NovelToon NovelToon
Ekspektasi Dalam Cinta

Ekspektasi Dalam Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Nikahmuda
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Mega Harsa

Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.

Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.

Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Maira sudah tertidur mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh Luthfi. Sarina meminta Luthfi untuk tidur, tetapi ia menolak. Luthfi mengajak Sarina untuk duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Sarina pun menuruti apa kata suaminya.

Luthfi menatap Sarina yang sedang menatapnya balik.

"Mas, kenapa?" tanya Sarina.

Luthfi terdiam.

"Apakah, ada yang ingin kamu bicarakan dengan aku?"

"Eh, iya. Bentar lagi kan tahun baru, kamu pengen jalan - jalan kemana?"

"Hah, jalan - jalan?"

Luthfi menganggukkan kepalanya.

Sarina berkata, "Aku sih, sebenarnya nggak ada rencana untuk hal itu, Mas."

Luthfi memandang Sarina.

"Mungkin, dia merasa canggung." Kata Luthfi dalam batinnya. Lalu, ia berkata kepada Sarina, "Ya udah, kalau gitu kamu tidur aja." Ucapnya dengan lirih.

"Mas, Kamu marah sama aku?" tanya Sarina dengan menghampiri Luthfi yang sudah tepat di depan pintu kamar mereka.

"Nggak, kamu tidur aja. Aku mau menelepon teman dulu, ya."

Sarina memegang tangan Luthfi.

"Aku kan belum ada rencana, tapi kalau memang kamu mau jalan - jalan, aku ikut pilihan kamu aja, Mas." Sarina menatap Luthfi, begitu pun sebaliknya. Luthfi hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu pergi meninggalkan Sarina.

"Ish, Mas Bian. Aku kan mau nanya tentang sikapnya yang aneh hari ini. Di tambah lagi dengan pertanyaan dia barusan, makin aneh banget tiba - tiba ngomong kayak gitu," gerutu Sarina. Ia sangat penasaran juga, siapa orang yang akan di telepon oleh Luthfi malam - malam begini. Ingin rasanya Sarina mengikuti Luthfi, tetapi sayangnya ada Maira yang harus dia jaga. Hingga akhirnya, Sarina lebih memilih untuk merebahkan dirinya di sebelah Maira. Sedangkan Luthfi sedang berada di ruang kerjanya. Ia sedang merencanakan sesuatu untuk Sarina di malam tahun baru nanti. "Akan sangat sulit melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Apa lagi, Sarina pasti akan merasa canggung atau mungkin dia akan menganggap aku orang yang aneh. Kayaknya, aku harus melibatkan orang lain dalam hal ini," kata Luthfi.

Luthfi menatap handphone yang berada dalam genggamannya, ia sangat bingung harus memulainya bagaimana dan seperti apa. Terlintas dipikirannya yaitu Fara, yang merupakan teman dekat Sarina. Ia kembali berpikir bahwa Fara adalah perempuan, akan sangat canggung jika dirinya hanya sendirian yang laki - laki. Apalagi jika ia mengajak teman laki - laki dan Sarina sendirian, itu sangat tidak oke, pikirnya. Luthfi ingin mengajak Sarina jalan - jalan di malam yang spesial itu, tetapi melalui perantara orang lain. Luthfi merasa akan sangat tampak aneh jika ia yang mengajaknya seperti tadi.

"Hmm, gimana caranya ya?" tanya Luthfi dalam hatinya.

Tidak lama kemudian, Luthfi mendapatkan sebuah ide. Ia kembali berjalan menuju kamarnya seraya berpikir untuk mengatur rencana dan waktu agar semuanya berjalan dengan lancar.

Sementara itu, Sarina di dalam kamar terus saja mondar - mandir memikirkan Luthfi, yang entah kemana belum kembali juga.

Cklek!

Sarina menoleh ke arah pintu. Di sana sudah ada Luthfi dengan raut wajah yang sangat lesu. Luthfi yang menyadari keberadaan Sarina pun cukup terkejut, karena ia memang dalam kondisi pikiran yang sedang sibuk memikirkan rencana untuk Sarina.

"Astaghfirullah," Luthfi mengelus - elus dadanya yang berdebar kencang. "Kamu, kenapa belum tidur? butuh sesuatu? atau lagi nggak enak badan?" tanya Luthfi dengan beruntun.

Sarina tersenyum.

"Nggak, Mas. Aku cuma nunggu kamu balik aja," kata Sarina.

Luthfi yang mendengar jawaban Sarina seketika tersenyum, tetapi hanya beberapa detik saja, karena ia berpikir tidak ingin Sarina salah paham dengan sikapnya itu.

"Ya udah, aku kan udah balik ke kamar. Ayo, cepat tidur, aku juga mau tidur."

Luthfi meraih pinggang Sarina dan menuntun istrinya itu untuk berbaring di sebelah putrinya, yaitu Maira.

"Ya Tuhan, suami aku ini kesambet apaan sih," Ucap Sarina dalam batinnya.

Setelah itu, Luthfi juga tidak lupa menyelimuti Sarina dan putrinya. Sarina sangat merasa canggung dan benar - benar tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya, sehingga sikapnya itu berubah drastis semenjak kemarin malam. "Aku kira, cuma nawarin makan aja dan hanya sebatas itu. Ternyata, perhatian dia berkepanjangan hingga hari ini. Dan entahlah, apakah besok pagi hingga seterusnya sikap dia yang seperti ini akan tetap sama," batin Sarina.

Sarina menoleh ke arah Luthfi yang sudah berbaring di kasur juga, dengan Maira sebagai penengah di antara mereka berdua. "Pulang malam langsung tidur, ada waktu luang sibuk sama handphone. Lalu, di tambah perhatian dan juga sikapnya yang berbeda ini, membuat aku semakin pusing kalau di pikirkan," batin Sarina.

Sarina memejamkan matanya, ia berusaha untuk tidur walau tidak mengantuk. Begitupun dengan Luthfi, suami Sarina ini juga melakukan hal yang sama.

Tidak lama kemudian, Luthfi membuka matanya. Ia mengubah posisi tidurnya yang semula membelakangi Maira dan juga Sarina, justru menghadap ke arah mereka. "Aku tidak mengerti dan tidak pernah tahu, apa yang sedang direncanakan oleh Tuhan untuk kita," lirih Luthfi.

Tatapannya beralih ke layar handphone, ia baru saja menemukan dua nomor handphone yang sudah lama tidak ia hubungi. Yang satu ia save dengan nama Brother One dan yang satunya Brother Two.

"Semoga saja, kalian bisa bantu aku. Selain itu, hubungan kita juga akan semakin lebih erat," kata Luthfi dengan penuh haru.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!