NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Vanessa tersenyum miring, menatap lurus mata Alessio yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

"Tidur denganmu?" sahut Vanessa tajam, diiringi nada ejekan yang dingin. "Jangan mimpi, Alessio."

Perempuan itu mendorong dada Alessio agar menjauh darinya.

Alessio tidak terkejut. Senyum tipis yang penuh percaya diri justru makin terukir di wajah tampannya.

"Kau bisa menolak sesukamu malam ini, Vanessa. Tapi kita berdua tahu, kau tidak punya pilihan lain. Cepat atau lambat, kau harus setuju."

"Oh, ya?" Vanessa mengangkat sebelah alisnya. Terlihat menantang.

"Hanya aku satu-satunya orang yang benar-benar bisa membantumu," bisik Alessio. Suaranya tenang, namun sarat penekanan.

"Tanpa kekuatanku, kau tidak akan pernah bisa lepas dari cengkeraman keluarga brengsek ini."

Vanessa terkekeh geli, meski tatapan matanya tetap nyalang.

"Bukankah kau sendiri yang menolak mentah-mentah saat aku mengajakmu bekerja sama? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Ku pikir, kau sangat setia pada Yessika."

"Itu dulu," Alessio mengimbangi tatapan tajam Vanessa tanpa goyah.

"Setelah kupikir-pikir lagi, tawaranmu cukup menarik. Tapi... aku punya penawaran sendiri yang harus kau tepati."

"Penawaran apa?"

Alessio kembali maju.

"Tidur denganku," bisiknya pelan.

Vanessa mendengus kasar. Tangannya mengepal di atas dada bidang Alessio, mendorongnya meski pria itu tetap bergeming.

"Aku sudah katakan kalau aku menolak," tegas Vanessa dengan penekanan di setiap kata.

"Aku tidak akan pernah mau diajak tidur bersama sebelum ada ikatan sah. Jika kau ingin meniduriku, maka kita harus menikah dulu!"

Alessio menyipitkan mata. Kilat licik terpancar dari matanya.

"Menikah dulu? Sayang sekali, itu transaksi yang merugikan bagiku, Vanessa. Bagaimana kalau setelah kita menikah, ternyata kau sudah jadi bekas Jordan? Aku yang akan rugi besar."

"Kau..."

"Jadi," potong Alessio santai, "aku ingin mencicipimu dulu malam ini. Untuk memastikan kualitas barang yang akan kunikahi."

Darah Vanessa mendidih seketika. Muka dan lehernya memerah karena emosi yang memuncak. Pria ini benar-benar keras kepala, licik, dan sama sekali bukan lawan bicara yang mudah untuk diajak berunding.

"Kau pikir aku wanita murahan yang bisa kau cicipi sembarangan?!" tembak Vanessa dengan suara tertahan.

Alessio semakin menekan tubuhnya maju, mengurung Vanessa sepenuhnya di antara dadanya dan konter granit dapur. Hawa panas dari tubuhnya menguasai seluruh indra Vanessa.

"Tatap mataku, Vanessa," perintah Alessio, suaranya turun menjadi desisan berbahaya di telinga Vanessa.

"Aku adalah pilihan satu-satunya jika kau benar-benar ingin bebas dari sangkar emas keluarga Carlton. Bersama Jordan? Kau hanya membiarkan dirimu dijadikan budak seumur hidupnya. Diinjak-injak, dimanfaatkan, dan dibuang saat tak berguna."

Vanessa menahan napas saat bibir Alessio hampir menyentuh kulit pipinya.

"Pilih sekarang," bisik Alessio provokatif. "Jadi budak Jordan seumur hidupmu... atau tidur denganku malam ini dan dapatkan kebebasanmu?"

Dalam jarak sempit yang begitu mengintimidasi itu, raut panik di wajah Vanessa mendadak sirna. Bibir merahnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman licik yang amat tenang.

"Kasihan sekali kau, Alessio..." gumam Vanessa lirih. "Kau pikir kau sudah memegang semua kartu di tanganmu?"

"Apa maksudmu?" Alessio mengernyit bingung.

Sebelum Alessio sempat menyadari gerakannya, tangan kanan Vanessa yang sejak tadi meraba-raba konter di belakang tubuhnya bergerak secepat kilat.

Srett!

