NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. LUKA YANG MASIH MEMEBEKAS

BAB 16. Luka yang Masih Membekas

Perjalanan menuju penthouse berlangsung tanpa banyak percakapan. Ketika mobil memasuki area parkir pribadi, malam telah benar-benar menyelimuti Jakarta. Lampu-lampu gedung tinggi masih berpendar di kejauhan, tetapi kelelahan membuat keduanya sama-sama memilih diam.

Kalandra mematikan mesin, lalu turun lebih dahulu. Seperti sebelumnya, ia membuka pintu untuk Hagia tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Map dan tas kerja yang sejak di lift diambil alih masih berada di tangannya. Mereka memasuki lift pribadi menuju lantai penthouse. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka.

Suasana di dalam rumah langsung menyambut mereka dengan keheningan. Tidak terdengar suara langkah kaki ataupun aroma masakan yang biasanya memenuhi ruang makan ketika Bu Hesti selalu datang untuk menyelesaikan pekerjaan rumah di sana.

Hagia melepaskan sepatunya, lalu tanpa sadar melirik ke arah meja makan. Kosong. Tidak ada satu pun hidangan yang telah disiapkan.

"Bu Hesti tidak datang?" tanyanya pelan.

"Tidak." Kalandra meletakkan kunci mobil di atas meja kecil dekat pintu. "Mulai hari ini saya minta beliau menjaga Kakek di rumah sakit."

Hagia mengangguk pelan. Ia teringat, beberapa hari terakhir kondisi sang kakek memang masih membutuhkan pendamping. Padahal, alasan itu hanya sebagian dari keputusan Kalandra. Sejak percakapannya dengan sang kakek beberapa hari lalu, ia telah memutuskan memberi Bu Hesti tugas menjaga rumah sakit selama beberapa hari ke depan.

Alasannya sederhana di atas kertas karena dirinya akan melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, hanya Kalandra yang mengetahui tujuan sebenarnya. Ia berniat memenuhi setiap permintaan sang kakek sebelum pria tua itu kembali menjalani rangkaian terapi.

Mengajak Hagia pergi. Bukan untuk urusan pekerjaan. Melainkan benar-benar keluar dari rutinitas yang selama ini nyaris hanya berisi kantor dan rumah.

"Kalau gitu, saya mau masak."

Hagia langsung bergegas melangkah. Namun, tiba-tiba tubuh tinggi Kalandra berdiri menghadang di depannya. Sorot mata itu, menunjuk ke arah meja makan, sebuah perintah supaya Hagia duduk di sana.

"Istirahat saja," ucapnya sambil melepaskan ikatan dasi dan menggulung lengan baju. "Atau... kamu mau ganti baju dulu. Nanti saya panggil kalau makan malam sudah siap."

"Tapi—"

"Saya yang masak."

Kalimat itu mengakhiri seluruh bantahan. Hagia hanya mengernyit sambil memperhatikan Kalandra

menatap isi lemari pendingin beberapa saat lalu mengeluarkan beberapa bahan makanan. Tak ada kesan canggung, tidak ada pula keraguan seolah memasak memang sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Sampai akhirnya, Hagia pamit ke kamar untuk membersihkan diri.

Tidak sampai tiga puluh menit, Hagia sudah keluar dengan pakaian santainya. Wajahnya sudah terlihat kembali segar meski tubuhnya masih sedikit lemas karena belum ada asupan makanan. Ia berdiri bersandar di tembok sambil kembali memperhatikan gerakan Kalandra yang cekatan.

"Di mana Tuan belajar masak?"

Kalandra menoleh lalu menunjuk layar ponsel di sudut rak piring yang menayangkan video memasak berbagai hidangan.

Entah mengapa, suasana itu terasa jauh berbeda dibanding makan malam-makan malam sebelumnya.

Tidak mewah. Tidak juga istimewa.

Namun justru menghadirkan ketenangan yang belum pernah Hagia rasakan sejak memasuki kehidupan keluarga Arshaka.

