Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Jandaku Masih Milikku
Siang harinya...
Rania duduk seorang diri di halaman belakang villa.
Angin siang berembus perlahan, menyentuh rambut emasnya yang terurai di bahu.
Namun pikirannya sama sekali tidak tenang.
Kalimat Daffa dari taman rumah sakit tadi terus terngiang di kepalanya.
"Pahami perasaanku, Rania."
Rania menundukkan wajah, jemarinya menyentuh cincin yang kini melingkar di jari manisnya.
Cincin pemberian Daffa, ia menghela napas panjang.
Dulu...
Rania pernah berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah lagi terjebak dalam cinta seorang pria.
Setelah semua yang terjadi bersama Brian, ia ingin menjalani hidup dengan tenang.
Namun ternyata...
Ia kembali berdiri di jurang yang sama.
Hanya saja kali ini, pria itu adalah Daffa Anggara. Pria yang dahulu ia panggil...
Kakak.
Namun sekarang, hubungan mereka telah berubah. Rania memejamkan mata.
Tiba-tiba...
Prang!!
Suara benda pecah terdengar dari arah dalam villa.
Rania tersentak. "Daffa?"
Tanpa berpikir panjang, ia meraih tongkatnya dan berdiri, langkahnya tergesa menuju kamar Daffa, ujung tongkatnya menyentuh pintu yang ternyata sedikit terbuka.
Rania mendorongnya perlahan. "Daffa?"
Tidak ada jawaban.
Rania melangkah masuk. Aroma wine langsung memenuhi penciumannya.
Ia mendengar suara langkah kecil dari arah depan.
Kemudian...
"Pelayan!" Suara Daffa terdengar dingin.
Rania mengarahkan wajah ke sumber suara.
Ia kemudian mendengar suara seseorang masuk ke ruangan.
"Berikan aku kain dan bersihkan pecahan ini," ucap Daffa.
"Baik, Tuan."
Rania berdiri diam sampai pelayan selesai membersihkan serpihan gelas wine yang berserakan di lantai.
Setelah pelayan pergi, Rania berjalan mendekati meja kerja Daffa.
Pria itu berdiri di belakang meja, perhatiannya tertuju penuh pada layar laptop.
Wajahnya terlihat tegang.
"Daffa..." Panggil Rania, tidak ada jawaban.
Rania mengernyit. "Ada apa?"
Daffa akhirnya mengangkat wajah.
Namun sebelum Rania sempat bertanya lagi, pria itu tiba-tiba berdiri.
Tangannya meraih pinggang Rania. "Ah!" Tubuh Rania kehilangan keseimbangan.
Dalam satu gerakan, Daffa menariknya hingga duduk di pangkuannya.
"Daffa!" Rania mencoba berdiri, namun lengan Daffa sudah melingkar kuat di pinggangnya.
"Jangan bergerak." Nada suaranya rendah.
Rania menelan ludah, sementara Daffa, ia menunjuk layar laptop yang berada di hadapan mereka.
"Lihat apa yang dilakukan mantan suamimu," ucap Daffa.
Rania terdiam, samar-samar terlihat siluet tubuh seorang dua pria.
Lalu ketika suara yang keluar dari laptop, ia tahu siapa yang sedang berbicara.
Suara itu...
Suara yang hampir satu bulan tidak pernah ia dengar secara langsung.
Brian Aristama.
Rania berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Berita apa yang sedang kau lihat sampai membuatmu marah?" tanya Rania.
Daffa tidak menjawab, ia justru mengambil headset dari atas meja.
Kemudian memasangkannya pada telinga Rania. "Dengarkan." Suaranya terdengar begitu dekat.
Rania sedikit mengangkat bahu ketika napas Daffa menyentuh sisi telinganya.
Namun sebelum ia sempat menegur pria itu, suara lain lebih dulu terdengar melalui headset.
Suara yang begitu ia kenal.
"Ya," Satu kata itu keluar dari mulut Brian di seberang sana.
Rania membeku.
"Hari ini saya menyampaikan bahwa benar, saya telah menceraikan istri saya."
Jantung Rania berdetak lebih cepat.
Brian...
Ia benar-benar mengumumkan perceraian mereka. Salah seorang wartawan segera bertanya.
"Kalau boleh tahu, apa alasan perceraian tersebut, Tuan Brian?"
Terdengar jeda beberapa detik. Brian tidak langsung menjawab.
Kemudian seorang wartawan lain mengajukan pertanyaan yang jauh lebih berani.
