Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 15
Perbedaan usia tidak membuat sikap sopan santun itu luntur pada jiwa Yumna. Karena menghargai dan dihargai harus diterapkan dalam kehidupan. Jika terus bersikap arogan, itu akan merugikan dirinya sendiri. Apalagi mendapat teman ngobrol di jaman sekarang, yang tidak menjatuhkan harga diri itu hal paling menyenangkan.
Seperti saat ini, Yumna duduk berhadapan dengan seseorang yang sudah berjanji ingin mentraktirnya makan siang. Yumna kira hanya ada dirinya dan dan orang itu. Akan tetapi dugaannya tidak sama, beberapa orang familiar dimatanya juga ada di depan mata Yumna. Membuat wanita itu hanya bisa membuang napas gusar, dan tersenyum paksa. Menerima apa yang ada di hapannya.
"Di mana Yudha? Apa dia tidak makan bersama kita?" Tanya seorang pria tampan yang memiliki jiwa penipu. Siapa lagi jika bukan Tama. Melihat sekitar, seperti tengah mencari hal yang masih abu-abu.
"Dia ingin menghabiskan waktunya bersama Lingga. Karena tugas Yudha esok hari bukan lagi mengurus Lingga." Jawab pria berkacamata yang duduk di samping kanan Yumna. Dia Rama.
Hal itu membuat Yumna dengan kesadaran penuh menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga, untuk mendengar lebih jelas obrolan para pria-pria gila itu.
Sedangkan Rama yang melihat tingkah Yumna hanya tersenyum kecil, mendekatkan tubuhnya. Untuk berbisik. "Kau tidak perlu menguping, karena itu jauh dari dugaan mu." Jahil Rama, yang mampu membuat Yumna melayangkan tatapan sinis.
Memilih menyumpal mulutnya, dengan benak yang bercampur aduk. Senang karena mendapat makanan yang enak dan mahal. Kesal karena terus dijahili saudaranya sendiri.
"Ngomong-ngomong," suara Tirtha tertahan dengan ludah yang tertelan. Menatap Yumna dan Rama secara bergantian. "Apa kalian tidak apa-apa?"
"Menerimanya kembali mungkin akan menimbulkan masalah baru, tapi jika menelantarkannya. Itu terlihat sangat kejam." Balas Yumna, sekilas melihat Tirtha. Karena wanita itu tidak ingin menyia-nyiakan hal yang menarik perhatiannya saat ini. Makan siangnya yang begitu berharga jika diabaikan.
Ketiga pria yang mendengar penuturan dari Yumna menampilkan senyum khas mereka, dengan pandangan saling bertemu satu sama lain. Mereka sadar, orang yang tertekan batinya adalah Yumna. Karena mereka juga tahu-- Yumna begitu menyayangi Malla. Jika pun mereka bukan saudara kandung.
"Tapi kita juga harus siap__" Rama menelan ludahnya, menatap Yumna dari samping- yang diam melirik Rama sebentar. "Pasti pria itu akan muncul lagi. Karena, wajah Malla akan terpampang jelas di media manapun."
Yumna hanya mengangguk sebagai balasan. Siap tidak siap, Yumna akan selalu berpihak pada Malla. Karena Yumna tidak mau kejadian kelam itu terulang lagi. Di mana pria itu memaksa Malla untuk ikut bersamanya. Dan menjadikan Malla sebagai alat penghasil uangnya.
"Kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya, karena fakta itu sudah kita kumpulkan sejak kemarin. Jika ada hal yang tidak baik, kita bisa langsung mengelaknya tanpa menyalahkan siapapun." Jelas Tama, yang sudah menyiapkan beberapa hal untuk esok hari. Karena mau bagaimana pun Tama juga harus tetap waspada.
"Mungkin kita sering menipu banyak media. Tapi kita akan melindungi artis di bawah perusahaan. Apapun itu resikonya." Tama menyambungkan perkataannya, saat kedua matanya bertemu dengan milik Yumna yang menatap Tama dengan sorot sendu.
Yumna menyimpan handphonenya saat masuk ke dalam minimarket yang ada di depan matanya saat ini. Karena Yumna harus membelikan minuman dingin untuk Vallen, dan beberapa cemilan yang mungkin akan Yumna bagi di lokasi pemotretan nanti.
