Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Tangisan Penyesalan
Hujan badai yang sempat menderu hebat di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1928 perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang jatuh menimpa genangan air dan aroma sisa mesiu yang pekat di udara malam. Suasana di dermaga timur itu kini berubah menjadi sangat sunyi, mencekam, dan penuh dengan keheningan kematian. Pasukan serdadu kolonial di bawah pimpinan Kapten Von Klaus telah meninggalkan lokasi setelah memastikan misi pembersihan mereka atas faksi sindikat dan keluarga Van Houten selesai, meninggalkan puing-puing kehancuran serta jejak darah segar yang membasahi lantai kayu dermaga.
Di atas hamparan kayu yang dingin dan basah, dua sosok terbujur kaku dalam keabadian. Clara van der Berg dan Julian van Houten terbaring berdampingan, disatukan oleh takdir tragis yang tidak mampu dipisahkan oleh kematian sekalipun. Pengorbanan yang mereka lakukan demi menyelamatkan satu sama lain pada malam jahanam itu mengakhiri siklus hidup mereka di era kolonial dengan cara yang paling menyayat hati, mengulang kembali kutukan tak berujung yang pernah dimulai di bawah runtuhnya pilar-pilar kekaisaran Roma berabad-abad lampau.
Beberapa hari kemudian, berita duka yang mendalam menyelimuti kota Batavia. Meskipun pihak pemerintah kolonial berusaha keras menutupi insiden berdarah di pelabuhan dengan dalih bentrokan antar-sindikat kriminal, kabar mengenai gugurnya Tuan Besar Ho, tragisnya kematian pewaris marga Van Houten yaitu Julian, serta lenyapnya sang putri tunggal Clara menyebar dengan cepat di antara kalangan elite bawah tanah maupun para bangsawan Eropa.
Di sebuah pemakaman khusus keluarga elit yang terletak di kawasan Menteng yang asri namun dipenuhi suasana duka yang pekat, sebuah upacara pemakaman tertutup dan penuh ketegangan diselenggarakan. Nisan-nisan batu granit hitam berdiri tegak di bawah naungan pohon-pohon besar yang rindang, menjadi saksi bisu atas hancurnya dua keluarga paling berpengaruh di Batavia akibat intrik politik busuk kompeni Belanda.
Bang Jafar, dengan balutan perban tebal yang masih melilit bahu kanannya akibat luka tembak, berdiri terpaku seorang diri di hadapan pusara baru milik Clara van der Berg. Pria paruh baya itu menatap nanar nama yang terukir indah di atas batu nisan marmer putih tersebut. Tidak ada lagi raut wajah garang atau sorot mata penuh ketegasan seorang panglima sindikat; yang tersisa di wajah Bang Jafar hanyalah penyesalan yang mendalam, rasa kehilangan yang teramat berat, serta duka cita yang tak mampu lagi diungkapkan dengan kata-kata.
"Nona Clara..." bisik Bang Jafar serak, suaranya bergetar hebat di tengah hembusan angin pagi yang dingin. Ia perlahan berlutut di atas rerumputan basah, meletakkan sekuntum bunga m putih segar di atas gundukan tanah makam yang masih basah. "Maafkan saya... Maafkan saya karena gagal melindungi Anda hingga akhir. Seandainya malam itu saya bisa bergerak lebih cepat, seandainya saya bisa menahan Anda agar tidak pergi ke pelabuhan terkutuk itu... mungkin takdir hidup Anda tidak harus berakhir sekejam ini."
Air mata pria paruh baya itu tumpah menetes membasahi kelopak bunga putih di atas nisan. Sepanjang hidupnya, Bang Jafar telah melihat banyak kematian, pertumpahan darah, dan kekejaman dunia hitam Batavia. Namun, kematian Clara dan Julian bukanlah sekadar akhir dari sebuah nyawa; itu adalah runtuhnya sisa-sisa harapan terakhir untuk melihat kedamaian di antara dua keluarga besar yang selama ini saling menghancurkan.
Beberapa meter dari tempat Clara dimakamkan, di sisi lain area pemakaman khusus kaum bangsawan Eropa, sebuah nisan hitam megah dengan lambang marga Van Houten berdiri kokoh untuk mengenang Julian. Di sana, tidak ada isak tangis keluarga yang menemani, karena sebagian besar kerabat Julian di dewan kolonial memilih untuk menutup rapat-rapat skandal kematian pewaris mereka demi menjaga kehormatan nama keluarga di hadapan Gubernur Jenderal. Hanya ada kesunyian abadi yang menemani peristirahatan terakhir sang pemuda bangsawan berhati mulia itu.
Namun, di balik duka yang menyelimuti kedua makam yang terpisah jarak beberapa meter tersebut, sebuah misteri besar tertinggal di dunia. Dokumen arsip perjanjian damai rahasia yang mati-matian dicari oleh Clara dan Julian malam itu tidak pernah berhasil ditemukan oleh pihak intelijen kolonial Kapten Von Klaus. Dokumen tersebut lenyap bersamaan dengan runtuhnya struktur dermaga, seolah sengaja disembunyikan oleh alam semesta untuk menunggu waktu yang tepat agar kebenaran itu bisa terungkap kembali di masa depan.
Bagi Bang Jafar dan sedikit orang kepercayaan yang mengetahui kebenaran di balik malam jahanam tersebut, kematian Clara dan Julian adalah sebuah simbol perlawanan paling suci terhadap kekejaman zaman. Mereka gugur sebagai pahlawan bagi kisah cinta mereka sendiri, memilih untuk mati bersama daripada harus hidup terpisah di dalam sangkar emas kebencian keluarga dan penindasan kolonial.
Saat matahari pagi mulai naik meninggikan sinarnya, menembus dedaunan rindang pemakaman Menteng dan menghangatkan gundukan tanah makam, Bang Jafar bangkit berdiri secara perlahan. Ia merapikan mantel hitamnya, menatap sekali lagi ke arah nisan Clara dengan tatapan penuh penghormatan dan janji dalam hati.
"Beristirahatlah dengan tenang di alam sana, Nona Clara... Bersama Tuan Muda Julian," ucap Bang Jafar lirih, memejamkan matanya sejenak untuk memanjatkan doa terakhir. "Semoga di kehidupan yang berikutnya... di dunia yang jauh lebih baik dan bebas dari kebencian ini... kalian bisa menemukan kebahagiaan sejati yang tidak pernah direnggut oleh takdir waktu."
Bang Jafar kemudian membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan kompleks pemakaman dengan membawa sisa-sisa kenangan pahit sejarah kolonial Batavia.
Namun, kisah cinta abadi antara sang wanita reinkarnasi dan pangeran jiwanya belumlah selesai sampai di sini. Kematian di era kolonial ini bukanlah titik akhir dari perjalanan jiwa mereka, melainkan sebuah jeda panjang sebelum tirai babak ketiga dibuka—sebuah era modern di mana takdir akan mempertemukan kembali dua jiwa yang lelah itu dalam wujud yang berbeda, di bawah langit pencakar langit berkilau, dan dengan akhir bahagia yang telah lama tertunda.