Sekitar dua puluh menit kemudian, dua piring makanan sederhana telah tersaji di atas meja. Sup hangat, tumis sayuran, dan ikan panggang.

"Ayo makan."

Hagia mengangguk.

"Terima kasih."

Mereka mulai makan dalam diam.

Sesekali Kalandra mengangkat pandangan ke arah Hagia untuk memastikan wanita itu benar-benar menghabiskan makan malamnya. Namun, beberapa menit berlalu hingga Kalandra menyadari sesuatu yang tidak biasa. Sejak tadi Hagia memegang sendok dengan tangan kiri. Padahal selama beberapa hari bekerja bersama, ia tahu wanita itu tidak kidal.

Pandangan Kalandra perlahan beralih ke tangan kanan Hagia yang hanya terdiam di atas paha.

"Kenapa makan pakai tangan kiri?"

Hagia yang sedang menyuapkan nasi berhenti sejenak. "Oh..."

Ia tersenyum kecil sambil mengangkat tangan kanannya.

"Tadi sebenarnya tidak terasa apa-apa."

Baru kini Kalandra melihat buku-buku jari yang memerah dengan beberapa bagian kulit tampak lecet.

"Setelah mandi, baru terasa perih."

Hagia terkekeh pelan. "Mungkin karena kena air."

Ia kembali mencoba mengambil sendok dengan tangan kanan.

Baru sedikit menggenggam, wajahnya langsung meringis.

"Masih sakit?"

"Permukaan kulit yang luka sepertinya agak kaku, agak sakit kalau digerakkan."

Hagia kembali menggunakan tangan kirinya.

Tanpa mengucapkan apa pun, Kalandra berdiri, mengambil tempat duduk di kursi paling dekat dengan posisi Hagia saat ini. Sendok di tangan Hagia pun berpindah ke tangannya.

Hagia berkedip bingung.

"Tuan?"

"Habiskan dulu makannya."

Kalandra mengambil sesendok nasi, lalu mengarahkannya ke depan Hagia.

Wanita itu spontan memundurkan kepala sedikit.

"Saya masih bisa makan sendiri."

"Pakai tangan kiri?"

Hagia terdiam.

"Selama tangan kananmu belum bisa digunakan, saya yang bantu."

"Maaf. Tapi..."

"Mulutmu yang makan, bukan tanganmu."

Kalimat datar itu membuat Hagia hampir tertawa.

"Tetap saja..." Hagia mengernyit. "Anda atasan saya. Tidak pantas melakukan ini."

Kalandra menatapnya tenang.

"Di kantor memang benar." Ia masih memegang sendok yang sama. "Tapi jangan lupa. Di rumah atau di mana pun... saya tetap suami sah kamu. Tak ada batasan tempat dan waktu."

Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak pula nada menggoda. Ia mengucapkannya sesederhana seseorang yang sedang menyampaikan fakta. Hagia kehilangan kata-kata. Pipi wanita itu perlahan memanas. Sementara Kalandra masih mempertahankan sendok di hadapannya, menunggu sampai Hagia akhirnya membuka mulut dengan malu-malu.

"Apa yang terjadi di ruang arsip itu?" Kalandra kembali membuka suara setelah Hagia menghabiskan sisa makanan terakhir melalui suapannya.

"Tadi... saya panik setengah mati waktu pintunya tiba-tiba terkunci." Jemarinya menyentuh pelan bekas lecet itu. "Ruangan menjadi gelap... lalu pengap."

Dia mengingat kembali Susana itu. Senyumnya perlahan memudar.

"Tangan saya refleks memukul pintunya terus menerus. Saya pikir... di luar mungkin masih ada yang bisa mendengar suara pintu digedor dari dalam."

Tangan Kalandra yang tengah mendorong piring kotor itu tiba-tiba terhenti. Tatapannya kosong. Lalu... sebuah suara menggema dari sudut ingatannya.

"Mama...!"

Gedebuk. Gedebuk!

"Buka pintunya, Ma...!"

