NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Ciuman yang Tak Direncanakan

“Saya ke Bali untuk rapat investor,” kata Naren.

Laras memandang dua tiket pesawat di layar ponselnya. “Lalu kenapa nama saya ada di tiket kedua?”

“Kebetulan kursinya kosong.”

“Pesawat penuh menjelang tahun baru.”

“Berarti kamu beruntung.”

Laras tahu itu bukan kebetulan. Ia tetap ikut.

Sebelum menyetujui, ia memastikan Eyang Sri tidak ditinggal sendiri. Nadia bersedia menginap dua malam, Ratih memiliki nomor dokter kontrol, dan Kirana menyetujui cuti setelah semua naskah akhir tahun selesai. Laras menolak ketika Naren menawarkan perawat pribadi.

“Eyang bukan paket yang bisa kamu alihkan ke petugas,” katanya.

“Saya cuma menawarkan.”

“Saya tahu. Dan saya menolak.”

Naren tidak berdebat. Hal kecil itu menjadi alasan Laras akhirnya menekan tombol konfirmasi tiket. Mungkin ia ingin menguji apakah pria tersebut sungguh belajar menerima jawaban tidak. Mungkin ia hanya rindu berada di tempat yang tidak mengenal nama Galih atau akun gosip mana pun.

Pada tiga puluh satu Desember, mereka tiba di villa kecil dekat pantai timur Bali. Tidak ada rombongan investor. Fahmi hanya mengantar ke bandara lalu kembali ke Jakarta. Ketika Laras bertanya jadwal rapat, Naren menjawab urusannya sudah selesai lewat panggilan video.

“Jadi kamu bohong.”

“Saya menyederhanakan penjelasan.”

“Itu definisi orang kaya untuk bohong?”

“Kamu mau pulang?”

Laras melihat laut dari beranda. “Belum.”

Villa itu memiliki dua kamar dengan pintu terpisah. Laras memeriksanya sebelum menaruh koper. Naren tidak tersinggung.

“Kamar mana yang kamu mau?” tanyanya.

“Yang dekat taman.”

“Ambil.”

“Kamu tidak akan bilang semua ini dibayar dan saya harus mengikuti jadwalmu?”

Naren menatapnya. “Kita bisa makan terpisah kalau kamu mau.”

Jawaban itu tidak romantis, tetapi membuat bahu Laras turun. Ia sadar dirinya terus menyiapkan perlawanan bahkan ketika tidak ada serangan. Naren melihat hal itu dan, untuk sekali ini, tidak meminta kepercayaan yang belum pantas diterimanya.

Malam pertama mereka makan sate lilit dan pisang goreng di warung dekat pantai. Naren duduk di kursi plastik yang terlalu rendah untuk kakinya. Dua wisatawan mengenalinya dari berita bisnis, tetapi ia pura-pura tidak melihat.

“Kamu bisa sewa restoran,” kata Laras.

“Kamu bilang makanan mahal sering tidak enak.”

“Kamu ingat?”

Naren mematahkan tusuk sate. “Saya ingat banyak hal tidak penting.”

Laras tersenyum. Selama makan, mereka tidak membahas Galih, Iwan, tas yang dijual, atau kalimat bakar lumbung. Untuk satu jam, Naren hanya pria yang kepedasan sambal matah tetapi terlalu gengsi meminta air.

Keesokan paginya, kejutan kedua menunggu di jalur berkuda tepi pantai.

“Tidak,” kata Laras begitu melihat kuda cokelat tinggi.

“Kudanya terlatih.”

“Saya tidak.”

Pelatih menjelaskan prosedur keselamatan, memasangkan helm, dan menawarkan rute pendek. Laras tetap memegang pagar.

Naren naik lebih dulu, lalu turun lagi ketika melihat wajahnya.

“Kita bisa batal.”

“Kamu sudah bayar?”

“Itu tidak penting.”

“Kalau saya batal karena takut, besok saya akan kesal pada diri sendiri.”

Naren berdiri di samping pelana. “Saya pegang. Kalau kamu bilang turun, kita turun.”

Laras akhirnya memasukkan kaki ke pijakan. Saat kuda bergerak, tangannya mencengkeram tali kekang terlalu kuat.