Kilatan perak memantulkan cahaya redup dapur. Sebuah pisau pemotong buah yang tajam kini berada tepat di genggaman Vanessa, ditodongkan lurus, menekan kulit lehernya sendiri hingga memunculkan garis merah tipis.

Gerakan Alessio membeku seketika. Matanya membelalak lebar, memancar kekagetannya yang tak tertutupi.

"Vanessa! Apa yang kau lakukan?!" bentak Alessio, suaranya tertahan namun penuh kepanikan.

Vanessa tetap tersenyum tenang, sama sekali tidak gentar meski mata pisau itu sudah menembus sedikit permukaan kulit lehernya.

"Aku masih punya pilihan ketiga," ujar Vanessa dengan nada santai yang mengerikan.

"Jika pilihanku hanya menjual diri padamu atau jadi budak Jordan seumur hidup... lebih baik aku mati saja sekarang. Dengan begitu, aku akan benar-benar bebas dari kalian berdua."

"Kau gila!" desis Alessio, matanya liar mencari celah. "Turunkan pisau itu!"

"Coba saja maju satu senti lagi, Alessio," ancam Vanessa, jemarinya semakin memperketat pegangan pada gagang pisau.

"Kau akan melihat mayatku bersimbah darah di dapur ini sebelum fajar menyingsing."

Napas Alessio memburu. Keangkuhan dan dominasi yang tadi ia tunjukkan hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Tanpa memedulikan risiko, Alessio bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Vanessa, memutar pisau itu menjauh dari leher sang wanita, lalu merebutnya dengan kasar.

Prak!

Pisau stainless steel itu terlempar jauh, menghantam lantai marmer dapur dengan suara nyaring.

"Kau benar-benar gila, Vanessa!" amuk Alessio sambil memegang kedua bahu Vanessa dan menguncinya erat.

Matanya menyala penuh kemarahan dan kilat ketakutan yang nyata.

"Bermain-main dengan nyawamu sendiri?! Apa otakmu sudah tidak berfungsi?!"

Vanessa hanya menatapnya polos, merapikan gaun tidur sutranya yang sedikit berantakan seolah baru saja menyelesaikan percakapan biasa yang tidak terlalu penting.

"Aku tidak bermain-main," sahut Vanessa datar. "Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Tuan Alessio!"

Alessio menatapnya tak percaya. "Keputusan apa?"

"Kau yang harus memilih," Vanessa menatap lurus ke dalam iris mata Alessio tanpa rasa takut sedikit pun.

"Menikah denganku secara terhormat dan kita tidur bersama setelah sah menjadi suami istri... atau kau menolak, dan aku pastikan aku akan bunuh diri tepat di hari pernikahan ku nanti."

"Vanessa!" geram Alessio dengan nada rendah.

"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Alessio. Kau tahu itu," potong Vanessa dingin.

Suasana dapur mendadak hening mencekam. Hanya terdengar deru napas Alessio yang berat dan tidak teratur.

Pria yang biasanya memegang kendali penuh atas segala situasi itu kini tampak terpojok oleh kenekatan seorang wanita.

Alessio memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengetat saat berpikir keras.

Detik demi detik berlalu dalam ketegangan yang membakar, hingga akhirnya Alessio membuka mata dan menatap Vanessa dengan tatapan menyerah yang penuh kekesalan.

"Brengsek," umpat Alessio rendah. "Baik. Kita menikah."

Vanessa mengangkat alisnya. "Tanpa menyentuhku sebelum upacara pernikahan?"

"Ya! Tanpa menyentuhmu sebelum menikah!" bentak Alessio frustrasi. "Puas kau, Perempuan gila?"

"Sangat puas," jawab Vanessa singkat.

Vanessa menepis pelan tangan Alessio dari bahunya, lalu melangkah santai melewati tubuh tegap pria itu.

Tanpa menoleh lagi, ia berjalan tenang meninggalkan area dapur utama yang redup, menuju koridor kamar tamu.

Di sepanjang langkahnya yang sunyi, senyum miring yang anggun dan penuh kemenangan terukir sempurna di bibir Vanessa.

Dugaannya sama sekali tidak meleset. Alessio Carlton yang dingin dan tidak tersentuh itu... tidak akan pernah membiarkannya terluka. Dan kini, catur permainan ini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!