaisuri. Di usia kehamilan yang kini menginjak lima bulan, perut Lilianne sudah membuncit anggun dengan sangat jelas. Garis tubuh mewahnya kini dipenuhi aura maternal yang teramat memikat. Untuk menjaga kebugaran fisik dan ketenangan jiwa Lilianne dari hiruk-pikuk jadwal kantor serta protokoler kaku mansion utama, Arya mengambil keputusan mutlak: memboyong istri cantiknya untuk menikmati udara segar di villa privat klan Soerjoatmodjo yang terisolasi di kawasan pegunungan sejuk.

Villa megah berarsitektur gabungan kayu jati kuno dan kaca modern itu berdiri anggun di atas puncak bukit, dikelilingi kabut tipis dan pemandangan pinus yang membentang hijau. Di tempat ini, tak ada hiruk-pikuk dunia bisnis. Arya Sena—Presdir dingin yang biasa memutus nasib investasi triliunan rupiah—menanggalkan seluruh keangkuhannya dan menjelma menjadi sosok suami yang teramat manja, posesif, dan menempel pada Lilianne tanpa tahu waktu.

Malam itu, hawa dingin pegunungan menembus dinding kaca luar, namun di dalam kamar utama villa, kehangatan membungkus rapat. Perapian batu alam menyala lembut, memancarkan pendar keemasan yang menimpa ranjang king size berbalut seprai sutra.

Lilianne terduduk anggun di atas tempat tidur, bersandar pada tumpukan bantal empuk. Ia mengenakan gaun tidur bahan sutra melayang berwarna champagne pink yang longgar, memperlihatkan lengkung perutnya yang makin berisi tempat dua buah hatinya tumbuh. Jemari lentiknya dipijat lembut oleh Arya yang berlutut pasrah di tepi ranjang, hanya mengenakan kaus katun putih tipis dan celana santai.

"Masih pegal, Sayang?" bisik Arya rendah, menengadahkan kepalanya. Netra kelam sang Presdir menatap Lilianne dengan pendar pemujaan murni. Tangannya yang hangat mengusap pelan betis mulus Lilianne dengan kehati-hatian tertinggi.

Lilianne menyunggingkan senyuman tipis, binar mata hijaunya berkilat jahil saat teringat ide usil yang muncul di kepalanya sejak sore tadi. Mengingat betapa patuh dan tunduknya suaminya beberapa minggu terakhir, Lilianne ingin menguji sejauh mana batas kesabaran dan kepatuhan Arya demi menuruti keinginan sang permaisuri.

Lilianne memegang perutnya yang membuncit halus, menghembuskan napas panjang dengan raut wajah mengerucut sebal. "Mas Arya..."

Arya seketika menghentikan pijatannya. Pria jangkung itu memajukan tubuhnya, membelalak cemas. "Ya, Bunga Liliku? Ada apa? Perutmu sakit? Atau anak-anak kita menendang terlalu kencang?"

"Bukan..." cicit Lilianne pelan, suaranya dibuat serak dan merajuk manis. "Aku... aku mendadak lapar sekali. Anak-anakmu minta makan."

Arya tersenyum lega, mengusap lembut perut membuncit istrinya. "Katakan, Sayang. Kamu mau makan apa? Saya minta chef pribadi villa menyiapkan hidangan terbaik detik ini juga."

Lilianne menggeleng cepat, melipat tangannya di dada. "Tidak mau makanan chef. Aku mau buah kecapi segar yang dipetik langsung dari pohonnya, pakai bumbu rujak gula merah yang diulek kasar. Dan aku mau Mas Arya sendiri yang memetik dan membuatnya."

Arya terpaku sejenak. Alis tegasnya bertaut halus. Jarum jam di dinding sudah menunjuk angka satu dini hari, di tengah kawasan pegunungan yang dingin dan sepi. "Buah kecapi? Jam satu malam di tengah bukit seperti ini, Lilianne?"