“Jangan lawan setiap gerakan,” kata pelatih. “Ikuti ritmenya.”

Naren berjalan di sisi kuda, satu tangan dekat betis Laras tanpa menyentuh kecuali diperlukan. Setelah beberapa putaran, napas Laras mulai tenang.

“Naik kudamu sendiri,” katanya.

“Yakin?”

“Kalau kamu terus berjalan begitu, saya merasa sedang dituntun keliling ulang tahun anak-anak.”

Naren mendengus, lalu naik ke kuda hitamnya. Mereka bergerak berdampingan di tepi air. Ombak menyentuh kaki kuda, angin menarik ujung pakaian, dan untuk pertama kali Laras tertawa saat kudanya mempercepat langkah.

Naren menatapnya terlalu lama.

“Lihat depan,” tegur Laras. “Nanti jatuh.”

“Saya bisa berkuda sejak kecil.”

“Orang sombong juga bisa jatuh.”

Pelatih mengajak mereka mencoba lintasan sedikit lebih cepat. Naren bertanya kepada Laras sebelum setuju. Mereka memacu kuda dalam jarak pendek, cukup untuk membuat angin memukul wajah dan tawa Laras pecah tanpa kendali. Saat berhenti, ia hampir kehilangan keseimbangan. Naren segera meraih tali kekang kudanya, bukan pinggangnya, membiarkan Laras mengatur tubuh sendiri.

“Tadi bagus,” katanya.

“Saya hampir jatuh.”

“Tapi tidak jatuh.”

“Karena kudanya kasihan.”

“Kudanya punya standar tinggi.”

Laras tertawa lagi. Naren menyimpan suara itu seperti seseorang yang baru menemukan bukti bahwa perempuan di hadapannya masih bisa bahagia tanpa berpura-pura.

Mereka berhenti di bagian pantai yang sepi. Laras memandang garis laut dan tiba-tiba bertanya, “Kalau suatu hari saya tidak ada, kamu masih ingat saya?”

Wajah Naren langsung tertutup.

“Kenapa tanya aneh begitu?”

“Cuma penasaran.”

“Jangan.”

“Jangan apa?”

“Jangan bicara seolah kamu akan hilang.”

Nada suaranya lebih tajam daripada perlu. Naren membalik kuda sebelum Laras dapat melihat matanya memerah. Pertanyaan itu menyeretnya kembali kepada Ratna, kepada kamar-kamar besar setelah pemakaman, kepada orang dewasa yang berkata hidup harus lanjut sementara hidupnya sendiri berhenti.

Laras menyusul. “Saya tidak bilang mau mati.”

“Tetap jangan.”

“Saya mungkin pindah, menikah, atau pergi kerja ke tempat lain.”

“Kamu mau?”

“Saya tidak tahu.”

Naren menatap laut. “Saya akan ingat.”

Jawaban itu begitu pelan hingga hampir tertelan ombak.

Malamnya, pantai dipenuhi orang menunggu pergantian tahun. Seorang penjual lampion menawarkan dua kertas kecil untuk ditulisi harapan. Panitia lokal membantu menyalakan dan memastikan lampion dilepas di area yang diizinkan.

Laras menulis sambil menutup kertas dengan telapak.

Keluar dari museum ini.

Kalimat itu berarti keluar dari hidup yang hanya memajang luka sebagai benda lama, keluar dari hubungan yang dibangun dengan harga, keluar tanpa kehilangan dirinya sendiri. Ia melipat kertas sekecil mungkin.

“Apa?” tanya Naren.

“Rahasia.”

“Saya benci rahasia.”

Laras menahan tatapan. “Saya tahu.”

Naren menulis pada kertasnya: Semoga semuanya baik-baik saja.

“Doamu membosankan,” kata Laras.

“Setidaknya tidak sok misterius.”

Mereka memasukkan kertas sesuai petunjuk panitia. Api kecil mengisi udara di dalam lampion. Naren dan Laras memegang tepi bawah bersama sampai kain itu cukup ringan untuk terangkat.

“Sekarang,” kata petugas.

Mereka melepaskan.

Lampion naik perlahan. Pada saat yang sama, hitung mundur dimulai dari panggung jauh. Sepuluh. Sembilan. Laras mendongak, melihat harapannya berubah menjadi titik cahaya.

