Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Ditengah Tekanan
Keesokan harinya, hari yang telah ditentukan untuk pertemuan bisnis Rania dan Brian akhirnya tiba.
Pagi itu, Rania sedang bersiap di dalam kamarnya.
Daffa berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan wanita itu.
"Rania." Panggil Daffa.
"Hm?"
"Di mana pertemuan bisnismu hari ini?" Tanya Daffa.
Rania masih sibuk merapikan beberapa dokumen ke dalam tasnya. "Fokus saja pada urusan keluargamu, Daffa."
Daffa menghela napas. "Rania..."
"Ingat pesan Ayah," potong Rania. "Jangan menggangguku lagi."
Daffa terdiam beberapa saat. "Aku hanya ingin memastikan lokasi pertemuanmu aman."
Rania akhirnya menoleh. "Aman?"
Daffa mengangguk. "Aku tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi. Aku hanya ingin memastikan kali ini kau jauh dari media."
Rania tersenyum tipis. "Aku bisa menghadapinya, Daffa." Ia mengangkat bahu. "Mereka hanya menyerangku dengan pertanyaan." Rania menatapnya. "Bukan dengan pisau tajam yang bisa langsung membunuhku."
Daffa mengernyit. "Jangan bercanda seperti itu."
"Aku tidak bercanda," jawab Rania.
Suara Daffa tiba-tiba terdengar lebih dalam. "Aku mengkhawatirkanmu."
Rania terdiam.
"Bukan hanya kondisi fisikmu." Daffa melangkah mendekat. "Aku juga mengkhawatirkan mentalmu."
Rania mengerutkan kening. "Aku baik-baik saja."
"Aku tahu kau terbangun tadi malam," ucap Daffa.
Rania langsung membeku.
Daffa menatapnya lekat. "Kau bahkan sempat memanggil nama seseorang dalam tidurmu."
Rania menelan ludah, ia tidak menjawab.
Daffa kemudian memperhatikan Rania dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria itu melangkah semakin dekat.
Tangannya terangkat dan mengapit dagu Rania, membuat wanita itu menatapnya. "Jangan terlalu banyak mengaturku, Rania."
Tatapan Rania berubah.
Daffa tersenyum tipis. "Persiapkan saja dirimu." Ia melepaskan dagunya. "Untuk menjadi Nyonya Anggara."
Rania terdiam.
Daffa kemudian berbalik dan meninggalkan kamar. Langkahnya terdengar semakin jauh.
Klik! Pintu tertutup.
Daffa masuk ke ruang kerjanya. Ia berjalan menuju meja, lalu duduk.
Beberapa detik pria itu hanya diam. Kemudian tangannya membuka laci meja. Sebuah botol kecil berada di sana.
Daffa mengambilnya, tatapannya jatuh pada botol tersebut.
Obat penggugur kandungan.
Jemarinya menggenggam botol itu erat. "Hanya dengan cara ini..." Daffa menundukkan kepalanya. "Aku bisa menghentikan pikiran Rania yang keras kepala."
Tatapannya berubah dingin. "Aku akan melakukannya." Daffa memasukkan kembali botol itu ke dalam laci. "Tinggal menunggu waktu yang tepat."
Klik! Laci kembali tertutup.
Sementara itu...
Mobil yang membawa Rania melaju membelah jalanan Kota Laven.
Rania duduk diam di kursi belakang sambil memeriksa kembali dokumen perusahaan.
Ia ingin pertemuan kali ini benar-benar hanya membahas bisnis.
Tidak ada Brian.
Tidak ada Daffa.
Tidak ada masa lalu.
Hanya PT. Herbalife.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat mewah.
Klik! Pintu mobil terbuka.
Rania turun, ia menatap bangunan di hadapannya. "Brian bahkan pindah rumah..."
Rania mengamati lingkungan sekitar. "Jadi dia memilih tinggal di tempat yang lebih dekat dengan PT. Herbalife?" Belum sempat Rania melangkah lebih jauh.
Klik! Pintu utama terbuka.
Rio keluar dan segera menghampirinya. "Selamat datang, Nyonya Rania."