"Kenapa? Mas Arya tidak mau?" potong Lilianne cepat, matanya mendadak berkaca-kaca dibuat-buat, memalingkan wajahnya dengan angkuh. "Ya sudah kalau tidak mau. Kasihan sekali anak-anak kita, punya ayah Presdir kaya raya tapi cari buah sederhana saja tidak sanggup. Biar aku tahan lapar saja sampai pagi."

Melihat gumpalan air mata di sudut mata permaisurinya dan mendengar tuduhan memilukan itu, benteng pertahanan Arya seketika hancur berkeping-keping. Pria dominan itu langsung panik luar biasa.

"Tidak, tidak! Jangan menangis, Sayang, demi Tuhan!" seru Arya serak, merangkuk kedua jemari Lilianne dan menciuminya panik. "Saya cari sekarang. Apapun yang kamu mau, detik ini juga saya bawakan. Tolong jangan menangis, ya?"

Tanpa membuang waktu, sang Presdir langsung berdiri, menyambar jaket tebalnya, lalu memerintahkan seluruh tim pengawal pribadi villa untuk menyisir kawasan perkebunan warga di bawah lereng gunung tengah malam itu juga.

Dua jam berlalu. Lilianne yang sebenarnya hampir tertidur di atas ranjang mendadak tersentak saat pintu kamar terdorong pelan.

Arya melangkah masuk dengan napas sedikit terengah. Ujung rambut hitamnya sedikit basah oleh embun malam, dan bajunya membawa aroma hawa dingin luar. Namun, di dalam genggaman tangannya yang tegap, berdiri sebuah piring porselen berisi irisan buah kecapi segar lengkap dengan ulekan bumbu rujak manis pedas yang aromanya menusuk indra penciuman.

Arya berlutut di samping ranjang, menyerahkan piring itu dengan senyuman miring nan tampan meski wajahnya memancarkan keletihan.

"Perintahmu sudah dilaksanakan, Permaisuriku," bisik Arya rendah, matanya menatap Lilianne penuh kemenangan manis. "Dua perkebunan warga saya sewa malam ini juga demi mendapatkan buah ini untukmu dan anak-anak kita."

Lilianne terpaku, membelalak tak percaya tatkala melihat buah itu benar-benar ada di hadapannya. Rasa bersalah bertabrakan dengan gelombang haru yang dahsyat di dadanya. Putri bangsawan itu menyuap satu irisan buah segar tersebut, mengunyahnya pelan seraya menatap suaminya yang rela mengelilingi gunung tengah malam demi keinginannya.

"Bagaimana? Enak, Sayang?" tanya Arya lembut, jemari tegapnya mengusap sudut bibir Lilianne yang terkena sisa bumbu.

"E-enak..." sahut Lilianne pelan, menundukkan wajahnya yang mulai merona hangat. "Maafkan aku, Mas Arya... Aku sebenarnya cuma bercanda dan mau mengujimu..."

Arya terkekeh halus—sebuah tawa bariton yang teramat renyah dan hangat. Pria itu menyingkirkan piring rujak yang sudah usai dinikmati ke meja samping tempat tidur, lalu memajukan tubuh tegapnya mengungkung Lilianne di atas ranjang.

Namun, saat Lilianne menengadah, tatapan mata Arya telah berubah sepenuhnya. Binar lelah di netra kelam itu sirna, berganti menjadi pendar intensitas mendalam, sarat akan kerinduan yang ditahan dan hasrat emosional yang telah membendung selama bertiga bulan terakhir.

Arya menatap lurus ke dalam manik mata hijau istrinya, lalu pandangannya turun ke bibir merona Lilianne yang masih basah. Pria itu meraih jemari lentik Lilianne, membawa telapak tangan istrinya untuk menyentuh rahang tegasnya yang hangat.

"Saya sudah menuruti seluruh perintah dan keinginanmu malam ini, Lilianne..." bisik Arya dengan suara bariton yang amat serak, bergetar dipenuhi ketegangan yang tertahan. "Sekarang... bolehkah saya meminta hak saya kembali sebagai suamimu?"