"Apakah Nona Rania kecewa setelah mengetahui bahwa kondisi kesehatan Anda sebelumnya dinyatakan mandul dan tidak dapat memberikan keturunan?"
Beberapa wartawan lainnya terdengar terkejut.
Namun Brian tetap tenang.
"Justru..." Suaranya terdengar jelas. "Saya ingin berterima kasih kepada mantan istri saya."
Rania menahan napas.
"Ramuan teh herbal dan pijat refleksi yang selalu diberikan kepada saya ternyata memberikan hasil," ucap Brian.
Suasana di sekitar Brian terdengar semakin ramai.
"Dan sekarang saya dinyatakan tidak mandul." Jelas Brian.
Rania menggenggam ujung pakaiannya.
Brian melanjutkan. "Jadi, saya akan mendapatkan keturunan."
Daffa yang sejak tadi diam langsung mengeras.
Rania menelan ludah.
Keturunan...
Anak.
Seketika tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri.
Namun Brian belum selesai. 'Saya bahkan akan mendapatkannya secepatnya," lanjut Brian.
"Secepatnya?" Salah seorang wartawan segera mengejar langkah Brian. "Tuan Brian, apa maksud Anda dengan secepatnya?"
Brian tidak menjawab.
Langkahnya terus bergerak menuju mobil hitam yang sudah menunggu.
Rio segera membukakan pintu belakang.
"Tuan Brian!" Para wartawan masih terus mengejar. "Apakah maksud Anda akan segera menikah lagi?"
"Apakah Anda akan memiliki anak dari wanita lain?"
Brian berhenti tepat sebelum masuk ke dalam mobil.
Ia menoleh perlahan, tatapannya mengarah lurus kepada kamera yang sedang merekam dirinya. "Menurutmu?"
Para wartawan saling berpandangan.
Brian masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi belakang.
Namun seorang wartawan kembali mengajukan pertanyaan. "Tuan Brian, kalau begitu, apa yang ingin Anda sampaikan kepada mantan istri Anda saat ini?"
Kemudian suaranya terdengar begitu tenang. "Jandaku masih milikku."
Rania membeku, janntungnya seperti berhenti berdetak.
Jandaku masih milikku.
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.
Pintu mobil Brian hampir tertutup.
Namun salah seorang wartawan masih sempat menahannya.
"Tuan! Jadi yang mana jawabannya?"
"Apakah Anda akan rujuk dengan istri pertama Anda?"
"Atau Anda akan menikah lagi?"
Brak!
Rio menutup pintu mobil.
Pria itu kemudian membungkuk sopan sebelum masuk ke kursi pengemudi.
Mobil perlahan meninggalkan kerumunan wartawan.
Sementara itu...
Rania masih terdiam.
Wajah Brian yang baru saja dilihatnya melalui bayangan samar di layar masih melekat di pikirannya.
Pria itu terlihat belum sepenuhnya pulih. "Kenapa, apa yang terjadi pada Brian?" tanyanya dalam hati.
Namun suara pria itu, masih tetap sama.
Tegas.
Dingin.
Dan penuh keyakinan.
"Jandaku masih milikku."
Jantung Rania berdegup semakin cepat, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Brian setelah ini.
Namun sebelum pikirannya semakin jauh, sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Aku harap kau tidak akan kembali kepada Brian," ucap Daffa.
Rania tersentak.
Daffa memeluk tubuhnya dari belakang. Pelukannya kali ini terasa lebih erat.
"Aku tidak ingin memikirkan apa pun mengenai rencana Brian selanjutnya." Daffa menundukkan wajahnya.
"Aku hanya ingin menjagamu." Tangannya bergerak perlahan di pinggang Rania. "Aku ingin memilikimu, Rania."
Rania terdiam.
"Dan aku ingin kita hidup berdua." Daffa memeluknya semakin erat.
Sementara Rania hanya bisa diam, ia tidak tahu harus menjawab apa, ia tidak tahu bagaimana masa depan mereka setelah semua yang terjadi.
Dan ia juga tidak tahu...
Apa yang sebenarnya yang sedang direncanakan Brian.
Namun di balik pelukan Daffa...
Ada senyum tipis yang perlahan muncul di wajah pria itu.
Tatapannya tertuju pada layar laptop yang masih menampilkan wajah Brian.
Daffa tenggelam dalam lamunannya beberapa detik.
"Bagus, Brian." Senyumnya semakin lebar.
"Kita lihat..." Daffa menundukkan wajahnya.
"Siapa yang akan memenangkan hati Rania." Ia memejamkan mata. "Apakah aku..."
"Atau mantan suaminya?" Batinnya.
Bersambung...