Saat Yumna tengah mengambil beberapa plastic food grade container yang berisi potongan buah, kini kepalanya menoleh ke sumber suara yang jauh dari pandangannya. Karena sebuah makian kasar begitu keras. Hingga membuat banyak pengunjung di tempat itu mengalihkan fokus mereka pada pemilik suara.
"Ck, kenapa dia tidak mengakui kesalahannya? Padahal sangat jelas, jika dia mencuri."
"Dia juga harus bersyukur karena tidak ada yang membawanya ke kantor polisi."
"Sayangnya dia tidak mengakui kesalahannya."
Obrolan dari dua wanita dewasa yang berdiri tidak jauh dari Yumna terus memberi komentar pada orang yang membuat kegaduhan tempat itu. Membuat Yumna membuang napas gusar, berusaha untuk tidak terpengaruh ataupun ikut campur dalam masalah yang ada.
Karena Yumna harus datang ketempat lokasi pemotretan secepat mungkin. Agar Vallen tidak memberinya omelan karena terlalu lama dalam perjalanan.
Merasa cukup apa yang Yumna butuhkan, kini kakinya melangkah ke arah kasir yang terlihat mulai reda. Tidak ada keributan seperti tadi. Membuat Yumna membuang napas lega.
Saat berdiri untuk mengantri, pandangan Yumna melihat keluar minimarket. Tepat di mana punggung seorang pria yang entah kenapa terlihat sangat familiar di penglihatan Yumna. Tapi Yumna kembali melihat ke depan, tidak begitu memusingkan hal-hal yang mungkin akan membuatnya overthinking.
Setelah membayar barang belanjaannya, Yumna berjalan keluar untuk melangkah ke arah tujuannya saat ini. Jaraknya pun juga tidak begitu jauh, maka dari itu. Yumna sempat menolak tawaran dari tiga pria yang mengajukan diri mereka untuk mengantarkan Yumna ke tempat lokasi.
Jika sampai itu terjadi, pasti Yumna akan menjadi topik utama didalam perusahaan, dan Yumna tidak mau menjadi sorotan utama untuk hal seperti itu. Karena Yumna sendiri, lebih baik menyembunyikan diri daripada menjadi pusat perhatian yang berakhir menjadi omong kosong dari para penggosip.
Tibanya di tempat tujuan Yumna dengan spontan menampilkan senyuman hangatnya untuk menyapa beberapa staff yang ada disana. Hingga pandangannya tertuju pada Vallen, duduk sendiri dengan tangan kanan melambai kearah Yumna.
Melangkah mendekat tanpa melunturkan senyumannya, Yumna menyodorkan minuman kaleng kepada Vallen yang langsung menerimanya dengan senang hati. Mampu membuat Yumna menggelengkan sebentar kepalanya, melihat tingkah temannya satu itu.
"Kenapa perusahaan kalian baru menemukan berlian seperti dia?" Cetus seorang pria, yang memiliki postur tubuh yang sedikit berisi. Tidak membuat dua wanita itu memandang tidak suka.
"Kau menganggapnya sebagai berlian yang tersembunyi? Jika skandal menghampirinya, jangan sampai kau berpaling darinya." Sebuah ancaman yang terselip Vallen katakan.
"Aku tidak pernah menjadi pengkhianat perusahaan kalian. Karena jika bukan karena Tirtha, mungkin aku sudah menjadi gelandangan." Raut wajah yang sedikit melas itu, sang pria tunjukkan.
"Benarkah?" Ragu Vallen yang sekilas menaikan kedua alisnya.
"Aku selalu berpihak pada perusahaan kalian." Tidak begitu cepat sangat pria memberi sahutan, dengan kepala mengangguk kecil. Untuk menyakinkan Vallen, jika pria itu tidak akan pernah menjadi orang yang lupa dengan kebaikan siapapun.
Sedangkan Yumna hanya diam tersenyum, mendengarkan semua apa yang keluar dari mulut dua orang itu. Dengan pandangan mata melihat di mana Malla berada.
Malla terlihat sangat gugup, hingga rasa canggung itu memengaruhi hasil photoshootnya. Tetapi, staff disana tidak memberi ucapan kesal kepada Malla. Itu membuat Yumna merasa bersyukur, dan lega. Karena mereka begitu memaklumi Malla yang baru kali pertamanya.