Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13 Kami sudah menikah
"Kamu begitu keras kepala. Apa yang membuat mu begitu percaya diri?" Mery masih terlihat begitu tenang.
Lily tersenyum kecil.
"Hubungan kami tidak sesederhana itu. Bagaimana jika aku mengatakan jika kami berdua sudah menikah?"
Mery menatap Lily.
Tangannya sedikit gemetar. Meski begitu, dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin menunjukkan jika dia khawatir saat ini.
"Kalau kamu sudah menikah. Lalu mengapa Eldrick tidak mengumumkan pernikahan kalian?"
Lily terdiam sejenak.
Lalu menatap ke arah mertuanya.
"Itu kesepakatan kami. Selama ini kami hidup bahagia. Jangan berusaha memisahkan kami."Ujar Lily dengan tegas.
Tangan Mery mengepal kuat. Dia harus memisahkan mereka. Jika tidak, maka dia akan mendapatkan konsekuensinya.
"Pikirkanlah! Cepat atau lambat kalian berdua akan berpisah."
Mery beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan cafe.
Lily hanya menatap kepergian mertuanya.
Bibirnya terangkat.
"Kenapa kami harus berpisah? Tidak ada yang berhak memisahkan kami."
Lily memesan secangkir kopi. Wanita itu bahkan menyeruput kopinya dengan tenang sambil menatap kepergian mertuanya.
Hembusan nafas kasar berkali-kali terdengar dari bibirnya. Lily sama sekali tidak berniat meninggalkan suaminya.
Mereka saling mencintai. Mengapa mereka harus berpisah. Lily tahu jika hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat maka dia akan menghadapi hal seperti ini.
Perbedaan kasta menjadi penghalang pertama pada hubungan mereka berdua.
Lily dengan santai menatap ke arah luar. Meski pikirannya sedang tidak tenang saat ini.
Drtt...
Bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya.
"Sayang."
Lily tersenyum kecil mendengar suara itu. Hanya mendengar suara suaminya membuatnya tenang.
"Apa kamu baik-baik saja sayang? Apa mamah menemui mu?"
Lily terdiam sejenak.
"Mamah meminta kita berpisah. Mungkin saat ini dia sedang kesal. Aku menolaknya dengan tegas." Ujar Lily kepada suaminya.
Eldrick terdiam sejenak.
"Kamu tahu sayang. Aku sangat yakin jika hal ini akan terjadi suatu saat nanti. Apa kamu bisa melewati semua ini? Percayalah jika aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai mu. Kita harus saling percaya." Eldrick berusaha meyakinkan istrinya.
"Aku percaya kepada mu sayang. Jangan khawatir. Aku tidak akan mundur begitu saja. Kita adalah suami istri sah di mata hukum dan agama."
Eldrick tersenyum tipis.
Dia tahu jika hal seperti ini yang paling ia sukai dari istrinya. Dia tidak mudah mundur pada hal sepele seperti ini. Hubungan mereka sudah tidak mendapatkan restu dari lama.
Lily sudah tahu jika suatu saat nanti. Dia akan menghadapi hal seperti ini.
Beberapa menit kemudian.
Lily mematikan teleponnya. Dia meninggalkan cafe tersebut dan kembali ke meja kerjanya.
Baru saja tiba. Grace menghampirinya.
"Kamu darimana?''
"Cafe depan."
"Cepat kerja. Tuan Hartono sedikit kesal karena tidak sesuai keinginannya."
"Aku mengerti. Terimah kasih Grace."
Lily kembali ke meja kerjanya. Dia menyalakan komputer miliknya. Dia berusaha untuk fokus kembali.
" Lily sudah kembali. Kami bekerja keras dan dia malah santai-santai nongkrong di cafe."Sindir Amber.
Lily hanya diam.
Melihat Lily diam. Amber menghentakkan kakinya meninggalkan meja Lily. Wanita itu terlihat jelas sedikit kesal dengan sikap Lily.
"Jangan dengarkan mereka."Bisik Grace.
Lily menoleh dan tersenyum kecil.
"Aku baik-baik saja."
Lily kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Ana hanya diam. Wanita itu tetap terlihat tenang. Dia sama sekali tidak mengurusi hal seperti itu. Saat ini, tujuan Ana adalah mendapatkan Eldrick.
Ana kembali fokus pada layar komputer di hadapannya.
Drt..