Rania langsung menatapnya. "Aku bukan Nyonya-mu lagi."
Rio terdiam. "Ah..." Ia segera membungkuk. "Maaf, Nona."
Rania mengangguk.
Rio kemudian menjelaskan, "Tuan Brian sedang menjalani terapi untuk kakinya."
Rania sedikit mengernyit. "Terapi?"
"Benar." Rio menunjuk ke arah dalam rumah. "Karena itu, Tuan tidak bisa melakukan pertemuan bisnis di luar."
Ia kemudian mempersilakan Rania masuk. "Beliau memilih rumah ini sebagai tempat pertemuan dengan Anda."
Rania terkekeh pelan. "Tentu saja." Ia menghela napas. "Dia selalu mencampurkan urusan pribadi dengan bisnis."
Rio hanya tersenyum canggung. "Silakan masuk, Nona."
Rania akhirnya melangkah masuk. Namun baru beberapa langkah...
Suara seorang pria terdengar dari ruangan sebelah. "Sedikit lebih kuat."
Rania berhenti, ia menoleh. Dan saat melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu, langkahnya seketika terhenti.
Brian sedang duduk di atas kursi panjang.
Salah satu kakinya sedang diperiksa oleh seorang pria yang tampaknya merupakan ahli terapi tradisional.
Wajah Brian terlihat menahan nyeri.
Sesekali rahangnya mengeras ketika pria itu menekan bagian tertentu pada kakinya.
Rania tanpa sadar memperhatikan kaki tersebut.
Tongkat hitam Brian berada di samping kursinya.
Dada Rania terasa sesak.
Janji yang ia ucapkan kepada calon bayinya tadi malam kembali terlintas di kepalanya.
'Mama akan menyembuhkan kaki Ayahmu.'
Rania segera mengalihkan pandangan. "Fokus." Ia menggenggam tali tasnya. "Rania, fokus mengurus bisnismu."
Ia menarik napas panjang. "Jangan biarkan perasaanmu menguasai semuanya."
"Anda bisa duduk sebentar, Nona," ucap Rio.
Rania mengangguk, ia kemudian duduk di sofa yang telah disiapkan untuknya.
Namun matanya kembali tanpa sadar mengarah kepada Brian.
Pria itu masih menjalani terapi. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.
Brian membeku, begitu pula Rania. Tidak ada satu pun yang berbicara.
Brian hanya menatapnya. Rania segera mengalihkan pandangan.
Namun sebelum suasana menjadi semakin canggung.
Tak...
Tak...
Tak...
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari arah lorong.
Seorang wanita muncul dari balik pintu.
Rambut hitam panjangnya terurai dengan rapi, ia membawa sebuah tas kecil. "Brian, aku pergi dulu."
Brian menoleh. "Mona."
Wanita itu kemudian melihat Rania. Langkahnya berhenti.
"Oh..." Mona tersenyum. "Maaf." Tatapannya berpindah kepada Brian.
"Ternyata tamu Tuan Brian sudah sampai." Mona kemudian berjalan mendekati Rania.
Ia mengulurkan tangannya. "Saya Mona."
Rania menatap tangan itu sesaat sebelum akhirnya menyambutnya. "Saya Rania."
Mona tersenyum. "Saya dengar Anda adalah mantan istri Tuan Brian."
Rania mengangguk pelan. "Ya." Jawaban singkat.
Mona kembali tersenyum. Namun kemudian kalimat berikutnya membuat Rania membeku.
"Kalau begitu..." Mona menoleh sebentar kepada Brian. Kemudian kembali menatap Rania. "Perkenalkan." Senyumnya semakin lebar.
"Aku Mona." Ia berhenti sejenak. "Tunangan Tuan Brian Aristama."
Deg!
Rania langsung menoleh, tatapannya tertuju kepada Brian.
Pria itu masih duduk di kursinya, sementara ahli terapi terus memeriksa kakinya.
Namun kali ini...
Brian tidak lagi memperhatikan terapinya, tatapan pria itu justru tertuju kepada Rania.
Dan untuk beberapa detik...
Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Bersambung...