Tiga. Dua. Satu.

Kembang api pertama pecah di atas laut.

Naren menarik pergelangan Laras. Perempuan itu menoleh dan mendapati wajahnya sangat dekat.

Ia berhenti sebelum bibir mereka bersentuhan.

“Boleh?”

Di sekitar mereka orang-orang berteriak menyambut tahun baru. Laras mendengar pertanyaan itu dengan jelas.

“Ya.”

Naren menciumnya.

Tidak ada kemarahan, kecemburuan, atau uang di dalamnya. Hanya dorongan sederhana yang selama ini selalu mereka sembunyikan di balik alasan lain. Laras menyentuh wajahnya dan membalas tanpa berpura-pura. Ketika kembang api berikutnya menyala, Naren memeluk pinggangnya seolah seluruh pantai telah menghilang.

Mereka berhenti untuk bernapas. Laras masih dekat, tetapi tatapannya berubah takut.

“Ini apa?” tanyanya.

Naren tak menjawab.

“Kalau cuma karena malam tahun baru, bilang.”

“Bukan.”

“Kalau karena kamu kasihan setelah kejadian Iwan...”

“Bukan.”

“Lalu?”

Naren menyentuh bekas tipis yang sudah hampir hilang di pergelangan Laras. “Saya tidak tahu cara menyebutnya.”

“Kamu selalu tahu cara menyebut kontrak.”

“Kamu bukan kontrak.”

Kalimat itu membuat mata Laras panas.

Mereka duduk di pasir setelah kerumunan mulai berkurang. Naren membeli dua air mineral dari pedagang keliling. Keduanya masih canggung setelah ciuman, tetapi tidak ada yang pergi.

“Apa harapanmu benar-benar cuma semuanya baik-baik saja?” tanya Laras.

“Ya.”

“Untuk siapa?”

Naren membuka botol. “Banyak orang.”

“Jawaban aman.”

“Untuk Eyang. Rumah Puspa. Kamu.”

Laras memandangnya. “Dan kamu sendiri?”

“Kalau tiga hal itu baik, cukup.”

“Jangan bicara seolah hidupmu cuma alat untuk menjaga orang lain.”

“Kamu juga begitu.”

Laras tidak dapat membantah. Ombak menghapus jejak kaki di dekat mereka satu per satu.

“Kalau saya benar-benar pergi suatu hari,” katanya, “bukan berarti saya mengulang apa yang dilakukan ibumu.”

Naren membeku. Laras segera sadar ia terlalu dekat dengan rahasia dari demam itu.

“Maksudmu?”

“Kamu selalu berubah setiap saya bicara pergi. Saya cuma bilang, orang meninggalkan hubungan tidak sama dengan meninggalkan dunia.”

Naren menunduk pada botol di tangannya. “Saya tahu.”

Ia tidak tahu. Namun malam itu Laras tidak membongkar sumber ketakutannya. Ia hanya duduk lebih dekat sampai bahu mereka bersentuhan.

Mereka kembali ke villa setelah tengah malam. Di depan pintu kamar, Naren tidak otomatis ikut masuk.

“Kamu mau sendiri?” tanyanya.

Laras memandang pria yang dahulu tidak pernah merasa perlu meminta izin untuk memasuki ruang hidupnya. “Tidak.”

Ia mengulurkan tangan.

Naren menerimanya. Kedekatan malam itu tumbuh perlahan, bukan sebagai pembayaran atau cara memenangkan pertengkaran. Mereka saling bertanya, berhenti, lalu memilih lagi. Laras tidak memakai tubuh sebagai bagian dari rencana. Naren tidak memakai kuasa untuk memastikan ia tinggal. Untuk beberapa jam, mereka membiarkan diri percaya bahwa keinginan bisa hadir tanpa menjadi penjara.

Menjelang subuh, Laras terbangun dan mendapati Naren masih memegang tangannya. Lampion mereka sudah lama hilang dari langit. Semua rahasia tetap ada, menunggu di Jakarta.

Namun di pantai saat kembang api tadi, sesudah ciuman itu berakhir, mereka hanya berdiri saling menatap dalam cahaya yang pecah di atas ombak, dan tidak satu pun berani menjadi orang pertama yang memberi nama pada apa yang baru saja lahir.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!