Tubuh Lilianne seketika membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan saat menangkap maksud tersirat dari ucapan Arya. Ingatannya melayang pada malam kelam berbulan-bulan lalu—malam pertama mereka yang dipicu oleh pengaruh racun perangsang di bawah keheningan dingin. Sejak malam itu hingga detik ini, Arya sama sekali tidak pernah menyentuh Lilianne secara intim karena rasa bersalah dan proteksinya atas kehamilan sang istri.

"M-Mas Arya..." cicit Lilianne terbata, wajah mewahnya memerah panas hingga ke ceruk leher. "Tapi... tapi aku sedang hamil... Perutku sudah membesar begini..."

"Saya sudah berkonsultasi dengan dr. Aris, Bunga Liliku," pangkas Arya lembut, jemari hangatnya merayap membelai pinggang ramping Lilianne yang kian berisi, lalu menangkup lembut perut membuncit istrinya dengan kehati-hatian tertinggi. "Kandunganmu sudah sangat kuat di trimester kedua ini. Saya berjanji akan teramat sangat pelan dan hati-hati... Saya hanya merindukanmu, Lilianne. Saya merindukan permaisuriku utuh luar dan dalam."

Fajar mulai menyingsing halus di balik bukit pegunungan, namun kehangatan di kamar utama villa masih membara pekat. Di atas ranjang king size berbalut seprai sutra yang telah berantakan, dua insan itu melarutkan diri dalam lautan gairah dan keharuan yang tak bertepi.

Arya bergerak dengan kehati-hatian tertinggi, menjaga perut membuncit Lilianne agar tetap aman di setiap ketukan ritmenya. Tatkala tubuh mereka menyatu dalam posisi telentang yang lembut, Arya menopang berat badannya sendiri menggunakan kedua lengan tegapnya, menatap lurus ke dalam netra hijau istrinya yang berkilat sayu.

"Ahhh... M-Mas Arya... n-nghh!" desah Lilianne melengking halus, jemari lentiknya mencengkeram bahu tegap Arya saat sensasi hangat dan penuh itu menusuk hingga ke dasar jiwanya.

"Hahhh... Lilianne... Bunga Liliku..." erang Arya serak, dadanya naik turun memburu. Suara bariton sang Presdir bergetar hebat, meluapkan desahan kenikmatan yang selama berbulan-bulan ini ia tahan. "Nikmat sekali, Sayang... Kamu teramat sempit dan hangat..."

"Nghh... p-pelan... ahh! Mas... lebih dalam..." rintih Lilianne seraya mendongakkan leher mulusnya, membiarkan Arya menyesap ceruk lehernya hingga erangan manja keduanya bersatu membelah keheningan malam.

Tak ingin membuat Lilianne kelelahan, Arya dengan teramat telaten mengubah posisi mereka. Ia membimbing tubuh ramping istrinya miring membelakanginya, menyangga perut membuncit Lilianne dengan tumpuan bantal empuk. Dari posisi miring yang protektif itu, Arya kembali merangsek masuk, menempelkan dada tegapnya rapat-rapat di punggung mulus Lilianne.

"A-ahhh! Mas Arya... hhnggh! Di... di situ... ah!" jerit Lilianne pelan tatkala guncangan dari belakang menghantam titik sensitifnya secara presisi.

"Ssshh... yes, Sayang... hhh! Terus desahkan nama saya..." bisik Arya ketagihan, napas panasnya berembus kasar di telinga Lilianne seraya tangannya yang tegap menangkup dan mengelus lembut perut membuncit sang permaisuri.

Gejolak gairah yang kian memuncak membuat mereka tak puas hanya di satu sudut kasur. Arya membopong tubuh lemas Lilianne secara perlahan menuju tepi ranjang. Ia mendudukkan permaisurinya di tepi kasur, sementara Arya sendiri berlutut di atas marmer tebal berbalut karpet bulu. Dengan posisi Lilianne yang sedikit bersandar pada tumpukan bantal, penyatuan di tepi ranjang itu terasa makin dalam dan intens.