Sebuah pesan masuk.
Lily meraih ponselnya. Pesan dari suaminya masuk.
Eldrick:"Sayang, aku pulang malam ini terlambat malam ini. Nenek ingin bertemu."
Pesan dari suaminya membuat Lily terdiam sejenak. Dia menatap layar ponselnya selama beberapa menit sebelum ia meletakkan ponselnya kembali.
Hembusan nafas kasar terdengar dari bibirnya. Dia sudah menjalani kehidupan yang begitu berat selama ini
Pernikahannya dengan Eldrick tidak pernah mendapatkan restu dari keluarga suaminya. Lily hanya diam dan tidak pernah berniat mendapatkan hati mertuanya.
Tepat jam makan siang. Grace sudah berdiri di hadapannya.
"Ayo makan."
Lily mendongak.
Dia menatap Grace. Melihat Grace tampak tenang. Lily teringat dengan perkataan Amber dan Jane.
Lily sama sekali tidak menyangka jika wanita sebaik Grace akan di perlakukan seperti itu. Tatapan Lily berubah sendu.
"Kamu baik-baik saja setelah apa yang terjadi?" Lily bertanya dengan lembut.
Grace hanya tersenyum.
"Ayo makan."
Grace mengalihkan pembicaraan. Melihat hal itu, Lily memilih untuk tidak bertanya lagi. Dia tahu jika Grace tidak ingin membahasnya karena sesuatu sebuah alasan.
Keduanya berjalan menuju ke kantin. Sepanjang perjalanan, kedua wanita itu terlihat asyik mengobrol.
Baru saja menginjakkan kakinya. Seluruh karyawan melihat ke arah mereka.
"Apa yang terjadi?"Bisik Grace menyadari tatapan mereka.
"Biarkan saja."Jawab Lily.
Setuasi seperti ini sudah sering ia hadapi. Saat ia masih kuliah. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Semua itu terjadi karena mereka lebih percaya ucapan Ana.
Lily menggandeng tangan Grace masuk ke dalam dan memesan makanan seperti biasa.
Seperti biasa bibi kantin tersenyum ramah.
"Nona baik-baik saja?"
Pandangan wanita paruh baya itu tertuju kepada Lily.
Lily tersenyum.
"Saya baik-baik saja bibi."Jawab Lily tenang. Namun dia merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi saat ini.
"Setiap orang berhak mengambil keputusan tentang hidupnya. Menikah muda itu pilihan nak. Asal kamu bahagia."Ujar bibi kantin menatap iba.
Lily hanya tersenyum kecil.
Grace mendekat.
"Ada apa bibi?" Grace bertanya dengan rasa penasaran yang begitu besar.
"Terimah kasih bibi. Saya bahagia meski menikah di usia muda."
Lily berbalik setelah mengambil makanannya. Dia duduk di meja yang masih kosong.
Dia bisa merasakan semua orang tengah memperhatikan dirinya. Lily menyadari hal itu tapi dia sama sekali tidak peduli.
"Ada apa dengan mereka? Apa ada berita yang tidak kita ketahui?" Bisik Grace.
Lily menghela nafas panjang.
"Sepertinya mereka semua tahu jika aku sudah menikah dan suami ku adalah seorang sopir."Jawab Lily santai.
Grace mendengus kesal.
"Memangnya kenapa? Apa urusannya sama mereka?"
Grace terlihat tidak terima ketika melihat tatapan mereka.
"Jangan di pikirkan. Aku bahagia menikah dengan suami ku. Dia memperlakukan ku dengan sangat baik. Kami menikah saat usia ku menginjak 22 tahun. Kami sempat pacaran selama dua tahun."Ujar Lily.
Grace menatap Lily. Dari raut wajahnya, wanita itu terlihat bahagia mendengar Lily mengatakan hal itu.
Bahkan Grace sedikit terharu. Apa itu artinya Lily sudah menerimanya sebagai teman.
Lily menatap Grace dengan kebingungan.
"Kamu tidak makan?"
Grace terkekeh kecil.
"Terimah kasih Lily. Aku sedikit terharu. Akhirnya kamu menganggap ku sebagai teman. Sebelumnya tidak ada yang mau berteman dengan ku. Mereka semua menjauh."Lirih Lily dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Suasana tiba-tiba berubah. Grace merasa terharu hanya karena perhatian kecil itu.
Lily tersenyum kecil.