Untuk sesaat, ia bahkan bisa merasakan kembali nyeri di kedua telapak tangannya yang dulu memukul pintu kayu tanpa henti.

"Tuan..."

Suara Hagia membuyarkan semuanya. Ia berkedip pelan. Bayangan itu lenyap secepat kemunculannya.

"Anda tidak apa-apa?"

Kalandra menyadari dirinya masih menatap tangan Hagia. Ia menarik napas perlahan.

"Tidak."

Jawaban itu terdengar tenang seperti biasa. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, luka yang selama ini terkubur jauh di dalam ingatannya kembali terasa begitu nyata.

Kalandra berdiri. "Sebentar," katanya sambil melangkah ke satu sudut ruangan.

Tak lama, ia kembali membawa kotak P3K. Dia mendorong gelas air putih ke hadapan Hagia lalu membuka kotak yang dibawa. Mengeluarkan sebuah kapas, botol antiseptik dan juga plester.

"Saya bisa sendiri, Tuan."

Kalandra mengangguk tipis. Ia mendorong kotak P3K sedikit lebih dekat ke arah Hagia, lalu kembali mengambil gelas airnya. Tatapannya tidak lagi tertuju pada wanita itu, seolah benar-benar menyerahkan semuanya.

Hagia mengembuskan napas pelan. Dengan tangan kiri, ia meraih botol antiseptik yang masih terbuka. Sementara tangan kanannya yang terluka diletakkan di atas meja.

Baru beberapa detik kemudian ia menyadari masalahnya. Membuka kapas dengan satu tangan ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkannya. Bungkus plastik kecil itu beberapa kali terlepas dari genggamannya. Setelah berhasil dibuka pun, kapas yang sudah dipegangnya kembali jatuh ke atas meja ketika ia mencoba menuangkan cairan antiseptik.

Hagia terkekeh pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Sepertinya... memang agak sulit."

Kalandra yang sejak tadi berpura-pura tidak memperhatikan perlahan meletakkan kembali gelas di tangannya.

"Saya sudah bilang."

Hagia tersenyum kecil sambil kembali mencoba mengambil kapas yang terjatuh. "Saya kira bisa."

Belum sempat ia menuangkan antiseptik, botol kecil itu perlahan berpindah tangan. Kalandra mengambilnya tanpa banyak bicara.

"Lupakan."

Kalandra mengambil tanpa banyak bicara.

"Tangan."

Hanya satu kata. Hagia menatap pria di depannya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanannya tanpa membantah lagi. Kalandra kembali membasahi kapas dengan antiseptik, lalu membersihkan luka di buku-buku jari Hagia dengan hati-hati. Ketika kapas menyentuh bagian yang lecet, Hagia spontan menarik napas pelan.

"Perih?"

Hagia mengangguk. "Sedikit."

Gerakan tangan Kalandra otomatis melambat. Ia tidak lagi sekadar membersihkan luka. Jemarinya bergerak sangat pelan, memastikan tidak menambah rasa sakit yang sudah dirasakan Hagia. Setelah luka benar-benar bersih, ia mengoleskan salep tipis, lalu menempelkan plester kecil pada bagian yang paling merah.

"Nah." Kalandra melepaskan tangan Hagia. "Selesai."

Hagia hanya melihat plester kecil yang kini menutupi buku-buku jarinya. Ia tidak pernah tahu, luka itu baru saja membuka kembali luka lain yang telah disimpan Kalandra selama lebih dari puluhan tahun.

"Terima kasih."

"Kalau besok masih sakit, jangan mengerjakan apa pun dulu."

Nada bicaranya tetap datar seperti biasa. Namun, untuk pertama kalinya malam itu, Hagia menyadari sesuatu. Kalandra memang selalu memberi kesempatan padanya untuk melakukan banyak hal sendiri. Tetapi ketika ia benar-benar tidak mampu, pria itu akan diam-diam mengambil alih tanpa pernah membuatnya merasa lemah ataupun dikasihani.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!