"M-Mas... ahh! A-aku... tidak kuat... ngghh!" desah Lilianne tersengal-sengal, matanya berkaca-kaca ditelan kenikmatan dahsyat yang menghantam saraf-saraf tubuhnya.

"Tahan, Bunga Liliku... hhh! Sedikit lagi... ahh!" erang Arya parau, rahang tegasnya menegang hebat dengan peluh halus membasahi pelipisnya tatkala ia memompa dengan ritme yang makin cepat namun tetap terkendali.

Hingga pada puncaknya, dengan ketelitian ekstra untuk memanjakan istrinya dari sudut berbeda, Arya membimbing Lilianne berposisi menungging lembut (pregnant doggy style)—bertumpu pada kedua siku dan lututnya di atas kasur, sementara bagian perutnya tersangga aman oleh tumpukan bantal empuk.

Dari posisi anggun itu, Arya merasuk kembali dengan cengkeraman posesif pada pinggul berisi istrinya. Penyatuan dari arah belakang dalam posisi ini memberikan sensasi pekat yang membakar habis sisa akal sehat mereka.

"Ahhh! Mas Arya! N-nghhh... pelan! Hhnggh!" jerit Lilianne terengah-engah, helai rambut blonde emasnya terurai acak di atas bantal saat gesekan nikmat itu menghentak tubuhnya berturut-turut.

"Lilianne... hahh! Kamu milik saya... utuh milik saya!" erang Arya melengking rendah, menyalurkan seluruh pemujaan dan cintanya dalam setiap dorongan yang makin dalam. "Ahh... Lilianne...!"

Puncak kehangatan itu akhirnya meledak bersamaan tatkala pelepasan dahsyat menghantam tubuh keduanya. Lilianne menjerit halus seraya mencengkeram seprai sutra, sementara Arya mengerang serak di punggung istrinya, menyalurkan seluruh benih kehangatan dan cintanya di dalam rahim sang permaisuri.

Keduanya terkulai lemas dalam dekapan hangat yang tak terpisahkan. Arya merengkuh Lilianne kembali ke dalam bopongan dadanya, membenamkan kecupan-kecupan penuh rasa syukur di kening, pipi, dan perut membuncit istrinya hingga mereka berdua tertidur lelap menyambut fajar yang sempurna.

BERSAMBUNG...

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
falea sezi
gk ada kisah Livia apa thor🤣 pasti seru nih Arya klo anak nya di taksir cowok🤭
MayAyunda
awal aja sudah bagus banget .lanjut tor
Mita Paramita
happy wedding happy wedding 😍😍😍 akhir cerita yang bagus dan bahagia
Mita Paramita
istri nya terlalu cantik jadi tiap ngeliat istrinya mau naninu terus 🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
puji Tuhan, happy end, ceritanya bagus dan ga bertele-tele 😄🙏
Ariany Sudjana
tahan diri dulu ya pa Presdir 😄🤣
Anonim
crazy up thor
Ariany Sudjana
harusnya Lilianne jujur sama Arya kalau fisiknya tidak mendukung, masih lemah. kalau dipaksa terus, Lilianne tumbang
Mita Paramita
😍😍😍
Anonim
oke
Ariany Sudjana
betul sekali nasehat ibumu itu Lilianne, Arya itu konglomerat, banyak pelacur murahan yang mengincar, jangan sampai rumah tangga kamu hancur karena kehadiran pelacur murahan
Heresnanaa_: siapp, lili akan jadi lebih baik lagi😂😚
total 1 replies
Anonim
crazy up thor
Heresnanaa_: ❤️ hehe
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Arya jadi suami siaga 😍😍😍
Helen@Ellen@Len'z
up byk ya 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪thor 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Anonim
crazy up thor
falea sezi
sesuai janji q kirim bunga tuh🤭 lanjut banyakkk Thor
Heresnanaa_: wahhh, terimakasih Kaka, stay tune ya 🥹😚
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
Heresnanaa_: wahhh, maaciw kakak, stay tune ya beb🙏😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!